Thursday, July 3, 2014

Malam Sering Menipu

Beberapa angin sepakat untuk menyentuh kulitku hingga kering. Hawa ngeri menunjukan sedikit kekuasaannya padaku. Dagunya naik, seolah sombong dengan kemampuannya dalam memojokanku dalam dingin. Luasnya dermaga malam seolah sempit. Apapun yang aku rasakan memang sedikit sulit dimengerti oleh kebanyakan orang saat ini. Malam memang semakin malam, tapi bukan “Bila Malam Bertambah Malam”-nya Putu Wijaya. Tapi malam memang semakin pintar membohongi banyak orang. Gelapnya kadang lebih gelap dari hati manusia, gemerlapnya nampak persis anomali zaman ini. Sukarnya memang sulit ditebak, kadang mendung sampai berkabung. Kadang cerah, sebab bulan sedang marah. Tak ada kejujuran saat malam mulai datang.

Banyak ucapan semakin tak terarah. Semuanya terlena karena mabuk oleh suasana. Kejelasan sudah bukan ukuran sesamanya untuk memahami makna yang sebenarnya. Tapi apakah malam akan semakin menjeruskan pada kebohongan demi kebohongan. Seperti mengharapkan tenang saat gemuruh guntur membumbung. Anehnya, tembok itu tetap tegak dan tegar saat mautidakmau harus mendengarkan ocehan, gerutuhan, curahan, ucapan, gunjingan, teriakan, bisikan, tatapan, renungan, harapan, rayuan, dan kesunyian. Walaupun diludahi, disandari, ditendang, atau dipukul. Tembok tetap menjadi dirinya sendiri yang menerima dan pasrah. Bahkan lebih banyak mendengarkan, walau telingannya tak lebih banyak daripada manusia yang sedang bergumul didekatnya. Lamunan terus menyeruak dari mata yang kelayapan menoleh kesegala penjuru arah. Mulutnya meludah penuh sesak. Irama tubuhnya menunjukan bahwa banyak hal yang sedang dipikirkan dan dirasakan. Matanya samar, karena gelap lebih pekat daripada genangan airmatanya. Sampai sadar kalau waktu sedikit memperingatkannya. Tawar menawar adalah syarat kekinian. Jika ada yang lebih menguntungkan, mengapa tidak. Itulah kesadaran dari munculnya sebuah tawaran kompromi keadaan.

Siapa dia yang disana. Sedikit memperlihatkan banyangan duduk sambil diterangi cahaya minim dari handphonenya. Matanya dilindungi oleh kacamata, biru bajunya bersinar menembus suram, dan tiupan angin membuat rambutnya yang dikuncir semakin berirama jika dirasa. Dipandang dengan malu-malu sambil membatin, “apakah engkau merasa”. Tidak mungkin frekuensi perasaan tak sampai hanya karena gengsi dan ego manusia, atau kelemahannya sendiri. Kapan terakhir kali merasakan firasat, tak pernakah firasat dan membuat kita berfikir mengenai apapun yang sudah, atau yang sedang kita lakukan. Karena jelas sekali, bagaimana frekuensi rasa lebih tinggi dan bisa dirasakan siapa saja. Walaupun malam selalu diidentikan dengan kerinduan memuncak, kesedihan, kepedihan, kenangan, penyesalan, bahkan jerit-tangis adalah sebagian dari kisah berlarut-larut yang dimunculkan berdampingan dengan malam. Apapun itu, yang kutau malam selalu bohong. Dan musti senyum untuk menutupinya. Mimik mukanya malu mungkin ragu-ragu. Daguku tetap terjaga untuk selalu mudah menoleh. Seorang datang dan bilang, “jangan dilihat dan dibanyangkan, karena itu menyakitkan”. Seandainya saja cahaya lampu dermaga lebih pengertian dan meredupkan lampunya. Mungkin aku akan datang padanya, untuk sekali menciumnya dalam senyap itu. tapi sekali lagi ini hanya banyangan akan ketidakterimaan mengolah pahitnya kenyataan dari sebagian realitas yang menyakitkan. Ketidak mampuan membuat manusia-manusia semacam berfatamorgana atas kenangan-kenangannya. Sampai saatnya kenyataan pahit akan menggerogotinya.

Sampai pulaspun, aku masih tak percaya pada siapapun. Termasuk malam, karena malam telah menipu segala yang buruk menjadi indah, segala yang jahat menjadi baik, segala yang usang menjadi baru, dan segala bentuk kebohongan menjadi realita yang kupercaya sampai sekarang. Siapa lagi yang mempercayai kekalahan atas kelemahan. Apapun yang nampak sudah dibuang jauh-jauh untuk mencapai keinginan semu. Bagaimana bisa kegagalan diulang-ulang sampai lemah badan dan jiwa. Kebodohan dipupuk hingga subur mengakar kehalaman tetangga yang gersang. Hingga dibuat taman untuk semakin dikembangbiakan. Segala urusan diambil untuk mencapai pengakuan, bahwa ini aku bisa menyelsaikan segala rintangan atas segala macam bentuk tantangan yang tak lelah menghadang disebrang jalan. Apapun itu, aku tetap tertipu. Sama seperti dialog “Bila Malam Bertambah Malam”-nya, Putu Wijaya.
“GUSTI BIANG
Kalau ingin kau pelihara perempuan sudra itu karena nafsumu, terserahlah. Boleh kau pelihara sebagai selir. Kau boleh berbuat sesukamu, sebab aku telah memeliharanya sejak kecil. Tetapi untuk mengawininya dengan upacara itu tidak bisa.”
Memang segalanya akan nampak menipu dan mencoba mengelak apapun yang dikemukakan oleh nurani. Tawaran pikiran akan lebih menggiurkan dibanding kenyataan. Karena tipudaya malam selalu kuat dibanding logika-rasio berfikir waktu sadar. Malam sudah merasuki segala yang ditunjukan secara nyata. Semoga kita tak tertipu dengan kenyamanan malam yang lebih lagi. Karena hanya kekuatan diri sendiri dan kenyakinan hati akan keteguhan. Yang akan menuntun kita menuju kebaikan yang sesungguhnya, walaupun sedikit mengecewakan banyak pihak termasuk kita sebagai kita, bukan yang lainya.

Monday, June 30, 2014

Dua Orang & Penasaran

Dua orang itu duduk dan saling berhadapan. Serius sekali wajahnya, sungguh fokus dan sepertinya membahas hal yang tak kalah pentingnya dengan Piala Dunia, Pemilu 2014, Bulan Puasa, dan Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok.  Namun aku masih baik dan tak ingin membaik-baikan hal yang seharusnya tak baik. Mungkin dua orang itu boleh serius dan tak menghiraukan siapapun. Tapi apa yang sedang mereka bicarakan secara serius itu adalah bentuk kesadaran atas keresahan diri. Memuncaknya gelisah atas permasalahan, mirisnya melihat kenyataan yang bertolak belakang, kasihan merasakan realita atas perbandingan.

Dua orang itu aku dengarkan dengan setia. Aku awasi bersamaan gerak irama rima tubuh keduanya. Namun aku masih belum tahu siapa mereka. Bersamaan semakin memuncaknya penasaranku akan mereka, saat itu pula salah satu dari mereka berbicara, dengan mengebrak meja dan menaikan dagunya,

“Aku tidak ingin adek-adekku disini bernasib sama sepertiku, aku ingin sekali membuat semua adek-adekku menjadi lebih baik dan lebih berkembang. Dengan cara apapun akan aku usahakan. Dan aku tidak rela jika adek-adekku nantinya jadi bodoh dan dibodohi”.

Apapun maksudnya, aku semakin dibuat penasaran dengan kata-kata itu. Sangat besar sekali ketulusan yang ada dihati orang itu. Hingga statment itu keluar dengan lugas dan lantang. Namun kudengar lagi statment dari orang yang satunya,

“Tapi kalau itu yang bapak inginkan, maka seharusnya perlu cara dan proses yang bertahap dan usaha nyata. Bukan saja kehendak yang direncanakan lalu menyuruh orang untuk merealisasikan agar segera tercapai. Mungkin bapak harus merintisnya dan benar-benar serius melakukannya. Karena generasi sekarang lebih sulit daripada mendidik anak anjing agar bisa menang dalam kontes anjing”.

Sepertinya ada sebuah ketidakseimbangan dalam pembicaraan mereka. Orang-orang ini sepertinya memiliki perbedaan umur, tingkat pendidikan, tingkat pegalaman, dan status sosial yang berbeda. Sehingga ada salah satu dari mereka yang memanggil bapak, sedangkan yang satunya tidak. Namun yang pastinya, mereka memiliki ikatan dalam sebuah satu struktural formal. Karena begitu menjaga etika dan gaya bahasa. Tapi tunggu dulu, aku baru ingat dengan hal-hal seperti ini. Seperti seorang dosen atau pendidik dalam lingkungan pendidikan tinggi dengan mahasiswa, atau orang yang sedang melanjutkan jenjang pendidikan pada sebuah perguruan tinggi. Iya, ini mungkin konsultasi atau konsolidasi. Yang menginginkan tercapainya tujuan dengan menyatukan persepsi dan pandangan.

Berarti pembicaraan ini adalah sebuah bentuk konsultasi mahasiswa dengan pengajarnya atau dosennya. Namun mereka bertujuan apa, dan merencanakan apa. Karena penasaran ini membuatku bertahan memperhatikan mereka. Mereka yang sedang berbicara dan tak pernah teralihkan dengan apapun bunyi-bunyian atau pengalih perhatian lain didekatnya. Ini yang dibicarakan tentu adalah hal yang tak jauh-jauh dari lingkungan mereka. Pendidikan tinggi, lingkungan akademik, mahasiswa, pengembangan wawasan, penelitian, pengkajian, dan hal-hal utopis yang selalu diinginkan atau disumbangsihkan oleh pendidikan tinggi dan segala macam hal didalamnya. Yang pasti kurang kongkret dalam realita yang semakin menuntut kebutuhan, mementingkan diri sendiri, dan segala macam permasalahan yang sangat kompleks.  

Tapi apapun jenis perbicangannya dan siapa saja mereka. Aku sudah muak dengan hal-hal semacam ini. Sehingga ini membuat trauma berkepanjangan dalam psikisku. Apapun  yang terjadi pastinya akan menentukan hal yang belum terjadi.

Karso Konsultasi (KK)

“Semua harus rapi, itu ditata paragrafnya harus menjorok kedepan. Pembagian Bab dan Subbab harus jelas, penomoran juga perlu ditata ulang, aduh, catatan kakimu ini mana kok tidak ada. Padahal banyak sekali pengertian yang belum jelas dan itu harus diartikan disebuah catatan kaki. Daftar pustaka haruslah mendahulukan referensi yang berasal dari buku, bukan dari internet. Lalu, kesinambungan antar Bab juga perlu diperhatikan. Soalnya masih banyak maksud-maksud yang membinggungkan. Landasan teorimu dan rujukanmu masih sangat Irelevan, sedangkan dalam pembahasan yang kamu angkat ini masih belum kuat dan berdasarkan data yang benar. Ini haruslah benar dan berdasarkan landasan atau fakta yang tejadi. Sehingga ini bisa diakui kesahihannya. Daftar pustakamu harus sesuai abjad, padahal ini itu tugasnya anak semester 1, kalian yang semester 4 malah terlalu banyak mengeluh. Kalau seperti ini, sudah tidak sesuai dengan pakem dan jelas banyak kesalahannya ini. Apalagi kalau ini dicek di aplikasi antiplagiasi. Pasti akan ketahuan jika copy-paste.
Kekesalan dalam wajah karso membuat kesumpekan dalam dirinya menjadi sempurna. Karso yang biasanya punya waktu banyak untuk sekadar ngopi  dan santai, menjadi hilang sesaat. Ia sekarang lebih sering pulang kekontraannya dan bercumbu dengan laptop mungilnya. Dikamarnya yang sempit karena sesak dipenuhi buku beserta baju-baju yang tak sempat ia cuci. Semakin mendukung tema kali ini yaitu, “kesumpekan”. Karso sumpek dengan bertubi pertanyaan. Analisisnya ditolak dan dimentahkan, bahkan ide-idenya disepelekan dengan menuduh bahwa ia melakukan sebuah analisis tidak dengan rujukan atau landasan teori yang jelas. Sehingga saat karso mengumpulkan analisisnya, penolakan dan koreksi habis-habisan membuat karso menciut mentalnya, ragu pikirannya, menurun kepercayaandirinya. Sehingga ia seperti pemurung yang mendendam. Dendamnya menjelma dalam berbagai bentuk, seperti kemarahan, kebencian, kedengkian, kedangkalan, kegundahan, dan kesensitifan dalam kesehariannya. Namun dendamnya memusat bukan pada si pengkritik analisisnya. Namun pada kebudayaan yang disepakati. Dan kebudayaan pakem yang menolak sebuah pembaharuan, inovasi, pengembangan, kreasi, dan ciri khas yang tidak sesuai dengan standart dan keseharusan dalam sebuah analisis atau bahkan karya ilmiah.

Pemuda berkacamata ini sedikit mual, saat dijejali dengan berbagai buku teori dan ilmu-ilmu abstraksi. Hatinya mengelak disaat apa yang dituliskannya tidak sesuai dengan keinginannya. Tuntutan untuk menuliskan hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan cara berfikirnya. Semakin membuat karso menelanjangi dirinya sendiri. Menurutnya sebuah analisis atau karya tulis adalah sebuah bentuk dari pembelajaran tesis, antitesi dan mewujudkan sintesis. Bukannya mengutip tesis dan fokus dalam pembahasan tesis tersebut dengan konteks yang baru. Atau mencari sebuah bentuk baru dari bertumpuk-tumpuk analisis yang menumpuk seperti sampah diruang baca atau perpustakaan lama. Ide baru tak diterima dalam sebuah penyususnan karya ilmiah, apalagi analisisnyata. Jika ide baru tersebut hanya bisa dimengerti di otak kita dan cuma bisa kita bicarakan tampa bisa menghubungkan dengan teori dan landasan yang sesuai. Maka ide kita hanyalah hipotesa tampa dasar yang kasar dan takbisa dimaklumi, bahwa sesungguhnya ide kita adalah bentuk dari realita yang tak terbatas ruang dan waktu.

Karsopun berteriak ditengah tempat bermain lembu-lembu sore itu,

“Disaat ide baru tidak diterima, maka selamanya akan terkungkung pada kebiasaan lama.”

Namun teriakan itu disambut dengan suara lembu yang saling bersaut-sautan seperti lolongan anjing dipadang safana. Sehingga karso kaget. Dan berlari menuju warung terdekat untuk segera membuka laptop mungilnya dan segera diam disamping etalase sampai larut malam.
Semenjak saat itu karso menjadi pesimistik dalam segala hal. Kerelatifan pikir membuatnya gampang marah dan serba aneh dalam perlakuannya. Ia juga sering pergi bersama wanita setiap sorenya dan pulang subuh dengan keadaan sempoyongan. Kontraannyapun seperti tempat hiburan malam. 1 minggu saja, sudah 3 wanita yang menjadi korbannya. Karsopun sulit diajak bicara serius mengenai kuliahnya. Ia sepertinya sudah mengalami lost memory sindrom. Penyakit yang membuat otaknya jebol alias stress. Namun sekali aku dipesani oleh karso mengenai hal akan terjadi kepadaku. Yaitu,

“Disini kau tidak akan mendapat apa-apa, selain kekecewaan dan waktu yang terbuang. Tapi jika kau keluar dan menemukan kebaruan-kebaruan lingkungan beserta manusia-manusia yang jauh lebih dalam segala hal diluar. Maka kau akan bisa lebih baik dari sebelumnya. Keluarlah dan carilah hal yang semestinya kau dapatkan, jangan didalam sini. Disini kau tak akan berkembang walau bagaimanapun usahamu. Karena disini sudah membuat kesepakatan bahwa disini bukan untuk sebuah perkembangan menuju kebaruan. Tapi untuk kestabilan dalam menghadapi perkembangan.”

Sepantasnya aku mendengarkan hal itu. karna bagaimanapun karso adalah teman yang baik untukku. Walaupun belum tentu baik untuk dirinya sendiri.

Memang mungkin jika interaksi yang disebut komunikasi antar dua orang atau lebih disepakati dengan sebutan pertukaran segala macam unsur diri. Sedangkan apapun yang ada dibanyak kenyataan yang sulit diterima adalah salah sangka. Selama jarum masih berputar dan banyak masalah yang diperanakan oleh waktu. Maka karso akan tetap kecewa dan semakin gila. Semenjak konsultasinya dengan seseorang itu, segala kekecewaan yang selalu diucapkan dan dilafalkan akan semakin mempengaruhi banyak orang-orang yang berada didekatnya. Sehingga aku memutuskan untuk mengusir karso dari pikiranku dan karsopun lenyap. Karena karso adalah sudut pandang pesimistik yang diciptakan untuk menilai dan mempertimbangkan kenyataan hidup saat menerima banyak hal yang tak sesuai dengan keseharusan pikiran.

Standart

Ada kalahnya kita harus memaklumi sebuah ketentuan, dan menerima dengan segala keterbukaan yang palsu. Karena kehendak untuk menaati lebih besar dan punya kekuasaan lebih besar dari pada keinginan membuat suatu pembaharuan dalam kebudayaan yang dianggap ukuran tetap. Semua harus sesuai konteks, syarat dan ketuan sama halnya dengan sebuah garis batas atau kerangka tetap yang perlu ditaati. Sehingga segala yang tidak sesuai adalah salah, baik itu sebuah ide baru mengenai pengembangan hasil sintesis atau kesimpulan atas segala bentuk penelaahan. 

Jika ada sebuah ilmu yang dinamis dan syarat akan pembaharuan-pembaharuan yang mewujudkan sebuah bentuk baru atas hal yang sudah dianggap lama. Maka yang akan terjadi adalah ide asing. Menimbang-nimbang hal-hal yang sudah diketahui dan sudah ada. Menjadikan pertimbangan untuk pengkajian ulang. Agar semakin bervariasinya referensi atau rujukan mengenai berbagai macam hal. Seharusnya sudah mengetahui hukum ketetapan dan syarat-syarat yang sudah ditentukan. Namun alangkah semunya hal itu. menimbulkan anggapan pembatasan-pembatasan ide baru yang mengekang kekreatifan dan menimbukan sebuah pertanyaan-pertanyaan. Kenapa semua harus kontekstual dan sesuai standart, kenapa harus begitu dan tidak bolehkan untuk tidak kontekstual atau relevan. Namun itu dijawab dengan pernyataan “kalau untuk keadaan atau lingkungan seperti ini maka tidak bisa hal itu diwujudkan atau disuguhkan, mungkin untuk diluar keadaan dan lingkungan disini, itu bisa.” 

Perbincangan selalu menjadi sebuah proses pertukaran segalahal. Baik kebudayaan, atau keseluruhan unsur-unsur pengalaman. Salah satunya adalah keilmuan dan pengetahuan. bagaimana perkembangannya sangat cepat daripada cara berfikir manusia. Karena kecepatan perkembangan ilmu dan pengetahuan menjadi sebuah bentuk komoditi perkembangan yang sangat-sangat dibutuhkan khususnya dilingkungan akademik dan segala unsur pendidikan. apa yang sesungguhnya harus dilakukan saat lingkungan yang seharusnya menjadi jauh dari harapan dan sangat merugikan jika diteruskan. Begitulah lingkungan akademik yangku maksudkan.

Sekali lagi aku mendapatkan sebuah amanah besar. Yang mana itu telah menumpuk dan memupuk kepadaku selama dua tahun belakangan ini. Banyak pihak yang memesakan, mengenai permasalahan generasi dan lingkungan yang sangat tidak mendukung disetiap apa yang ada didalamnya. Lingkungan itu sangat buruk untuk membentuk sebuah hal baru yang lebih memajukan setiap manusia-manusianya. Sehingga banyak upaya namun nihil hasilnya dikarenakan semakin banyaknya lingkungan dan segala element didalamnya tidak mendukung setiap apapun yang dilakukannya. Upaya-upaya untuk memperbaiki sebuah keadaan dan generasi yang menjadi momok perkembangan tampa hasil yang setara dengan yang lainya. Apapun hal yang ditunjukan untuk melalui kesederhanaan dalam usaha-usaha moral yang dibuat untuk memutuskan ketentuan yang tetap dalam beberapa kegiatan sebagaimana mengupayakan beberapa cara untuk memenuhi kebutuhan keinginan disetiap waktu dan tingkah laku. Manah besar itu bukan selalu pantas buat orang besar. Namun itu sangat membebankan untuk orang yang kecil sepertiku. Kecil maksudnya bukan sekadar miskin harta duniawi. Namun kecil dibandingkan Dzat Maha Esa yang besar.

Monday, June 23, 2014

Realitas Permasalahan

Semaktu diang’an atau asap dari rumput dan dedaunan yang dibakar, semerbak sampai masuk kedalam warung. Aku semakin dibuat pusing dengan lalulalang kendaraan sore itu. Disamping lelaki kurus tapi sangatsuka dengan kopi tampa gula. Sambil dihujani pertanyaan mengenai, bagaimana cara agar tidak keteteran saat berbicara didepan umum. Sesungguhnya ada banyak hal, disebagian kecil segment di 24 jam yang kita lalui. Sebagian kecil itu kadang dilupakan, atau bahkan menjadi paling berkesan. Sebagian kecil itu adalah sebuah rasa nyaman atas ketuntasan segala tuntutan keseharian. Yang memicu kemalasan  dan menimbulkan kepuasan semu. Namun itu adalah bentuk nyata dari ketidakpastian realita, bahwa kenyamanan adalah tujuan dari sebagian besar harapan suatu pencapaian.

Timbul dan tenggelam. Adalah hukum alam atas keseimbangan. Mungkin sekarang lebih ngetrend dengan bahasa “semua itu ada waktunya”. Tapi selepas dari itu semua, kini apa yang bisa diandalkan untuk menuju sebuah kepastian. Karena semuanya hanya ingin yakin dan menaruh hatinya pada sebuah kepastian yang menjadikan dirinya seperti terjamin dan lekas tenang. Siapa sangka seorang yang sungguh-sungguh dalam belajarnya dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai norma dan agama, sekarang kebinggungan dengan kenyataan susahnya mencari kerja. Bila semuanya hanya sampai pada ukuran bahwa usaha itu selalu mewujudkan sebuah kotak pemenuh permintaan, yang selalu setia memenuhi segala keinginan yang kita capai. Maka itu sama saja mengkerdilkan diri atau menyempitkan ukuran-ukuran yang seharusnya besar dalam diri kita. Buatkan saja kopi pahit tampa gula, seperti kesukaan lelaki kurus disampingku ini. mungkin dengan terbuatnya kopi hitam pahit itu, aku menjadi berharap besar, bahwa semoga kopi ini bisa membuat aku menjadi tak tidur malam ini. Namun malah aku dibuat kecewa. Bahwa harapanku untuk meminum kopi adalah agar tidak mengantuk. Tetapi adahal besar yang tak kutahu bentuk dan wujudnya. Besar sekali kuasanya, bahkan ilmu-ilmu sampai pengalaman takmampu mengukur dan memperkerikan. Yang mana membuat aku masih mengantuk setelah meminum kopi tersebut.

Alangkah besarnya kemungkinan, kemungkinan yang terjadi, tampa kita bisa memperkirakannya. Gunakan segalanya, tapi nihil hasilnya. Berusaha sekuat tenaga kalau keyakinan-keyakinan karbitan itu tak nyata. Ada saatnya kita untuk melakukan apa yang dinamakan “sadar”, atau “menerima”. Tapi entahlah, dua hal itu selalu membuatku semakin takut dengan realita kedepan nantinya akan seperti apa. Apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Semua memenuhi hasrat keingintahuan berlebih manusia-manusia ini. Aku, kita, manusia-manusia. Semuanya kalap dalam irama semu kegelisahan, kesenangan, keseriusan, kegembiraan, kelabilan, keterbatasan yang semuanya mengikat kita sejak awal hingga, “mungkin juga” sampai nanti akhirnya.

Saat melihat banyak kegelisahan, aku semakin takut. Seperti saat itu, lelaki muda yang kebinggungan dengan tuntutan realitas mengenai pekerjaan. Awalnya, kekuatan keoptimisan dan ketenangan selalu menyimuti pikiran-pikiran mengenai nasib masa depanya. Ia selalu tenang dalam segala hal. Beberapa permasalahan pribadipun dilalui dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Sebelum ia dipilukan dengan tuntutan kerja, ia sangat sungguh-sungguh dalam belajarnya. Semua jenjang pendidikanpun ditempuhnya. Segala cara belajar dilaluinya. Ilmu-ilmu pasti dan ilmu-ilmu abstrakpun dipelajari dengan ambisi. Keinginan-keinginan mulai selalu ditumbuhkan. Harapan-harapan mengenai kebaikan seperti syarat wajib pembicaraan. Orang-orang ekstrem kiri-kanan selalu dirangkul untuk mencari ketidakpastian dan pengembangan wawasan. Ia juga taat dengan kepercayaan. Ia mempelajari seluruh unsur-unsur tuhan. Sampai-sampai pengalamannya didambakan manusia-manusia lain yang sedang melakukan sebuah pencarian. Tapi akhirnya lelaki itu kandas, saat dihadapkan dalam realitas mencari sebuah pekerjaan. Ia keteteran, semua pekerjaan yang ditargetkan malah sulit ditembus akal. Dari mulai bekerja menjadi wartawan, redaktur disebuah media, ojek jalanan, jual-beli ilmu dan wawasan, motivator tradisional, guru spiritual, dan pekerjaan-pekerjaan ghoib lainnya. tapi sekarang ia pengangguran. Tidak bekerja karena belum mendapat sebuah kepastian dan kesempatan.

Bergerumbul sambil mencari sebuah kepentingan-kepentingan yang belum didapatkan. Atau sekadar merencanakan sebuah kegelisahan yang ingin ditunjuk-tunjukan. Segalanya akan menjadikan beberapa butir keinginan menjadi sebuah permasalahan banyak orang. Apakah mungkin permasalahan jika semakin disebarkan, maka akan banyak solusi penyelsaian. Atau jika permasalahan dibiarkan dan dipendam maka akan selalu membesar, seperti mengendap dalam kekristalan unsur-unsur permasalahan. Permasalahan bisa diumpamakan sebuah keinginan atas keyakinan yang tak tepat dengan keseharusan subjektif. Tapi mampukah realitas menjadikan permasalahan seperti syarat pelengkap penumbuh kehidupan. “Semua Itu Ada Waktunya, Dan Sudah Diatur Sedemikian Rupa”.

Saturday, June 21, 2014

Surat Suara 2014

Ketua Komisi Pemilihan Umum Husni Kamil Malik, memastikan kualitas percetakan dan distribusi surat suara untuk Pilpres 9 Juli mendatang. Persoalan yang muncul pada pemilu legislatif diharapkan tidak akan terulang untuk masa Pilpres. (Kompas,15/06/14)

Dipastikannya kualitas kertas dan jaminan pendistribusian surat suara yang dilakukan KPU. Menunjukan betapa pentingnya surat suara yang sesuai hingga pendistribusian secara tepat waktu & menyeluruh. Agar nantinya, pelaksanaan pemilu pilpres 2014 pada 9 juni. Bisa dilaksanakan dengan baik dan sesuai rencana. Namun kalau dilihat dari trackrecord pelaksanaan pemilu yang sebelumnya. Baik sebelum, saat, dan sesudah dilaksanakannya pemilu. Surat suara dan pendistribusiannya selalu mengalami sebuah permasalahan fundamental. Sepeti surat suara yang penyelsaiannya cacat dan telat. Lalu pendistribusian yang tidak maksimal, kurang menyeluruh, hingga masalah klasik akses transportasi yang sulit. Dan itu selalu menjadi permasalahan disaat pemilu. 

Seperti sebuah fenomena atau alasan klasik. Padahal surat suara dan pendistribusiannya adalah hal penting. Guna mewakili suara rakyat dalam menyampaikan suara dan haknya dalam memilih pemimpin baru. Karena dalam pemilu 2014 ini, masih mengunakan kertas surat suara sebagai media dalam melaksanakan pemilu 2014. Hasil dari surat suara ini akan digunakan sebagai wujud dari sistem demokrasi negara ini. yang tentunya adalah bentuk suara atau aspirasi rakyat kepada pemerintah. Namun surat suara sepertinya belum bisa menjadi media yang maksimal dalam pelaksanaan pemilu 2014. Karena akan banyak terjadi kecurangan-kecurangan, manipulasi besar-besaran, dan pendistribusian yang kurang maksimal. Dan itu akan membuat banyak suara rakyat yang tidak tersampai dengan benar. 

Menentukan pemimpin baru mengunakan suarat suara sebagai rujukannya. Akan membuat permasalahan baru. Manamungkin suara rakyat secara keseluruhan dapat tersampaikan hanya dengan suarat suara. Harus ada media baru yang bisa lebih maksimal dalam menunjang terwakilinya suara rakyat secara benar dan tepat. Untuk mewujudkan demokrasi yang lebih baik dalam pemilu 2014.

Seandainya & Seharusnya

Seandainya”, adalah kata yang tepat untuk mengawali segala yang dianggap mimpi. Begitupula “seharusnya”, adalah kata yang tepat untuk mengawali sesuatu yang sudah taksesuai porsinya, taksesuai keseharusannya, taksesuai semestinya, taksesuai kewajibannya, dan taksesuai janji-janji yang telah disepakati dalam sebuah perjanjian secara tidak langsung maupun langsung. Bukan maksud berlebihan dalam sebuah pemaknaan atau bermetaforaria. Namun bagaimana membuat agar “batu bisa dipandang sebagai berlian” dimata manusia-manusia. Membuat “baik dan tidak sebagai sebuah ukuran yang masing-masing pantas untuk dipelajari dan diakui”. Bukan malah mengesampingkan pihak satunya, demi mengutamakan yang dianggap lebih, oleh mayoritas. Entah ini tirani atau fasisme. Yang pasti ini bukan sebuah keluhan atas ketidaknyamanan segelintir orang yang tau dan mau tau atas realita. Sedangkan yang seperti itu bukannya sudah terlalu banyak dan berkembangbiak. Yang mau tahu, dan tau. Tapi yang mau memahami dan bertindak lebih untuk membuat sebuah keselanjutan dalam tindakan. Sebagaimana keinginan atas tuntutan kelebihbaikan peradaban dalam gengsi ketulusan sikap dan ucapan kekinian. Adalah wujud yang didambakan untuk melengkapi, cuilan-cuilan batang pohon randu yang digerus sarinya oleh benalu taktaumalu.

Ramuan ajaib apa yang bisa membuat mimpi menjadi kenyataan, membuat keinginan menjadi berwujud dan bisa dirasakan, membuat bualan-bualan kebohongan menjadi bentuk pasti suasana adem-ayem. Atau membuat ocehan-ocehan ludruk kritikan menjadi pembakar semangat paling dominan dan berperan. Sehingga manusia-manusia tak hanya bisa bicara, bermimpi, berangan, berharap, berencana, berandai-andai, berceloteh, berdusta, dan bersandiwara atau berucap tapi kelakuannya berbeda.

Sepertinya hal ini membuat aku teringat tentang sebuah kejadian. Sebuah fenomena antara dosen dan mahasiswa. Dimana dosen tersebut bisa dikatakan dosen baru yang masih merasa optimis dengan perubahan generasi menuju arah yang lebih baik. Optimisme dosen baru yang semakin kalangkabut hingga membakar lahan gambut. Telah membuat sebuah gebrakan mengenai cara mengajar dan gaya mengajar mereka terhadap mahasiswa. Sedangkan mahasiswa yang sudah terbiasa dan berusaha untuk semakin membiasakan diri dengan ketidak-konsistenan dosen, ketidak-seriusan dosen, ketidak-baikan sistem, ketidak-bersahabatan lingkungan, ketidak-adanya tanda-tanda bahwa fenomena siklus metamorfosa permasalahan dosen dan mahasiswa ini akan berhenti. Dan membuat sebuah kebudayaan pendidikan antara dosen dan mahasiswa menjadi seperti apa yang namanya pendidikan yang didalamnya syarat nilai-nilai yang sulit untuk dijabarkan tampa ruh yang serius dan benar.

Dosen baru ini berupaya untuk bagaimana caranya. Agar mahasiswa harusnya dididik dengan gaya yang lebih disiplin dan disibukkan dengan jadwal atau intensitas tugas yang padat. Sehingga tekanan terhadap mahasiswa dapat membuatnya sadar dan lebih keras belajar. Dan nilai lebihnya adalah, agar mahasiswa dapat bersaing lebih ketat dengan realitas yang sesungguhnya sangat bertolak belakang dengan harapan dan banyangannya. Realitas itu memang keras dan mungkin tak pernah kompromi dengan apapun. Sehingga siapa yang tak kuat maka tinggal mayat. Namun hal ini sudah biasa untuk sebuah gebarakan cara mendidik seorang dosen baru yang selalu ada setiap beberapa tahun sekali. Sehingga bisa ditebak bahwa dosen baru ini akan sama seperti apa yang telah terjadi, sebelum-sebelumnya. Mungkin karena pengalaman mengalahkan segala kemungkinan-kemungkinan yang mendekati sekalipun.

Namun mahasiswa ini menjadi sangat binal. Dikarenakan ketidak terimaan dengan penghapusan kenyamanan dari cara belajar yang sungguh-sungguh santai. Semenjak didatang dosen baru tersebut. Mahasiswa menjadi terusik kenyamanannya. Dikarenakan tugas sangatlah padat. Dan itu membuat banyak mahasiswa naik pitam. Lingkungan yang membuat perlunya penyesuaian-penyesuaian untuk adaptasi lingkungan dan kebiasaan baru dalam melakukan pembiasaan. Mahasiswa menjadi tak karuan. Pikirannya pusing tujuh keliling, lantas keinginan untuk melawan hanya sebatas impian. Dikarenakan turunya kualitas generasi yang semakin berkurang. Menjadikan manusia-manusianya menjadi tumpul dan tak karuan. Seperti kalangkabutan dan cukup membuat penyesalan. Atas waktu yang dihabiskan karena pembiasaan-pembiasaan untuk mengeluh dan menggerutu. Untuk membalaskan kelemahan dalam sulitnya menyesuaikan dalam iklim baru yang kadang dan bersahabat.

Biarkan saja dosen baru itu. tapi jangan jadikan mahasiswa itu sebagai bahan percobaan atas minimnya pengalaman dari sebuah regenerasi zaman yang sedikit edan. Namun yang perlu ditelaah adalah, cara mengadaptasikan diri terhadap iklim yang sulit untuk diri sendiri. Agar kita selalu siap sebagai apapun dan dimanapun. Dan itu akan meminimalisir sebuah kemungkinan-kemungkinan tetang keseriusan yang seharusnya diutamakan setelah ketulusan.

Buatlah rasa supaya bisa merasa, sedangkan biarkan keseharusan begini adanya. Namun untuk apapun yang sulit diterima. Maka biarkan untuk bisa diterima, kapanpun itu. sediakan  jalan agar yang lain dapat melewatinya. Untuk mencapai tujuan masing-masing. Tampa menyuruh agar bisa mencapai tujuan bersama.

Mendegarkan

Apapun yang kudengarkan kali ini. Sudah membuatku banyak bertanya-tanya. Kenapa?, mengapa?, dan bagaimana bisa?. Suara-suara itu semakin berirama dan seenaknya sendiri, masuk dalam pikiranku. Padahal aku tidak mengizinkan apapun masuk dalam pikiranku. Tetapi semakinku mengelak, maka semakin lemas badanku. Aku bukan tipe pemberoktak, penggerutu, atau bahkan pembunuh. Namun kali ini, pikiranku penuh dengan penolakan-penolakan yang sulit untuk kompromi pada apapun. Tunggu, aku juga bukan keras kepala atau mengembangbiakan amarah. Seandainya saja aku mengerti hal-hal yang tidak aku mengerti. Maka tak mungkin aku bertanya-tanya mengenai apapun yang aku dengar kali ini. Walaupun berkali-kali aku mendengarkan beberapa hal, yang berbeda unsur-unsurnya (bahasanya, pesannya, maksudnya, iramanya, nadanya, intonasinya, latar belakangnya, alasannya, tujuannya, dan caranya berbicara). Berasal dari berbeda-beda manusia dan orangnya. Aku mendengarkan unsur-unsur pembicaraanya dari “manusia”. Aku juga mendegarkan unsur-unsur pembicaraan dari “orang”. Karena manusia dan orang, kali ini banyak timbul perbedaannya. Kalau manusia yang kudengarkan, selalu diam dan tak membicarakan apapun selain dirinya. Namun, kalau orang selalu membicarakan manusia dan dirinya, apalagi hal-hal lainya yang bukan dirinya. 

Tapi awalnya begini, selepas bangun didepan televisi. Yang tak jemuh membuat rekontruksi rasio mengenai kehidupan dan dunia baru. Aku terbangunkan dengan desah suara yang semakin meninggi. Seperti pas mendegarkan suara penyair-hardcore. Apalagi mendegarkan suara gamelan yang diketuk dengan berurutan. Sehingga semakin tinggi-semakin kecil. Sama halnya dengan yang kudengarkan kali ini. namun persamaannya tak sama, senyawanya berbeda. Kalau ini, semakin lama semakin menuju klimaks. Atau berbicara seperti orang yang memerankan monolog. Semakin berat. Aku bertanya-tanya waktu itu. ini apa lagi?, tiba-tiba suara itu hilang. Aku terbangun dari karpet basah yang ditetesi bocoran air dari genting yang pecah. Terbangun dengan lemas dan pusing, kupaksa saja, biar tak lama-lama memanjakan tubuh dalam kenyamanan yang berkesinambungan ini. bergegas dengan masih menegaskan mata. Aku menoleh kedalam kamar. Begeletak perempuan dengan kerudung coklat dan setelan baju, cela yang seakan-akan ingin pergi jauh. Perempuan itu tak sadar saat kutelanjangi tubuhnya dengan mata yang sudah tegas. Kubiarkan sajalah. Aku ingin melanjutkan mandi dan pergi sholat jum’at. Saat kutanyakan pada salah sat temanku. Ternyata itu adalah kekasih temanku. Yang sedang marah karena temanku tak pernah mendegarkan nasehatnya. Memang kejenuhan temanku dengan kekasihnya sudah memuncak. Banyak sekali nasehat yang menurut temanku tak pernah dilakukannya. Tetapi malah menyuruh temanku yang notabennya adalah kekasihnya, untuk melakukanya. Sehingga jenuh sudah. Dan dibirkannya perempuan itu tergeletak dikamarku.

Akupun tak ada pikiran lain. Selain mandi dan membersikan diri, sebelum sholat jum’at. Sehingga tak ada pikiran lain selain itu. Selekas sholat jum’at aku semakin kebinggungan. Kenapa suara seperti tadi muncul kembali.

Calon Presiden Boneka 2014

Setiap sosok pemimpin yang hebat, pasti ada sekelompok orang yang membantunya dibelakang layar. Begitulah tim sukses berperan. Seperti dua calon presiden & wakil presiden di pemilu 2014 ini. jokowi-jk & prabowo-hatta yang menjadi sorotan penuh di beberapa hari ini dan kepedannya. karena salah satu dari mereka akan tampil sebagai pemenang dalam pemilihan presiden 2014 nanti. Sehingga tak salah jika mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak. Namun alangkah tidak adilnya jika tak membahas atau menyoroti otak-otak dibalik masing-masing sosok calon pemimpin ini. karena pasti tim sukses punya peran penting dan bekerja ekstra dalam menyulap sosok seorang jokowi-jk & prabowo-hatta. Dalam pemilu presiden 2014, agar siap dan maksimal dalam mengambil hati rakyat untuk memilih salah satu calon yang masing-masing belum punya pengalaman menjadi presiden republik indonesia ini.

Nampak mempesona. Baik cara berbicaranya, gaya tubuhnya, cara kampanyenya, dan visi-misinya. Masing-masing calon presiden 2014 ini tampil diberbagai media. Sehingga banyak menari simpati masyarakat. Namun benarkah itu adalah sosok mereka yang sebenarnya. Benarkan kita mengenal mereka betul-betul. Apakah yang mereka tunjukan dalam berbagai kesempatan kepada masyarakat adalah benar-benar diri mereka sendiri. Ataukah mereka itu dipoles untuk menjadi penarik perhatian dan supaya menang dalam pemilihan presiden 2014. Namun, entah bagaimanapun. Mereka bukan dibuat untuk menjadi diri mereka. Tapi menjadi pemimpin yang sanggup menjalankan amanah sebagai pemimpin. 

Hingga bisa bertanggung jawab atas segala janji yang dijanjikan kepada rakyat. Sehingga bukan tidak mungkin kalau sesungguhnya mereka adalah modifikasian dari tim sukses dan masing-masing partai. Modifikasi untuk mencapai keinginan menjadi penguasa negeri ini. yang mendapat kekuasaan tertinggi dalam sistem tata negara yang masih perlu dikaji ulang ini.

Ritual

Pemilu 2014 mendapat banyak perhatian dari berbagai kalangan. Terutama kalangan mahasiswa, akademisi, dan intelektual di berbagai institusi pendidikan. begitu banyak aspirasi dalam berbagai bentuk. Mulai dari kritikan, dukungan, evaluasi, dan prediksi yang selalu menghiasi iklim demokrasi. Tetapi hal itu, hanya berhenti dalam sebuah diskusi, perbincangan, debat kusir, tulisan yang dimuat dimedia, dan wacana rutin setiap ada pesta demokrasi lima tahun sekali. Sekedar ritual rutin. Sedangkan wujud dari aspirasi kalangan institusi pendidikan dan berbagai macam orang yang ada didalamnya, mengenai pemilu 2014. Hanya sekadar aspirasi. Bukan ketulusan hati untuk berbuat baik untuk sesama. Atau perubahan dari keadaan yang belum sepenuhnya baik, menjadi lebih baik.
seperti media massa dari mulai cetak, penyiaran, dan online. Sedang gencar membahas mengenai pemilu 2014. Dari mulai para calon presiden dan wakil presidennya, tim suksesnya, kampanyenya, partai politiknya, koalisinya, dan semua informasi yang berhubungan dengan pemilu 2014. Selalu dimuat di media massa kita. Sehingga pemilu 2014 menjadi populer mengalahkan segalanya. Baik permasalahan-permasalahan masyarakatnya, kasus korupsinya pemerintahannya, kemiskinan yang membudaya, keadilan yang semakin punah, keserakahan penjabat negaranya, bahkan suara rakyatnyapun dimanipulasi dan dimodifikasi. Hanya demi mempopulerkan pemilu 2014 ini. dan itu membuat kompromi-kompromi bahwa apapun permasalahan bangsa ini. Mohon maaf sebentar untuk ditunda penyelsainnya. Karena saat ini sedang konsentrasi membahas pemilu 2014, agar sukses dan berjalan sesuai rencana.

Lantas pantaskah untuk bertindak seperti itu. Apakah dengan adanya pemilu 2014. Semua yang tak ada hubungannya dengan pemilu 2014, tak pantas untuk dibahas.

Benar-Benar

Pak dosen, ini kenapa ?.

Kenapa apanya toh ?.

Kok, tidak pernah ada perkuliahan yang serius.

Loh, tidak serius yang bagaimana ?.

Saya ini merasa, tidak mendapati dosen-dosen pengampu, serius untuk mendidik saya.

Ah, tidak mungkin. Itu pasti perasaan anda saja.

Perasaan-perasaan opotoh pak !.

Lawong, yang saya tau dosen-dosen saya itu kredibel dan standart pendidik.

Tapi pak, kok banyak sekali masalah antar dosen saat ini pak.

Mana, tidak ada kok. Paling cuma miss komunikasi saja.

Tapi imbasnya, banyak perkuliahan yang kosong. Dan kalaupun ada kuliah, paling-paling begitu-begitu saja.

Begitu-begitu saja yang bagaimana ?.

Ya, begitu itu. begitu biasa saja saat menyampaikan materi. Seperti tidak tulus dan benar-benar mendidik secara maksimal tampah memikirkan pamrih atau gaji.

Mereka ituloh profesional semua. Buktinya absen dosen tidak pernah kosong, penuh semua.

Tapi pak, saya ini masih merasakan hawa tidak enak. Mengenai cara dosen dalam mendidik kami, dan tentunya saya.

Sekali lagi jangan mudah suudon. Coba berfikiran positif dan tidak berburuk sangka.

Saya tidak berburuk sangka pak. Tapi bicara realita semata.

Realita apatoh. Lawong kuliahnya baik-baik saja tampa masalah giniloh. Malah banyak prestasinya.

Yasudah, maaf pak. Saya sudah suudon, kalau begitu saya tak pergi dulu.

Mau kuliah ta ?.

Tidak pak, saya mau makan dulu diwarung. Soalnya dosen dari dua perkuliahan hari ini, tidak masuk.

Oh, iya tidak apa-apa.
Mengatasi kemarahan dengan kebebalan. Memang tak cepat mendinginkan hawa neraka diotakku. Walaupun disiram oleh penghibur kerohanian, atau semacam liburan rekreasi kecil-kecilanpun. Hawa neraka malah makin melebar di ruang-ruang otak kanan dan kiriku. Sebegitukah, jika kenyataan yang ditunjukan ditolak dengan logika akal pikiran yang sistematis-struktural hingga teoritis-neokultural. Apa yang salah dengan sistem, apa yang salah dengan kenyataan bahwa sesuangguhnya, apa yang direncanakan selalu berbanding terbalik dengan kenyataan yang berjalan (proses). Sehingga penuh dengan perkiraan-perkiraan yang menimbulkan pikiran bahwa, banyak hambatan. Hambatan adalah sesuatu yang dipandang lumrah adanya. Karena proses dan apa yang direncanakan sebelumnya. Diyakini tak akan berjalan dengan mulus. Kenyakinan bahwa kecacatan proses adalah sahih. Maka yang diyakini adalah kompromi-komporomi akan ketidaksempurnaan yang diamini.

Maksudanya begini. Kenyataan dan rencana adalah sebuah perjalanan menuju hasil. Jika kenyataan disini diartikan sebagai proses. Merencanakan dengan baik bahwa sistem yang akan dipakai dalam perkuliahan atau cara pengajaran dosen yang dipimpin oleh ketua jurusan, yang juga dipimpin oleh pemimpin tikat fakultas hingga universitas. Selalu memiliki kelemahan yang menimbulkan kerugian. Namun pertanyaan yang paling bisa untuk dijawab dengan kebingunggan atau analisis terlebih dahulu adalah, apakah keleman selalu menimbulkan sebuah kerugian?.

Antara

Bagaimana jadinya, bila terlalu lama menunda sebuah kewajiban yang berujung semakin tak terjadwal dengan baiknya sebuah aktivitas sehari-hari. Sehingga mempengaruhi berbagai aspek dalam diri, baik jasmani atau rohani. Merasakan sebuah ketidak harmonisan antara hati dan pikiran yang menimbulkan pengaruh besar terhadap sikap dan perilaku yang semakin tak seimbang. Sama halnya kewajiban yang tak dilakukan, tetapi hak selalu didahulukan. Apalagi tuntutan yang semakin diminta, tetapi tugas malah ditunda-tunda. 

Seharusnya padi bisa tumbuh dan dipanen dengan baik. Jika petani dan musim bersahabat. Namun petani tak cukup bila cuman bersahabat dengan padi. Kalau bisa petani harus menjadikan padi seperti anaknya sendiri. Yang dirawat sepenuh jiwa, dicukupi kebutuhannya, baru dipanen nantinya. Namun sekarang tidak begitu. Padi tak dirawat jika tanah tak menjanjikan kesuburan, musim tak menunjukan persahabatan. Malah diberi pupuk agar cepat menghasilkan padi yang unggul dan cepat panennya, namun nantinya akan beracun dan mengurangi protein dan vitamin dalam padi yang akan menjadi beras nantinya. Sehingga kalau dikonsumsi akan tak maksimal hasilnya. Serba pragmatis atau tuntutan zaman yang elitis. Sehingga bukan proses yang diutamakan atau menjadi sorotan utama dalam menghasilkan hasil yang sesuai keinginannya. Namun malah hasil yang baik dan tak mau tau proses dalam mewujudkannya.

Ingin semuanya menjadi baik dan semuanya cepat memenuhi kebutuhannya. Tapi tetap dengan invensitas waktu yang singkat. Karena kebanyakan manusia sekarang telah mewujudkan waktu seperti benda penting yang hanya dimaknai secara kerdil. Bukan sebuah satu-kesatuan yang kosmos mengenai kesinambungan kehidupan dalam menjalani pemenuhan atau kewajiban dan hak yang salah satunya harus didahulukan, dan dipilih siapa yang utama tapi tetap kewajiban harus didahulukan. Namun keduanya tetap dilakukan.

Seperti bagaimana manusia menyebut mana yang lebih penting. Jika ukurannya atau volume pembahasannya hingga pembatasan ruang lingkupnya hanya terletak antara penting dan tidak penting. Apalagi jika dilihat dari baik dan buruknya. Karena jika dinilai antara baik dan buruk, berarti yang buruk akan dinomor duakan. Karena baik itu selalu indentik dengan keuntungan. Sama halnya jika dihadapkan dengan sebuah pilihan yang mengenai sebuah penentuan keselanjutan. Jika diingatkan oleh beberapa kejadian yang pernah terjadi sebelumnya, pasti kita akan berfikiran bahwa hal yang akan datang itu akan sama saat seusainya seperti dulu. Namun alangkah kagetnya ternyata apa yang kita perkirakan tak selalu benar, dan pastinya selalu memberikan sebuah kejutan yang tak pernah kita kira-kira adanya, hadirnya, bentuknya, dan lain-lain sehubungan dengan kekecewaan kita akan tebakan yang salah.

Sudahlah, itu taknyata adanya. Semuanya abstrak dan cuma neologisme semata. Yang nyata adalah saat-saat diacam oleh pemilik warung kalau besok tidak usah makan disini, kalau masih tetap nekat. Bakalan tak dilayani jika beli diwarung. Mau beli makanan saja diancam tidak boleh, padalah kitakan beli bukan mencuri. Namun setelah aku cari tau kenapa aku bisa dilarang membeli makanan diwarung. Saat kucari tau selama dua kali duapuluh empat jam. Ternyata kesalahan memang tak menunjukan batang hidungnya. Pemilik warung tak suka dengan kegemaranku menfoto mereka. Walaupun sesungguhnya aku cukup suka dengan fotografi.

Iklim Lupa Diri

Niat setulus apapun, kepedulian sebesar apapun, dan harapan sebaik apapun. Selalu dianggap sebaliknya di era kekinian. Bagaimana demokrasi punya andil besar. Kebebasan bersuara yang semakin taktau arah, kemungkinan-kemungkinan sukar diprediksi, kenyataan-kenyataan penuh kontradiksi, dan sistem modernisasi menimbulkan ketakutan-ketakutan pada manusianya. Karena sudah lelah menderita dan dibohongi oleh janji-janji ataupun timpang-tindih masalah. Walaupun masih banyak yang kuat dan tabah dalam menyesuaikan diri di iklim penuh tipudaya. Sehingga penyepelehan demi penyepelehan selalu menylimuti manusia-manusianya. Jika ada beberapa orang punya keinginan & niatan tulus, ingin menjadi pemimpin. Maka demokrasi ini, bukan iklim yang cocok. Untuk bersikap jujur, tulus, dan baik.

Apalagi akan diadakan pilpres 2014. Peralihan kepemimpinan yang diharapkan akan membuat Indonesia menjadi lebih baik. Tapi harapan lebih baik untuk Indonesia selalu tak mendapat restu dari yang Maha-kuasa. Malah permasalahan demi permasalahan semakin di hujan deraskan, bahkan dikembangbiakkan. Apa mungkin terlalu polos harapan manusia Indonesia dalam menyambut pemimpin barupada 2014 ini. tak seperti kampanye masing-masing calon pemimpin Indonesia yang cukup totalitas dan penuh strategi. Agar bisa mengambil banyak hati manusia Indonesia untuk memilihnya. Walaupun semua manusia Indonesia memilih salahsatu calon pemimpinnya. Lalu mengantarkannya untuk menuju kursi kepemimpinannya. Maka itu sesungguhnya hanya cara manusia Indonesia dalam menuruti permintaan manusia Indonesia lainya, yang merasamampu dan ingin memimpin sesama manusia Indonesia. Jika meminta agar dipilih untuk menjadi pemimpin Indonesia, maka hal itu akan dituruti oleh manusia Indonesia. Namun untuk direstui atau tidak, oleh manusia indonesia. Itu akan menjadi persoalannya. Restu manusia Indonesia cukup sulit diminta. Jika tidak benar-benar mengenal, mengetahui, mengerti, memahami, merasakan, mendegarkan, berkorban, dan berdoa. Mengenai manusianya dan Indonesia. Dalam kehidupan. Maka kepemimpinan menjadi senjata makan tuan. Bukan malah menyejahtrahkan. Malah dihujat habis-habisan, melalui kebebasan bersuara yang siap mengiris-iris telingga pemimpinnya. Karena sekarang ini banyak pemimpin yang taktahan kritik, apalagi menjunjung tinggi nilai-nilai demokratik. Sedangkan pajak terus dibayar, malah korupsi makin menggila. Sama halnya dengan proses penegakan keadilan. Moral rakyat dituntut untuk selalu taat dalam menjalankan peraturan, sedangkan moral pemerintahnya masih sering tersandung skandal dan kasus yang merugikan banyak hal. Seperti skandal bang century, skandal korupsi daging sapi, skandal korupsi dirjen pajak, skandal hambalang, dan kasus kolusi, korupsi, nepotisme (KKN) yang jika dilihat sekilas di seluruh media cetak saja, belum lagi media penyiaran. Pasti setiap hari tak susah untuk mencari kasus atau skandal mengenai hukum, sosial, ekonomi, pendidikan, dan pendidikan. inikah yang dimaksudkan dengan “manusia tak lepas dari masalah”. Atau kesadaran mengenai berkehidupan yang baik telah dikerdilkan. Apa setiap orang, entah pemerintah dan rakyat telah mengambil sikap oportunis. Karena telah merasakan ketidakcukupan duniawi yang semakin meminta lebih. Sehingga lupa bahwa semuanya akan dipertanggungjawabkan nantinya.

Namun alangkah anehnya, jika masih banyak ketidaksadaran semakin digembalakan oleh manusia. Khususnya yang ada didalam pemerintahan. Pemilu 2014 seperti ladang basah. Sehingga semua kuasa seakan menjadi serakah. Tak perlu ditunjukan beberapa contoh saja. Masyarakat bakalan bisa menyimpulkan bahwa kenyataannya, pemerintahan seperti tak berguna. Karena mencari nafkah masih susah, penjual daging makin kasihan, melihat konsumennya kaget. Mendengar harga daging yang tak bersahabat. Tiba-tiba saja mencuat kasus korupsi daging sapi oleh pejabat pemerintah. Sehingga semakin berbusa mulut rakyatnya saat melogikakan kenaikan harga daging. Tetapi malah kasus korupsi yang di blow-up media massa.

Seharunya Tak Nyata

Bagaimana jika setiap menjelan pemilu raya pemilihan presiden. Kita selalu disibukan, dibuat sibuk, menyibukan, dengan apapun hal mengenai pemilu raya. Baik mengenai calon presiden, calon wakin presiden, dan kampanye. Tetapi itu bukan hanya mengenai seutuh-utuhnya hal-hal seperti itu. namun selalu yang negatif, buruk, masalah, pelanggaran, dan tidak ada yang tidak bermasalah. Sehingga tampa disadari kita selalu dirugikan. Baik secara langsung atau tidak. Sehingga bukan lagi semakin membuat masyarakat kita semakin malas dalam mengurusi, berpatisipasi, dan antusias untuk membahas, melakukan, peduli, atau optimistis mengenai apapun hal dalam tema kompleks pemilu yang rutin. Sehingga menimbulkan sebuah fenomena tak berguna, sampai cenderung merugikan banyak hal dan kehidupan tentunya. Tetapi disisi lain, hal ini adalah tuntutan sistem yang sudahturun menurun. Mau tidak-mau harus ada sebuah antusiasme, keseriusan, keperdulian, harapan, optimisme, dan tidak dibuat main-main. Karena ini adalah hal yang sangat fundamental. Tapi tak salah juga kalau banyak sekali permasalahan yang mengakar dan tak bisa dilupakan begitu saja. Dan hasilnya semua hal yang seharusnya menjadi tak terjadi seperti seharusnya.

Monday, June 2, 2014

Generasi Tabah Yang Barokah

Sudah berapa kali kita mencatat kejanggalan yang terjadi diluar diri kita. Semacam ketidak sesuaian. Entah perilaku orang, keadaan lingkungan, yang meliputi sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan, dan segala macam bentuk pengkotak-kotakan apapun diluar diri kita. Kalau bagiku, sudah tak terhingga berapa kalinya. Atau entah bagaimana semuanya ini selalu meliputi hakikat kita sebagai manusia. Yang sekarang sedang diuji tampa henti oleh yang Maha-Kuasa. Mungkin aku mengiranya, bahwa kita sebagai manusia. Sedang disuguhi oleh berbagai macam pendewasaan yang dibentuk dari berbagai unsur permasalahan yang bukan saja berat atau membebankan. Namun juga, pusing jika dipikirkan. Contoh sederhananya saja, saat seorang mahasiswa sedang binggung mengerjakan tugas kuliah. Yang tugasnya cuma menuliskan sebuah makalah yang datanya bisa dicari melalui media-online dengan mudah dan gampang. Dan mahasiswa tersebut tinggal mempelajarinya agar bisa presentasi didepan teman-teman mahasiswanya. Karena rata-rata tugasnya mahasiswa yang pokok untuk awal-awal perkuliahan, adalah membuat makalah lalu mempresentasikannya. Begitu saja, ituloh sudah mengeluhnya minta ampun. Alasannya ribet, malas, atau bahkan kadar kemauan untuk belajar mahasiswanya saja yang begitu kurang untuk benar-benar serius untuk kuliah dan mengemban tugas sebagai mahasiswa, yang tanggung jawabnya besar.

Bukan hanya kepada dirinya sendiri. Namun juga kepada apapun selain dirinya. Tetapi itu cuma bentuk dari salah satu contoh, dari ketidak sanggupan manusia menerima sebuah ketetapan dan tanggungjawab untuk menempuh sebuah proses pendewasaan yang skalanya kecil bahkan sepele. Sehingga sedikit banyak, bisa menggambarkan kualitas manusia yang semakin hari semakin melemah dalam menghapadi ujian, masalah, tanggung jawab, amanah, kewajiban, tuntutan, dan cara dalam memenuhi keinginan manusia-manusia. Yang semakin banyak atau pola konsumsi, keinginan,  harapan, yang tidak diimbangi dengan kemauan dalam mengusahakan agar tercapai dan terealisasi atas apa yang diinginkan supaya benar-benar bisa terealisasikan kepada diri manusia-manusia itu sendiri. Bahwa seharusnya kadar kemampuan manusia sekarang ini haruslah lebih baik dan jelas-jelas tidak seperti sekarang ini. dalam menghadapi sebuah permasalahan, kesenjangan, kemunafikan, bencana, ujian, keos-zaman, pembodohan struktural, pengkerdilan generasi, pelengseran kearifan lokal, pembudidayaan mental kacang’an, atau bahkan yang lebih ekstrem lagi. Produksi manusia-manusia tak berkuaitas melalui lembaga-lembaga yang diciptakan dan konsisten dalam mencetak generasi bodoh masakini. 
Sering bicara sana-sini. Keinginannya takpernah diimbangi dengan usaha nyata. Harapannya melebihi unsur-unsur pancasila dan ideologi bangsa. Perilakunya aneh, berbeda dengan apapun yang diucapkan didepan orang lain. Namun selalu mencoba ingin menjadi yang paling peka, dalam menimbang-nimbang segala masalah. Inginnya menciptakan citra dirinya sebagai orang yang paling bersahaja, berbudi baik, bertanggung jawab, rela berkorban jiwa-raga, tak pamrih tapi tak ingin rugi dan ingin dipandang sebagai orang yang paling berkorban tinggi, diantara orang lain selain dirinya sendiri. Namun besar pasak daripada bumi. Tak seimbang, seperti orang yang punya banyak cara untuk memberikan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Tetapi saat ditanya pegalamannya dalam mengambil keputusan atau, apakah pernah melakukannya?. Ternyata takpernah. Kalau begitu syaratkah, bila orang memberikan kebijaksanaannya atau mengarahkan untuk melakukan suatu yang ia sendiri tak pernah melakukannya. Sama saja menyuruh ibadah tapi tapi ia sendiri tak pernah ibadah, menyuruh sabar tapi ia tak bisa sabar. La,,, ndasmu sempal. Bertanya pada orang mengenai bagaimana rasanya digigit ular, tapi ia sendiri tak pernah tau rasanya digigit ular. 

Tapi sudah bicara dan ndawuh sakkarepe dewe kalau digigit ular itu rasanya sakit. Itukan semacam ngateli. Namun memang sekarang banyak yang begitu, manusia-manusianya, kelompoknya, organisasinya, lembaganya, pemimpinnya, bahkan negaranya. Sehingga kebinggungan dalam melakukan apa saja hal. Memang cukup bisa dimaklumi dan dikompromi. Karena itu adalah keunggulan kita yang tak kita sadari. Manusia-manusia disini, dilatih untuk sabar, memaklumi segala persoalan, komprosi maksimal mengenai segala keruwetan permasalahan, sabar sampai hati sedikit makar, dan tabah menerima cobaan yang jika diukur oleh kewajaran, hal itu sudah tidak wajar dan kurang ajar. Tetapi inilah namanya kenyataan. Sukar atau tidak harus pintar-pintar mempelajari, agar tak dirugikan. Namun bkan berarti harus oportunis dalam menghadapi segala ujian kesengajaan. 
Namun buktinya, generasi sekarang ini masih bisa bertahan. Lebih kerasnya masih hidup, walaupun kelihatanya mati. Seandainya, kemauan selalu diimbangi dengan sebuah usaha yang benar-benar usaha. Optimesme atau sekedar pesimisme. Namun alangkah tidak mampunya aku menentukan sikap, apakah aku ini pesimis atau optimis. Karena aku belum mampu untuk melabeli diriku. Jadi yang kulakukan sekarang ini bukanlah bersikap saja, tetapi usaha agar aku tak Cuma bisa bersikap dan menilai apapun yang diluarku. Namun bagaimanapun manusia. Selalu bisa berusaha, namun untuk hasil bakalan ditetapkan oleh-Nya.

Sunday, June 1, 2014

Sen(iman)

Melabeli dirinya sebagai seniman. mengatasnamakan profesionalitas. Menuntut penghormatan diri. Agar dirinya tak dilobi-lobi, dalam menawarkan harga tinggi untuk menjual diri. Sedangkan beberapa lainya sedang memikirkan gaji mereka untuk bisa makan dan hidup esok hari. Namun ada hal yang dilupakan diantara dinamika semesta yang isinya bukan saja mereka sendiri. Namun terdiri dari berbagai manusia yang sama, tetapi berbeda merk dan labelnya. Ada yang berlabel halal, ada juga yang haram. Seniman yang artinya orang yang mempunyai bakat seni dan berhasil menciptakan atau menggelarkan karya seni (pelukis, penyair, penyanyi, dsb) menurut KBBI. Sekarang sedang berada dalam sebuah lingkaran tuntutan antara makan, eksistensi, ketulusan, perjuangan, atau hura-hura. Dalam menghadapi kehidupan yang sedang mesra bercumbu dengan anomali pembodohan struktural. Sehingga tak cukup ruang dan waktu, untuk memikirkan orang banyak. Sedangkan memenuhi kebutuhan sendiri lebih diutamakan. Dibandingkan mengemban amanah sebagai seniman. yang menurutku tugasnya adalah memperbaiki, menjaga, mengawal, mengawasi, mendo’akan, menghibur, memperjuangkan, atau melakukan banyak demi terciptanya tatanan hidup yang baik. Sampai terbentuknya manusia-manusia yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kebaikan yang semakin meningkatkan kualitas setiap manusia digenerasi selanjutnya. Dan menghormati manusia digenerasi selanjutnya.

Tetapi apa yang aku lihat. Memang selalu menipu. Seniman sudah seperti pengusaha atau penjual tahu sumedang diterminal. Mereka selalu mengusahakan semuanya dengan maksud baik tapi selalu berharap agar dihormati, diapresiasi, disanjung-sanjung, dipuji-puji, dipelakukan baik, diundang sana-sini, atau bahkan pemrih dalam melakukan kegiatan keseniannya. Seperti yang aku lihat dalam sebuah acar lomba pekan seni nasional. Banyak juri yang terdiri dari bermacam-macam manusia. Menamakan diri mereka sebagai seniman yang profesional dan berkredibilitas tinggi. Sedang mengusahakan terciptanya ladang basah dan mendapat laba, sebesar-besarnya. Kesenian dibuat seperti pekerjaan yang butuh gaji bulanan. Bukan malah memandang dari sudut kemanusiaan. Realita sudah mengalahkan segala kemanusiaan. Tidak kutemukan sebuah keseimbangan, antara tuntutan dan kewajiban. Sehingga manusia yang menyebut dirinya seniman disini selalu menuntut, tapi tak disiplin sebagai apa yang mereka labelkan dari diri mereka. Yaitu, seniman.

Seniman atau senengane nowo iman. Artinya, sukanya nawar iman (kepercayaan). Sehingga selalu mencari-cari sebuah kepercayaan mengenai dirinya sendiri. Tetapi saat belum bisa percayaan dengan dirinya sendiri. Bahwa sebenarnya dirinya mengemban amanah yang sungguh-sungguh amat besar dibandingkan lurah, camat, bupati, walikota, gubenur, mentri, atau presiden. Dalam menjalankan amanah besar itu. apalagi bertanggung jawab mengenai nasib manusia digenerasi yang akan datang, supaya lebih baik. Maka kesungguhan seorang yang berani melabeli dirinya sebagai seniman. bersiap-siaplah untuk bertanggung jawab mengenai hal yang belum pernah disadari. Bahwa seniman mempunyai amanah akan keberlangsungan nasib generasi yang lebih baik. Tetapi apa yang terjadi didepan mataku ini. seniman-seniman ini, sepertinya tidak tulus. Hanya berharap supaya dibayar. Atas jasa dan kedatangannya. Bukan malah melakukan usaha-usaha sebagai seniman untuk membuat kemarau menjadi musim semi. Demi menebarkan pesona bagi penduduk disekitarnya, agar bisa merebut hati mayoritas penduduknya. Dan melanjutkan maksud demi melancarkan kepentingannya.

Aku gusar dengan pengakuan dan penyebutan seniman kepada manusia-manusia yang belum siap mengemban amanah mulia seperti itu. Kalau bisa segeralah menghapus sebutan seniman menjadi jaranan. Yang harus dibayar dengan uang jika ingin melihatnya dalam sebuah tanggapan. Atau seniman diganti dengan sebutan sen saja. Soalnya imannya masih belum bisa mewujudkan keseharusan dalam berkehidupan.

Saturday, May 31, 2014

Ada

Sebelum menyebutkan mereka yang berhasil dengan bantuan pendidikan-pendidikan yang dilembagakan dan disuguhkan dalam tanda petik, untuk memperbaiki generasi yang semakin kurang berisi dengan banyak sekali penyederhanaan-penyerdehanaan. Dimana segalanya dimudahkan, dikerdilkan, dianalogikan dengan lingkup semakin kecil, agar mudah dipahami dan ditangkap oleh indra manusia pada generasi ke generasi. Yang tak diberi kepercayaan lebih untuk mengetahui yang sesungguhnya atas realita, tampa di kurang-kurangi, dilebih-lebihkan, atau dimodifikasi supaya mudah dan lebih gampang dipelajari, dimengerti, dipahami, dan dipraktekkan. Atau sederhananya memberikan fakta yang apa adanya dari generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya secara apa-adanya.

Siang tadinya, banyak sekali kerumunan warga yang sedang berkumpul disamping jalan. Dari mulai anak-anak memakai peci dan baju kokoh rapi, ibu-ibu mengendong anaknya, bapak-bapak yang memasang wajah ketidaktahuan, dan pemuda-pemudi yang selalu penasaran diatas sepeda motornya. Sedangkan aku lewat menuju kampus pinggiran dengan tergesah-gesah karena waktu kuliah sudah telat beberapa jam. Namun pas aku lewat, aku melihat seperti akan ada sesuatu yang lewat. Pejabat, dinas pertahanan, polisi, atau apa. aku tau tahu. Mereka sepertinya tegang menunggu sesuatu yang aku sendiri taktahu. Aku tetap tegang melihat mereka yang juga tegang menurut subjektifitasku yang sudah terlalu hypersubjektif dalam menilai, merasakan, memperhitungkan, mengambil keputusan, atau bahkan bersikap. Namun mungkin saja aku akan diadili beberapa jurnalis umum maupun jurnalis nyemplang yang masih mempertahankan idealis anugrahi-modifikasinya. Ditengah realitas-industri yang sulit di petakan konstalasinya. Dari akar sampai ranting-rantingnya.

Tetapi setelah beberapa jauh kedepan, saat perjalanan menuju kampus aku melihat ada banyak sekali pemuda-pemudi yang berpakaian warna-warni, rambutnya seperti anak ayam alay yang dijual dipasar, mereka semua memakai motor yang suaranya seperti suara anjing, dengan beberapa asesoris suporter sepakbola, dan kemampuan memobilisasi-pengendalian layaknya geng motor dengan slogan raja-jalanan. Ternyata itulah perayaan kelulusan siswa SMA di daerah kampus pinggiran Madura ini. Mereka yang rata-rata pemuda-pemudi digadang-gandang oleh menteri pendidikan sebagai generasi muda. Sedang merasakan kepuasan, karena bisa menyelsaikan ujian nasional dan studinya di jenjang SMA. Uforia kelulusan seperti layaknya fenomena yang selalu, dan selalu terjadi tampa henti. Bahkan modernisasi dan konsepsi postmodernisme sudah merambah gaya perayaan kelulusan yang terjadi setiap tahunnya.

Dari ujung pelabuhan Madura, hingga jalanan tak jauh pelabuhan itu. Mereka konvoi sambil membunyikan knalpot motor mereka, seperti gong-gong’an anjing, dan kebersamaan dalam berkendara secara solid. Namun alangkah kagetnya pemuda-pemudi itu dengan berakhirnya perayaan penting atau utama dalam kelulusan. Ada beberapa petugas keamanan yaitu polisi. membuntuti konvoi yang dilakukan. Sedikit dan membuat jalanan daerah sini ramai. Sedikit menghiburlah. Yang biasanya sepi dan angker ini, lebih terasa seperti jalan yang seharusnya. Namun beberapa hal semakin aneh dan janggal. Banyak siswa yang melakukan konvoi menjadi kalang kabut tak karuan dijalan-jalan. Mereka semua seperti ketakutan tetapi tetap menantang.

Tapi aku terlalu gelisah dengan kejedian yang sungguh-sungguh tak karuan ini. Bagaimana fenomena konvoi semakin membuadaya dan menghilangkan banyak nilai-nilai luhur generasi berpendidikan. Semuanya seperti luntur, tak ada lagi sebuah hasil yang bisa akurasakan dan kepuasan akan tuntutan hidup beserta dinamikanya yang aku rasa benar dan sesuai. Semua yang terjadi khususnya mengenai generasi pendidikan ini sepertinya tak pernah benar-benar seperti nyata. Apapun serba berbeda hasilnya. Tak ada ruang lagi untuk sebuah harapan merubah yang belum baik menjadi lebih baik. Tak ada ruang bagi kejujuran, tak ada lagi ruang bagi pemakluman, tak ada lagi ruang bagi kebaikan, tak ada ruang bagi yang mudah kalah, dan tak akan ada lagi ruang untuk menerima kenyataan yang nyata, berat untuk diperjuangkan. Sehingga hanya beberapa pilihan; menyingkir atau mengikuti saja.

Nyamannya Keterpaksaan

Saat sudah sekian lama berdiam diwarung yang selalu tak ramah-tamah ini. ada beberapa hal baru yang dapat membuat perhatianku menjadi terbagi. Pemuda-pemudi yang berasal dari ibukota yang selalu menjadi sorotan utama media massa dan beberapa pola pemikiran yang selalu merujuk kepadanya. Sedang asyik bercengkrama tampa malu atau merasa menghargai orang lain yang disekitarnya. Mereka selalu ada disini, mereka selalu berkumpul hingga pagi, mereka selalu membicarakan mengenai primordialisme ibukota, mereka tak lupa untuk melogatkan mereka dengan bahasa anak muda ibukota, mereka selalu berkelompok dan ramai sendiri, jikalau sedang minum kopi atau sekedar kumpul bareng. Namun ada sebuah penyesalan yang diatasi dengan “terpaksa harus nyaman dengan keadaan disini”. Mereka banyak yang tidak tahu, kalau pendidikan tinggi yang diambil mereka dari sebuah satuan sistem pendidikan berskala lebih besar, telah menjerumuskan meraka di tanah gersang penuh pelampiasan ini. Ketidaktahuan mereka menujukan sebuah kebodohan mengenai sebuah generasi yang diberi kemampuan besar, dan dijajaki pembodohan megapolitan. Untuk mengarungi sebuah perjalanan yang mereka harus mencari tahu sendiri mengenai mereka sendiri dalam proses menemukan, melalui pencarian.

Mereka tergolong orang-orang yang menyesal lalu melakukan pelarian atas hal tersebut. Harapan mereka saat ingin melanjutkan sebuah jalur pendidikan tinggi yang baik dan sesuai dengan angan-angan yang dibentuk oleh realitas global mengenai ukuran, keindahan, kebaikan, keberhasilan, kemampuan, kesuksesan yang serba dibentuk bukan menurut diri sendiri. Sehingga kita menjadi penganut yang paling manut.. mereka kira pendidikan yang mereka ambil bertempat didaerah surabaya. Namun ternyata. Pendidikan yang mereka pilih sedikit mensilumankan diri. Tak jauh disurabaya. Pendidikan yang diambil adalah bertempat di sebuah pulau disamping surabaya. Yaitu Madura, pulau dengan seribu sejarah, seribu manusia yang merantau hingga kebeberapa penjuru dunia. Karena kebanyakan masyarakat madura adalah peranakan nelayan besar yang suka mengarungi semua belahan indonesia. 

Namun penyesalan mereka sekarang ini akan semakin meyakinkanku bahwa sebuah peradaban akan memilih generasinya. Dimana segalanya sudah ditentukan tampa harus dipilih. Kalau seandainya dipilih mereka akan tau sendiri. Bahwa memilih adalah sebuah jalan dimana pilihan akan semakin menekan opsi yang sedang diperkirakan.

Adilisme

Siapa yang benci dengan keadilan. Jika keserakahan, perampasan hak, pembunuhan karakter belum bisa dikalahkan oleh diri sendiri. Menuntut keadilan, sama halnya dengan menunjukan ketidakberdayaannya terhadap realita yang memang tidak bisa adil padanya. Semua akan menuju oportunisasi. Pemenuhan diri sendiri. Yang tak akan selesai sebagai pelengkap ketidakadilan yang membuat ketidak berdayaan dalam benak masing-masing manusia.

Ketakutan bahwa keadilan tak akan tiba. Adalah kenyataan. Tapi yang lebih nyata adalah bahwa keadilan memang tak akan tiba untuk sekarang ini, apalagi nanti. Lawong dari dulu intelektual, buruh, mahasiswa, masyarakat, militer, pemerintah saja masih merumuskan lalu melaksanakan, mufakatisasi bentuk keadilan yang butuh penyesuaian menurut diri sendiri saja belum bisa. Sehingga realisasinya mendapat kontroversi menggurita. Keadilan memang bukan membutuhkan ruang atau waktu (kapan). Namun kita yang membutuhkan keadilan itu. Sehingga penyesuaian perlu. Disini begini, disana begitu. Mana bisa menyatukan bentuk realisasi keadilan yang hakiki, nyaman, sesuai, cukup, pas, enak, dan diapresiasi. Jika masing-masing kepala mempersepsi bahwa keadilan memiliki masing-masing representasi. Persepsi menurut orang beda mengenai keadilan. Sehingga tak ada yang bisa menciptakan keadilan yang dapat dinikmati semua orang.

Jika mengacu kepada bernegara, berbangsa, atau berkehidupan. Keadilan hanya di gambarkan dalam bidang duniawi. Bisa pangan lancar, sandang cukup, rohaniah memuaskan, dan jasmani menyehatkan. Lantas itulah ukuran keadilan sekarang ini. bukanya keadilan itu segala bentuk yang “adi” unggul, besar, luhur, tulus, dan besar.  Namun keadilan semakin dikerdilkan dengan makna “keadilan itu sama rata, tak merugikan” dan ditambahi oleh banyak warga dengan “tapi ya,,,harus menguntungkanlah, jangan rugi-rugi banget”.

Bagaimana bisa menentukan ukuran keadilan jika banyak kepala ingin tak dirugikan. Dengan kata lain ingin untungnya sendiri-sendiri. Sehingga tak digubris itu “sama rata”. Yang seharusnya dimaknakan secara luas. Dan menjadikan hal yang tidak ada hubungannya menjadi ada hubungannya, menjadikan hal yang berhubungan menjadi lebih dekat hubungannya. Menjadikan yang utuh menjadi batu, mengumpulkan butiran menjadi padat. Namun yang ada sekarang adalah membuat yang cair menjadi menguap. Yang artinya, ini semua sudah terlalu tak berhubungan. Banyak orang yang jauh dari kepercayaan dan meng’amini sebuah hubungan dapat membentuk perkembangan. Entah baik-buruk, itu nanti. Yang penting mari kita buat sebuah ikatan dengan dasar kepercayaan yang adil dengan maknawiah keadilan lalu menjunjung tinggi yang sudah tinggi.