Tuesday, December 31, 2013

Kiriman Teman "hening"

Terimakasih telah mengirimkan tulisan ini

Semoga apa yang anda pesankan dalam tulisan ini dapat tersampaikan dengan baik.

Oleh : FANDY AHMAD, mahasiswa UTM Ilmu komunikasi"rencang kulo"

Malem datang dengan hening yang tak menentuh. Seiring dengan hembusan angin. Syair melandah di telingan, rasa gelisah dan ragu yang mendalam dihati namun jiwa-raga tak mau kecewa apa yang ada di hidup ini.

Realita ini harus diselesaikan dengan hati hati tak berarti waspada dengan sekitar lihatlah sudut jalan dan ujung yang kita tujuh demi suatu impian di anggan. Hampir tak berarti hidup ini tanpa kepuasan tertentu yang apa kita peroleh dengan kerja keras. sedih yang bisa mencurakan hati terkikis hingga malam datang dengan hening.

Langkah yang bisa hilangkan hening tiap malam dan pagipun menyambut dengan indah. Betapa bahagianya kita hadapi hidup tak menentuh ini, satu momen indah yang bisa melupakan segala hal baik ragu yang ku nyairkan, suara bahagia untuk jiwa hampa, langkah ku tak sampai disini mengapa aku harus begini dengan luka-luka.

Apa yang harus dilakukan selama ini apakah harus tangis kecewaan apa juga dengan hati gelisah ini hanya ada satu cara yang bisa melupakan semua ini lalu menyambut pagi dengan indah.

Oh betapa kau hadir di pagi ku dan malem pun ikut senang tak ada lagi hening dan hampa semua akan menghilang, dengan sendiri dan langkah ku tak sampai disini terus lah berjalan sampai kau temukan apa arti semua yang ada didalam hidup, tak menentuh selalu ada dan ada.

Kau yang bisa menyelesaikan semua hal yang hening hampa dan terlalu lelah untuk dijalani tapi sebisa mungkin mengenjar imipian mu.

Tapi langkah ku semakin jalan dan tak ada kepuasan yang ada saat ini meski hati hening datang setiap malem tiba satu impian yang ada untuk terwujudkan . berjalan melangkah menjemput pagi yang indah begitu bahagianya diri ini selalu ada dengan gelisah namun itu dengan senyuman menyambut pagi ..

KAMAL, BANGKALAN, MADURA 2013.

Sunday, December 29, 2013

Ilmu Intelejen

Apakah Definisi Intelijen?
Intelijen dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan langsung dari Intelligence (N) dalam bahasa Inggris yang berarti kemampuan berpikir/analisa manusia. Mudahnya kita lihat saja test IQ (Intelligence Quotient), itulah makna dasar dari Intelijen.
    Intelijen atau Intelligence berarti juga seni mencari, mengumpulkan dan mengolah informasi strategis yang diperlukan sebuah negara tentang negara “musuh”. Dari definisi ini berkembang istilah counterintelligence yang merupakan lawan kata dari intelligence.
    Intelijen juga merujuk pada organisasi yang melakukan seni pencarian, pengumpulan dan pengolahan informasi tersebut di atas. Dengan definisi ini intelijen juga mencakup orang-orang yang berada di dalam organisasi intelijen termasuk sistem operasi dan analisanya.

USA, Russia (sejak era Uni Soviet) adalah dua negara yang mengembangkan intelligence mengarah pada sebuah field science baru. Keberadaan sejumlah Akademi di Russia, bahkan Sekolah Tinggi sampai Graduate School di USA (bersepesialisasi di bidang intelijen) merupakan langkah-langkah gradual menuju penciptaan field science of intelligence.
Sementara di sebagian besar negara “besar” seperti Inggris, Perancis, dan China, Intelligence masih dianggap sebagai seni yang dirahasiakan dan hanya diajarkan pada calon-calon agen intelijen selama beberapa tahun.

Hakikat Keberadaan Organisasi Intelijen
Mungkin kebanyakan orang menyangka keberadaan organisasi intelijen semata-mata hanya untuk kepentingan pemerintah atau elit politik yang berkuasa. Hal ini merupakan kekeliruan persepsi yang sangat membahayakan bagi nama baik sebuah organisasi intelijen. Dalam kasus kebijakan represif negara junta militer, otoriter, rejim komunis dan revolusi sejenisnya, memang terjadi penyimpangan fungsi intelijen yang hakikatnya ditujukan untuk menghadapi ancaman dari luar negara menjadi alat represi bagi pemerintah.
Teknik, mekanisme kerja, sistem analisa dan produk yang dihasilkan organisasi intelijen di manapun di dunia adalah sejenis, yaitu berupa hasil olah analisa berdasarkan data-data yang akurat dan tepat serta disampaikan secepat mungkin kepada para pengambil keputusan dalam sebuah negara.

Tidak ada yang misterius, aneh ataupun luar biasa dalam organisasi intelijen. Secara historis dan alamiah, organisasi intelijen memiliki ciri tertentu yang telah diketahui masyarakat luas, yaitu prinsip kerahasiaan. Ciri utama inilah yang kemudian menimbulkan tanda-tanya bagi masyarakat. Selanjutnya timbul pula praduga-praduga yang belum tentu benar sehingga mitologi intelijen menjadi semakin kabur dalam bayang-bayang cerita atau kisah nyata, cerita fiksi dan fakta terjadinya peristiwa yang sulit diungkapkan secara transparan kepada khalayak.

Definisi tugas pokok intelijen di seluruh dunia cukup jelas, yaitu pada umumnya bertugas mengumpulkan intelijen (informasi) dan melakukan operasi tertutup (kegiatan rahasia) di luar negeri. Intisari dua kegiatan utama tersebut adalah mengidentifikasi dan mencegah ancaman terhadap negara dan warga negara serta untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan negara.

Sementara itu, apa yang dimaksud dengan kegiatan intelijen di dalam negeri adalah kontra-intelijen (kontra-spionase), yaitu kegiatan rahasia yang ditujukan untuk mendeteksi kegiatan intelijen negara asing di dalam wilayah teritorial negara kita. Dalam perkembangannya kegiatan kontra-intelijen lebih ditujukan untuk menangkal kegiatan terorisme internasional maupun kejahatan trans-nasional.

Tidak ada istilah meng-inteli warga negara yang “kontra” pemerintah. Model ini hanya ada dan muncul di negara-negara blok komunis, junta militer dan negara otoriter dengan tujuan melanggengkan kekuasaan. Sementara di negara demokrasi, transparansi dan persaingan politik yang sehat dalam koridor hukum sewajibnya diterima sebagai aturan main dan intelijen harus “bersih” dari soal dukung-mendukung kekuatan politik yang bersaing di dalam negeri. Sangat mirip dengan peranan militer dalam negara demokrasi.

Apa yang sering disebut sebagai intelijen tingkat instansi dan intelijen polisi lebih mengarah pada spesifikasi sasaran operasi, dan mereka tidak melakukan operasi intelijen seperti hakikatnya intelijen. Apa yang mereka lakukan adalah penyelidikan dan penyidikan atas suatu pelanggaran hukum. Adapun teknik dan mekanisme kerjanya bisa saja sama dengan intelijen “murni”.

Intelijen militer bisa dianggap sebagai saudara kandung intelijen sipil. Tujuan, motivasi dan hakikat operasinya bisa dikatakan sama. Hanya saja cakupan ruang operasinya yang sedikit berbeda, bahkan seringkali terjadi operasi gabungan sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing. Perbedaan hanya sedikit dalam tujuan operasi taktis (jangka pendek), sekedar contoh misalnya saja signal intelligence (SIGINT) sangat vital bagi intelijen militer karena terkait dengan pendeteksian mobilisasi militer asing yang menjadi pihak lawan (oposisi). Sementara itu, SIGINT bagi intelijen sipil lebih bermanfaat dalam mengamankan operasi tertutup di negara lawan dengan melakukan coding informasi yang rumit dan sulit dipecahkan lawan.

Meskipun dinamakan Organisasi Intelijen Sipil, organisasi intelijen yang baik tidak bisa hanya berwarna sipil karena pentingnya sentuhan militer. Hakikatnya merupakan gabungan antara kemampuan militer (tempur) atau combatants dan petugas intelijen (intelligence officers). Dengan kata lain, meskipun seorang anggota intelijen berlatar belakang militer dia juga punya kemampuan seluwes orang sipil. Sebaliknya petugas intelijen sipil wajib mempunyai kemampuan militer yang cukup. Mereka semua wajib untuk loyal dan bersumpah setia demi keselamatan rakyat dan negara. Intelktual, bakat, dedikasi dan keberanian adalah beberapa hal yang menjadi modal utama insan intelijen baik sipil maupun militer.
    “Sebagai orang Indonesia yang peduli dengan reformasi intelijen Indonesia, terus terang saya sangat sedih dan kecewa dengan perkembangan, dinamika, serta prospek intelijen di Indonesia. Mudah-mudahan tulisan singkat ini dibaca dan dipahami oleh generasi muda, intelektual dan mereka yang aktif di dunia intelijen. Harapan saya adalah bangkitnya semangat dan berkembangnya kreatifitas serta kesungguhan dan tekad yang kuat dalam membangun organisasi intelijen di Indonesia yang ideal, bisa diaplikasikan serta memiliki citra positif di mata masyarakat Indonesia dan disegani oleh lawan yang menjadi ancaman bagi negara dan warga negara Indonesia”. (Senopati Wirang)

Bidang  Studi Intelijen
Apa sebenarnya yang wajib dipelajari dalam studi intelijen secara akademik?
Pertanyaan itu terus menggelitik hati dan pikiran saya sejak Pak Hendropriyono menggagas dan akhirnya mewujudkan sekolah Intelijen setingkat S1 dan S2 beberapa tahun silam. Tanggung jawab dalam mencetak kader intelijen yang memiliki kapasitas kesarjanaan yang tinggi secara akademis terus membayangi sekolah Intelijen. Karena saya tidak bisa ikut campur dalam penyusunan kurikulum maupun penyelenggaraan sekolah tersebut, maka saya akan ungkapkan apa-apa yang wajib dipelajari dalam studi intelijen berdasarkan survey internet dan pengalaman sekolah saya (senopati wirang), sbb:
  1. Konteks studi intelijen seyogyanya lebih luas dari studi politik, ekonomi, hubungan internasional, kebijakan luar negeri, hukum internasional, kriminologi, etika, psikologi, dan usaha-usaha negara bangsa dalam memelihara keamanan politik, sosial, ekonomi, dan militer. Dengan kata lain studi intelijen bersifat multidisplin.
  2. Sebagai pondasi, diperlukan studi logika, matematika dan statistik serta dasar-dasar ilmu alam, filsafat manusia dan filsafat ilmu pengetahuan, geografi, dan sejarah dunia.
  3. Sebagai pengetahuan praktis dan teknis perlu dikembangkan spesialisasi khusus seperti bahasa asing, fotografi dan teknologi audio video, ilmu komputer, teknologi komunikasi, dan teknologi sistem pengamanan.
  4. Sebagai pilihan studi bisa disusun berdasarkan area studies (kajian wilayah/kawasan misalnya Asia Tenggara) atau issues studies (kajian masalah misalnya Terrorisme).
  5. Sebagai studi utama, tentu saja tetap mengajarkan dasar-dasar intelijen mulai dari internal security sampai pada analisa intelijen strategis tingkat advance.
The intelligence cycle
The intelligence cycle adalah proses mengolah informasi mentah menjadi produk intelijen yang disampaikan kepada pengambil kebijakan untuk digunakan dalam penentuan kebijakan dan langkah-langkah pelaksanaan kebijakan. Ada 5 langkah dalam perputaran intelijen.
  1. Planning and Direction. Merupakan manajemen informasi mulai dari identifikasi data-data yang diperlukan sampai pengiriman produk intelijen ke pengambil kebijakan atau pengguna produk intelijen. Merupakan awal dan akhir dari lingkaran. Menjadi awal karena berkaitan dengan penyusunan rencana yang mencakup kebutuhan pengumpulan informasi yang spesifik dan menjadi akhir karena produk akhir intelijen yang mendukung keputusan kebijakan, menciptakan permintaan-permintaan produk intelijen yang baru. Keseluruhan proses mengacu pada petunjuk pengambil kebijakan seperti Presiden atau Perdana Menteri, pembantu-pembantu di jajaran eksekutif seperti Dewan Keamanan Nasional, anggota kabinet….yang kesemua itu mengawali permintaan khusus kepada intelijen.
  2. Collection. Adalah pengumpulan data/informasi mentah yang diperlukan untuk memproduksi analisa intelijen. Ada banyak sekali sumber-sumber informasi termasuk informasi terbuka seperti berita radio asing, surat kabar, majalah, internet, buku, dll. Informasi terbuka merupakan salah satu sumber utama intelijen yang harus dimekanisasikan secara disiplin menjadi sebuah rutinitas sehari-hari yang menjadi supply tidak terbatas yang akan mendukung analisa intelijen. Bila anda pernah berkunjung ke CSIS di Tanah Abang III Jakarta, perhatikan bagaimana intelijen masa Orde Baru berbagi teknik dengan lembaga penelitian dan menjadikannya sebagai salah satu lembaga yang disegani. Guntingan Koran CSIS adalah khas pekerjaan membosankan yang sangat vital bagi intelijen, khususnya bagi perwira analis, karena dengan mengikuti setiap waktu perkembangan terkini dari media massa akan melatih insting analisanya. Di samping itu, ada juga informasi rahasia dari sumber-sumber yang rahasia pula. Informasi ini hanya memiliki prosentase yang kecil namun sifatnya amatlah sangat penting sehingga sering juga menjadi penentu dari sebuah produk intelijen. Biasanya diperoleh dari operasi tertutup oleh para agen intelijen atau melalui informan. Secara teknis penngumpulan data juga dilakukan oleh peralatan canggih secara elektronik dan fotografi serta satelit.
  3. Processing. Berkaitan dengan interpretasi atas data/informasi yang sangat banyak. Mulai dari penterjemahan kode, penterjemahan bahasa, klasifikasi data, dan penyaringan data. Dalam organisasi intelijen tradisional dan konservatif, seorang agen baru seringkali harus melalui masa-masa membosankan melakukan pemilahan data berdasarkan kategori yang ditentukan atasannya. Hal ini sangat penting untuk membiasakan diri dalam menyusun jurnal pribadi maupun jurnal unit yang sangat vital dalam mempercepat proses penemuan kembali data-data lama yang tersimpan. Juga membiasakan diri untuk segera melihat data dari sudut pandang potensi spot intelijen atau memiliki potensi ancaman.
  4. All source Analysis and Production. Merupakan konversi dari informasi dasar yang telah diproses menjadi produk intelijen. Termasuk didalamnya evaluasi dan analisa secara utuh dari data yang tersedia. Seringkali data yang ada saling bertentangan atau terpisah-pisah. Untuk keperluan analisa dan produksi, seorang analis, yang biasanya juga spesialis bidang tertentu, sangat memperhatikan tingkat “kepercayaan”data (bisa dipercaya atau tidak), tingkat kebenaran dan tingkat relevansi. Mereka menyatukan data yang tersedia dalam satu kesatuan analisa yang utuh, serta meletakkan informasi yang telah dievaluasi dalam konteksnya. Bagian akhirnya adalalah produk intelijen yang mencakup penilaian atas sebuah peristiwa serta perkiraan akan dampaknya pada keamanan nasional. Salah satu unsur vital dari produk intelijen adalah peringatan dini dan perkiraan keadaan. Sementara model laporan ada macam-macamnya mulai dari yang sangat singkat berupa telpon lisan yang menjadi laporan kepada pimpinan negara, sampai laporan yang cukup tebal mencakup analisa perkiraan keadaan tahunan. Dari beberapa kasus yang terungkap di media massa, terlihat jelas bahwa baik BIN maupun BAIS TNI sangat lemah di sektor analis ini, entah karena sumber daya manusia-nya yang levelnya masih sebatas lulusan akademi militer, D3 atau S1 saja, atau karena memang keterbatasan dana yang menyebabkan lembaga intelijen tidak berkutik soal peningkatan SDM. Bandingkan misalnya dengan CIA atau Mi6 yang secara aktif mengirimkan para analisnya ke universitas-universitas di berbagai negara untuk menempuh studi doktor sekaligus memantapkan spesialisasi masing-masing.
  5. Dissemination. Merupakan langkah terakhir yang secara logika merupakan masukkan untuk langkah pertama. Adalah distribusi produk intelijen kepada pengguna (pengambil kebjiakan) yang biasanya adalah mereka yang meminta informasi kepada intelijen. Untuk kasus Indonesia, pengguna disini hampir identik dengan Presiden.
Kegiatan Rahasia
Metode pengumpulan informasi oleh organisasi intelijen di seluruh dunia selalu mengandalkan human intelligence (humint). Pertanyaannya kemudian adalah apakah metode klasik penyampaian informasi ke kantor pusat masih saja berlangsung. Pola-pola operasi dead drop microfiche dan brushpass, dll tampaknya semakin rawan. Sementara komunikasi melalui internet jelas sangat terbuka oleh program-program deteksi semacam cyberspy dan kaum hacker serta sistem pengawasan oleh provider internet dan pemerintah.
Sistem pengawasan lingkungan yang semakin ketat sejalan dengan perkembangan teknologi mau tidak mau akan menyulitkan kegiatan rahasia di luar negeri.

Berbeda dengan kegiatan rahasia di dalam negeri, kegiatan rahasia di luar negeri tidak saja beresiko karena melanggar hukum sebuah negara melainkan juga karena bisa merusak kredibilitas sebuah negara di mata negara yang dimata-matai. Lebih jauh merusak hubungan diplomatik.

Hal yang paling lucu dari kegiatan rahasia di luar negeri belakangan ini adalah para intel dari berbagai negara akhirnya minum kopi bersama-sama di Starbuck sambil berdiskusi tentang terorisme internasional, tentang masalah internasional, dengan pengecualian masalah di negara masing-masing, lha bagaimana ini…mungkin abad 21 ini merupakan akhir dari kasus-kasus espionage antar negara. Hal ini saya perhatikan terjadi di Paris, Washington DC, Tokyo, Hongkong, Singapore, dan bahkan Jakarta.

Tentu tidak seluruhnya demikian, hal tersebut di atas hanya terjadi diantara organisasi yang sudah menjadi counterpart dan memiliki kesepakatan untuk bekerjasama. Tentu masih ada hal-hal yang bersifat spionase dalam kadar yang relatif berbeda-beda.

Bagaimana dengan kegiatan rahasia di dalam negeri? Dahulu salah seorang junior saya yang berwajah sangar tapi baik hati sering mengajarkan pada calon agen untuk mengutamakan keberanian, karena operasi di wilayah sendiri. Apapun persoalannya bisa diatasi karena kita memiliki “hak” untuk melakukan operasi keamanan. Keberanian yang kadangkala melangkah terlalu jauh dari sisi kerahasiaan, akibatnya ada beberapa agen yang sangat baik harus mengakhiri karirnya dari operasi lapangan karena terekspos ke pihak lawan atau ke publik, contohnya agen yang membongkar jaringan Jamaah Islamiyah.

Mengingat pentingnya kegiatan rahasia dengan segala prinsip-prinsipnya, saya ingin menghimbau kepada seluruh jajaran intelijen untuk kembali menerapkan standar baku kerahasiaan, khususnya dalam membentuk calon agen menjadi agen rahasia.
Agak aneh membahas kegiatan rahasia di media yang tidak rahasia, tetapi dengan variasi pembaca yang tidak saya ketahui, mungkin ada pesan yang tertangkap entah oleh siapa.

Sumber dari “Senopati Wirang” Intelindonesia.blogspot.com

Intelejen

“Kemungkinan untuk merekrut dan menembus Rusia sama mustahilnya dengan menempatkan mata-mata di planet Mars.” Untuk itu memang diperlukan teknik dan cara khusus untuk menembusnya.

Manual tentang trik dan teknik pengelabuan CIA yang selama puluhan tahun dirahasiakan. Penulis H. Keith Melton dan Robert Wallace memublikasikannya pada 2009. Lewat buku inilah, publik akhirnya mengetahui beberapa proyek pembuatan obat bins dan trik sulap yang pernah disiapkan untuk bekal tugas para perwira CIA

Dalam tradisi intelijen ada pedoman, bahwa produk intelijen adalah data peringatan dini yang sangat penting (bagi penggunanya atau user). Untuk itu setiap agen atau perwira intelijen harus mencari informasi yang diinginkan dengan cara yang cerdas dan menyerahkannya tepat waktu. Maka, segala cara pun ditempuh untuk bisa mendapatkan informasi yang selalu ditempatkan pada prioritas pertama. Apakah itu Mossad, Badan Intelijen Negara (Indonesia), atau CIA, badan intelijen dari berbagai negara, telah menapaki sejarahnya sendiri hingga menemukan teknik-teknik yang sesuai dengan medan dan musuh yang dihadapi.

Perjalanan dan pengalaman di medan operasi memang akan menuntun setiap badan intelijen memiliki pedoman yang khas. Tak terkecuali CIA. CIA pernah menapaki pengalaman yang cukup dramatis dalam perjalanannya memburu berbagai informasi penting dari wilayah Uni Soviet atau Rusia seteru terbesarnya yang paling “mengganggu” di masa Perang Dingin. Buku The Official CIA Manual of Trickery and Deception (2009) yang disusun H Keith Melton dan Robert Wallace menyadarkan orang bahwa pada dasawarsa 1950-an mereka sampai menyiapkan laboratorium khusus untuk menembus “tebalnya tembok pertahanan” Uni Soviet. Laboratorium itu diberi nama Technical Services Division.

Tentang tebalnya tembok pertahanan Uni Soviet bisa disimak dari banyaknya agen asing CIA yang terbunuh tatkala bertugas di Uni Soviet dan negara sekutunya seperti Polandia, Rumania, Ukraina dan negara-negara Baltik lainnya pada dasawarsa 1950-an. Maka, bukan tanpa sebab, jika salah seorang Direktur CIA paling kuat dari masa 1966-1973, Richard Helms, sampai berkata: “Kemungkinan untuk merekrut dan men-embus Rusia sama mustahilnya dengan menempatkan mata-mata di planet Mars.”

TSD dengan tim ilmuwan dibawah pimpinan seorang ahli kimia bernama Dr Sidney Gottlieb itu diberi kewenangan penuh untuk merancang dan menciptakan berbagai material dan cara untuk mempermudah pengiriman dan pencurian informasi hingga sulit diketahui orang biasa. Anggota tim yang umumnya ahli kimia dan biologi itu menciptakan banyak obat-obatan dan cara menyelundupkan informasi yang untuk ukuran awam sangat mencengangkan.

Temuan atas laporan yang telah puluhan tahun disimpan rapat mengungkap, TSD telah menangani lebih dari seratus sub-proyek yang amat ajaib. Di antara sub-proyek ini, misalnya, mereka berhasil menciptakan tinta khusus untuk penulisan informasi yang tak tampalc. Tulisan ini bisa “timbul” kembali setelah ditaburi serbuk khusus buatan laboratrium yang sama.

TSD juga menciptakan obat penenang dan racun-racun pelumpuh yang bisa dibawa dengan mudah dan sulit terlacak oleh para perwira intelijen di luar negeri. Obat-obatan itu dirancang untuk melumpuhkan agen kontraintelijen, bahkan kalau perlu anjing penjaga yang ditemui saat bertugas. Mereka mencoba kombinasi heroin, amfetamin, obat penenang lain, hingga temuan barn bernama LSD (Lysergic Acid Diethylamid).

Hanya dengan beberapa puluh miligram LSD yang disusupkan ke dalam minuman, seseorang bisa kehilangan kesadaran dan bisa dipaksa memberikan informasi dalam alam bawah sadarnya. Obat-obat penenang itu memang sengaja dirancang sebagai bagian dari teknik khusus interogasi.

“Individu yang berada dalam pengaruhnya akan sangat sulit mempertahankan informasi karangan ketika diinterogasi.” Selain itu mereka juga menciptakan obat-obatan untuk interogasi dengan cara hipnosis. Obat-obatan itu adalah temazepam, MDMA, mescaline, psilocybin, scopolamine, sodium pentathal dan ergine.

Dr Frank Olson , salah satu kelinci percobaan korban obat bius rancangan MD. la berhasil terbius , namun kemudian tewas karena tanpa sadar melompat dari lantai sepuluh kamar hotelnya. Kasus memalukan ini 20 tahun dipetieskan, namun akhirya terbongkar juga oleh Komite Church.

Selain Nikita Khrushchev, tokoh komunis yang juga merepotkan AS adalah Fidel Castro. Berbagai obat pelumpuh telah diciptakan untuk menyabot pimpinan Kuba ini. Lucunya, di antara senjata rahasia ini adalah obat perontok jenggot. Maksudnya, ternyata hanya untuk mempermalukan dia di muka publik.

MKULTRA

Obat-obatan dan racun yang digarap sejak 1948 lewat subproyek bersandi MKULTRA (selanjutnya diubah menjadi: MK-SEARCH) ini lumayan cespleng. Buktinya, salah seorang “kelinci percobaan”, yakni Dr Frank Olson, seorang pakar senjata biologi Angkatan Darat AS, “berhasir kehilangan kesadaran, meski akhirnya tewas karena tanpa sadar melompat dari lantai sepuluh kamar hotelnya. LSD juga diujicobakan ke tujuh orang tahanan dari sebuah penjara federal di Kentucky.

Peristiwa memalukan tersebut berhasil dipetieskan hingga 20 tahun, namun akhirnya terbongkar juga oleh serangkaian penyelidikan yang dilakukan komite khusus Kongres yang dipimpin senator Frank Church. Pada 1975 itu juga Komite Church berhasil membongkar keterlibatan Direktur CIA Richard Helms. Penyingkapan ini bikin gempar karena Helms terhitung sebagai salah satu orang terkuat di Washington. Helms rupanya pernah memerintahkan TSD untuk memusnahkan seluruh dokumen MKULTRA, termasuk soal tewasnya Olson.

Keinginan Kongres untuk mengungkap proyek rahasia CIA didorong oleh diterimanya ratusan ribu surat kaleng yang berisi informasi kegiatan terselubung yang meresahkan. Di antaranya adalah tentang upaya pembunuhan sejumlah kepala negara asing. Keresahan yang sama, pada Desember 1974, juga dilaporkan salah satu koran paling berpengaruh di AS, The New York Times.

Lewat keterangan Komite Church ini pula publik akhirnya mengetahui bahwa MKULTRA merupakan salah satu proyek super rahasia TSD. Hal ini terindikasi dari kode “MK” di depan nama ULTRA. Setiap proyek TSD selalu menggunakan kode “MK”, seperti juga MKNAOMI dan MKDELTA.

MKULTRA yang dikerjakan sejak 1945 adalah ide liar Badan Obyek Intelijen Bersama (CIA belum dibentuk) ketika sedang mengerjakan Operasi Paper clip. Dalam operasi ini, mereka memaksa sejumlah ilmuwan Nazi, yang sejatinya merupakan tawanan perang, untuk mengembangkan teknik penyiksaan dan pencucian otak.

Pada 1951 proyek top secret tersebut dikembangkan menjadi Proyek ARTICHOKE, yang namanya kemudian diubah menjadi ULTRA. Disimak dari tahun kejadiannya, sangat jelas bahwa penanggungjawab tertingginya adalah Allen Dulles, pejabat direktur CIA saat itu. MKULTRA kabarnya me-. rupakan salah satu respon CIA untuk menandingi proyek rahasia Pengendali Pikiran (mind-control) yang saat itu tengah dikembangkan dinas intelijen Uni Soviet, China dan Korea Utara untuk “membongkar informasi dari pikiran” tawanan AS yang tertangkap dalam Perang Korea.

Proyek ajaib beranggaran lebih dari 10 juta dollar ini lah yang dikemudian hari mengilhami pembuatan novel dan film Manchurian Candidate. Demikianlah, CIA telah rnenempuh berbagai cara agar misi rahasiannya bisa semakin ‘tak kelihatan”. Selain untuk menembus “tembok pertahanan” Uni Soviet, laboratorium TSD juga meramu obat bius dan racun untuk melumpuhkan Presiden Kuba, Fidel Castro, yang di masa Perang Dingin cukup membuat presiden AS kelimpungan. Mereka bahkan sempat memikirkan tentang bagaimana cara “menyampaikan” obat-obat itu. Di antaranya yang cukup bikin kita tersenyum adalah dengan cara mengoleskannya di ujung cerutu yang kerap diisap Castro. Yang mengoleskan tentu nya adalah agen intelijen di Kuba.

Terpikir juga menebar garam talium pada sepatu bot Castro. Garam ini untuk merontokkan rambut serta jenggot dengan maksud hanya untuk mempermalukan Castro yang amat memuja kejantanan. Tim yang sama juga sempat menyiapkan baju selam yang telah diolesi kuman tuberculosis. Baju selam itu akan dikirim sebagai hadiah dalam suatu acara. Tetapi, dari semua rencana itu, tak satu pun yang terealisasi.

Walau Komite Church berhasil menguncang salah satu sendi CIA, secara keseluruhan tubuh dinas rahasia terbesar di dunia ini toh tetap berdiri tegar. Dorongan untuk menjalankan berbagai proyek super rahasia macam MKULTRA tampaknya masih terus berialan, bahkan terus disempurnakan.

Hal itu menjadi suatu kegiatan yang lumrah mengingat dinas rahasia mana pun di dunia selalu ingin mengorek informasi yang terpendam di dalam benak tawanan perang, serta agen ganda dan ahli senjata yang tertangkap. Itu karena mereka memiliki pedoman yang hampir sama, yakni bahwa mereka tak akan mampu “mengenali atau menguasai” pikiran seseorang sebelum “memiliki jiwa dan raganya”.

Atas dasar pedoman itu lah berbagai eksperimen, termasuk penggunaan obat-obat khusus, masih akan terus dilakukan demi keberhasilan interogasi dan penguasaan pikiran. Banyak pihak menyakini, praktik-praktik “kejam” ini sudah menjadi kegiatan biasa di penjara-penjara besar yang dikhususkan bagi tawanan perang ata u teroris kelas kakap.

Ilusi Pengelabu

Disamping obat-obatan dan material biokimia lain, yang tak kurang menarik, CIA juga merekrut maestro sulap untuk

menciptakan trik-trik pengelabuan yang amat diperlukan para agen intelijennya. Mereka rupanya amat terinspirasi dengan teknik-teknik sulap yang sebenarnya hanya merupakan teknik pengalihan perhatian atau tipuan kecekatan tangan.

Salah satu maestro sulap yang diketahui membantu CIA, adalah John Mulholland — pesulap yang amat terobsesi dengan Houdini, legenda dunia yang berhasil untuk pertama kalinya membebaskan tubuh dari ikatan rantai terkunci dalam keadaan terkurung. Sidney Gottlieb memintanya secara khusus untuk menciptakan teknikteknik sulap khusus untuk operasi rahasia. Misalnya, untuk pengiriman kertas atau film berisi informasi penting secara terselubung, gerak tipuan untuk menutupi kegiatan spionase, mempengaruhi pilihan dan persepsi orang, penyamaran, dan pengiriman sinyal rahasia.

Semua itu tertera dalam manual “Some Operational Applications of the Art of Deception” dan “Recognition Signals” yang juga terbaca dalam file proyek MKULTRA. Untuk manual-manual itu CIA membayar 3.000 dollar. Mulholland, saat itu berusia 55 tahun, dikenal sangat fasih melakukan teknik sulap jarak dekat dengan penonton. Tangannya sangat cekatan dan ia punya banyak peralatan tersembunyi di sekujur tubuhnya. Keterampilan ini lah yang akan ditularkan icepada para perwira CIA, misalnya, ketika ingin menjatuhkan pil atau obat penenang ke dalam gelas atau transaski informasi di tempat-tempat terbuka.

Bagi Gottlieb, jika dikombinasikan dengan peralatan canggih, tipuan sulap akan menghasilkan teknik transaski informasi yang terselubung. Sulap juga menyediakan pilihan yang sangat inovatif untuk mengelola “panggung” yang akan dijadikan ajang pertukaran informasi atau bahkan untuk meloloskan diri. Ini bisa dilakukan dengan cara mengatur latar-belakang, alat peraga, pencahayaan dan menempatkan asisten yang sangat cantik hingga sudut sudut pandang khalayak bisa terbuai dan tergiring keluar dari ajang tempat manuver kegiatan intelijen terjadi.

“Teknik pengelolaan panggung yang tepat akan mengarahkan penonton untuk lebih mempercayai mata mereka ketimbang nalarnya. Orang memiliki kemampuan yang hampir tak terbatas untuk membenarkan diri dan “tahu” bahwa manusia tidak akan hidup melayang atau dipotong menjadi dua, namun keduanya tampak terjadi di panggung yang telah dikelola dengan balk,” tulis Melton dan Wallace dalamThe Official CIA Manual of Trickery and Deception.
 
Bagi pesulap, ilusi yang sempurna adalah tujuan akhir pertunjukan. Setiap celah kegagalan paling banter hanya akan mendatangkan rasa malu. Berbeda halnya bagi para agen intelijen. Ilusi yang mereka terapkan merupakan sarana untuk mengalihkan perhatian. Setiap celah kesalahan akan mendatangkan risiko kematian.

Untuk itu mereka harus lah sangat presisi dan berhati-hati melakukannya. Contoh teknik pengelolaan panggung spionase yang umum dipakai adalah mengubah susunan lingkungan di tempat transaksi. Seorang perwira intelijen yang biasa memarkir mobilnya di pinggir jalan tepat di depan rumahnya, akan menjadi sebuah sinyal tersendiri jika suatu ketika ia memarkir mobil tersebut di seberang rumahnya. Perubahan seperti ini umumnya luput dari perhatian orang-orang di sekitarnya. Perubahan susunan parkir seperti ini lah yang biasa digunakan sebagai kode untuk memulai transaksi.

Teknik pengelolaan panggung pernah diterapkan secara brilian oleh perwira CIA, Tony Mendez, ketika diberi tugas menyelamatkan enam diplomat AS yang disekap mahasiswa Iran pada November 1979 di Teheran. Mendez yang waktu itu Kepala Bagian Penyamaran di TSD, berusaha mendekati pemerintah Teheran dengan tim pembuatan film dokumenter Studio Six Productions yang murni merupakan akal-akalnya saja. Ia mengatakan, tim ini ingin sekali membuat film berjudul Agro untuk membalikkan kesan dunia internasional yang miring akibat tindak pengambilalihan gedung Kedubes AS di Teheran, dan pemerintah Iran amat menyetujuinya.

Pemerintah Iran terbuai dan sama sekali tak sadar dengan rencana pengelabuan Mendez yang telah disusun dengan sangat rapi. Mendez dan rombongan pun diberi keleluasaan masuk ke Teheran, hingga ke tempat para diplomat itu ditawan. Singkat cerita, setelah didandani dengan kostum ala Hollywood, keenam tawanan AS itu pun disusupkan keluar, dan segera diterbangkan dengan maskapai Swissair kembali ke AS.

Mengelola panggung juga bisa dilakukan secara abstrak, dan ini pernah dilakukan dengan sangat cantik oleh agen rahasia Inggris, Kim Philby, yang ternyata juga bekerja untuk dinas rahasia Uni Soviet. Setahap demi setahap ia membangun persahabatan dengan perwira intelijen CIA, James J. Angelton, dengan cara menemani kebiasaannya mabuk mabukan. Bertahun-tahun Philby membangun panggungnya” dengan sabar dengan cara terus menemani Angelton minum-minum di bar dan di pesta-pesta yang menjadi kegemarannya. Ini harus dilakukan mengingat Angelton adalah aset penting bagi KGB. Ia merupakan penanggung-jawab keamanan operasi rahasia CIA. la mengetahui koordinat zona penerjunan setiap agen CIA yang disusupkan ke Albania. Oleh karena telah mengganggap Philby sebagai sahabat karib, Angelton pun tanpa beban menceritakan koordinat-koordinat itu kepadanya. Alhasil, sekitar 200 orang mata-mata asing yang direkrut CIA untuk operasi rahasia di Albania pun tewas disantap kesatuan rahasia Soviet.
Pesulap tenar John Mullholand yang kemudian pernah direkrut untuk menciptakan trik-trik pengelabuan bagi perwira intelijen CIA. Mullholand adalah ahli teknik sulap jarak dekat. Untuk manual sulap yang is ciptakan secara khusus, CIA membayarnya 3.000 dollar

Trik Kecekatan Tangan

Mulholland juga mengajarkan teknik pengelabuan yang mengandalkan kecekatan tangan. Karena pikiran manusia hanya bisa fokus pada satu perubahan keadaan pada satu waktu, maka dengan kecekatan tangannya seorang pesulap biasa menyembunyikan peristiwaperistiwa yang berlangsung di sekitarnya dengan menanamkan citra dan memori yang semu.

Dalam kaitan ini, seorang perwira intelijen bisa diajarkan bagaimana menjatuhkan obat penenang ke dalam gelas sasarannya anpa ketahuan. Caranya, adalah dengan menyembunyikan “tangan yang sedang bertugas” itu dengan memfungsikan tangan yang lain. Misalnya, untuk menyalakan korek untuk menyulut rokok sasarannya. Mata sang sasaran umumnya akan terfokus pada api Sari korek tadi. Untuk itu, kepada TSD, Mulholland menyarankan agar CIA membekali para perwiranya dengan benda-benda kecil penzalih perhatian yang sudah akrab – agi setiap orang. Benda-benda ang dirancang khusus hanya sebagai medium itu misalnya berupa )kok, kotak korek api, pensil, dan Koin. Selain untuk mengelabui sasarannya, ruang kecil di dalam benda-benda itu juga bisa digunakan untuk menyembunyikan Denda-benda spionase lain.

Ruang kecil di dalam koin, misalnya, biasa digunakan untuk menyelundupkan soft film berisi kode-kode pribadi, daftar frekeunsi radio, kode panggil, dan rangkuman petunjuk pertemuan dengan agen-agen lawan. Tidak hanya CIA, bahkan KGB, dinas rahasia Uni Soviet, pun membuatnya. Salah satu rancangan mereka tanpa sengaja pernah jatuh ke tangan CIA. Kisahnya terjadi di Brooklyn pada awal 1950-an. Kala itu seorang pengantar koran menjatuhkan pecahan lima sen yang ketika dibuka ternyata berisi sepotong film yang berisi pesan sandi.

Koin tersebut merupakan bagian dari misi pertukaran komunikasi rahasia yang canggih antara mata-mata Uni Soviet Ivanovich Rudolph Abel dan asistennya, Reino Hayhanen. Mereka tanpa sengaja kehilangan koin itu dan jatuh ke tangan pengantar koran.

Anda mungkin mengira bahwa benda-benda ini hanya digunakan pada tahfin 1950-an. Tampaknya tidak demikian yang terjadi.

Pada 2001, CIA masih membuat koin jenis ini untuk kepentingan opersional mereka. Masih digunakannya koin ini di tahun 2000-an saja sudah merupakan ilusi dan menjadi salah satu trik penyelubung yang cukup efektif. Siapa menyangka koin-koin yang sudah lama ini masih dipakai hingga kini ?

Dr Sidney Gottlieb, ahli kimia yang ditugasi CIA memimpin proyek-proyek ajaib TSD

Senator Frank Church, pimpinan Komite Church, memperlihatkan pistol rancangan Technical Services Division. Lewat penyidikan yang mendalam, Church berhasil membongkar kasus kematian Dr Frank Olson, salah satu "kelinci percobaan" obat bius rancangan TSD.

Wednesday, December 25, 2013

Pesan Politik Memantik-Mantik



http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/10/13490250191703320177.jpg
Huruf, kata, kalimat, paragraph, deskripsi, dibaca dengan media yang bernama “bahasa” untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Khususnya dalam bentuk pesan komunikasi politik. Pesan apa?, komunikasi yang bagaimana?, lantas politik yang seperti apa.

Dalam komunikasi hal yang terpenting selain komunikator adalah pesan. Suatu pesan ditransformasikan pada titk-titik penyandian dan pengalihan sandi sehingga pesan merupakan pikiran dan ide pada suatu tempat pada sistem jaringan syaraf dari sumber atau penerima. Setelah penyandian terjadi dalam suatu situasi tatap muka, ditransformasikan ke dalam rangkaian getaran udara dan sinar-sinar cahaya yang terpantulkan.

Menurut Colin Cherry (dalam Fisher, 1986:365), suatu pesan mungkin, umpamanya, merupakan pikiran, namun pikiran ini tidak disampaikan secara fisik. Akan tetapi, bilamana bentuk fisik dari pesan ini disandi, maka berubah menjadi pikiran kembali dan karena itu menjadi pesan. Penegasan perbedaan anatara pesan dan isyarat diungkapkan juga oleh Clevenger dab Matthews (dalam Fisher, 1986;365). Ia membedakan anatara pesan dan isyarat atas dasar bentuk fisik dan lokasinya pada saluran. Isyarat atau signal adalah peristiwa fisiknya, dan pesan hanya terdapat pada saluran di dalam diri sumber atau penerima. Dalam setiap peristiwa komunikasi terdapat tiga buah pesan yang potensial, yakni pesan yang dikirimkan, yang diterima, dan yang terjadi dalam diri pengamat situasi komunikatif itu.

Sedangkan menurut Effendy (2001:11) lebih menjelaskan maksud pesan berbentuk pikiran dapat berupa gagasan, informasi, opini, perasaan, dan lain-lain yang muncul di dalam pikiran komunikator. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, dan lain-lain yang timbuul di lubuk hati dan pikiran komunikator.

Dalam proses komunikasi politik pun, pesan politik merupakan komponen terpenting. Mengacu pada definisi komunikasi politik secara umum, pesan politik itu adalah pesan yang dibawa oleh komunikator politik, baik dalam bentuk gagasan, pikiran, ide, perasaan, sikap, maupun perilaku tentang politik yang memengaruhi komunikasi politik.

Pada dasarnya, menurut Rochajat Harun dan Sumarno (2006:12), isi pesan komunikasi politik akan terdiri dari :


Seperangkat norma yang mengatur lalu lintas transformasi pesan-pesan.

Panduan dan nilai-nilai idealis yang tertuju pada upaya mempertahankan serta melestarikan system nilai yang sedang berlangsung.

Sejumlah metode dan cara pendekatan untuk mewujudkan sifat-sifat integratif bagi penghuni system.

Karakteristik yang menunjukkan identitas bangsa.Motivasi sebagai dorongan dasar yang memicu pada upaya meningkatkan kualitas hidup bangsa.

Graber (1984:138) memandang pesan komunikasi politik dalam perspektif yang sangat luas. Menurutnya, pesam komunikasi politik dapat berupa kebiasaan-kebiasaan, aturan-aturan, struktur, dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan politik. Bahkan, Muhtadi (2008:11) menegaskan bahwa pesan komunikasi politik itu adalah seluruh budaya politik yang berkembang di suatu negara.

Lebih sederhana dalam lingkungan terdekat saya Politik. Kata orang di daerah saya adalah “panggonane wong seng ngawe taktik”. Kalau Pesan “pepesan seng isine sandang lan panganan”. Jawa adalah tempatnya kiasan, metafor adalah hobby orang jawa khususnya daerah saya di Dusun Gerbong, Desa Sambirejo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.

Kebanyakan warga desa yang menggunakan kiasan dalam komunikasi sehari-hari Seperti : saat orang tua menasehati anaknya, saat kepala desa menyampaikan omongan dalam rapat desa dan banyak lagi. Hal ini menjadi estetis disaat pesan komunikasi politik disampaikan dengan kiasan atau istilah.

Pesan politik dengan bahasa intelektual atau akademisi saja itu sulit ditangkap artinya oleh kebanyakan orang, apalagi pesan komunikasi politik yang disampaikan dengan cara dosonomo dan jarwodoso yaitu sinonim, idiom, kiasan atau metafor.

Mengerti makna atau pesan politik memang cukup sulit dan perlu yang namanya penelaahan dan kepekaan. Pesan politik selalu kita tangkap dalam gendang telinga kita baik secara langsung atau secara tidak langsung. Bagaimana bisa?.

Hitung saja berapa banyak anda berkomunikasi baik melalui media komunikasi dan alat indra anda. Pesan politik tidak selalu disampaikan orang atau pejabat yang berada di birokrasi Negara. cukup sederhana, teman anda berpotensi untuk menyampaikan pesan politiknya kepada anda, pacar anda pun juga sangat berpotensi dalam melakukan komunikasi politik.

Permainan bahasa (Rhetorika), artikulasi makna, penggunaan kata ganti bahkan tata bahasa dalam pesan komunikasi politik menjadi hal vital yang perlu di kuasai. Tetapi sebelum itu juga 3 aspek analisa sosial juga perlu dimasukan, mengetahui, mengerti dan memahami hal sebelumnya, sekarang dan memprediksikan yang akan datang sama dengan halnya ontologis, epistemologis, aksiologis dalam pondasi ilmu filsafat ilmu yang di prodi ilmu komunikasi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) diajari pada semester satu awal.

Pesan komunikasi politik itu adalah absrak, silogismenya adalah komunikasi politik mengandung unsur pesan didalamnya, tetapi pesan tidak harus selalu komunikasi politik. Pesan semakin hari semakin banyak variannya, seperti pesan elektronik yang semakin banyak dan didukung dengan semakin banyaknya jalur komunikasi baik modern atau tradisional.

Kecenderungan kebanyaakan di era globalisasi ini adalah mengunakan sosial media dengan banyak macam media massa yang digunakan, baik media online, media audio, media visual, media cetak, media audio-visual, dan media-media lainya. Hari ini kita merasakan sebuah komunikasi menjadi peran utama dalam transfers informasi yang setiap detik bisa memenuhi ribuan sel-sel otak kita. Dunia permediaan sudah menjadi sebuah bisnis yang bisa lebih menguntungkan dari pada kasus Korupsi Hambalang Dan Skk Migas.

Memang seperti itulah media sekarang. Pesan bila tersampaikan itu tidak harus di pahami. Tapi kalau pesan di jejalkan dan dipaksakan setiap hari untuk mengkonsumsi, maka alam bawah sadar pun akan merekam dan mengingatnya. Maka kalau sudah seperti itu pesan pun dipahami. Banyangkan itu adalah pesan politik kepentingan yang ingin mengambil keuntungan dari anda atau yang lainya.

Pesan politik sudah memenuhi otak manusia. Pesan politik adalah doktrin prometheus yang rela melakukan apa saja demi tersampaikanya dan di tangkapnya maksud dari pesan tersebut.
Mata kuliah komunikasi politik harus di ajarkan pada pemuda dalam menelaah segala macam pesan-pesan komunikasi politik yang setiap hari di terima maka perlunya penyuluhan demi lebih bisa menerima dengan cermat dan cerdas setiap pesan komunikasi politik yang tertangkap setiap hari.

Komunikasi politik adalah ilmu neologisme yang tidak ada bentuknya. Maka tidak ada bentuknya itu adalah semu, semu artinya samar, samar berarti eyang semar. Eyang semar berarti orang sembilan yang rela me’tujuhkan dirinya.

Lantas hubunganya dengan komunikasi politik adalah ilmu yang sebenarnya penting sekali untuk sekarang ini tapi malah kurang sosialisasi untuk bagaimana agar ilmu komunikasi politik di ajari semua pemuda agar lebih bisa mengerti mengenai komunikasi politik yang lebih spesifiknya pesan pada komunikasi politik.

Sebuah pesan komunikasi politik adalah bentuk dari perantara yang dimediakan pada, bahasa kata dan cara dalam menyampaikanya. Subbab pesan komunikasi politik cukup banyak. Namun intinya adalah bagaimana menyampaikan dan apa yang ingin disampaikan lantas siapa yang dituju untuk menerima pesan tersebut bahakan juga alasan menyampaikan pesan itu.

Senjata utama bahasa, namun bahasa saja kurang. Teknik penyampaian pesan dan pengemasan pesan tersebut. Seperti presiden menyampaikan pesan kepada masyarakat dalam pidato kepresidenanya dalam menyampaikai sebuah kebijakan baru. Dengan puluhan media yang telah siap mencatat dan menyiarkannya di Tv ataupun media lainya. Lantas esoknya media siap megabarkan komentar, kritik, persepsi orang mengenai kebijakan presiden. Di tampilkanya hal itu lantas membuat banyak sekali opini publik menjadi sangat bervariasi karena melihat kebijakan yang di lontarkan Presiden mengenai suatu hal mendapat Persepsi, opini, kritik dan tanggapan yang bermacam-macam baik yang mendukung ataupun sebaliknya.

Hal ini cukup nyata bahwa media punya peran besar dalam pengemasan pesan komunikasi politik yang terjadi dan betapa bervariasinya pesan komunikasi politik yang dapat di belokan dan menjadi tersampaikan seperti; pencitraan, kepentingan, kekuasaan dan yang lainya.

Mendapati sebuah zaman di era informasi global yang cukup mudah di akses dan menantang kita agar berlomba-lomba mengumpulkan dan menyimpan informasi dalam otak kita membuat kita terkadang menjadi "maniak" yang selalu haus informasi yang baru dan yang berguna bagi kita. Dituntut untuk selalu bisa berpacu dengan waktu. Mengurangi jata kemanusiaan menambah fungsi bahwa kita adalah sebuah mesin yang di nyalakan tombol on-off menjadi on setiap detik dan di tuntut siap selalu demi menghadapi peradapan yang serba pragmantis ini.

Sabar & Ikutilah Arus

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGAnyxuIutiwzugKJRZsH1NIVM-iglU1N1ai-GIUlVukOY5hRX6yVCAihSn2nOnPmCRCJC5YuyGLy69Z8DYpzcEKBr_3ydph21xMA1pQ25FNcO9Rv_9EWB3DPOXhw-Rvu6dfW8qae6wvu7/s1600/diam.jpg

Sudah duduk dan menatap cahaya itu. Aku berpesan pada dia yang tak tahu, menjadi harapan yang tersiakan selalu membuatmu merasa agar aku jadi sebuah harapan yang menjadi nyata dengan cepat. Tak ada sungai, tak ada hamparan sawah dan tak ada matahari saat ini. 

Semua menjadi larut dalam banyang-banyang cerita film itu. Aku yang tak lagi sadar dengan kenyataan saat ini menjadi liar di dekat hujan. Kaki ku yang terkena gemericikan air segera lenyap saat aku pindah dan meninggalkannya. Sebentar, ujarku salam hati dan harapanku semoga kau begitu.

Selagi ini masih hangat di hatiku, aku tak pernah ingin melupakannya layaknya yang lainya. Bukit kerinduan di balik bangunan besar di tengah ilalang itu selalu bersinar di malam-malam kemarin, kau yang berapa di waktu dan tempat yang lain, selalu tinggal disisi. Sunyi bukan lagi pengganti kata sendiri tapi malah ia yang pasti.

Pengakuan tak lagi kuhiraukan, bisikan teman hanya kubuat bingkai di saat gila. Aku belum sadar tenyata, kau sempat memilih dan sedangkan aku kau pilih. Tapi sudut lain diriku sempat memungkiri selama ini, labuan sunyi di teluk sepi tak kiranya sebanding dengan dua hari kau tak ada, berharap kau tak menantang, semoga kau sabar ya sayang. Percayalah ini Cuma sebentar dibanding menunggu kelulusan, sumringah ini tak lagi kupercaya ke abadianya, aku takut ini hanya ilusi di sore mendung, bercucuran air tak ada yang terasa hangat. Hembusan angin Cuma terasa di kulit-kulit lagit, tapi engkau tak menyentuh saja terasa hangat.

Sebuah janji kubuat tampa kau tahu dan tampa kau mau mengetahui. Sulit menjadi sayap tapi aku punya mimpi untuk bisa terbang dan bisa mengawasimu. Surat-surat di pos kota tak lagi menjadi bagian penting kau dan aku, tapi lembut gambaran khayalanku adalah kau. Aku bukalah seperti apa yang kau banyangkan dan kau lihat saat ini. Tapi aku ialah sama seperti yang akan kau banyangkan. Esoknya.

Lalu aku memutuskan untuk berjalan. Kalau kau akutak tau, tapi aku merasakan getaranmu yang semu itu. Sembari membali badan aku terbentun oleh beberapa batu kapur yang kulihat “ternyata ini yang sesungguhnya dan yang lain fana”, bukan tumpukan kata atau baik yang bisa menghangatkan tubuh, jikalau bercerita teng aku, mungkin Cuma itu yang bisa kau ingat tentang aku. Menunggu untuk kembali dan kembali untuk di tinggal pergi seperti kebencian atau mungkin seperti cinta yang tak membutuhkan. Aku anggap dongeng hanylah dongeng ternyata dongeng ialah gambaran asli bahwa aku dan kau akan seperti “itu”.

Lantas hujan yang ada itu hilang, dan aku menjanjikan kau akan menunggu sesuatu, kepastian dan ketegasan yang berbeda antara kau dan aku kadang menjadi kontradiksi yang membuatnya seperti adu domba. Tapi sebenarnya kita ini satu, tingga kepercayaan dan biarkan arus ini membawa kita sampai yang tak berujung. (depan-kampus/sore/hujan/sendirian).

Sunday, December 22, 2013

Kenali Kemaluanmu Dulu

http://i375.photobucket.com/albums/oo192/wahyukokkang/konsultasi/kutu-1.jpg
Seiring aku sering di tinggal temanku sendiri untuk ikut pelatihan, seminar diklat dan lain-lain yang ada di kampus universitas trunojoyo pinggiran ini. Menjadikan ku semakin merana karena aku jadi jalan kaki ke warung dan tak ada yang mengantarkan aku. Sungguh perbuatan yang menyengsarakanku.


Kerugian kecil dalam diriku adalah kerugian yang tanggung-tanggung dan itu malah semakin merugikanku. Kenapa harus begitu kok tidak harus yang langsung saja.

Tapi itu bukanlah yang harus aku gerutukan.karena sebaik-baiknya aku menuliskan kejadian ini tetap saja aku seorang pengerutu yang mengerutukan kejadian yang kualami. Ya ini gara-gara kena istilah bahwa sepandai-pandainya penulis adalah peng’gerutu. Dan saya ingin menggerutu mengenai ke’krisisan sekarang ini.

Dengan kata lain Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis total. Bahkan mungkin itu tidak cukup menjelaskan, kecuali ada kata yang bisa menyampaikan hal lebih ujung selain “total”
yang bisa ditemukan untuk mendeskripsikan kadar krisis yang dialami oleh bangsa Indonesia.
Anda tinggal menyebut kata apa saja secara bebas untuk menunjuk sisi, titik, sudut atau bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Ambil saja sekenanya: perekonomian, politik, hukum, kebudayaan, pendidikan, keamanan nasional, karakter, iman, moral, mentalitas, apapun – orang paling bodoh di antara bangsa Indonesia bisa dengan sangat mudah menjelaskan krisis apa dan bagaimana yang mereka alami di wilayah konteks yang Anda sebut.

Krisis itu sedemikian nyata dan totalnya sehingga melahirkan suatu jenis krisis baru yang ajaib: kalau Anda berada di antara bangsa Indonesia, bergaul dan bercengkerama dengan mereka, sesudah beberapa waktu Anda akan menemukan pertanyaan di dalam diri Anda: Yang mana krisisnya? Orang Indonesia selalu hangat, tertawa-tawa, tekanan-tekanan yang terkadang muncul pada ekspressi psikologis mereka tak pernah sampai pada kadar yang serius yang memungkinkan munculnya tingkat yang memadai untuk melawan keadaan, memberontak, atau apapun.

Dahsyatnya krisis yang dialami oleh bangsa Indonesia tidak berbanding lurus dengan tingkat munculnya kritisisme, progresivisme – tidak juga melahirkan rasa krisis atau »sense of crisis« yang sepadan dengan penderitaan obyektif yang sebenarnya mereka alami secara total dan mendalam. Rendahnya rasa krisis diindikasikan tidak hanya oleh karakter kepemimpinan yang culas namun lemah namun tak tahu malu, oleh praktek kepengurusan negara yang sangat tidak memfokuskan diri pada keharusan melindungi kesejahteraan rakyat, serta oleh beribu-ribu kejadian yang mencerminkan subyektivisme dan egosentrisme kelompok-kelompok yang berkuasa. Rendahnya »sense of crisis« itu juga tampak pada puluhan bahkan ratusan juta orang yang menderita pada kehidupan bangsa Indonesia. Tidak ada ketersambungan rasa derita satu sama lain, sehingga sesungguhnya yang berlangsung bukanlah penderitaan sosial, melainkan penderitaan individu-individu atau keluarga dan kelompok. Tidak terdapat gejala di mana keprihatinan diperkaitkan antara satu dengan lain orang, antara satu segmen masyarakat dengan segmen lain. Tidak ada organisasi orang-orang menderita.

Tidak ada kesedihan dan kebingungan kolektif, yang ada adalah setiap orang memendam
dan memelihara kesedihan masing-masing. Pada sebagian tidak kecil bahkan krisis total nasional tidak membuat mereka menurunkan kadar budaya konsumerisme, hedonisme dan pesta-pesta kegembiraan – dengan berbagai formula yang berbeda sesuai dengan strata yang juga berbeda. Mall-mall dan plaza tempat jualan mitologi, mimpi dan khayalah tidak sedikitpun menurun jumlah pengunjungnya. Tayangan televisi Indonesia tetap penuh joget riang gembira dan terus menerus tak perduli siang atau malam, tetap penuh intensitas putaran modal dengan siaran-siaran hedonisme budaya dan olahraga. Industri televisi bahkan merekrut Agama, Tuhan, Nabi, Malaikat dan hantu menjadi bagian primer dari komoditas mereka. Tidak ada bangsa di dunia yang tertawa lebih banyak melebihi frekwensi tertawanya orang Indonesia. Tidak ada masyarakat di muka bumi yang kehangatan dan kegembiraan hidupnya, bahkan tingkat keberaniannya membeli ini itu, melebihi bangsa Indonesia. Bagi tradisi akal sehat konvensional: ini adalah suatu jenis krisis.Mungkin bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedemikian bodohnya sehingga tidak memiliki kemampuan identifikasi dan deskripsi atas keadaannya sendiri, termasuk atas krisis yang dialaminya sendiri, sehingga justru karena itu mereka tidak mengalami betapa dalam dan kompleksnya krisis itu. Seperti orang yang tidak paham hantu dengan konstelasinya: ia tenang-tenang saja lewat atau singgah di kuburan.

Atau seperti orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang penyakit, sehingga tidak berprihatin sedikitpun ketika di dalam badannya terdapat komplikasi penyakit yang pada suatu pagi akan membuatnya mendadak tak berdaya dan mati. Kalau orang itu mengerti hantu, maka ia akan ketakutan dan lari tunggang langgang menjauhi kuburan. Kalau orang itu memahami penyakit, maka ia akan melakukan perlawanan, pemerontakan, pengobatan dan segala daya untuk memisahkan penyakit-penyakit itu dari dirinya. Tetapi salah satu krisis bangsa Indonesia adalah bahwa mereka punya tradisi bersikap acuh tak acuh terhadap hantu dan penyakit-penyakit.

Kemungkinan lain adalah bangsa Indonesia memiliki daya tahan dan kekuatan yang tak tertandingi dan tak terpahamkan oleh bangsa dan manusia manapun yang lain di permukaan bumi. Sedemikian kuat dan kebalnya sehingga mereka tidak mengaduh ketika dipukul, karena pukulan itu tidak cukup menyakitkannya. Mereka tidak meronta-ronta ketika dijerat dan dipenjarakan, karena mereka tetap mampu membangun kemerdekaan subyektif psikologisnya di dalam penjara. Mereka tidak melawan ketika dianiaya, ditindas, disiksa, dicurangi, dibohongi – karena tingkat penganiayaan yang mereka alami belum sepadan dengan daya tahan yang mereka miliki.

Sekorup apapun pemerintahnya, tak membuat bangsa Indonesia memberontak sampai kadar yang signifikan. Sekurang ajar apapun pemimpin mereka, tak membikin mereka melakukan perlawanan. Semenderita apapun kehidupan yang menimpa mereka, tak pernah cukup mendorong mereka untuk berdiri agak sedikit tegak dan melakukan perubahan-perubahan yang mendasar dan primer.

Ngrasani Adalah Akar Demokrasi

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhU6I87SceG6kqZ4STAREQHGuPjpaaluq7UbKI8XsVE18cADYcFQCEwEkEDqA7otKgW4d1fZ_Z0hKQzNoxm7rQsG10YC7m9URWMWUe4Bjl7KyaTJUwBO-7WsdFvkT87kknOahl3pHE6vJTD/s400/anti+demokrasi.jpg

Sejenak berdiam dengan situasi tenang adalah akhir dari kuatnya diri manusia dalam menghadapi ketidak tenangan dalam dirinya. Apa lagi meng’asingkan diri dari sebuah fakta yang sulit diterima dirinya untuk mendewasakan dirinya. 

Adalah sifat yang sangat-sangat begitu pengecut. tetapi kita tidak seperti itu kita manusia nusantara adalah menghadapi ketidaknyamanan atau ketidak tenangan tampa menga’singkan diri. Perbedaan yang mencolok dalam kebiasaan setiap orang dan pandangan-pandangan orang atas sebuah kerelatifan pendapat dalam menilai begitu banyak produk budaya manusia nusantara, menjawab betapa kayanya kita atas bermacam-macamnya subyektivitas diri betapa kayanya kita dengan apa yang kita hasilkan sendiri dalam produk budaya masa lalu, masa kini, dan bangsa kita telah berani mendahului kehendaknya dengan meramalkan sebuah masa depan. Jadi jika di pikir kembali tiga elemen pikir ada tiga yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. 

Dan kita telah memiliki tiga elemen itu dalam menjadi manusia yang kaya akan subyektivitas ini. Kebebasan dalam berbicara di sebelum kebebasan ber bicara di buka waktu kelengserang tulang punggung keluarga cendana itu tidaklah berpengaruh besar sebenarnya, karena sebelum itu pun manusia nusantara sudah yang namanya mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang disebut dengan “Ngrasani” atau kalau dalam bahasa indonesia yang baik dan yang mungkin benar artinya membicarakan buruknya seseorang dan baiknya seseorang. Walaupun setiap negara setiap bangsa dahulu memakai sistem kekaisaran dan kerajaan murni sebagai awal peradaban dan demokrasi tak pernah menjadi sebuah sistem di awal terciptanya peradaban.

“Ngrasani” selalu dilakukan  secara tersembunyi yang dengan kata lain dilakukan dengan diam-diam. Dan itu adalah ketabuhan untuk di ketahui dikarenakan kalau di ketahui banyak orang akan ada yang merasa di rugikan dan akan ada yang merasa lebih di untungkan dengan kata lain pasti ke GR’an. Lantas ada hal lain yang tersirat dalam budaya “ Ngrasani” ini. Yaitu seperti ini. Orang “Ngrasani” berartikan berbicara secara sembunyi-sembunyi dengan orang lain dan yang dibicarakan itu bebas baik atau buruk lantas sedangkan dalam tataran demokrasi orang bebas menyuarakan aspirasi nya maka dari itu perbedaan antara budaya “Ngrasani” yang di nilai orang tidak baik dan itu dari dulu dilakukan dan sampai sekarang pun mulai dilakukan tetapi dilakukanya budaya ini dengan jenis yang berbeda yaitu demokrasi dimana setiap orang bebas bersuara dan berbicara dalam konteks pendapat, keinginan, keluhan, kritikan dan lainya.

Berarti “Ngrasani” ini sudah di validasi dan diakui atau sudah dianggap baik sehingga ada dalam konstitusi namun “Ngrasani” ini adalah sintesis dari demokrasi dan sifat manusia yang ingin semaunya sendiri lalu hasilnya sebaik-baiknya demokrasi adalah peranakan udaya yang tidak baik jika di kaji secara budaya mendasar dan luas sehingga demokrasi sekarang itu malah tidak baik karena dilahirkan dari buya yang tidak diridhoi allah dan itu akan menghasilkan efek yang buruk seperti demokrasi sekarang ini ya dikarenakan awalnya dari “Ngrasani” menjadi demokrasi dan hasilnya media semakin menghujani kita dengan ketidak tenangan yang berakhir semakin kerdil dan takutnya akan kehancuran nusantara yang di pimpin oleh doraemon ini.

Friday, December 20, 2013

Dasar Demokrasi Adalah "Su'udzon'



http://wawansri.files.wordpress.com/2012/11/anti-demokrasi.jpg

Menuntut sebuah hak ber aspirasi, ia benar sekali, itu adalah demokrasi. lama meminjam produk "made in amerika" itu aku menjadi sedikit merasa gatal di bagian tubuhku. lah di tambahi dengan banyak pihak yang menuntuk demokrasi agar di terapkan pada semuanya, baik sistem pemerintah, lembaga, organisasi, kelompok dan lain-lainya. lah ini rasa gatal yang semakin merelakan tanganku untuk segera turun tangan menggaruk-ngaruknya.
demokrasi itu identik dengan kebebasan bersuara.
demokrasi itu identik dengan aspirasi masyarakat.
demokrasi itu identik dengan pemilihan umum.
demokrasi itu identik dengan amien rais (PAN).
demokrasi itu suara rakyat untuk pemimpin.
demokrasi itu wujud ketidak percayaan rakyat terhadap pemimpinya.
demokrasi itu menjadi langkah mendukung ke rakusan individu.
demokrasi itu pusaran kesombongan.
demokrasi itu tidak percaya dengan orang.
demokrasi itu kurang mendidik.
demokrasi itu membuat kesenjangan sistem dan struktur.
demokrasi adalah kebutaan atau ereksi rakyat kepada pemimpin.
demokrasi mengajarkan kurang ajar.
dan yang terahir demokrasi adalah belajar untuk melawan hakikat allah atau tuhan bahwa demokrasi adalah SU'UDZON.