Saturday, February 22, 2014

Kesederhanaan Ibu

Menertawakan diri sendiri. Disaat keadaan yang terjadi (realita), seharusnya tak pantas untuk di tertawakan. Membuat banyak lembaga survei atau peneliti yang melakukan analisis sosial, mengenai sebuah kejadian di masyarakat. 

Menjadi terperangah dan tak mengira-ngira, bakalan seperti ini !. Bahwa akhir dan cara untuk menghadapi sebuah masalah, bakalan seperti ini (dengan menertawakan diri sendiri). Terlepas dari betapa kompleksnya sebuah permasalahan, betapa banyaknya sebuah bencana, ujian hidup dan apapunlah, pokoknya yang merugikan dirinya (masyarakat) sendiri. Tapi semua hal itu, menjadi mudah untuk di hadapi, gampang untuk diatasi. Sampai lupa dan melupakan, hingga segaja dilupakan. Agar mereka dapat tenang, dan berfikir jernih dalam menjalani hidupnya ini.

Namun bukan hal (menertawakan diri sendiri) itu, yang bakalan saya bicarakan. Tetapi, bagaimana kita telah, menjadi manusia yang “ lalai ”. Maksudnya, adalah. Cobalah kita bisa lebih memahami dan mengerti, mengenai kejadian-kejadian, cara-cara, atau isyarat-isyarat alamiah yang sering terjadi di lingkungan terdekat kita. Bahwa sikap dan cara yang berlandaskan, kemanusian, sikap-sikap alam, kodrat illahi’ah. Telah kita lakukan semenjak di dalam lingkungan terdekat kita, atau kalau saya menyebutanya “keluarga”.

Di keluarga lah. Semua berawal. Setelah allah meniupkan ruh, dan memberi kesempatan kita, untuk menari-nari di depan panggung semestanya. Layaknya keluarga pada umumnya (maaf, karena sudut padang keluarga ini. saya ambil dari pengalaman saya pribadi. Jadi kalau ada yang tidak setuju dengan contoh keluarga dalam pandangan saya pribadi, maka itu sangat saya maklumi.), jadi seperti ini. bagaimana sebuah keluarga dan semua hal yang terjadi, dialami, dirasakan, atau kejadian di dalam struktur keluarga. Itu adalah miniatur semesta. Maksudnya adalah, hanya di dalam keluarga saja. Kita sudah seperti berada dibelahan dunia manapun. Lantas bagaimana maksudnya?.

Keluargan selalu menyuguhkan sebuah hal yang sederhana namun syarat makna moral atau yang lainya. Adapun memunculkan sebuah masalah. Namun tentunya semua kejadian yang dialami di keluarga. Hal itu pasti ada sebuah hikmah. Namun di sebuah hikmah. Kita mungkin dapat secuil pesan-pesan manusiawiah. Beda lagi jika kita, lebih peka dan teliti dalam menyikapi sebuah kejadian dikeluarga, baik masalah ataupun tidak, apapun itu.

Saya pernah, semasa SD. Disuruh iboek (panggilan kepada ibu saya), untuk langsung pulang, setelah sekolah saya ber’akhir. Walaupun saya sebenarnya lebih suka langsung bermain di sawah, bersama teman saya. Tampa pulang dulu, waktu itu.

Iboek berpesan, “agar kalau selesai sekolah, harus langsung pulang, nak ?”.
  
Dari pesan itu ada banyak hal yang bisa menjadi sebuah wacana atau pelajaran yang jarang dipakai oleh 
para sarjana barat (fisof, peneliti, pemikir, dan yang lainya). Karena maksud dari pesan itu adalah. Bagaiama sebaiknya jadi manusia yang sadar akan, betapa berharganya waktu untuk sekarang ini. bagaimana banyak orang yang serba “perhitungan”, tuntutan pekerjaan, tuntutan kewajiban yang bahkan membuat manusia semakin sedikit mempunyai waktu senggang. Dipacu untuk bergerak secara aktif dan berkesinambungan, layaknya mesin mobil. Contohnya saja, banyak orang yang sekarang memakai jam tangan. Dan banyak orang yang rela mengorbankan kebersamaan dalam berkumpul dengan keluarga, untuk melakukan hal selayaknya manusia beragama lainya. Dengan bekerja dan mencari materi duniawi secara perkasa, dari larut hingga pagi, atau sebaliknya.

Pesan selanjutnya adalah. “sini nak, bantu iboek menyiapkan makanan untuk nanti malam ?”.

Dalam pesan ini, secara singkat saja bisa diartikan sederhana. Makanan adalah sebuah bahan bakar manusia. Kalau tidak makan, terus bagaimana?. Karena aktivitas manusia yang paling purba, adalah makan. Lebih purba daripada “seks” atau “perkelaminan”. Hal ini tentu saja sangat berat maknanya. Bagaiaman kita disuruh membantu untuk menyiapkan bahan bakar yang kita perlukan. Menyiapkan hal yang membuat kita hidup, menyiapkan hal yang mendasari semua aktivitas kita, menyiapkan hal yang membuat kita bisa beribadah (artinya secara luas). Membuat sebuah landasan atau pedoman untuk ditopang'i sebuah tiang-tiang kehidupan dalam kodrat manusia.

Yang ketiga. “nak, kalau disuruh itu, jangan pernah bilang “engkok’sek (nanti’dulu)”.

Hal ini malah begitu, lebih nyata, bagaimana iboek, menanamkan sebuah kedisiplinan dan pengertian bahwa, perintah itu harus cepat di laksanakan, lalu diselsaikan. Seperti contohnya, seorang pendidik yang menjalankan tugasnya mengajarkan kebaikan kepada anak didiknya, seperti tentara yang diperintahkan untuk membela negaranya, seperti pejabat negara yang dianjurkan untuk memberi contoh yang baik terhadap rakyat yang diwakilinya (bukan malah korupsi. Bukan malah main perempuan, buka malah tidur-tiduran, seperti anggota DPR kekinian). Bagaimana keta'atan yang dijalankan dari mulai nabi dan rasul, bagaimana keta'atan yang dilaksanakan prajurit majapahit dan kepatuhan gajah mada yang membela habis-habisan nuswantara. Entah apa yang paling baik, antara meyakini bahwa keta'atan akan membawa kebaikan atau kebaikan yang menegaskan keta'atan dan kepatuahan didalam subtansinya.

Saat saya ingin pergi bermain, dulu. Iboek selalu bilang “kalau sudah mahgrib, pulang saja”.

Begitu pekahnya, akan pergantian waktu yang berpengaruh. Kalau didalam perhitungan jawa. Lewat mahgrib itu jelas sudah masuk hari besoknya. Mahgrib pula adalah waktunya melakukan sholat yang raka’atnya ada 3 (tiga). Bagaimana tiga ini adalah angka yang menonjolkan sebuah tingkatan akan perjalanan hidup. 

Ketika matahari meninggalkan kita dan terang berganti dengan gelap, pikiran dan badan kita terasa semakin berat dan lelah setelah seharian bergelut dengan atmosfer keduniaan yang bertautan di antara debu-debu hawa nafsu dan jejaring syahwat yang menganga menunggu mangsa. Ada satu harapan yang terbersit dalam benak anak manusia saat itu, yaitu keinginan merehatkan diri dan berjumpa dengan sanak keluarga atau handai taulan yang seharian ditinggalkan untuk sekadar mengais rezeki demi sebuah kebahagiaan yang dirajut untuk menyelimuti dan menutupi diri dari dahsyatnya terpa'an angin dunia.Itulah salah satu babak dalam episode perjalanan kehidupan yang hampir setiap hari dijalani saat menjelang terbenamnya matahari tiba.

Shalat maghrib merupakan transisi, walaupun masih banyak orang yang tidak begitu peduli saat mereka di perjalanan atau sedang belanja di Mall atau Pusat Perbelanjaan. Bahkan tidak sedikit para karyawan yang hanya terdiam ketika masuk waktu shalat maghrib yang hanya mempunyai durasi waktu sebentar. Apalagi dalam shalat terdapat hikmah yang kadang kita tidak bisa mencernanya dengan hanya akal fikiran saja. Pantas saja Oliver Lodge pernah mengatakan… dan kalau shalat merupakan pendidikan kejiwaan, maka mengapa yang menentangnya menduga bahwa pendidikan tersebut tidak merupakan sebab untuk terjadinya kejadian-kejadian lain sebagai akibat setiap bentuk pendidikan. mungkin saya merasa, artian dan makna memang begitu luas sekali. Tapi oleh iboek, hanya di masukan dalam pesan yang hanya lima ucap, itu.

Lalu pesan ini. “kalau mau keluar rumah, nak. Jangan lupa kunci pintunya”.

Begitu sederhana, begitu lumrah dan biasa ditelinga kita saat masih kecil. Bagaimana layaknya seorang. Anak yang harus menutup pintu rumahnya saat ia, meninggalkan rumahnya untuk pergi bermain atau apapun. Disini begitu iboek berpesan untuk menutup, pintu, dan menguncinya. Kalau disuruh menutup belum tentu disuruh mengunci, tapi kalau disuruh mengunci pastilah disuruh menutup pula.

Dimana rumah adalah tempat tinggal, rumah adalah mesin kenangan paling produktif, rumah adalah, dimana kita berawal, rumah adalah unsur penting dalam perkembangan hidup kita, rumah adalah sebuah kehidupan yang sesungguhnya berawal dan berakhir. Namun rumah menjadi lebih penting arti dan maknanya ketika disitu ada yang namanya keluarga.

Mengunci berarti tidak bisa masuk dan melindungi isinya. Dalam rumah adalah emas, emas adalah barang berharga yang paling kuno, walaupun banyak barang berharga lainya. Namun emas selalu menjadi utama, karena sejak kerajaan majapahit atau dahulu banyak yang mengunakan emas sebagai mata uang dengan berbagai jenis dan versi. Kalau berharga haruslah dilindungi. Apalagi kalau itu isinya adalah keluarga, ada saudara, iboek dan bapak. Maka pantaslah sebagai anak kita haruslah melindungi dengan segenap nyawa.

Namun bukan itu saja. Mengunci pintu kalau keluar rumah. Berarti bertanggung jawab atas kepentingan yang subtansinya adalah hak manusiawi. Memilih menjalankan hak, haruslah menyisikan kewajiban yang harus lebih dulu dilakukan, lebih dulu dijalankan tampa sebuah beban ataupun sikap toleran terhadap kelalaian. Mengunci pintu juga bisa menyimbolkan sebuah kehati-hatian atau waspada pada hal yang harusnya kita jaga. Agar terhindar dari pencuri, maling, pengambil kekayaan, perampas hak, menyalahi kodrat tampa tanggung jawab.

Agar terciptanya kemaslahatan. Walaupun terancam atau tidak. Aman atau tidak aman. Tetaplah jika harus meninggalkan rumah haruslah mengunci pintu. Karena layaknya manusia lainya. Apapun yang terjadi kedepanya. Kita kadang tak pernah tau.

Sedikitnya ini memang bisa dibilang bisa berguna atau bisa menjadi telaa’ah. Tapi yang jelas. Sesederhana perintah orang tua. Tentulah mengandung banyak hal yang sebesar kasihnya selama ia ada. Namun lebih baiknya kita berlatih untuk lebih peka dan berusaha mengerti secara teliti. Setiap apa yang pernah dipesankan orang tua. Karena pesan orang tua adalah bentuk kasih sayang mereka. Walaupun hanyalah subtansi dari kodrat sebagai manusia.

Lalu Apa

Kalau sudah “ngerti”, terus mau apalagi ?

Bisa belajar dengan baik, mempunyai keinginan besar untuk merubah diri lebih baik, merasa tenang karena semuanya telah berkecukupan, atau masih kebinggungan dengan situasi yang mapan (bisa makan, bisa jalan, bisa cari pasangan. Kurang lebih itu). Dapat merasakan pendidikan sampai perguruan tinggi, apakah itu belum bisa memecahkan pikiran yang kaku dan membuka hati yang beku. Disini kita belajar untuk mengerti, mengerti bagaimana “ngerti” itu sendiri. Umpama kalau sudah merasakan bagaimana asam-garam menempuh pendidikan dan berada dalam lingkungan pendidikan khususnya perguruan tinggi. Lalu apa yang akan kelak kita bagi. Atau yang bakalan kita pesankan terhadap adik-adik kita (generasi penerus) nanti. Apakah pengalamanmu mengenai penyesalan-penyesalan yang terjadi, karena nilaimu tak sesuai. Ataukah, bagaimana keaktifanmu dalam organisasi yang membuatmu disebut aktifis-sejati. Mungkin juga kisah asmaramu yang sampai membuat hamil pacar, atau temanmu sendiri.

Sadar 

Lupa, menjadi sebuah alasan untuk manusia yang menduakan rasa syukur dengan meninggikan kemampuan diri. Berkedok menghargai diri sendiri. Demi lebih bisa mengenal diri sendiri. Tak boleh merendahkan diri sendiri. Mungkin sekarang ini menjadi kata andalan motivator-pengekor. Dimana meyakinkan sesama dalam hidup. Akan lebih percaya diri dan menolak asalmuasal dengan omongan-omongan pembankar hati. Namun bukan itu yang saya maksudkan. Mengerti untuk tetap sadar, dimana itu adalah sebuah bentuk awal agar dapat memahami langkah setelah kita mengerti akan “ngerti” itu sendiri. Dimana sadar adalah adalah sikap yang mungkin bisa dibilang, songgo (penyangga). Dimana penyangga yang kokoh. Ditobang ingat dan selalu tau diri (iling lan rumongso).

Mengenai apa, mengenai diri sendiri tentunya. Lantas untuk apa. Untuk bagaimana melanjutkan hidup yang lebih “sampurna”. Bukan hanya bertapa. Tapi berlaku sebaik-baiknya adalah bentuk menuju hidup yang lebih “sampurna”. Tapi entahlah, hal itu tak pernah tergambar baik dan mungkin bisa dibilang tak saya temukan di kehidupan perguruan tinggi sampai saat ini. karena masih banyak yang lebih sadar akan dirinya sendiri, bukanya untuk lebih sadar terhadap apa yang ada diluar dirinya.

Lingkungan dan keseharusan

Maksudnya adalah dimana memosisikan diri dihadapan, “diri-diri lainya” dalam menjalankan sebuah kodrat yang lebih beruntuk sebagai manusia yang lebih diberi kesempatan yang orang lain kadang tak diberi kesempatan seperti ini (maksudnya adalah menjalani pendidikan diperguruan tinggi). Dimana perguruan tinggi menjadi sebuah jenjang pendidikan yang justru lebih nyata dalam sumbangsihnya. Sumbangsih atau sebuah hal yang masih belum benar agar menjadi bisa lebih benar. Dan itu adalah kewajiban bagi yang menjalankan pendidikan ini. Adalah bagaimana kita lebih sadar dan menjadi tambah sabar dalam membantu, memunculkan ide-ide baru dalam menyatakan sumbangsih nyata dalam bentuk apapun, melalu keberuntugan yang sudah di tentukan dalam mengenyam pendidikan tinggi ini.
Pembentukan visi dan misi adalah utama, lain itu, tidak.

Lebih-lebihlah dalam menjalankan pendidikan warisan kolonial ini. karena banyak hal yang dikorbankan dalam lika-liku pendidikan tinggi ini. atau bisa menjadi pemalas, yang malas kalau tak melakukan apa saja.

“benar-benar tutur yang tak nyambung. Ini bisa disebut (ngawur). Jadi tulisan ini tak berarah sama sekali. Saya mohon cukup jangan dibaca. Karena sesungguhnya bukan anda yang semakin binggung dengan tulisan ini. tapi tulisan ini benar-benar membinggungkan”.

Thursday, February 20, 2014

Ebleh

Kembali lagi disuguhi perasaan lepas dan sumriangah. Dimana gelak tawa, asap rokok, suara gitar, bau keringat, lezatnya gorengan, dan bulan sabit yang menemani kami (pemuda dusun), seyogyanya telah senantiasa menjaga aset penting dusun kami. Iya, aset itu adalah jalinan persaudaraan para warga/masyarakat dusun disini. Demi terciptanya kesejahtraan yang asli. Bukan kesehjahtraan janji-janji, kesejahtraan yang terbuat dari plastik. 

Kini masih dibawah ancaman letusan dan erupsi gunung kelud. Setiap malam, setiap kami bekumpul untuk menemani bulan yang kesepian. Gemuruh gunung kelud selalu menghiasi malam-malam kali ini. entah apakah ia, iri atau masih merasa sendiri. Di tengah banyak manusia yang lupa akan gunung dan semua isi yang masih asri dan tetap lestari itu. bermain kartu, bernyanyi-nyanyi, hingga tak terasa gorengan yang dibawakan teman tadi, tingga satu biji. Satu biji yang paling sulit dihabiskan. 

Saling merasa sungkan dan tidak enak, karena takut dianggap rakus. Sungkan memang, kalau seperti itu. layaknya orang jawa lainya yang masih suka sungkan. 

Kemanakah alunan musik kali ini, kemanakah akan bernyanyi, dan apalagi yang bakalan terjadi saat, semua sudah berlari kembali ke rumah sendiri-sendiri. Kembali menyesali apa yang dilakukan kemarin-kemarin, kembali menyimpan tenaga, untuk kembali kembali ke sawah. Itulah ebleh, pemuda yang menjadi tetangga depan rumahku sejak kecil dulu. Ia telah tumbuh layaknya lelaki penganggur lainya. Ia telah berupaya bekerja, walau sekarang masih bercumbu dengan sawah bapaknya. Kejadian tragis yang menimpanya adalah peringatan. Temanya mabuk hingga mati, singkat kata, ia sadar dan tak akan mengulangi hal itu. bagimana ia mabuk-mabukan. Lupa akan kewajibanya. Dilahirkan dikeluarga yang punya usaha perjudian, perjudian dalam berbagai jenis. Sampai sekarang masih awet dan menjadi aset keluarga. Dan kelak atau bahkan sekarang hal itu bakalan di teruskan ebleh

Di malam ia selalu menjadi sahabat, di pagi, siang, dan sore, ia menjadi bapak. Karena baru saja ia mendapat istri dan memomong putra. Diraihnya masa depan tampa ada celah sinar matahari. Usaha-usahanya tak pernah mati. Tapi masih saja, belum ada yang memihak dirinya. Memihak untuk lebih baik dan memihak merasakan berlimpah materi duniawi. Tapi aku sendiri belum berani menceritakan kisah ebleh ini. karena aku merasa belum pantas menjabarkanya, karena akupun masih belum pernah merasakan sebuah kepahitan realita hidup.

Aku hanya mampu memandang dibalik kaca. Setelah aku balik dan memaksa untuk tidak membuat waktu dengan malas-malasan di depan rumah sambil berkumpul dengan pemuda dusun itu. Tapi kadang aku menjadi lebih dari sebuah kemalasan itu sendiri. Betapa ingin menjadi lebih baik, menjadi latar belakangku. Mengupayakan untuk bisa lebih berguna dalam menjalani sisa ini. Dengan kebiasaan yang manis dan tentu, upaya-upaya yang drastis. Aku menjadi pemuda dusun yang tak menghiraukan budaya lama. Menempuh jalan yang berbeda dalam menjalani kehidupan dusun. Bertumpuk-tumpuk keinginan menylimuti ambisi. Menapaki kisah di dusun yang penuh caci maki. Usahakan agar tetap bisa menjadi apa dan mengerti apa.

Tuesday, February 18, 2014

Mao Memimpin


Kita akan membicarakan lagi seorang diktator jempolan dunia yang berasal dari Cina yaitu Mao Tse-Tung. Lahir pada tanggal 26 desember 1893 di Shoshan provinsi Hunan, Cina. Mao nama panggilannya, ia lahir di keluarga petani miskin. Semasa kecil Mao bekerja keras dan hidup prihatin. Mao mengenyam pendidikan waktu kecil dengan ajaran-ajaran klasik-konfusianisme. Tapi, pada usia 13 tahun ayahnya memberhentikan Mao dari sekolahnya. Sang ayah menyuruhnya bekerja di ladang. Akan tetapi Mao menolak dengan keras dan ia lari dari rumah. Pada tahun 1905, Mao ikut ujian negara dimana di situ mulai menghapus paham-paham konfusianisme lama dan digantikan oleh pendidikan gaya barat. Tahun 1911 Mao terlibat revolusi xinhai, revolusi yang dimana bentuk perlawanan terhadap dinasti wing yang berkuasa lebih 2000 tahun sejak 211 Masehi dan runtuhnya kekaisaran Cina. Di saat itu lahirnya Cina menjadi republik tahun 1912. Setelah kejadian itu mao bergabung dalam lingkar studi Marxisme di Universitas Nasional Beijing. Dari lingkar studi inilah yang akhirnya melahirkan partai komunis Cina pada 1 juli 192, yang dimana Mao belajar banyak mengenai ide-ide Marxis salah satunya ialah ide tentang revolusi sosialis.

Cina merupakan negara setengah jajahan dan setengah feodal. Cina menjadi negara industrial baru di Asia. Perubahan ini menyebabkan rakyat yang mayoritas petani di konversi menjadi buruh-buruh industri. Konversi ini tidak menghapuskan penindasan dan kemiskinan yang di alami oleh rakyat Cina. Kontradiksi yang di alami oleh rakyat Cina ini menjadi cikal bakal lahirnya pemikiran Mao tentang revolusi dua tahap. Revolusi dua tahap ialah sebuah gagasan imperialisme dan feodalisme di china. Pada tahun 1935 mao menjadi ketua partai komunis Cina. Pada saat inilah Mao melancarkan pemikiran-pemikrannya untuk memajukan dan membebaskan Cina dari imperialisme dan feodalisme. Mao ialah seorang Marxisme dari Cina yang mengabdikan diri untuk perjuangan pembebasan rakyat Cina dari dominasi imperialisme dan feodalisme. Lahirnya pemikiran Mao untuk memajukan Cina ialah karena penduduk pedesaan yang bertumbuh dengan cepat telah bergantung pada perluasan pekerjaan industri. Proses industrialisasi ini yang membuat rakyat Cina di konversi dari petani menjadi buruh. Revolusi dua tahap merupakan pemikiran gagasan Mao dari hasil analisis kelas yang memperlihatkan perbedaan yang cukup signifikan. Di Cina terdapat kelas imperialisme, tuan tanah, borjuis kompradol, borjuis sedang, borjuis kecil, semi proletariat dan proletariat. Mao menyadari rakyat Cina telah lama terbelenggu oleh status quo sistem feodal, maka dari itu Mao menggunakan tahapan revolusi dua tahap.

Revolusi dua tahap pertama ialah revolusi politik yang berkaitan perebutan kekuasaan negara. Dalam revolusi ini, Mao memandang akan perlunya menghilangkan kelas tuan tanah dan kapitalis birokrat dalam struktur masyarakat. Revolusi politik Mao ini menggunakan metode taktik “desa mengepung kota”. Tujuan taktik ini adalah merebut kekuasaan di pusat pemerintahan untuk mewujudkan Cina yang demokratis dan terbebas dari sistem masyarakat yang feodal. Dan revolusi politik ini ialah langkah unutk menuju revolusi sosialis. Revolusi sosialis adalah revolusi berkelanjutan yang menyentuh ranah ekonomi. Revolusi ini bertujuan agar perekonomian negara diambil alih oleh rakyat dari tangan imperialisme. Pada tahun 1958 diumumkan berdirinya Komune Rakyat. Komune Rakyat adalah wadah kolektivitas produksi pertanian dengan skala besar. Dengan sistem ini, rakyat menjadi lebih mudah dikendalikan karena petani harus hidup dalam suatu sistem yang terorganisir. Dalam hal ini, Komune Rakyat menjadi tahapan penting dalam proses menuju negara sosialis. Komune Rakyat menjalankan beberapa fungsi penting. Pertama, komune menyelenggarakan administrasi di tingkat pedesaan, meliputi administrasi kelahiran, kematian, dan perkawinan. Kedua, komune juga merupakan unit produksi. Ketiga, komune merupakan unit yang menyelenggarakan pendidikan dan kesehatan.

Adapun tujuan pemikiran mao tentang revolusi dua tahap ini ialah pertama, jawaban dari status Cina sebagai negara setengah jajahan dan setengah feodal. Dalam hal ini, revolusi politik digunakan untuk menghancurkan sistem feodalisme dan mewujudkan demokrasi, sementara revolusi ekonomi bertujuan menyingkirkan imperialisme dan membentuk perekonomian sosialis. Kedua, revolusi dua tahap adalah salah satu “kritik kiri” bagi praktik revolusi di Rusia. Ketiga, revolusi dua tahap adalah proses yang berkesinambungan antara revolusi politik dan ekonomi. Proses ini dimaksudkan agar rakyat dapat beadaptasi secara perlahan dan disesuakan dengan kesadaran dan kemampuannya.

Segi keberhasilan lainnya oleh Cina di bawah pemerintahan Mao adalah perubahan sistem ekonominya dari sistem kapitalis ke sistem sosialis. Secara politik, sudah barang tentu penggarapan ini dilaksanakan lewat cara-cara totaliter yang keras. Tetapi perlu diingat, lewat indoktrinasi dan penataran yang intensif dan tak kenal lelah, Mao berhasil bukan saja menggerakkan suatu revolusi ekonomi dan politik tetapi juga revolusi sosial. Hanya dalam tempo seperempat abad telah dapat dilakukan perombakan dalam hal kesetiaan terhadap kefamilian yang sempit menjadi kesetiaan terhadap bangsa secara keseluruhan. Perombakan ini mempunyai makna yang teramat penting mengingat sepanjang sejarah sistem kesetiaan dan ikatan kefamilian di Cina teramatlah kokohnya. Lebih dari itu, pemerintah Cina melancarkan propaganda gigih memerangi ideologi Kong Hu-Cu dan tampaknya usaha ini mencapai sasarannya. Dan Republik Rakyat Cina menjadi semakin terbuka.

Mao Tse Tung Peranakan Yang di Asingkan


“‘Petani’, ayo kalian garda terdepan dalam revolusi kali ini”
–Mao Tse Tung–

Begitulah mungkin yang diinginkan Mao, sembari duduk di kursi kepemimpinan Partai Komunis Cina (PKC). Beda dengan diktator Soviet, Stalin yang ikut langsung dalam perjuangannya, atau kata ibuku, “ikutan repot saja”. Pengaruh Mao yang luar biasa besar pada massa awal karier kepemimpinannya, karena pada saat wafatnya tahun 1976 praktis Mao sudah merombak total seluruh sistem di dataran Cina. Tentu saja, Mao tidak seorang diri menentukan garis politik pemerintah di bawah PKC. Mao tidak pernah memegang peranan seorang diri seperti halnya dilakukan oleh Stalin di Uni Soviet. Tetapi, memang benar Mao merupakan tokoh, yang jauh lebih penting dari siapa pun dalam pemerintahan di Cina hingga akhir hayatnya tahun 1976 sampai-sampai melakukan yang disebut “lompatan jauh kedepan”.

Mao tergolong sebagai orang yang mempunyai pengaruh di berbagai negara komunis
Asia-Tenggara, seperti; Malaysia, Indonesia, Burma, Filipina, Vietnam, Kamboja dan lain-lain. Negara-negara tersebut adalah Maois. Sedangkan, Pasukan Gerilya di sebagian Negara Amerika Latin dan Nepal, juga kebanyakan Maois. Mao dilahirkan tahun 1893 di desa Shao-shan di provinsi Hunan, Cina. Ayahnya petani “agak berada”. Di tahun 1911 tatkala ia masih mahasiswa dalam usia sembilan belas tahun, revolusi pecah memporak-porandakan Dinasti Ch'ing yang memang sudah melapuk. Hanya dalam tempo beberapa bulan saja pemerintahan kaisar sudah terhalau dan terjungkir, lalu Cina diproklamirkan sebagai sebuah Republik. Malangnya, pimpinan-pimpinan revolusi tidak mampu mendirikan suatu pemerintahan yang kompak dan stabil. Revolusi ditandai dengan keresahan-keresahan yang mengguncang masyarakat Cina, hingga perang saudara tak dapat dihindarkan dalam jangka waktu lama– berlangsung dari 1945 hingga tahun 1949. 

Ketika remaja, pandangan politiknya sudah dapat terlihat secara pasti bahwa ia seorang kiri. Acuannya tidak lain adalah Marx. Pada tahun 1920 ia betul-betul sudah jadi Marxis. Sementara itu, dalam usahanya memegang kekuasaan absolut PKC, jalannya merangkak. Berliku-liku dan terguncang-guncang. PKC menderita banyak kemunduran di tahun 1927 dan tahun 1934. Meski demikian, Mao mampu bertahan dan hidup terus. Baru di tahun 1935, di bawah kepemimpinannya, kekuatan partai secara mantap meningkat dan berkembang terus. Di tahun 1947 misalnya, PKC sudah siap tempur menumbangkan pemerintahan Partai Nasionalis Cina (PNC) yang di pimpin Chiang Kai-shek. Di tahun 1949, pasukannya merebut kemenangan dan Partai Komunis menguasai seluruh daratan Cina, secara mutlak. Tapi, entah kenapa Mao merasa belum menguasai seluruh domain Marxisme. Padahal, banyak yang menyebut bahwa ia sejak muda sudah menganut faham kiri, se kiri-kirinya. Entah apa yang terjadi dengan “sang peranakan” hingga berucap seperti itu dimasa-masa akhir hidupnya. 

Nasionalisme juga merupakan salah satu karakteristik diri Mao. Jika Leninisme menganggap “negara hanya sebagai alat untuk menuju revolusi dunia bagi terciptanya masyarakat komunisme”, maka Mao melihat negara tidak hanya sekedar alat tetapi –khusus bagi pengalaman Asia– negara juga merupakan sebuah nilai tersendiri, karena itu Nasionalisme juga penting untuk ditumbuhkan disamping kesadaran tentang komunisme. Namun, nasionalisme yang dimaksud Mao bukanlah Nasionalisme konservatif Cina yang bersifat konservatif-Konfusian atau nasionalis gaya barat, tetapi nasionalisme revolusioner, yang tidak perlu melewati tahapan Westernisasi. Dalam pandangan Mao, ajaran Marx dan Engels hanya memiliki sedikit relevansi dengan keadaan di Cina, karena mereka hanya menjadikan manusia sebagai objek pasif dari kekuatan sejarah.

Pemikiran Mao tetap tidak terlepas dari kritik, banyak yang menganggap tidak ada yang original dari teori-teori Mao. Ia kebanyakan hanya mengulang apa yang telah dikemukakan Lenin, seperti tentang kesadaran kelas, teori imperialisme, dan ide tentang aliansi politik antara proletar dengan kelas lain. Mao tidak pernah menciptakan sendiri teori yang memang berasal dari hasil pemikirannya dalam sintesa lengkap. Ia hanya mempersonifikasikan sebuah sintesa antara Marxisme-Leninisme dan Cina tradisional. Ia sama sekali tidak menciptakan sebuah sintesa intelektual, yang terjadi sebenarnya hanyalah sebatas campuran dari keduanya. Kondisi yang demikian bisa jadi disebabkan karena Mao memang tidak sepenuhnya menguasai Marxisme-Leninisme itu sendiri, karena ia juga pernah berujar belum menguasai seluruh domain Marxisme. Mao pada dasarnya memang bukan pemikir Marxis yang original di Cina. Ia banyak dipengaruhi oleh Li Dazhao, bapak Marxisme Cina. Mao mengagumi konsep-konsep Li yang tidak hanya mengharuskan kaum intelektual bergabung dengan massa, melainkan juga harus memperdalam nasionalismenya.

Tapi sampai setelah Reformasi 1978, Mao dengan Maoisme tidak lagi berjaya seperti ketika Mao masih hidup. Masyrakat Cina dapat menerima pemikirannya bukan karena ia memang memiliki nilai yang layak atau sesuai, tetapi lebih karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Pembangunan model Soviet diganti dengan sosialisme model Cina. Kegagalan Cina di segala bidang kehidupan selama dipimpin Mao-lah yang menyebabkan akhirnya Maoisme juga harus tersingkir oleh gelombang reformasi. Kegagalan Maoisme setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, ketika Mao memutuskan untuk menghalangi motif pasar dan menekan alokasi pasar, yang terjadi adalah motif administratif dan alokasi birokrasi. Keadaan yang demikian tidak dapat dipungkiri, telah menguntungkan segelintir birokrat dan elit partai, yang sebenarnya membentuk kelas kapitalis baru dengan jubah komunisme. Kedua, penguatan ideologi dan kediktatoran proletariat telah menyebabkan terjadinya kediktatoran birokrat. Hal-hal semacam ini pada akhirnya semakin menjerumuskan China. Untuk mengatasi kegagalan Maoisme, maka Deng Xiaoping memberikan dukungannya kepada Hu Yaobang, sekretaris jenderal partai, untuk melakukan reorientasi ideologi, untuk mendukung reformasi. Reorientasi ideologi kemudian membuka peluang masuknya ide-ide barat dan nilai tradisonal Cina secara selektif. Pemimpin Cina pasca-Mao memang ingin memperbaiki Maoisme tanpa perlu menyalahkan Mao atas kegagalan Maoisme. Reorientasi tersebut dilandaskan pada prinsip “mencari kebenaran dari fakta” menggantikan “kebenaran dari pimpinan”. Maka dimulailah diskusi dan perdebatan mengenai nasib ideologi tersebut.

Reorientasi ideologi pertama kali menyentuh identifikasi nasionalisme dan sosialisme, untuk melengkapi pemikiran Mao sebelumnya. Kemudian, untuk mendukung arah ekonomi baru Cina, yang menerapkan sistem “pasar-sosialis”, bentuk-bentuk kepemilikan individu mulai diperkenalkan. Kapitalisme juga mengalami perbaikan makna, setidaknya faktor kapitalis tidak akan berbahaya apabila negara menerapkan kediktatoran proletar, karena itu kemudian muncul kelas-kelas kapitalis baru yang bekerja sama dengan negara dalam bidang ekonomi. Pergerakan reformasi dan reorientasi ideologi sebisa mungkin tidak sampai menggangu tatanan sosial yang sudah ada di Cina. Sehingga, Cina kemudian tidak terlalu khawatir tentang menguatnya demokratisasi yang nantinya akan semakin mengikis pondasi ideologi komunisme.

Bukan perkara mudah mengkaji ideologi, atau bahkan merevisi. Tapi pilihan terbaik adalah tak memilih, jika Mao menjadi penggagas gebrakan “lompatan jauh kedepan”, maka ia sudah membuat “spektrum ambisi” yang meninggalkan banyak hal, lepas dari hal baik atau hal buruk di masa selanjutnya. Kukira, masuk dalam “100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah” yang disusun oleh Michael H. Hart sudah membuat Mao senang dalam kehidupan barunya.

Otonomi Pendidikan


Hak untuk mendapat pendidikan yang sama di indonesia, masih mengalami banyak problematika. Ketimpangan semakin nyata, bahwa masih banyak masyarakat pelosok maupun pedalam di indonesia belum bisa menikmati pendidikan layaknya di daerah maju atau kota-kota besar lainya.
Sama-sama membayar pajak, tapi tak mendapat hak menerima pendidikan yang sama.
Bagaimana bisa masyarakat berpendidikan akan terwujud. Bila pemberian pendidikan saja belum merata. Perkembangan pendidikan yang berbeda-beda di setiap daerah, memicu adanya kesenjangan. Kesenjangan membuat kepincangan, khususnya dalam hak menerima pendidikan yang sama. Pentingnya sebuah pemerataan pendidikan demi terciptanya pendidikan yang egaliter (bersifat sama) bagi masyarakat.

Dalam mengunakan sistem pendidikan yang terpusat. Sekarang dirasa kurang memiliki efektifitas atau ketepatan ukuran mengenai pendidikan di setiap daerah, yang latar belakangnya berbeda-beda. Semua dipukul rata. Contohnya, mengenai masalah ujian nasional (UN), yang standar soalnya sama. adanya disparitas (perbedaan) kualitas dari segi sarana prasana dan guru juga masih tinggi. Padahal dilihat dari latar belakang daerah, baik dalam hal budaya, ekonomi, dan sosial saja jelas berbeda. Seperti contoh sederhananya, jika di perkotaan banyak siswa yang latar belakangnya keluarga menengah keatas. Memiliki kesempatan belajar lebih baik, karena fasilitas yang cukup bahkan berlebih. Sekolah mampu memberikan fasilitas dengan lengkap, orang tua siswa mampu membayar uang sekolah yang semakin hari semakin mahal, memiliki akses yang mudah dalam mengembangkan bakat dan kemampuan karena letak geografis yang menguntungkan. Namun berbeda dengan siswa di pesisir madura, pulau-pulau kecil di sekitarnya (sapudi, sapeken, kalianget, dan lain-lain), di sekitar perbatasan malaysia, di pedalaman kalimantan dan sumatera, dan sebagainya. Belum semua masyarakat menikmati pendidikan berkualitas yang gencar didengungkan pemerintah. Pendidikan baru bisa dinikmati sebagian besar masyarakat urban dan masyarakat yang tinggal di perkotaan saja. Bagaimana bisa menuntut hasil yang maksimal jika, pemahaman akan perbedaan latar belakang tiga aspek diatas tidak dipahami oleh pemerintah.

Sebuah jalan keluar atas kesenjangan dalam menikmati pendidikan secara merata memang menuntut sebuah cara baru. Perlunya otonomi pendidikan. Supaya hak untuk mendapatkan pendidikan lebih maksimal dan merata. Keuntungannya memakai sistem otonomi pendidikan adalah lebih bisa mengeksplorasi kekayaan ilmu & pendidikan daerah-daerah di indonesia. Bagaimana menyulap sebuah kekurangan atas kesenjangan dalam menerima pendidikan, dengan membuat sebuah sistem yang dimana setiap daerah menonjolkan kedaerahanya dalam membangun pendidikan dan mengembangkan ilmu, agar terciptanya pendidikan yang lebih bervariasi dan membuat perkembangan pendidikan lebih baik. Tampa mengurangi kualitas pendidikan yang sudah ada. Seperti membuat sebuah kurikulum yang isinya lebih memprioritaskan kemampuan dan budaya masing-masing daerah. Tidak menyama-nyamakan sistem pendidikan di kota besar dengan di daerah pelosok, karena itu jelas berbeda. Memberi standar tenaga pendidik yang memang mengenal dan tau daerah tersebut, bukan malah medatangkan tenaga pendidik dari kota yang harus mengajar di daerah terpencil atau pelosok, akibatnya penyesuain diri yang memakan waktu karena tidak mengenal betul bagaimana karakteristik masyarakatnya dan daerah tersebut. Walaupun cara mendatangkan tenaga pendidik dari daerah lain yang memang perlu dilakukan demi kerjasama dalam bidang meningkatkan kualitas pendidikan. tapi kita tau sendiri, tenaga pendidik memang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda setiap daerah. Belum tentu tenaga pendidik yang mempunyai banyak prestasi di kota dalam bidang mendidik, lalu di pindah untuk mengajar di daerah pesisir, dan dituntut untuk bisa menghasilkan output siswa seperti di kota atau tempat asalnya, yang sama prestasinya dan kemampuan belajarnya. Tentu saja tidak mungkin tenaga pendidik menggunakan cara yang sama dalam mendidik masyarakat di pesisir dengan sistem pendidikan yang pernah ia terapkan di kota.

Berdasarkan literasi. Disebutkan bahwa masing-masing daerah di indonesia mempunyai banyak sekali kekayaan di semua aspek. Itupun bisa menjadi sebuah jalan keluar atas permasalahan mengenai hak dalam menerima pendidikan yang kurang merata. Untuk bisa diubah menjadi sebuah kekayaan yang tak dimiliki negara lain di bidang pendidikan. pendidikan yang terpenting adalah bagaimana kita bertanggung jawab atas akan bagaimana nantinya generasi penerus ini bisa bertanggung jawab dan tak mengulangi kesalahan-kesalahan pendahulu mereka.

Demi mengentaskan masalah hak dalam menerima pendidikan yang sama. maka perlu kepercayaan yang besar, semangat yang konsisten tentu dengan cara yang kompeten. Saatnya memberi pendidikan kepada semua generasi penerus dimanapun itu. dengan ilmu & pendidikan yang mereka inginkan. Bukan malah menjejali generasi penerus dengan sebuah standar yang mereka sendiri tak mengenalnya. Seperti sederhananya begini, bila di masyarakat ibukota, dalam sekolah haruslah memakai sepatu. Namun berbeda dengan masyarakat di pedalaman papua yang kondisi geografis mereka di tengah hutan. Untuk akses jalan menuju sekolahan saja itu begitu sulit, seperti melewati lumpur, menyebrang sungai yang aliranya deras, jalanan yang ditutupi akar-akar pohon dan rumbunya tanaman liar, apakah anak-anak itu harus memakai sepatu waktu sekolah. Apakah sepatu mereka masih berbentuk setelah berjalan menuju sekolah dengan medan yang begitu sulit itu. lantas apakah diwajibkan memakai sepatu kalau kondisinya, sepatu mereka setiap hari bakalan rusak. Itu mungkin bisa menjadi telaah mengenai betapa berbedanya cara dalam pendidikan. tetapi haruslah tetap sama dalam mendapatkan hak untuk menerima pendidikan. walaupun harus memakai cara yang berbeda-beda demi tercapainya tujuan yang sama. Dengan tidak memberi sebuah standar pendidikan yang membuat perbedaan pada penerapanya sehingga hak untuk mendapat pendidikan yang sama dapat tercapai tampa, sebuah standar yang menuntut atau membatasi perkembangan pendidikan itu sendiri.

jika pendidikan masih diukur dengan standar yang belum bisa fleksibel dalam penerapanya. Maka jangankan hak menerima pendidikan yang sama, pendidikan yang layak saja mungkin akan dipertanyakan. Namun akankah tercapai dengan baik sebuah cara yang mengariskan standar tertentu yang harus diberlakukan di daerah-daerah yang berbeda latar belakang sosial, budaya, geografis dan ekonomi. Maka otonomi pendidikan perlu diberlakukan untuk membuat cara mengenai, bagaimana sebuah pendidikan di setiap daerah dilakukan dengan kebijakan masing-masing daerah, untuk meminimalisir kesenjangan akibat penentuan standar yang disamakan dengan keputusan yang terpusat. Tapi tetap dengan pengawasan pemerintah. Dengan begitu bakalan lebih baik. Karena pemerintah daerah lebih mudah dalam menjangkau daerahnya sendiri. Lebih mengerti karakteristiknya. Dan diharapkan dapat menumbuhkan sebuah hasil yang bisa membuat semua masyarakat khususnya generasi penerus, bisa menikmati hak dalam menerima pendidikan secara layak, sama, dan lebih baik. Tampa menimbulkan masalah baru, dan kesenjangan yang kadang membuat ketimpangan hingga berimbas pada menurunnya kualitas pendidikan di masing-masing wilayah yang ada di indonesia.

Thursday, February 13, 2014

Mengenai #dusun-gerbong "Bong, leng, yu", (Pager'e Kobong, Celeng'e Mlayu), Part 1

 (#Dusun_Gerbong. poster 1)

Kutaruh, selembar demi selembar kertas. Nampak sudah terlalu lama tak terjamah, buku-buku di dekat rak tersebut, memesankan pada penghuni rumah ini, untuk sebentar mengusapnya (buku). Ini bukan sekedar tumpukan material kokoh, namun ini adalah rumah. Rumah Dengan ruangan yang terdiri dari 4 (empat) kamar tidur, 1 (satu) ruang tamu, 1 (satu) dapur, 2 (dua) kamar mandi, 2 (dua) ruang keluarga, dan terdiri dari 2 (dua) lantai kayu. Itu adalah bagian-bagian terpenting mesin kenangan dirumahku ini.

Bersebelahan dengan rumah sejarah. Rumah penuh cerita, cerita dari keluarga bapak. Rumah yang berumur, umurnya mungkin lebih tua dari pohon didepan, tepatnya. Dihalaman depan yang tinggal satu, kokoh tak berbuah. Bersamaan dengan banyak pohon, akar, tumbuhan liar di kebun belakang. Berhiaskan pembatas-pembatas tanah buatan tetangga. Tetangga yang selalu meributkan masalah “pertanahan”. Berebut titipan duniawi yang rasional bila difikirkan. Tak pernah sejalan dengan logika Kebun liar tak terawat itu. Rimba, guyup, asri, lestari, alami, apalagi yang akan kusebutkan jika tak ada kata yang berani dan mampu melebihi realitas sekumpulan tumbuh-tumbuhan lebat dan masih bisa rukun ditengah persaingan mereka mencari alasan untuk tumbuh.

Sebagai anak dusun dengan lingkugan yang dekat dan bersahabat dan dusun ini adalah rumah ku, tempat awal aku dilahirkan, tempat aku diberi kesempatan hidup, dan tempatku menuntaskan tugasku sebagai manusia. Inilah dusun, “Dusun Gerbong” namanya. Gerbong yang berarti bagian dari "kereta". Yang berisikan banyak manusia. Dimana gerbong beserta keretanya bakalan mengantarkan manusia-manusia itu menuju tujuannya. Beralaskan rel besi yang kokoh dengan disangga bantalan-bantalan beton yang padat. Perlintasan yang selalu dijaga setiap waktu. Adalah sebuah makna kecil akan susunan huruf; G-E-R-B-O-N-G, dengan jargon “Bong, Leng, Yu (Pagere Kobong, Celenge Mlayu)” artinya adalah, “pagarnya kebakaran, anak babinya lari”.

Sebelum perkembangan industrialisasi di jalan raya antar provinsi ini. Dusun yang gapuranya menyerupai atap bagunan minang/padang ini. Adalah dusun idaman. Dimana disamping gapura dusun adalah lapangan bola asri dan tempat bermain bola, yang dulunya ada Persatuan Sepak Bola Gerbong (PERSEGER). Sering latihan dan bermain di lapangan tersebut. Selain itu warga baik dewasa, anak-anak, dan pemuda dusun adalah pemakai yang produktif dalam memanfaatkan tanah lapang samping jalan raya tersebut. Namun entah mulai kapan, sebuah rencana pembangunan gudang yang bukan cuma rencana namun realisasinya sudah membuat dusun ini kehilangan sebuah asetnya. Lapangan yang cukup tak rata tanahnya ini cukup memberi sebuah ruang dimana banyak manusia yang memanfaatnya, malah sekarang menjadi bangunan beton kokoh, gudang penuh pekerja yang mencari nafkah.

Sedikit bukti bahwa, ini masih layak disebut dusun (struktur dibawah desa). Dimana jalanan cuma satu, beraspal tak merata pula. Penuh lubang dan cacat. Tambalan-tambalan tanah dan pasir yang membuat kurang serasi jika bersanding dengan warna aspal, apalagi saat hujan tiba. Bau tanah bercampur bau aspal, begitu tak harmonis. Namun kerapian selalu terlihat dengan letak jalan yang terdiri 4 (empat) gang pada dusun ini, dengan latar belakang pemandangan sawah milik warga nan luas, gunung wonosalam nan lestari bahkan kuburan (pemakaman) dusun ditengah pemandangan tersebut, “kalau dilihat dari kiri jalan, gapura dusun pinggir Jalan Raya Surabaya-Jombang ini.

Melengkapi lukisan tampa bingkai, namun begitu selaras. Mempunyai tiga surau (musholla), dan satu masjid. Menjadi sebuah pusat muslim yang menjadi mayoritas dusun ini. Dengan warganya, pejabat dusunya, dan semua elemen penting penopang kehidupan dusun. Menjadi satu-kesatuan yang mengantarkanku pada kekaguman yang tampa sadar aku lewati selama 20 (duapuluh) tahun dari mulai lahirku, sampai sekarang.

Tak banyak yang mengetahui sejarah awal dusun ini, dusun ini juga tak terlalu padat akan warganya, dusun ini tak pernah mengalami banyak perubahan, kondisi sosial, budaya, ekonomi, teknologi dan geografi. Namun bukan berarti tak ada perubahan yang positif. Perkembangan zaman selalu menuntut sebuah peningkatan konsumsi (konsumtif), begitu juga perubahan dan regenerasi manusianya. Setiap warga di dusun ini pun mengalami regenerasi yang berimbas pada aspek-aspek kehidupan hingga secara tidak langsung, menuntut adanya perubahan, baik positif atau negatif, dan meningkat atau menurun.

Para orang tua, dewasa, pemuda-pemudi, anak-anak. Adalah aspek penting. Pusatnya adalah manusianya, kalau didusun ini adalah warganya. Warga yang berperan aktif dalam rantai kehidupan dusun. Pemegang kekuasaan, kalau di dusun ini bukan pejabat dusun atau pejabat desa dan struktur atasnya. Namun masih bisa dibilang demokrasi sesungguhnya lebih bisa kurasakan benar-benar terjadi secara transparan ya, yang terjadi di dusun ini. Dusun gerbong. Dimana masih banyak anak-anak yang bermain hujan-hujanan, disorenya, penuh dengan sorak-sorai pemuda-pemudi yang menyaksikan bola volly di selatan dusun, tepatnya gang 3 (tiga) dari 4 (empat) gang di dusun ini, malamnya pun sungai dekat gapura dusun yang dikelilinggi warga yang memancing, kumpulan pemuda yang bersendau gurai sampai larut, selalu menghiasi dusun penuh kiasan ini.

Itulah dusunku, dusun yang membesarkanku, dimana tak akan sempat mengeluh jika sedang berada di rumah. pikiran bukan hanya diselimuti kejenuhan dan kebosanan, apalagi sampai sesat pikir. Karena suguhan ilahiah bakalan menyambut dan bertebaran bersama embun dan hawa di dusun gerbong, dusun tempat berkumpulnya kebaikan-kebaikan murni.

Mengenai #dusun
tulisan mengenai apa saja di dusunku, yang bakalan aku tulis dalam tempo 2 minggu sekali ini. Dan secara urut, baik kisah maupun ceritanya.

Thursday, February 6, 2014

Tindakan Preventif Dalam Bencana Alam

Dilema bencana semakin meghiasi media massa. Kehebohan dan kepanikan makin tersebar tak terkendali. Pemerintah mungkin sudah dinilai lamban bahkan kurang dalam proses penanggulangan bencana yang terjadi. Dalam perpekstifnya bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis serta memerlukan bantuan luar dalam penanganannya. Bila disinggungkan dengan bencana yang terjadi di indonesia belakangan ini. maka muncul banyak persepsi atau opini di masyarakat bahwa bencana yang sering melanda indonesia adalah sebuah peringatan atau pertanda.

Peringatan atau pertanda akan apa?. Kepercayaan mengenai hal-hal yang belum bisa dibuktikan secara akal atau rasional memang masih banyak menghiasa masyarakat kita. Namun dibalik itu semua peringatan atau pertanda memanglah sebuah alasan yang cukup bisa dikaitkan dengan segala bentuk bencana-bencana yang ada walaupun itu tak sepenuhnya diterima oleh kebanyakan masyarakat. Bagaimana bisa sebuah bencana secara runtut dan intensitas kejadianya begitu cepat bahkan berkesinambungan sudah membumihanguskan banyak korban jiwa dan harta benda. Letak geografispun sudah lama dibicarakan, bahwa indonesia memang menjadi tempat dimana suburnya bencana-bencana alam. Dikarenakan banyaknya gunung merapi dan bahkan disebut juga sebagai negara cincin api. Persiapan dan pencegahan atau meminimalisir dampak bencana masih bisa dilakukan disaat pencegahan bencana dan perkiraan terjadinya bencana sulit di tebak. Kesigapan dalam mengatasi bencana adalah jalan keluar. Dimana tuntutan untuk siap dan tanggap dalam menghadapi bencana haruslah diutamakan. Pelatihan-pelatihan siaga bencana alam haruslah lebih di sosialisasikan dan keseriusan pemerintah dalam menangganinya. Karena bencana adalah sesuatu yang sulit diperkirakan kapan datangnya.

Kesiapsiagaan adalah keadaan siap setiap saat bagi setiap orang, petugas serta institusi pelayanan (termasuk pelayanan kesehatan) untuk melakukan tindakan dan cara-cara menghadapi bencana baik sebelum, sedang, maupun sesudah bencana. Dikarenakan bagaimanapun ini adalah yang utama. Dikala menunggu bantuan dari pemerintah. Hanyalah diri sendiri dan orang terdekatlah yang bisa diandalkan.

Barulah penanggulangan atau upaya untuk menanggulangi bencana, baik yang ditimbulkan oleh alam maupun ulah manusia, termasuk dampak kerusuhan yang meliputi kegiatan pencegahan, penyelamatan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Tujuannya ialah mengurangi jumlah korban yang mengalami kesakitan, risiko kecacatan dan kematian pada saat terjadi bencana; mencegah atau mengurangi risiko munculnya penyakit menular dan penyebarannya; dan mencegah atau mengurangi risiko dan mengatasi dampak kesehatan lingkungan akibat bencana yang terjadi. Penanganan atau penanggulangan bencana meliputi 3 fase yaitu fase sebelum terjadinya bencana, fase saat terjadinya bencana, dan fase sesudah kejadian bencana.

Sebelum Bencana (Siap & siaga) atau kegiatan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi kerugian harta dan korban manusia  yang disebabkan oleh bahaya dan memastikan bahwa kerugian yang ada juga minimal ketika terjadi bencana. Meliputi kesiapsiagaan dan mitigasi. Kesiapsiagaan   mencakup penyusunan rencana pengembangan sistem peringatan, pemeliharaan persediaan dan pelatihan personil. Mungkin juga merangkul langkah-langkah pencarian dan penyelamatan serta rencana evakuasi untuk daerah yang mungkin menghadapi risiko dari bencana berulang. Langkah-langkah kesiapan tersebut dilakukan sebelum  peristiwa bencana terjadi dan ditujukan untuk meminimalkan korban jiwa, gangguan layanan, dan kerusakan saat bencana terjadi. Mitigasi mencakup semua langkah yang diambil untuk mengurangi skala bencana di masa mendatang, baik efek maupun kondisi rentan terhadap bahaya itu sendiri .Oleh karena itu kegiatan mitigasi lebih difokuskan pada bahaya itu sendiri atau unsur-unsur terkena ancaman tersebut. Contoh pembangunan rumah tahan gempa, pembuatan irigasi air pada daerah yang kekeringan.

Saat Bencana (Tanggap darurat) Serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana yang bertujuan untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan. Meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban maupun harta benda pemenuhan kebutuhan dasar perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.

Pasca Bencana (Recovery) Penanggulangan pasca bencana meliputi dua tindakan utama yaitu rehabilitasi dan rekonstruksi. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

Dalam prinsip dasar upaya penanggulangan bencana dititik beratkan pada tahap kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi. Mengingat bahwa tindakan preventif (mencegah) lebih baik daripada kuratif (pengobatan atau penanganan). Bencana alam itu sendiri memang tidak dapat dicegah, namun dampak buruk akibat bencana dapat kita cegah/dikurangi dengan kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi.

Bencana

Tahun ini memang sudah tidak dapat diprediksi lagi. Ramalan-ramalan awal tahun kurang laku diawal 2014 yang menurut penanggalan china adalah tahun “kuda”. Berbeda dengan tahun 2012 yang masih bisa diprediksikan bahwa akan ada kiamat, tapi ternyata tidak. 

Namun keadaan ini yang lebih berbahaya adalah dimana tahun 2014 ini memang tahun yang tak bisa diprediksikan. Berarti kemungkinan-kemungkinan apa saja atau lebih parah bisa terjadi. Contohnya bencana, musibah, tragedi dan lain-lain. Pada kenyataanyapun begitu banyak terjadi di hampir beberapa daerah di indonesia yang sedang mengalami bencana, musibah atau tragedi. Seperti di jakarta yang banjirnya suka eksis dan ingin tampil setiap tahunya, bencana letusan gunung sinabung yang tak kunjung reda, tanah longsor di jombang yang memakan korban, gempa di kebumen, tanah retak jawabarat, cuaca buruk di daerah-daerah seluruh indonesia. 

Itupun belum semuanya. Masih banyak kejadian-kejadian yang menggugah rasa kemanusian kita dan sudah banyak dilupakan. Tapi alangkah baiknya jika rasa kemanusian tergugah bukan hanya karena adanya bencana, musibah atau tragedi saja. Namun kesadaran akan masih rentanya kejadian-kejadian yang sama bahkan lebih parah bakalan terjadi kembali. 

Kesiapan menghadapi bencana adalah cara bagaimana mengawali sebuah sikap yang siaga akan kejadian yang tidak disangka-sangka. Berbagai hal memang sudah dilakukan pemerintah dalam persiapan penaggulangan bencana, baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Namun apakah itu sudah bisa menjamin keamanan dan keselamatan masyarakat kita?. Tentu tidak.

Bencana berdampak terhadap keberlangsungan hidup masyarakat. Tak hanya kerusakan dan kehilangan harta benda, korban jiwapun berjatuhan. Bencana gempa terhitung telah merenggut ratusan ribu jiwa, dengan kerusakan infrastruktur yang mahadahsyat. Namun sebuah cobaan atau peringatan dari sang pencipta adalah sebuah bentuk kasih sayangnya, bagaimana kita telah diingatkannya dengan berbagai bentuk kuasanya yang begitu besar.

Hendaknya, dalam rangka meminimalisir kerugian dan korban akibat bencana, seharusnya bukan hanya pemerintah saja yang bertanggung jawab namun juga seluruh masyarakat indonesia. Dalam menghadapi bencana, selayaknya kita bahu-membahu membantu saudara kita, agar mereka dapat melanjutkan hidup dan kehidupannya yang telah ditimpa musibah ini. Caranya adalah dengan memberikan bantuan moril dan materil. Bencana telah terjadi, hal yang terpenting adalah penanganan pasca bencana, yaitu penanganan korban tewas dan luka, penanganan pengungsi serta pengumpulan dan koordinasi penyaluran bantuan. Guna memulihkan kondisi korban dan daerah yang terkena bencana adalah dengan menangani para pengungsi dengan baik, serta rekonstruksi daerah yang terkena bencana. Bukan hanya itu. penangganan secara mental dan pembangunan semangat masyarakat yang sesusai terkena bencana sangatlah penting. Bagaimana membangun rasa percaya diri dan semangat yang telah hilang akibat terkena bencana. Maka penting dilakukanya pembangunan mental.
Jangan biarkan mereka merasakan duka ini tanpa bantuan kita. Apapun ceritanya, mereka adalah bagian dari kita. Mereka butuh kita dan sudah selayaknya pula menjadi perhatian bersama.

Wednesday, February 5, 2014

Kerumitan Kesabaran

“Sabar”, kata yang lumayan bijak bukan. Penuh esensi yang halus. Mengandung empati. Hampir semua orang pernah mengatakan kata “sabar” ini, baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri. Dalam kamus besar bahasa indonesia (kbbi) versi 1.5. “sabar” adalah tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati). Tak cukup hanya itu. sabar adalah semua aspek kehidupan. 

Karena kemajuan zaman makna “sabar” semakin menyempit. Mengkerdilkan esensi dibalik 1 kata 5 huruf ini. dengan kepekaan akan kesinambungan hidup. “sabar” memang menuntut kita, bukan lagi kita di tuntut “sabar”. Maksudnya adalah kita sebagai masyrakat di tuntut untuk selalu memaklumi dan “sabar” dalam tuntutan hidup yang kian lama kian memberatkan, baik secara langsung maupun tidak. Dimana banyak keuntungan-keuntungan yang malah di dapat oleh pihak yang seharusnya sudah tak pantas di beri sebuah keuntungan bahkan kemudahan-kemudahan dalam hidup. Ketidakadilan sudah terlalu memenuhi segala aspek, apalagi banyak sifat dan sikap berunjung pada keinginan tampa di tambahi usaha adalah “diam”. Kediaman-kediaman yang semakin mendiam malah memadati sisi kosong kehidupan yang memang di siapkan untuk keadaan terpepet dewasa ini.

Maksudnya disini adalah sebuah kondisi yang sudah digariskan tapi bukan takdir. Keadaan dimana banyak permasalahan, banyak kemelut, banyak permusuhan, banyak peringatan bahkan banyak ketidakpastian. Pergolakan akan manipulasi sejarah sudah terang-terangan kali ini. rasa percaya yang semakin menurun. Pembohongan demi pembohongan seringkali berkerumun dan bercumu dengan generasi penerus. Pemikiran sudah semakin tidak relefan. Bukti-bukti sudah dihilangkan. Penerus atau pemuda semakin diombang-ambingkan oleh pembentukan watak yang tidak benar. Ribuan sumber-sumber pembuktian tak terjamah dan akhirnya hilang. Manalagi yangharus dirujuk dalam pembuatan alur perjuangan. Dimana kita berada, bukan lagi menjadi rumah yang baik. Tetangga-tetangga sudah tak berani membuka rumah. Asing rasanya jika banyak berkumpul malam-malam untuk membicarakan hal pribadi. Lingkungan sudah menjadi kaku. Tak banyak komunikasi antar manusia jika sekarang makin banyak orang yang tak gampang percaya.

Banyak yang bilang “jangan gampang percaya dengan orang tak dikenal” tapi ada yang bilang “tak kenal maka tak sayang” ada juga yang bilang “jangan bicara apapun dengan orang yang tak kau kenal” namun jangan bilang “berbuat baiklah dengan siapapun walau kau tak mengenalnya”. Bagaimana rasanya jika banyak pergulatan mengenai sebuah laku kita untuk sebuah kebaikan bersama. Jika sebuah acuan kita atau kepercayaan kita sudah tak murni. Maksdunya begini bagaiama kita dapat memperlajari sebuah kebaikan kalau apa yang diajarkan kepada kita oleh pendahulu, itu bukanlah sebuah kebaikan yang murni. Namun malah kebaikan yang tercipta karena sebuah kejenuhan atau banyaknya ketidak baikan yang telah tercipta karena dorongan keserakahan.

Sudah jangan memikirkan yang besar-besar. Pikirkanlah yang kecil-kecil lalu kau akan semakin kerdil. Jangan lag menggunakan sebuah kiasan jika menggunakan kesederhanaan kata saja belum mampu memaknainya. Jika banyak perbudakan yang kau sendiri tak sadar itu terjadi padamu. Maka sebuah keabaikan dan perubahan diri masih jauh dan masih sulit untuk belaku. Banyak peran yang memegang sebuah amanah besar namun tak banyak yang menjalankan peranya dengan baik. Kebaikan seharusnya diperankan dengan orang yang memang pantas tapi sekarang malah bukan itu yang terjadi. Peran demi peran mengisi tampa telat. Namun kebaikan malah semakin merosot tajam. Indah sudah tak nampak malah kekecewaan semakin di ekspos. Gensi sudah menjadi jalan yang membuadaya. Budaya semakin dipandang sisnis. Rebutan keserakahan bukan sekedar trend. Namun mudah untuk disandiwarakan. Berpura-pura adalah kemunafikan percabang. Bisa untuk memperbaiki citra diri, bisajuga untuk menipu banyak orang.

Kerumitan lebih dibenci daripada kemunafikan. Kebaikan dibilang munafik, kejahatan dikata lumrah. Entah apa yang dirasa. Seperti kebinggunganku sekarang ini. menulis tampa arah. Asal ketik dan memuaskan pikrian yang kacau. Berikut bumbu kegelisahan yang tak berarah.