Wednesday, January 22, 2014

Kesenjangan Masih Ada Meski Otonomi di Berlakukan


Setiap pertumbuhan ekonomi dan perkembangan daerah di Indonesia selalu di bumbuhi ketimpangan dan kesenjangan, bertumpuk-tumpuk solusi dan cara penyelsaian tetap tidak bisa merubah ketimpangan antardaerah yang terjadi di Indonesia. Masyarakat, elite birokrasi dan pasar global memaikan peran yang vital. Permasalahan dalam pengembangan antardaerah di wilayah-wilayah di Indonesia yang penyebabnya hampir sama yaitu;(1) terbatasnya akses transportasi yang menghubungkan wilayah tertinggal dengan wilayah yang relatif lebih maju; (2) kepadatan penduduk relatif rendah dan tersebar; (3) kebanyakan wilayah-wilayah ini miskin sumber daya, khususnya sumber daya alam dan manusia; (4) belum diprioritaskannya pembangunan di wilayah tertinggal oleh pemerintah daerah karena dianggap tidak menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) secara langsung; (5) belum optimalnya dukungan sektor terkait untuk pengembangan wilayah-wilayah ini. Timbulah kondisi dimana akan terus ada yang namanya daerah maju dan daerah belum maju atau Daerah miskin dan daerah kaya, jika membahas mengenai perkembangan baik ekonomi ataupun sosial antardaerah dan wilayah-wilayah maka akan ada stereotip seperti itu di kebanyakan masyarakat kita. Dimana belum adanya hasil yang memuaskan dari sistem otonomi daerah yang di pakai di Indonesia.

Ketimpangan atau pincang.

Sesuatu yang tidak berjalan semestinya. Sistem yang dibuat dengan keinginan agar tercapainya sebuah kesejahtraan yang merata. Seperti tujuan otonomi daerah yakni; meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah. Peningkatan kesejahteraan masyarakat diharapkan dapat dipercepat perwujudannya melalui peningkatan pelayanan di daerah dan pemberdayaan masyarakat atau adanya peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan di daerah. Sementara upaya peningkatan daya saing diharapkan dapat dilaksanakan dengan memperhatikan keistimewaan atau kekhususan serta potensi daerah dan keanekaragaman yang dimiliki oleh daerah atau wilayah-wilayah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kerap menjadi pembicaraan dan bahan diskusi yang menarik bahkan hingga saat ini. Setelah konsepsi otonomi daerah itu diselenggarakan di Indonesia. Mungkin inilah akibat belum tercapainya tujuan otonomi daerah itu sendiri sesuai dengan gagasan awal pelaksanaannya atau mungkin lemahnya indikasi akan tercapainya tujuan otonomi daerah dengan melihat realitas pelaksanaan otonomi daerah dengan berbagai macam ekses yang telah ditimbulkannya.

Gagasan apapun yang sudah di buat mengenai kesejahteraan rakyat pasti selalu bermaksud baik. Bagaiamana semua penduduk dan dimana saja wilayahnya semua dapat sejahterah. Tentunya sejahterah dalam semua aspek. Pemerintahan di setiap daerah pastinya punya strategi dan cara yang berbeda-beda. Menjadikan daerah atau wilayahnya menjadi lebih baik, lebih berkembang dan mensejahterahkan masyarakatnya. Dengan sebuah sistem dimana pemerintahan setiap daerah berhak menggelola daerahnya sendiri tapi tetap dengan pengawasan pemerintah pusat. Ibarat anak yang dibebaskan oleh orangtuanya untuk menentukan masa depannya sendiri. Kebesaan seperti itu adalah emas tapi juga bisa menjadi bom waktu. salah langkah bisa berujung penyesalan.

Kalau dalam otonomi daerah bagaimana pemerintah daerah yang dipercaya untuk menggelola daerahnya dengan maksimal dan supaya mencapai yang namanya kebaikan bersama. Orang yang mengenal daerahnya sendiri, pasti tepat dalam menentukan akan seperti daerahnya. Apalagi sudah di percaya. Hendaknya pemerintah di setiap wilayah atau daerah di Indonesia seperti itu. Mengenal daerahnya dan tahu mengenai banyak hal terutama keinginan masyrakatnya. Maka setiap langkah yang dibuat pasti terlaksana dengan baik dan di dukung oleh masyarakat wilayah atau daerah tersebut hingga tercapainya keinginan bersama. Apalagi pemilihan pemimpin di setiap daerah atau wilayah, sekarang sudah melalui pilihan langsung, melalui test dan uji kelayakan pula. Walaupun banyak juga permasalahanya. Tapi setidaknyakan itu sebagai rasa kepercayaan dan syarat. Bagaimana agar dapat mengembangkan daerahnya dan mensejahterakan masyarakatnya.

Kurang mengenal

Bagamana seorang ibu bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya, kalau ibu tersebut tidak tahu dan mengenal anaknya sendiri. Kejadian yang begitu berbahaya jika pemimpin suatu daerah atau wilayah tidak mengenal daerahnya dan masyarakatnya. Bagaimana tidak sebuah kemajuan dan perkembangan disebuah daerah bakalan terlakasana dengan baik kalau pemimpinnya tidak mengenal daerah atau wilayahnya, apalagi masyrakatnya. Jika hanya mengenal bagaimana caranya masyarakat agar percaya dalam memilihnya disaat pemilu daerah. Maka lebih baik menjadi konsultan komunikasi atau humas yang mengurusi pencitraan. Ini masalahnya menyangkut bagaimana pemimpin daerah yang memang pantas dan mampu mengembangkan daerahnya. Menentukan masyrakatnya, bertanggung jawab atas banyak hal di sebuah daerah atau wilayah dan bermandat. Apalagi mendapat amanah dari banyak orang.

Jika setiap pemimpin daerah atau wilayah-wilayah di Indonesia, mengenal baik daerah atau wilayah yang dipimpin dengan baik, sadar akan amanah dan mandat, tulus dan bertanggung jawab. Maka sebuah kesenjangan atau ketimpangan pertumbuhan dan perkembangan antar wilayah atau daerah bakalan sedikit demi sedikit lebih terminimalisir. Terciptanya daerah atau wilayah yang sama-sama maju dan masyrakat yang bisa menikmati haknya sebagai warga negara bukan hanya mimpi semata. Sebuah keinginan untuk memajukan sebuah negara semakin mendekati goal. Jika satu persatu daerah atau wilayah di indonesia semakin maju dalam semua bidang termasuk masyrakatnya. Permasalahan ekonomi dan kesenjangan yang berujung ketimpangan akan semakin berkurang. Hampir mendekati sebuah kesejahtraan yang sering dianggap utopis. Mempelajari setiap detail masalah yang terjadi dilapangan, sosialisasi yang efektif, campur tangan masyrakat yang aktif. Keterbukaan pemerintah yang positif, sistem birokrasi yang jujur, Aspirasi yang di realisasi bukan hanya di beri solusi dan Kepekaan atau perhatian elite politik terhadap semua daerah dan wilayah secara merata. Tampa pilih-pilih. Setidaknya bakalan membuat sedikitnya perubahan akan sebuah kesenjangan dan ketimpangan dalam pertumbuhan ekonomi dan kemajuan suatu daerah dalam semua aspek hingga terwujudnya otonomi daerah yang benar-benar mensejahterahkan rakyat dan daerahnya sehingga mendukung kemajuan negaranya.

Friday, January 17, 2014

Rekayasa Realitas

Di depan televisi yang cukup kecil 14’in milik keluargaku. Seorang lelaki tak mengenakan baju dan hanya memakai kain sarung. Tidur dengan posisi tengkurap dan kepala di sangga menggunakan guling. Namun tangannya terangkat dan memegang remote televisi. Lalu terdengar, “kami akan melakukan rekayasa lalulintas demi terciptanya kelancaran yang di inginkan masyarakat dan pengguna jalan lainya”.

Suara seorang petinggi kepolisian yang di liput wartawan televisi swasta nasional saat di tanya mengenai kemacetan yang terjadi di ibukota jakarta. Dengan tegap dan suara lantang tampa ketawa ataupun menunjukan keraguan di wajahnya, ia mengucapkan dan menjelaskan kepada wartawan tersebut bagaimana rekayasa lalulintas yang dilakukan demi terciptanya kelancaran lalulintas di jalanan walaupun sekarang semakin banyak kendaraan bermotor.

"Kemana saja". Aku bilang dalam hati. Kenapa tidak dari dulu melakukannya. Tapi apa yang dimaksud dengan rekayasa lalulintas. Apakah hal baru ini akan dapat menyelsaikan sebuah permasalahan penuhnya kendaraan di jalanan, atau sebuah penyelsaian pada penyebab dasar kemacetan yang saling berkaitan dengan aspek lainya ini. Lantas dapatkah menemukan atau membuahkan hasil yang maksimal bahkan jangka panjang dalam menyelsaikan permasalahan ini.

Penyelsaian yang diharapkan dalam menangulanggi masalah yang sudah diramalkan ini. Akankah selesai, akankah jalanan dan suasana kota besar, dimana selalu identik dengan apa yang disebut kemacetan ini. Akan berubah seperti keinginan aktivis lingkungan yang tetap setia menjunjung gaya pecinta lingkunganya. Dimana selalu membela demi lingkungan, tapi tindakanya kurang menggambarkan bahwa ia aktivis lingkungan. Alias omong doang.

Pesimisme bukanlah maksudku. Tak sekedar itu kalau kataku, setiap penyelsaian masalah yang selalu membudaya. Terkadang itu, malah semakin menimbulkan masalah. Aku tak ingin menyebutkan contohnya. nanti kejadianya sama seperti janji jokowi atasi banjir dan janji presiden Sby yang bakalan menjadikan indonesia bebas korupsi. Tapi nyatanya apa?

Entah apa dan mengapa. Bahkan rumus jurnalistik 5w+1h saja masih tak menimbulkan sebuah penyelsaian atas masalah kemacetan. Kemacetan dan semakin banyaknya orang yang menggunakan kendaraan bermotor atau mobil. Bukan itu saja penyebab. Jalanan rusak, kurang lebar. Apalagi alasan itu. lantas kemana anggaran proyek pembenahan jalan-jalan di indonesia. Begitu besar sampai jari-jariku kadang tak bisa menghitungnya. 

Tapi apa bedanya dana yang besar dan pemerintahan yang baik tapi jalanan di indonesia tetap macet. Dan tetap banyak kendaraan mewah semakin laris di pasaran.

Makin banyak kendaraan. Semakin banyak waktu yang terbuang sia-sia hingga semakin banyak membuat kita kurang menggunakan waktu secara maksimal dan efesien. namun kemacetan pula bisa jadi rejeki mendadak bagi pedagang asongan. Atau pengamen jalanan. Tapi tetap kemacetan adalah bencana kemanusiaan yang tak bisa di selsaikan hanya di mulut dan tindakan. Tapi lebih dari itu. lantas apa?. Entahlah...

Jika ada rekayasa lalulintas, maka kenapa tidak di lakukan rekayasa untuk tidak semakin banyak membeli dan menjual atau membuat sebuah alat bantu transportasi manusia (kendaraan). Kenapa masih banyak keinginan untuk memiliki kendaraan lebih dari cukup. Tak tahukah keinginan untuk memiliki kendaraan adalah sebuah penyebab dari masalah kemacetan. Faktor terbesar penasaranku, adalah kenapa semakin banyak produsen kendaraan memproduksi kendaraan dengan harga murah kalau berakibat makin banyaknya pengendara jalan dan berpangkal pada penuhnya jalanan (macet).

Paling tidak kuat untuk melihat barang baru, itulah yang terjadi disaat aku melihat film mengenai kehidupan ibu-ibu sosialita dan pemuda-pemuda hedonis yang begitu konsumtif terhadap barang baru. Serta bagaimana produsen mobil yang tak jemu untuk memberi diskon dan mengadakan pameran produk otomotif.

Secara logika apabedanya dengan rokok, dimana setiap iklan rokok sekarang di beri peringatan di bawahnya “rokok dapat membunuhmu”, tapi toh semakin menjamur pedagang rokok dan jelas semakin banyak pula produksinya. Entah logika apa yang dipakai pikiran-pikiran hidup ini. Sungguh tak mampu untuk menerjemahkanya. 

Begitu kuat pikiran-pikiran manusia indonesia. Sampai dengan apapun resikonya semua bakalan di terjang. Mental spesial dan hati yang begitu luas dan itu tak dimiliki manusia manapun selalin manusia indonesia.

Apalagi melawan macet, melawan takdir saja lo berani.!!!

Thursday, January 16, 2014

bukan sekedar ini saja

Jika untuk bangun selalu ingin kembali tidur, maka hal ini sama dengan indonesia. 

Mungkin kebiasaan kebanyakan “anak-muda” atau dengan kata lain saya. Untuk bangun dari tidur yang tak teratur saja cukup sulit, bahkan malas. Apalagi melakukan kegiatan rutin di hari liburan panjang ini. Iya, liburan panjang kuliah di kampus pinggiran madura. 

Lantas awal tahun pula, selalu banyak berita-berita mengenai pemilihan umum yang menghiasi layar televisi dan koran harian. Tapi tak hanya itu sampah media awal tahun 2014 memang cukup variatif tapi tetap monoton. Dari mulai banjir jakarta yang ingin selalu eksis di tanah air, bencana-bencana negeri yang tak cukup hanya memakan korban ratusan, politik yang selalu tak kehabisan ide untuk punya ruang di headline televisi, koran, online, lalu kemiskinan dan ketidak mampuan yang di ekspos untuk mencari perhatian dan empati manusia hingga ramalan-ramalan awal tahun yang selalu meleset tapi tetap bisa eksis dalam beberapa dekade belakangan ini. 

Banyak betul kejadian atau moment yang disorot media massa pada awal tahun, pesta mungkin. Hampir setiap rubrik tak pernah kehabisan ide untuk di jadikan berita yang di suguhkan kepada banyak masyarakat luas. Entah bagaimana sebuah kultur atau budaya sampah media ini berawal hingga berakhir.

Bukanya malah sudah dapat di tebak, bagaiamana peran alam bawah sadar manusia dalam melakukan rekam jejak historis, apa saja yang di beritakan media setiap tahunya. Hingga setiap harinya sampai setiap detiknya. Dengan kecepatan intensitas pemberitaan yang kini semakin cepat dengan adanya media online yang semakin bertambah peminatnya. Malah menambah jumlah Orang yang pikiranya di kendalikan oleh intensitas dan pemilihan berita yang di muat di sebuah media yang di konsumsi. 

Pesan komunikasi masuk tak ter kontrol.

Untung saja kemajuan globalisasi di imbangi dengan kemajuan cara pikir manusia, kecerdasan manusia semakin di pertaruhkan. Bagamana manusia meng'ola pesan atau sederhananya produk media yang menerpa mereka. Agar tidak terkena dampak media yang semakin menjadi. Controlisasi yang di perlukan dan kecerdasan pemilihan konsumsi yang harus di perhitungkan memilih jelas memilah. Namun juga menilai bagaimana seharusnya yang baik. 

Memaksa memikirkan yang sebenarnya tidak penting untuk di pikirkan. Itulah realitasnya sekarang. Jika di logikakan kalau kita sedang memikirkan banjir jakarta, la sedangkan kita orang jawa-timur yang notabenya masih banyak permasalahan yang ada di provinsi kita sendiri. Menuntut untuk empati dan turut berduka cita. Atau menuntut untuk menyumbang dana dengan layanan donasi amal untuk korban banjir jakarta. La...dalah dikira indonesia ini masalahnya Cuma banjir jakarta saja. Tidak kurang kok bencana di indonesia, mau mencari kata-kata di kamus mengenai nama-nama bencana di indonesia loh bakalan kekurangan wawasan atau kata sebutan dan bakalan tidak sampai pikir sampean

Lebih dari 1001 bencana sudah pernah dialami di indonesia, seperti gempa, tsunami, kebakaran, banjir, gunung meletus, kecelakaan model apa saja ada, pemerkosaan dengan cara apapun malah banyak, apalagi pembunuhan dan perang dengan berbagai alasanya sampai bentuknya pun indonesia begitu kaya dan unik. Kalau dibandingkan dengan israel, irak, syriah dan negara timur lainya ya yang menang jelas menang indonesia. Lebih dari bermacam-macam bencana dan cara terjadinya itu begitu berbeda. Kalau bahasa filosof yaitu "estetis".
.
Tapi bukan berarti indonesia buruk, apalagi indonesia sudah hancur dan menunggu untuk lebih dihancurleburkan setelah ini. Namun indonesia malah akan menjadi hancur se-hancur-hancurnya saat para manusianya tidak bisa memilih, memilah dan menilai pesan yang disampaikan media-massanya. Ya konten yang cenderung desktruktif tampa memberikan solusi yang realistis dan pasti. Hingga kebohongan sampai pembodohan massal yang dilakukan media di indonesia. Bakalan semakin mengancam pikiran-pikiran solutif  yang akan mewarnai masyarakat indonesia di masa datang. Positivis bakalah habis, bakalan lebih banyak muncul gerakan separatis baru hingga banyak negara-negara baru. Tunggu saja.

Padahal ini hampir mendekati pemilu presiden 2014 dan aku sudah cukup umur untuk melakukan kegiatan rutin “coblosan”. Tapi kalau aku sudah cukup umur, apakah para calon presiden yang nanti masuk dalam daftar calon presiden dan wakilnya sudah cukup. Maksudnya cukup mental kalau tidak terpilih, cukup akal agar bisa menang, cukup uang biar terus jalan, cukup usaha agar kalau tidak tepilih masih bisa cari penutub uang yang habis untuk kampanye. Tapi yang penting sekarang calon presiden yang sudah terdaftarkan banyak dari pemilik media jadi bisa diatur kalau urusan pencitraannya. dipoles dari yang buruk menjadi baik. dari anjing menjadi kucing anggora.

Mengaji & Diam

Bagaimana awalnya membedakan senja dengan sore, jika sama-sama indah kalau di pandang dan dirasa. Keluar sebentar untuk melihat keadaan di luar halaman rumahku. Karena terlalu banyak di dalam rumah hingga banyak pula menghabiskan lintingan rokok di kamar belakang. 

Keluarlah aku, tapi sebelum aku melewati pintu rumah ini. Disisi kiri suara yang bisa menenangkan hati dan seisi rumah menjadi adem bak pakai AC. 

Iya benar, ibuku sedang belajar mengaji. Sudah beberapa bulan dan rutin sekali. Bahkan aku saja kalah rutin kalau urusan mengaji. Dengan di dampingi seorang gadis muda yang senantiasa bersabar mengajari ibuku, adiku, untuk bisa mengaji secara rutin dirumahku.

Suasana subuh, siang, malam dan larut adalah yang paling digemari ibuku untuk mengaji, tapi tentu saja yang paling baik adalah disaat semuanya ikut mengaji dan lupa akan jemuran yang terkena hujan waktu itu.
Menurut ibuku. Mengaji adalah bagaimana meng’agungkan tuhan yang maha esa yang memang sudah agung. Bahkan mengaji lebih bisa menenangkan batin kita walaupun mengalami keadaan yang sulit, ujar ibu. Dengan 3 hal kelebihan yang pernah dirasakan ibuku saat ia melakukan kegiatan mengaji secara rutin adalah, ia lebih bisa tenang, jarang stress, menguatkan mental, dan mengurangi pikun alias gampang lupa. Tapi setiap orang berbeda-beda efeknya. Namanya juga tergantung dengan ihklas hatinya dalam mengaji bukan karena apa-apa. 
Ukuran ihklas memang tak sebarangan orang mengerti. Namun sebuah keihklasan memang sulit dicari. Ibu selalu menambahkan. Jangan minta bantuan pada siapapun kalau kau masih bisa melakukanya sendiri, kau ini laki-laki, begitu katanya. Tapi aku sekarang ini kebinggungan dengan gaya didik orang tuaku padaku. Penasaran apa yang ingin mereka pesankan dengan diam seperti ini. Iya memang sudah beberapa hari tak banyak percakapan yang kami lakukan, beberapa hari ini.

Tuesday, January 14, 2014

Sadar

Gemetar sekali tanganmu, sambil sesekali melirik padaku. Apa yang salah dengan minuman susu hangat itu?, bagaimana bisa kamu gemetaran sekali memegangnya?. Dengan tegap dan suara parau keluar dari mulutmu “aku tak terbiasa minum menggunakan lepek”. Sambil memaklumi dan memberi isyarat cara menuangnya.

Ini adalah hal yang selalu kuingat di tengah libur untuk bertemu dengan wajah yang tak asing dan suara yang selalu parau bahkan nyaring di telingaku. Apalagi saat berucap “mandi dulu, biar cakep”. 

Belum tentu terlalu banyak begadang selalu membuat otak kita malah semakin gampang melupakan kejadian yang pernah kita alami. Maka bagiku begadang adalah sebuah cara untuk lebih bisa menghargai waktu. 

Layaknya kebiasaanku untuk kuliah malam atau “ngopi” bersama teman-teman kali ini. Kedatangan tamu yang bahkan kuharapkan datang. Benar sekali “gadis manis berlesung pipit” itu datang dan berada di depanku saat itu, ia mengenakan pakaian sederhana dan tudung yang kuanggap hanya berguna menutupi kepala bukan untuk menutupi auratnya. 

Dia di depanku. 
Aku di depanya. 
Tapi pikiranku selalu kemana-mana membayangkan dia.

Berlebihan sekali untuk membayangkan gadis yang bila di lihat melebihi apa yang di bayangkan. Bukanya itu terlalu utopis bahkan cerita mengenai kecantikan tribuana tungga dewi pun aku hampir merasakanya saat itu.

***

Ini berawal saat dulu dimana aku melihatnya setiap hari, bagaimana dia, dan semuanya sampai tiba pada waktu ia menangis dihadapanku dan ia berkata “aku ndak bisa” dan seterusnya. Dari situlah apa yang kusebuat hati nurani selalu tidak bisa bohong untuk hal ini. 

Kalau hal yang lainya mungkin masih diragukan. Tapi sebuah pesan dari hati tak pernah salah atau keliru. 
Layaknya bagaimana cerita hati bertemu hati yang di tulis di kebanyakan novel sekarang memilih untuk tak memberi tempat pada semua cerita yang mainstream.  Mereka lebih memilih bagaimana ending ceritanya sulit di tebak dan berujung “binggung”. Dengan kata lain kali ini aku sedang menikmati rasa. Dan rasa itu adalah dia “gadis manis berlesung pipit”. Tak ada kenangan apa-apa sebenarnya dengan dia, aku selama ini hanya berani mendengarnya dan melihatnya. Tampa aku berani se’enaknya padanya. 

Tapi karena ini adalah sebuah rasa dan aku ingin menikmati rasa itu bersamanya. Maka kadang aku terlepas dan mengumbar rasa ini sembarang dan itu juga tampa dia. 
 
 ***

Sadar akan bahwa ini adalah sifat kekanak-kanakan. Bagaimana tidak aku menceritakan apa yang sudah berlalu dengan berlebihan dan kesanya aku kalah.

Aku kalah dengan rasa dimana aku ingin suka denganya.
Aku kalah dengan rasa yang aku sendiri tidak tahu akan seperti apa.
Aku menjadi terhuyun terlena dengan rasa yang aku inginkan.

Bukan berarti ini adalah sebuah kontradiksi dari perasaanku sendiri. Terlena dengan menyukai wanita, lantas wanita yang kita sukai sedang "bercinta di ranjang bersama orang lain". Dan itu adalah sebuah alasan dimana aku melakukan sebuah kebodohan dan memebuang waktu untuk wanita yang tak istimewa “padahal dia sebelum itu begitu istimewa.

Monday, January 13, 2014

Pesan Singkat

Selepas mengantarkan adikku yang paling cantik. Ada sebuah rahasia yang tak pernah digali sedalam ini. Dengan mengucap parau dan berbelak mataku melihat lukisan gerimis sore ini. 

Jalan yang kulalui sewaktu SD dulu, bergurau dengan mengayu sepeda bersama teman-teman, mengisi kekosongan langit dengan canda yang kadang menyakitkan rasa. Sampai pada menggingat kenangan itu dimenja kamar dekat mesin ketik.

Ia, aku lagi-lagi ingat waktu dahulu. Dimana keberanian masih terpendam dan banyak sawah ladang yang tak tersentuh di desaku. Petani tak mau berbagi lahan, bahkan tanaman semakin rakus memakan bahu jalan untuk terus tumbuh dan mengembangkan diri. 

Takmau kompromi benar dengan pemakai jalan. Sampai tajam parang memotong mereka yang memakai jalan sebagai tempat berkembang.

Ini adalah sebuah jalan. Bukan sebuah ladang. Hey,,,,, tanaman usang, jangan kau ganggu kenyamanan jalan yang bercumbu dengan roda-roda itu. kau hanya penyeimbang alam jikalau hujan.

Kabar Gadis itu

Dengan lesung pipit yang cukup membuat bibirku berucap, “manis”. Hingga kekhas’an bagai bidadari dimana sehelai selendangnya dicuri jaka tarub itu, sungguh meracun hingga tak banyak yang kupikirkan selain memandangnya kembali.  

Ini mungkin adalah sebuah pesan yang disampaikan angin kepada awan agar lekas hujan. 

Siang di sebuah kantin dengan gaya lama dan beraroma keringat anak kuliahan yang sedang bersantai dan melepas penat dari dunia pendidikan yang semakin tahun semakin menurun kualitasnya. Aku bersama orang yang takkukenal berbicara dalam bahasa yang tak aku mengerti. Suasana diam dengan kebiasaanku mengotori selembar kertas dengan tinta semakin menambah kejenuhan jadi semakin jenuh, di hadapan keramaian. Suasana menjadi lenyap tak terarah, banyak daun yang jatuh waktu itu. banyak pula yang berbicara entah sampai dimana. 

Namun setelah kutolehkan leherku kekiri, ada seklebatan dan tak asing bagiku. Mungkin juga membuat banyak orang di sekitarku menjadi menoleh tampa mau berbagi. 

Ia dengan tudung abu-abu dan membawa ransel di bonceng seorang laki-laki gemuk menaiki honda-beat. Matanya yang tertutupi oleh tebal kacamata merah tua, berpakaian serba hitam berpasangan dengan celana jeans. 

Benar bukan, ujarku dalam hati “Gadis manis berlesung pipit penuh bualan”, jika selalu difikirkan semakin menggoda anganku untuk selalu mendambakanya. 

Sapaan keras memanggilnya dari arah samping tempat dudukku “Maulina”. Maka menolehlah gadis manis yang lahir pada maulid nabi dalam penanggalan islam, itu menoleh dengan gayanya yang semakin membuat mataku tak lelah memandangnya. Tak lelahpula melihatnya. 

Semakin terlena aku melihatnya lewat dan menoleh tadi. Sampai membuat hati menegang.  Sadar setelah tampa sengaja tangan kasar temanku menepuk pundakku dan berujar, “aku balik dulu ya”. Sehingga menyadarkanku dari banyangan “Gadis manis berlesung pipit” itu. Kujawab dengan berat hati “iya”, sampai satu-persatu teman-temanku dari mulai yang aku kenal dan tidak, pergi dan pulang bagai kunang-kunang. Bersamaan dengan hilangnya bayanganya.

30 menit sudah ia lewat dan membuatku tercenggang. Sepi sudah sekitarku. Lupa akan tugas yang sudah menungguku, dengan kondisiku yang pagi tadi belum sarapan. Aku putuskan untuk menuju warung, hingga lupa akan tugas yang belum aku kerjakan hari ini. Jika kurasakan sekali lagi pikiranku menjadi kacau. Sudah seperti ingin lepas dari sangkar, kalau aku ini kutilang. Namun aku ini manusia yang belum bisa menjadi apa diantara apa-apa di dunia. Ini benar-benar serius, dalam hati. Aku ingin bersama dan berdua sambil berbicara tampa kiasan dihadapanya. Dengan mendadak hatiku berdebar menggumamkan hal itu.