Sunday, April 21, 2013

Sungguh ini benar


Tetap tak bisa menjadi seperti biasa waktu dulu. Itulah gambaran saat ini, sampai aku tak mengistirahatkan pikiran yang pada tiap esok atau pun sore aku mengalami klimaks otak kanan yang akut. Pusing dan bakal sampai aku merasa skeptis pada semuanya padahal tak ada apa-apa yang harus difikirkan di hari ini. Hingga dari pelataran kampus pun datanglah “Toyib” pemuda yang selalu menjadi lucu saat serius dan aneh waktu lucu. Dia mengajak aku ikut dalam acara pelatihan di sebuah fakultas di kampus “pinggiran” tempat dimana semua ternina-bobokan oleh hawa disini, sampai pulas tak tau apa-apa mengenai dirinya dan yang bersangkutan dengannya, begitupun yang terjadi kepada. Risih dengan banyak orang-orang yang sulit untuk berfikir dengan ‘sama’, tak mungkin lah apa yang saya pikirkan dapat kau mengerti, ucap maskur dalam hati, pria bebal dengan wajah tua dan pemikiran rasukan dan apa yang disampaikan orang tua yang memberi materi dalam acara pelatiha itu. Ia berkata ada ”sisipan” dalam media baik jawapos maupun koran kekirian (memo, surya, post, metropolis), itulah yang sama aku nalarkan kepada maskur, yang notabenya anak Madura yang kental kemaduraanya hingga salah (kaprah).

Aku sempat ikut dengan emosi ini, yang mengejak aku berkeliling di pikiran otak kiri. Maskur yang penuh dengan busuk daun dan polos tak tau itu, menjadikan sebuah gambaran penuh setan dan niat sombongisme ku yang aku tahan menjadi sedikit lebur saat Toto yang membawa camera memfotoku hingga ku tertegun malu dan diam. Aku banyak sekali bertanya dan merasa nyaman dengan pemateri yang aku anggap bisa menempatkan diri dan tau diri ini. Ia menjadi sebuah pembagi pengalaman yang “tau” dan membuat sebuah materi itu penuh keluwesan tinggi tampa perlu memancing emosi aku dan yang lainya, selain itu suasana yang rendah dan orang-orang yang gak ngurus, kata orang jawa. Menjadikan aku semakin ingin mencari apa dan mengapa lalu bagaimana lantas mengapa dan kapan,. Konsep jurnalis bawang bombai atau bumbu resmi jurnalis yang kadang membuatku lupa bahwa kesedapan berita terpangku dengan hal itu.

Rezim pers mahasiswa atau pun per umum yang menjadi rujukan atas sebuah keterkaitan yang selalu saja oleh pelaku-pelaku (orang yang pernah menjadi pers mahasiswa lalu menjadi pers umum) selalu menjadi hakim dan tuhan saat mengisikan materi tentang ke pers mahasiswaan yang dikatakan sama, dan tampa cela. Padahalkan tak sama dan berbeda dengan pendirian (ideologi) masing-masing, walaupun akupun tak memungkiri faktor-faktor yang hampir sama dengan hal itu. Tapi apakah keseringan yang mempertanyakan kemampuan orang dan membandingkan dengan kita menjadikan apa yang seharusnya kita lakukan menjadi sedikit terhambat, karena kita sibuk memikirkan apa yang akan orang lain lakukan dengan itu kita adalah pembual sok benar yang selalu ingin menjadi yang terbaik, barang kali sampai nanti habis waktu kita melakukan hal basi yang kita sebut dengan berjuang dimana kita kan menumpukan usaha kita,. Dan itu berujung baik ataupun buruk maka apalah kata nanti.

Thursday, April 18, 2013

Baru Saja


Bangun dengan susah, bagian badan ini serasa sangat sulit karena tulang-tulang yang habis dengan malam lama hingga berpuluh-puluh mutiara yang habis sesusai subuh, tapi aku melihat banyang-banyang kebinggungan yang jalan-jalan kebingungan di depan kami dan itu terjadi saat aku tidur dan pulas, hati tak tenang tak terasa hingga menusuk kalbu , menghadap sapu dan pergi melakukan hal basi setiap ini, aku menyapu dengan baik, perlahan dan usang, semua binggung dan jauh dari saat ini, banyangan yang jauh menjadi banyak sekali masalah yang melanda pembuatan buku-buku angan selamanya akan menjauhkan agenda buram menjadi suram dan hilang. Aku yang memutuskan sebuah pikiran tentang banyangan buram itu mengapa, aku tanyakan disaat ada kesempatan kami bertiga menuju warung kopi penabur mimpi dan yang menjadi berhak di beri terimakasih atas angan yang tercipta di warung kopi bahkan semua permasalahan yang sering diselsaikan diwarung kopi, kadang aku bertanya siapakah yang menciptakan warung kopi, tapi pertayaan itu tak pernah terjawab hingga saat ini atau bahkan sampai nanti.

Karena kemiskinan bumi jawa dan bumi indonesia akan tetap menjadi kebohongan yang disepakati, sejarah difitnah, leluhur di habisi, sejarah diakali, hingga para penerus bangsa yang diracuni dengan globalisasi yang bak kambing hitam jalanan yang makan apa saja termasuk sampah kertas plastik kimia besi dan banyak sampah yang lebih sampah.

Malam tiba siang habis, sore menjadi perantara ku, yang menamai aku sebagai pelari ulung dari segala hal semu ini, mencoba menemukan apa, mencari apa, membuat apa. Pertanyaan hidup yang sangat sulit terjawab adalah “ siapa aku” bahkan seluruh hidup ini waktu sekian lama yang sulit untuk menjawabnya hal itu.

Tibalah aku menatap benda yang aku pasrahi untuk masa depanku, sembari memegang gitar yang pinjam dari burung cuba, datang lah kuda setelah beberapa jamku yang sendiri, membawah prajurit yang aku pun menghormatinya, datang dengan burung aku berbicara denganya sampai muram dan hitam sulit untuk menyimpulkanya bahwa sebuah hujan akan tiba dan menghempaskan aku, sampai aku dibawah ke kamar kos prajurit ku yang diam, senang katanya.

Putri davang membawa candu (rokok) malboro dia cantik dan elok, tapi aku diam dengan menunggu saav yang tepat dan batangan candu yang aku tatap menjadi binggung dan jujur aku merasa sulit untuk menatapnya, tak tahu kenapa, menavap saja malu, melihat pun membuat mata ku menjadi rapuh dan sulit untuk di mengerti, dia pun pergi membawa hati dan memberi harapan bertemu di sudut warung para pengerang perjuangan yang berhati penjilat.

Sampai aku membawa sebuah pandangan yang diam dan bervanya-tanya sehingga membuat gambaran hari malam, sembari membuat pemikiran di dalam dan di luar banyangan sampai selesai.

Rela Dulu


Sebenarnya aku tak yakin dengan perintah ia, yang menyuruhku diam tapi melaju dengan baik sesampainya aku diam dibelakang rumah dengan sampan yang terus ku rengkuh dengan sendiri aku tertidur tampa lepas akan pandanyanya yang selalu perhatian kepadaku, dengan orang diam penuh dengan perasaan rapuh dan mereka ku inginkan tampa mengenal waktu di saat itu. Aku menjadi kadang melemah akan kondisi seperti itu, tak ada greget panas semasa disana (Madura) yang semakin memanas semangat dan kemampuan seorang muda, penuh kesan mistis yang indah hingga sempat tak mau lepas dari rumah tercinta yang lama aku tinggalkan sampai ia dan orang diam (orang tua ku) memanggil aku sampai diam melanda.

Semakin merasa selesai aku menjalani pas di sana sebaris hari, segores ilmu yang masuk menjadi sebuah hasrat untuk balik dengan semangat dan mencari sendiri akan sebuah kesendirian hidup penuh palsu ini, sampai aku menemui setitik beku yang memaksa, aku tak mau mereka mengharap ku selalu tak aku berharap mengharap terkadang, kusibukan diriku dengan buku eyang malam menjumpaku di malam itu, berharap sampai puas membacanya hingga menemui sebuah pikiran ujung tak sampai pada dasar malam-malam, melihat kebiasaan menerawan bungga malam si pemberi karunia dan berdo’a selepas itu sesampainya di ujung ufuk pagi aku masih mengambi kunci tampa sadar melarikan sebuah koran pagi dan membaca sembari menikmati kerakusan pendidikan dengan memakai uang titipan orang diam tersebut.

Dari pagi hingga sore aku mencoba menyibukan diri dengan atau tampa membuat orang tua menjadi binggung dengan aku berada di rumah suda sang maha raja tersebut, aku pun lari dari candi kecandi dan hingga dari pendopo ke museum sampai berahir pada rumah warung teman yang sampai terbenam aku, aku kegagapan menyertai banyak sekali bukit-bukit mojapahit yang selalu menyiram bunga-bunga purba sang maha raja raden wijaya, aku dan sore berserta kuda mesin ini berkehendak untuk pulang dan meramaikan suasana rumah yang sepi dan sunyi atas kesalahanku yang esoknya di madura aku perdebatkan dengan temanku dimana aku menjadi sadar akan suatu yang pernah ku fikirkan dan itu jelek menjalar akan sebuah puing-puing kesan yang menusuk hingga keparang setan penuh dengan belerang berbau menyengat, serba gagal dan pilu menerima kilas balik itu dan sempat menedang perasaan, layaknya pada malamnya sebelum itu ter jadi aku merasa malu dan malu atas beberapa hal ini, ibu bapak adik yang kukasihi merasa kasian aku, tapi disisi lain aku tak mau melemah gara-gara ini, aku tak mau terjebak dengan banyak sekali hal-hal semacam ini menusuk ku hingga sampainya aku kedalam jurang kasih sayang yang terkadang bisa menjadi racun buat ku untuk berlatih.

Aku melatih diri, untuk sendiri, aku berusaha dalam semua ini tak lain untuk hal yang aku sendiri tak tau seperti apa yang akan melanda diriku di esok, lemah, santai, lemah, senang, sayang cinta, adalah virus terkadang, disaat ini aku harus belajar dan menerapkan apa yang aku pelajari dengan serius tapi bukan berati aku kaku, ini adalah konsistensi yang perlu dilatih dan di kembangkan dengan serius sehingga tak ada celah. Tapi selalu kita ada suatu pertentangan batin yang kadang tak bisa lepas dan terlepaskan dari hubungan horizontal dan vertikal manusia.

Singkat


Penuh dengan banyak pikiran hewan yang ingin berburu, tapi tak punya tubuh untuk melakukanya sehingga hanya mentranformasikan melalui mulut-mulut baunya, ini bisa menjadi ahkir dari budaya tampa basa-basi pada jaman dahulu yang syarat akan bukti bukan janji.

Tersandung-sandung dalam hal itu apakah hanya Cuma memikirkan hingga gila dan sampai malas apalagi sampai berfikiran bahwa dia adalah orang paling penting di dalam suatu organisasi semu, apapun, dimanapun, kapanpun, bagaimanapun, mengapapun, dia menjadi hal hebat yang perlu dan di perlukan, lak matamu suu kesadaran diri untuk melakukan bukan untuk menyuruh dan membagi adalah suatuhal berat dimana pemikiran yang salah dan goblok memang tulisan ini mengarah ke dalam kebencian subjektif ku, tapi ini selalu ada hubunganya dengan orang yang cuma mengagendakan sama merencanakan.

Ketergantungan


Sembari membuka internet dan membaca buku Pramoedya Ananta Toer, aku melihat dan meloncat-loncat dari Blog satu ke Blog lainya dan hampir 80% isinya semua tentang Tips & Trick yang paling diminati dan di komentari paling banyak dan juga itu berarti menjadi sebuah sajian sangat menjanjikan bagi pembuat orang berfikir pragmatis yang semua itu cukup yang instans-instans saja tampa terlalu banyak cara cukup satu saja yang jitu.

Inilah sebuah penyakit zaman yang semakin menjangkiti para manusia. Menamakan mereka “Manusia Modern” yang tak mau susah dalam melakukan apapun dan cenderung ingin yang cepat instans dan itu selalu membuat kesal aku, memang terkesan subyektif dan semauku sendiri, karena ini tulisan ku dan aku tak mau menjadi orang lain yang meniru-niru gaya sesamanya, kemabali lagi dalam kecenderungan para pengiat Blog muda yang selalu ingin menyugukan apapun yang jitu, berbeda, lain dari pada yang lain, praktis, mudah, cepat, menarik, dan lain sebagainya tampa memperhatikan apa efek jangka panjangnya yang dimana akan membuat sebuah ketergantungan buruk yang tak mau belajar dan tak mau susah kalau aku boleh menyebutnya dengan kasar.

Penggiat informasi Tips & Trick ini kadang-kadang membuatku jengkel, memang kita ketahui sendiri zaman Globalisasi yang penuh efek situaional personal, dimana jika yang kita inginkan baik makan akan menjadi baik tapi jika yang kita inin semaukita dan menimbulkan efek buruk maka terimalah akibat buruk Globalisasi dalam jangka panjang yang membuat para pakar IT dimanpun keranjingan akan hal-hal yang terjadi khususnya di dunia maya yang kalau dibilang sempit ya munafik tapi kalau dibilang luas yang takterbatas, sehingga apapun yang kita dasari pada niat kita maka itulah yang membuat kita akan seperti apa kedepanya melalui Globalisasi erupsi generasi ini.

Jika semua pada mencari-cari dan bercandaan yang selalu menuhankan “GOOGLE” makan secara tidak langsung apa yang dikatakan “Friedrich Nietzsche” bahwa Tuhan telah mati itu memang sudah terjadi dan tampa disadari bahkan sampai ada perdebatan yang mereka juga menyadari akan hal itu yang dimana suatu kebiasan efek cara jitu yang membuat sebuah ketidak sadaran yang berefek jauh kedalam alam bawah sadar yang terbiasa dan menjadi ketergantung, tapi juga suatu penyangkalan atas apa yang sudah menjadi ketergantungan, aku tak menyarankan untuk menghindari artikel cara jitu tapi juga tak menganjurkan, dikarenakan sebuah cari jitu dan hal-hal semacam itu di internet telah menjadi jajanan menuju kehancuran pikiran konstruktif dan membuat destruktif sebuag generasi, dan aku sadar bahwa ada penurunan kualitas dari waktu ke waktu yang begitu tajam, baik dalam pola pikir, budaya, kepekaan, kesadara, kebiasaan, perilaku, dan hal-hal baik internal maupun eksternal yang semakin meraksek kualitas generasi bahkan membuat sebuah hal yang baik menjadi sebuah minoritas yang terpojok, dikarenakan mayoritas yang semakin lemah atas sebuah kesadaran akan kepekaan sosial dalam diri yang biasanya aku menyebut ada sebuah tiga jenis manusia versi saleho institut pertama adalah pelopor, kedua pelapor, ketiga adalah pengekor. Dan kita ini adalah generasi yang menurutku adalah nomor 3 yaitu pengekor yang ingin selalu jadi pengekor tampa mau meningkat menjadi pelopor aktif, karena jadi pengekor adalah tipe orang yang pengen ada yang mengatur, santai, tenang, tidak repot, cepat, instans, mudah, dan lain-lain tapi kelihatan bodoh dan tak punya pendirian apa kata teman saja, sehingga membuat aku pribadi kuran menyetujui hal-hal seperti itu, walaupun aku bukan lah pelopor aktif, tapi undergroud sosialisasi,

ada sebuah cara yang cukup sulit untuk dimengerti dan di lakukan bahakan jangan cuma di pahami tapi juga diamalkan sehingga apa yang kita pelajari menjadi tidak barokoh, kebiasaan itu adalah sebuah paradigma klasik yang sulit karena sudah menjadi budaya sama dengan efek Globalisasi yang diangga sebagai budaya. Bagaimana dikatakan budaya kalau sebenarnya kita cuma menggikuti dan juga kita adalah pengekor over aktif yang selalu menggikuti trend, apalagi kaum sosialita, kaum kelas atas, kaum metroseksual yang mengatakan dan mengkampayeka secara diam-diam dan efektif bahwa sekarang harus begini-begitu lak ndasmu sempal itulah tanggapanku. Walaupun argumentatif bagai demonstran tapi itulah namanya matamu suek suu sehingga dapat di simpulkan akan gunanya kepekaan diri, kesadaran personal dan lain sebagainya dengan sadar akan kebutuhan dan memikirkan efek jangka panjang, dan siapa tau 15 protokol yahudi itu nyata dan semua efek Globalisasi adalah rencana besarnya, pikir kembali semua yang terjadi dari tahun 45 sampai sekarang dan kaitkan secara rinci dalam segala hal, mungkin satu tahun kita akan tahu betapa menakutkanya itu dari pada blog kita yang domainya hilang, dan itu sangatlah menggerikan karena aku pernah mencobanya.

Wednesday, April 10, 2013

Eyang Fandi



Disaat teman yang tua menjadi pengendali atas ketidak enak’an ku ini, sebuat saja dia Fandi teman kuliah pemberi nasihat basi diantara waktu senggang pikiran yang basi dengan begitu banyak probabilitasi yang aku dapatkan hari ini, dengan rencana, agenda, jalannya, sampai pada aku sibuk dengan kuliah yang sekarang uni ujian telah melanda banyak ladang-ladang penuh di pikiranku, Fandi begitu baik menjadikan contoh atas pemikiran yang asal kedewasaan yang belum matang dan kefahaman atas hal yang terjadi cenderung datar, ia begitu berkata seakan punya makna yang amat sekali jauhnya sehingga burung-burung pun susah untuk membuntuti kemana arah sang ketuah kelompok imigrasinya, kadang ia menjadi sok kedewasa, merasa punya hak penuh atas kekuasaan seperti merasa dia yang paling tua dan merasa menjadi yang lebih pantas, dalam perlakuan dan tingkah laku bagi aku kami untuk mendegar dan menuruti bahkan benar-benar menjadi kambing congek, burung bangkai mengandalkan usia, untuk menantang badai sehingga bulu-bulu domba tak kunjung usai dalam mewarisi bau-bau kembang mawar pembasmi serangga, aku kadang merasa malas tapi dia memelawan dengan muka melas, minta ini dan apapun dengan se’enaknya walau kadang dia benar dan aku salah.

Kesederhanaan yang baik untuk penilaian seorang muka dua, ia menjadi sosok unik yang hidup diantara mesin hidup yang lainya, belakangan ini aku memang muak dengan teman-teman sekelasku yang selalu mendahulukan diri sendiri dan kelompoknya, tak bisa bersikap objektif atau bahkan profesional, pikiran-pikiran bayi yang melekat tak kunjung hilang terkikis air bah, malah kelompok yang menggikat mereka menjadika ke egoismean mereka semakin bisa menjadi panutan, sosok kaptalis yang lahir dari peranakan baru di angkatan ku ini. 

Mau bagaimana aku meng’akalinya atau seperti apa harus ku diam saja dengan begitu tumbuh benih-benih kapitalisme yang sejak dulu tak ingin aku inginkan disini.

Yang seharusnya berubah adalah kedewasaan dan kepekaan tapi ini belum melewati dua tahap tersebut malah melakukan lompatan jauh kedepan bagaikan pemimpin komunis di rezim cina, langsung kepada pemakluman tampa usaha untuk membantu antar teman, ambisi dan pikiran kecil mereka masih mendominasi, menggangap yang diluar mereka menjadi jelek dan memebut apa yang tak sama dengan yang mereka lakukan adalah salah, begitu ceteknya pikiran itu, lebih baik Fandi yang lebih bisa mengerti walaupun kadan dia banyak salahnya, dengan kuranya memahami ia suka melontarkan apa yang tidak seharunya di setiap tempat seperti aku dulu yang begitu, dia menjadi sang meissah tua yang sok dewasa hingga sulit untuk di kendalikan, sampai saat itu dia membuatku terkejut saat dia memohon padaku dan lebih kagetnya dia meragukan aku lalu menganggap aku tidak berguna saat apa yang aku berikan kepada dia tak keluar dan muncul waktu itu, salam ini kadang malu aku dengan diriku saat dia mengucap lemas maksud ku yang sulit untuk dimengerti oleh sosok-sosok bisu yang lainya.

Monday, April 8, 2013

Openg 2 (Orang Peng'agenda)


Bersama orang peng'agenda (Openg) dan bertumpuk rencana pembikin mual pikiran dan muntah.

Semasa penjajahan yang tak pernah usai dengan sebuah cambukan atas komplotan pembangkang penentang belanda memang sudah menjadi cerita sampai makanan sehari-hari bagi gerombolan “geng” yang menamakan mahasiswa backing’an pembuat agenda dan rencana, disitulah awal dari pengerutu menemukan pekerjaanya.

Akulah yang menjadi audience (pendengar) sempat mempermasalahkan dan memenuhi pikiran yang sebal dan bebal akan itu, gunjingan demi gunjingan terlontar tampa filter hingga teman ku memukul pundak ku dan berkata hey, sudah-sudah aku malu dengan hal ini, tak tahu kenapa, padahal kan sekarang mengerutu (aku menyebutnya) sekarang ini sudah tak mampu menyelsaikan suatu masalah baik yang nampak maupun yang kelihatan, sehingga lambaian demi lambaian ku ini melewati si Openg ini, sebenarnya aku ini sedikit mempermasalahkan mahasiswa yang sukanya meng’agendakan serta Cuma bisa obral omongan (orang jombang menyebutnya ndawuh) lantas mendapat tambahan masalah tentang kejenuhanku mendegarkan ocehan yang makin menaiki stadium lanjut ini, hampir setiap kegiatan yang kalau orang jakarta menyebutnya berjubel begitulah padahal faktanya tak seperti itu walaupun kenyataanya seperti itu.

Dari keresahan yang cukup binggung untuk menuliskanya sehingga aku berenggapan orang sangat susah untuk mengerti tulisan ku diawal cerita ini, membenci Openg adalah pokok dari hal ini walau di bumbui oleh benyak hal tidak jelas yang dapat membuat cerita ini yang dasaranya tidak jelas menjadi tidak jelas, tapi hal ini menurutku sangat berbahaya disaat semua pandai dalam mengagendakan sesuatu membuat kadar konsumsi konsepsi menjadi lebih meningkat dan efeknya menjadikan menurunya sikap terjun langsung dan berbuat begitulah aku menyebutnya, menjadi menurun.

Jelasnya kan begini, jika semua orang dan mahasiswa khusunya dan lebih spesifiknya adalah teman-temanku sendiri menjadi lebih memusingkan jikalau mereka cuma bisa merencanakan, mencanangkan, meng’agendakan, membuat konsep, pokoknya cuma bisa turen (tukang perencana) bisa-bisa jengkelisme-jengkelisme bahkan malesisime menjadi meningkat sehingga fluktuasi akan mahasiswa menurun dan kredibilitas yang awalnya di ragukan menjadi makin diragukan, kan pada kenyataanya mahasiwa sudah diragukan dengan banyak fakta jelek melekat dikalangan mahasiswa seperti : mahasiswa yang menjual diri, mahasiswa yang lulus tapi jadi pengangguran, mahasiswa yang tak tahu apa-apa, mahasiswa backing’an, mahasiswa nitip ijazah, mahasiswa koar-koar, mahasiswa tak konsisten dengan idealisme, mahasiswa ngobyekan, mahasiswa eksis, mahasiswa alay, mahasiswa penjilat, dan lain sebagainya, bahkan kita tahu sendiri tingkat kepercayaan publik akan mahasiswa termasuk aku juga mahasiswa menjadi semakin fluktuatif dan berdampak jangkan panjang secara nasional.

Bagaimana keharusan yang dilakukan dalam pengembalian Si Openg ini, pencarian akan ide dan informasi penyelsaian menjadi kunci pokok sehingga pergulatan dalam batin pun ikutan (mbatin) kepekaan sosial yang untuk awal yang aku rencanakan untuk menyadarkan rentetan sosial lalu masuk ke adaptasi sampai pada pemakluman, penyadaran, hingga ke bukti real dalam pemanfaatan mahasiswaatau efesiensi guna mahasiswa dan idealisme yang sebenarnya punya andil besar dalam ber-partisipasi atas sesama manusia.

Sunday, April 7, 2013

Openg 1 (Orang Peng’agenda)


Cuma meng’agendakan sampai merencanakan dan berbuntut bimbang hingga batal, keseharian yang tevap dari yang ku tau. Perbandingan dengan sebuah keseriusan yang nyata sebut saja openg dia adalah bukti real orang yang penuh dengan keseriusan saat merencanakan dan mengagendakan sehingga ketidak beranian yang lain untuk mengkaji atau bahkan melawanya itu tak berani tampa tau belakang-belakangnya yang menjadi sebuah candu-candu kehidupan si saklek.

Ini adalah sebuah gundukan yang sempat menghambat perjalanan pikiranku di tengah jalan berupa efek dari keseriusan mendalam berstadium 4 kronis mempengarui syaraf hingga ke penis-penis kita, openg menjadikan bahasan ini lebih mendalam dalam menganalisis sisi yang aneh dari dirinya sendiri yang tak lain adalah openg, bermula pada malam hinggap di sebuah latar cerah penuh lalar dia mengawali sebuah pembicaraan dengan gaya biasa, biasa dalam hal yang tak biasa bagiku menjalarnya pembicaraan yang sampai di telinga orang-orang banyak itu terkesan selalu risih di persepsi ku yang datar ini.

Selalu menggulang dan menggulang openg ini tampa lemas dia berbicara hal-hal yang membuatku takut akan beban yang aku tanggung sampai-sampai dia tak sadar kalau aku menusuk tulangnya di bungkus nasi dia ber ujar sampai nasi pun menjadi basi menawarkan sesuap harapan padaku dengan lantang dan bodoh, serumpun nya memikirkan konsepsi pemberi cahaya pada ku dia juga punya peranan publish yang jauh di depanku, pengguna baju bau ini sempat berteriak tampa malu dengan kata indonesia dan kutipan-kutipan manis pemangsa pikiran labil seperti motivator bangsat yang hinggap dari layar ke layar televisi, dengan serius memperhatikan ku perkata dan per ucap pasih ini.

Memotong suatu hal yang pada ujungnya sama dengan nya menjadi andalan, keras bagai tarsan mengejar banteng yang lari di rumput sehingga di mengambil pisang.

Saturday, April 6, 2013

Gurau Malam


Menjelang malam gejala-gejala warung modern yang berada di sekitaran kota penuh dengan kesenjangan-kesenjangan dalam berbagai bidang, segaja aku tak mau sebut namanya karena sudah banyak yang menyebut namanya bahkan tau filosofi asalnya tapi semuanya terlalu luhur dengan berbagai hal, anggapan buruk mencerca tangan ini sehingga aku menjadi terhanyut dengan keburukan atas persepsi ku, menjadi liar tak beralasan membuat aku mabuk sembari meminum omongan dan film yang real tampa cela-cela dari dinding-dinding gurauan teman yang sadar akan semua.

Mengunjungi yang tak pernah ku kunjungi adalah sebuah berkah yang menjadi “amuk-amuk’an” , jam pun menggingatkan setiap detik hujan yang tak turun menjamu ku yang baru datang dari jauh,  ingat cerita sang tua selalu menggambarkan sebuah ketidakadilan di setiap jalan malam, di balik kebaikan daerah hinggap penuh dengan gambaran subuh dan remang menjalar keburukan tapi malah bercumbu kemesraan tampa belas kasih, jalanan yang digambarkan sebagai samudra pasifik penuh dengan hewan ganas berdiam didalam lautan subuh tampa kompromi bisa saja muncul di permukaan setara hingga bisa menggigit nadi kita yang menyalurkan  darah ke jantung,  huru-hara komunitas menjadi contoh kota ini, bau-bauan tidak sedap.

Friday, April 5, 2013

Ini Hanya Catatan Lama


Sempat binggung dengan menjadwal atau bahkan menata waktu yang harus dilakukan menjadi suatu kendala yang amat sangat, pertentangan batin dan pergulatan pada diri sendiri yang sering memalaskan, sampai menjenuhkan, waktu yang seharunya di manfaatkan dengan baik kadang semangat dalam hari-hari tertentu juga tergantung pada suasana apakah entah dalam membaca, belajar, liburan, bertugas, maupun yang lainya.

Dengan hal-hal yang menarik, hari tak habis dengan gurauan selalu aku manfaatkan dengan baik sehingga tak mengenal tempat dan waktu sampai-sampai teman-teman tak kuhiraukan. Menerjang himpitan kesibukan selalu membuatku lupa dan lupa, menata jadwal perkuliahan yang esok harus di pertanggung jawabkan membuat aku cukup kewalahan dalam membagi waktu, apa lagi aku belum punya tempat tinggal tetap di Madura ini, jadi ketambahaan dengan hal ini aku merasa seperti sibuk sendiri padahal aku tak terlalu sibuk juga.

Apa lagi di dalam organisasi aku sontak binggung dimana semuanya ini, menghilang dan menghilang lagi aku jadi merasa sepi seharusnya ini semua tak seperti ini, alasan demi alasan selalu di lontarkan dengan seksama oleh mereka semua untuk bisa santai dalam hal-hal seperti ini, cukup dulu aku mau melanjutkan tugas ku.