Tuesday, March 25, 2014

Rapi-rapi banci “Yogi, Pacarnya dan Pak Rozi”

“Katanya, cewek itu suka dengan cowok rapi, tapi setelah aku potong rambut dan berpenampilan rapi. Malah aku diputusin cewekku.”

Itulah perkataan Yogi temanku yang penampilan awalnya menyerupai, bahkan lebih “Korak” dari pada preman bypass krian. Sambil mengelus-ngelus rambut dan gaya mengeluhnya yang membuatnya kelihatan seperti orang homo itu. Ia mengatakan hal itu berulang-ulang padaku. Namun hal itu bukan tampa awal. Bagaimana Yogi ini bisa berkata demikian. Dan apa yang melatarbelakangi, sampai dia potong rambut dan berpenampilan rapi. Tidak lain karena tuntutan dosen di salah satu perkuliahan di kampusku. “Yang mengharuskan mahasiswa rapi dan memakai dasi, serta menjadikan ruang kelas layaknya perkantoran.” cukup banyak yang senang dengan hal itu. Namun cukup banyak yang tidak setuju dengan hal itu. Dimana matakuliah yang ada hubungan dengan segi penampilan, maka diputuskanlah bahwa mahasiswa dituntut untuk memakai dasi dan berpenampilan rapi seperti di perkantoran-perkantoran. Cukup bervariatif tanggapan-tanggapan mahasiswa-mahasiswa lainya. Ada yang kekeh tak ingin menuruti kemauan dosen tersebut, ada yang mau bahkan senang, ada yang tidak mau tapi akhirnya menuruti juga. Hingga ada yang membenci dan melawan dosen tersebut.

“Rapi dan keluh kesah terpaksa.”

Kenapa harus memakai dasi, padahal dalam perkuliahan, rapi saja itu cukup. Rapi dalam artian luas. Bukan sekedar memakai baju berkrah, memakai sepatu. Namun dalam bersikap, dan berperilaku. Karena tujuan utama dalam perkuliahan adalah menuntut ilmu. Tetapi hal itu dibantah, dengan alasan. Dalam matakuliah ini, kebijakan memakai dasi sangat perlu demi mempraktekan apa yang dipelajari dalam perkuliahan tersebut. Dan tak melulu teori tampa pelaksanaan realisasi contoh, agar mendukung terciptanya output yang sesuai dengan mata kuliah tersebut.

Tujuanya menuntut ilmu, bukan menjadi “sales rokok.”

Kita ini mau didik seperti apa?. apakah dengan memakai dasi, kita semua menjadi pribadi yang baik, menjadi apa yang kita inginkan dalam menjalankan pendidikan tinggi ini. Bagaimana dengan tujuan utama pendidikan?. apakah dengan memakai dasi semua keluhuran pendidikan yang kita jalani ini akan lebih baik, dan unsur-unsur dalam pendidikan tinggi ini akan menjadi lebih baik dengan kita memakai dasi.

“Apa hubungannya dasi dengan naiknya status sosial”.

Jika dikaji dengan sejarah dasi. Maka, aku kira dasi adalah “pencekik leher”. Dimana akhirnya diamini sebagai asesoris untuk lebih rapi dan dipandang lebih tinggi status sosialnya. Namun betapa kerdilnya kita jika menganggap dasi bisa menaikan status sosial kita. Banyak pembunuh berdasi, banyak koruptor berdasi, banyak penipu berdasi, banyak pencopet berdasi. Apakah baik jika kenyataan mengenai pemakaian dasi selalu dikonotasikan rapi dan baik?. Apakah dengan memakai dasi dan tidak, itu berbeda. Dimana letak perbedaanya?. Apakah dalam ilmu-ilmu duniawi, agama bumi, agama wahyu, dan keterbatasan manusia dalam memahami yang nampak dengan yang nyata, dasi menjadi penting jika diri sendiri belum bisa menemukan siapa dirinya sendiri?. Kebaikan-kebaikan yang ditutupi dengan kedengkian lahiriah akankah terhapus dengan dasi?. Kesombongan, kepicikan, kebodohan, kemunafikan, dosa, kesalahan, akan berubah dan hilang saat kita memakai dasi. Lantas dalam pendidikan perkuliahan apakah kita bakalan menjadi lebih baik dari sebelumnya dengan memakai dasi. Walaupun memakai dasi dalam kasus ini adalah sebuah kesepakatan dalam kontrak kuliah.

“Apa hubunganya dasi dengan perkuliahan?”.

Perkuliahan adalah konsep pendidikan barat yang diadopsi. Bukan asli produk pribumi, atau halnya dengan perintah dari tuhan untuk memerintahkan kita memakai dasi. Hubunganya apa dengan mencari ilmu?. Coba logikakan secara historis, sosial, budaya dan agama. Mana bukti bahwa dasi adalah hal penting yang berpengaruh dalam kehidupan yang sebenar-benarnya kehidupan. Dimana tidak ada lagi ketulusan yang nyata. Kebaikan hanya jadi alasan untuk mencapai apa yang diinginkan. Jarang sekali ketulusan yang setulus-tulusnya dalam pendidikan. Entah apa yang aku katakan, yang penting ini adalah pelampiasan berdasarkan emosi, bukan yang sebenar-benarnya kemarahan. Karena emosi tak selalu dalam bentuk kemarahan. Marah hanyalah subtansi emosi diri.

Saya ingin membuat kelas ini menjadi seperti kantor. “apakah tidak sekalian menjadikanya industri dengan modal multinasional.”

Pernyataan yang cukup tidak aku setujui. Bagaimana ini?. apakah ini sudah mencapai keputusasaan manusia dalam mendidik generasi selanjutnya. Apakah memang sudah terlampau kreatif ini dosen. Ingin menjadikan kelas menjadi seperti kantor. Lantas akan seperti apa proses pembelajaran yang akan terjadi di kelas. Apakah jika ada mahasiswa yang tidak masuk, bakalan dipecat?. Akankah jika ada yang tidak mengerjakan tugas mahasiswa tersebut akan dipotong gajinya?. Mungkinkah jika belajarnya bagus, mahasiswa dikelas akan dipromosikan naik jabatan dikelas?. Atau kalau pacar/istrinya melahirkan, mahasiswa akan diperbolehkan cuti?. Aneh sekali bukan. Lantas kalau akan dikonsep seperti kantor. Bukankah mahasiswa dibentuk menjadi buruh-buruh siap kerja, atau TKI-TKI yang siap dikirim sebagi stok pembantu diseluruh dunia. Ingat mahasiswa bukan dicetak untuk menjadi buruh atau karyawan. Walaupun kenyataanya lebih buruk dari itu.

“Dituntut rapi memakai dasi dan membuat kelas seperti kantor. Lantas apakah bisa menjamin proses belajar mengajar menjadi lebih baik dan menghasilkan mahasiswa atau generasi muda yang sesuai harapan”.

Kalau mencetak mahasiswa untuk siap terjun dilapangan kerja. Sekolah menengah kejuruan juga bisa, lembaga pengembangan kemampuan kerja juga bisa. Atau yang lainya. Namun bagaimana belajar mengajarnya. Apakah bisa menjamin untuk lebih baik. Lawong pendidikan setiap tahunya makin menurun kualitasnya. Dimana-mana, pendidikan dari yang paling rendah sampai yang selalu didewakan yaitu perguruan tinggi. Atau institusi pencetak pengangguran dan pembodohan terstruktural ini, singkatnya perkuliahan ini. Bisa menjamin hal-hal baik yang diinginkan semua pihak. Apakah dosen ini tuhan yang bisa menjamin segala hal. Berani-beraninya main jamin-menjamin. Lawong kamu saja belum bisa menjamin dirimu sendiri. Apalagi menjamin orang lain yang begitu banyaknya.

“Kalau tetap dipaksakan memakai dasi. Saya kira banyak yang tidak suka, bahkan tidak ihklas dalam mengikuti perkuliahan dan belajar mengajar”.

Dosa besar jika membiarkan hal itu terjadi. Membuat banyak orang tidak ihklas, dosa besar pula kalau dosen mengajar sampai-sampai banyak mahasiswa yang diajar tidak mendapat ilmu yang bermanfaat. Karena yang mendidik yang bertanggung jawab dan menentukan akan jadi apa mahasiswa tersebut nantinya. Atau kalau kata teman saya “aku ini akan dididik seperti apa?. kok harus pakai dasi segala. Apakah kita akan dijadikan pencopet. Kan banyak pencopet yang berdasi.

Namun itu tak sepenuhnya. Ada banyak alasan yang bakalan membuat memakai dasi dalam perkuliahan itu membodohkan dan tak beribas pada apapun.

Beberapa pertanyaan :

Apakah memakai dasi itu membuat kita semakin baik ?

Apakah memakai dasi akan menjadikan kita bisa lancar beribadah ?

Apakah dengan dasi kita masuk surga ?

Apakah dengan dasi kita menjadi mahasiswa yang berguna ?

Apakah dengan dasi tuhan akan suka dengan kita ?

Apakah memakai dasi akan membuat kita belajar lebih giat ?

Apakah dengan memakai dasi semua permasalahan bisa selesai ?

Apakah dengan memakai dasi aku bisa membantu temanku yang kesusahan ?

Apakah memakai dasi bisa menaikan derajatku didepan allah ?

Apakah dengan dasi perkuliahan bisa lebih baik, bisakah anda menjamin itu ?

Apakah memakai dasi orang-orang bakal senang dengan saya ?

Apakah memakai dasi saya bisa menjadi manusia selalu “eling lan rumongso” ?

Apakah dengan dasi ibadah saya makin khusuk ?

Apakah dengan dasi masalah didunia pendidikan akan berkurang ?

Akankah dengan memakai dasi keburukan akan kalah dengan kebaikan ?

Mengapa harus memakai dasi, kalau tidak kenapa ?

Bagaimana dasi bisa membantu manusia dalam kesusahan ?

Siapa dasi itu, kok berani-beraninya dengan kita ?

Tinggi mana derajatnya dasi dengan manusia ?

Kapan dasi menjadi begitu penting dan kapan dasi tak menjadi penting ?

Siapa sih dasi itu, kok selalu dihungung-hubungkan dengan kerapian ?

Kalau tidak rapi kenapa ?

Kalau rapi ya trus kenapa ?

Apakah dengan rapi atau tidak kita tidak bisa berbuat baik kepada semuan orang ?

Belum lelahkah anda memaksakan hal yang tidak dikehendaki ?

Kalau dasi itu penting, pentingnya dimana ?

Cukupkah dasi untuk menutupi dosa-dosa kita ?

Dimana lagi letak kebaikan jika semua diukur dari penampilan ?

Rapi itu apa ?, tidak rapi itu juga apa ?

Kenapa kalau tidak rapi ?

Memaksakan kehendak akan membuat rugi diri sendiri !.

Warung & Luruhnya Intelektualitas

Memasang wajah murung. Aku datang dengan tangan sebelah kiri mengenggam kertas berisikan tugas, dan tangan kanan yang menggaruk-ngaruk rambut. Memakai baju kusut yang sudah kupakai dua hari. Sembari menuju warung yang cukup banyak dikenal itu. “Warung Pak-tua” sebut saja begitu. Karena banyak yang menyebutnya begitu, semenjak aku datang dan kuliah disini. Sebelum duduk, segeralah kupesan teh dan mengambil rokok eceran diatas kulkas warung tersebut. Duduklah aku. Menoleh ke kanan, banyak orang yang serius, entah apa yang dibicarakan. Sedangkan menoleh kekiri, malah ada sekumpulan pemuda yang teriak-teriak membicarakan mengenai mahasiswa dan lingkungan sosial politik. Tetaplah aku menoleh kekiri, sambil menguping. “Apasih yang sebenarnya dibicarakan?.” Ternyata itu pemuda-pemuda yang ikut sebuah organisasi mahasiswa, entah apa itu. 

Sambil menunggu teh pesananku dan membaca buku yang cukup membuatku naik darah. Karena kisah dalam buku ini sungguh menyentuh. Buku Marxim Gorki, berjudul Mother. Bagaimana bisa seperti ini!. ceritanya sungguh beginikah!, ucapku. Maaf aku belum bisa menjabarkan cerita buku tersebut. Dikarenakan aku ingin memahaminya lebih dalam lagi. 

Namun sebenarnya bukan buku, atau warung yang menjadi objek utama dalam tulisan ini. aku yang kesal dengan pembicaraan-pembicaraan mahasiswa mengenai hal apapun yang kompleks dalam berbagai aspek. Membuat kemungkinan-kemungkinan yang tak mungkin. Serta menanggapi sebuah permasalahan yang cukup pelik, hanya dengan berfikir, diskusi, bicara, atau menunjukan eksistensi dan bersifat oportunis munafik. Mengumbar intelektualitas demi mendapatkan simpatik. Bersifat bijaksana untuk dianggap sebagai orang baik. Berusaha berkorban dengan mengharapkan pengakuan. Menjadi pencetus ide, sebagai cara untuk dipercaya dan mencari keuntungan demi meminimalisir kerugian diri sendiri.

Sampai dimakah ketulusan mahasiswa untuk berbuat demi kebaikan-kebaikan bersama. Entah sampai mana kebaikan dalam lingkungan akademik akan bertahan. Kecuali ada keajaiban. Masih banyak oportunis munafik yang tak terlihat. Kedok-kedok kebaikan adalah dogma-dogma pencitraan diri yang ditelan mentah-mentah. Kegiatan yang hanya berguna bagi kelompoknya sendiri dan dirinya sendiri tentunya. Hanya bermanfaat sebagai formalitas tampa totalitas. 

Sebagian intelektualitas hanya menjadi penyakit yang enggan berbagi. Dimana yang pintar makin pintar. Sedangkan yang bodoh makin bodoh. Beda dengan yang ketulusan yang sulit ditemukan diranah pendidikan tinggi ini. dimana pamrih menjadi hal yang dilakukan tampa sadar diri dan perasaan memahami. Semua dipukul rata. Bagaimana dan apapun halnya agar dapat menguntungkan bagi diri sendiri. Semua yang tak menguntungkan dan tak bermanfaat bagi diri sendiri, maka hal itu akan diacuhkan.

Saturday, March 22, 2014

Gadis Sari Tebu

Dengan paras yang cantik, dan tumpukan make up yang tebal. Sudah menjadi pemandangan yang biasa jika pernah memperhatikan “kiri jalan” itu, setelah jembatan tol Mojokerto. Berbekal kecantikan dan kesabaran. Gadis-gadis muda ini harus bertarung dengan buaya-buaya jalananan yang siap menerkam, dan kuasa alam yang siaga mengancam. Berjajar rombong-rombong yang menjual “Es Sari Tebu”. Dan rata-rata pula penjualnya adalah gadis-gadis belia yang tergolong muda. Tentu hal itu cukup mengkagetkanku. 

“Sudah seperti pegawai di bank saja/teller bank. Dengan rapi, make up, dan enak dipandang serta ramah sekali”. 

Sudah menjadi ciri khas para penjual Es Sari Tebu ini. bercumbu dengan debu, asap kenalpot, angin jalanan, dan cuaca tak menentu. Semakin menambah kuat mental mereka dengan memperkebal kesiapan diri yang semakin terlatih setiap hari, untuk menghadapi sesuatu yang tak terduga.

Waktu itu kami naik motor, untuk pulang menuju Jombang sehabis dari Madura. Setelah sampai dan melewati tol mojokerto. Banyak sekali penjual Es Sari Tebu dikiri jalan. Ramai sekali. Membuat macet. Tapi anehnya, hery temanku, iya ketawa-ketawa dan tersenyum sendiri saat kulihat dari kaca spion. Malah senang dengan macet ini. padahal biasanya dia tak suka dengan kemacetan.

Kutanyalah dia “woy,,,ojo nguya-nguyu, nguwasi opo, Er.”

Teriak hery. “Tombo ngantuk. Yan”

Jawabku “endi,,,Er.”

lanjut Hery. “Wes menor, semok, klambine ketat, bibiran, rambute apik, pokok’e asli iki mbak-mbak Es Sari Tebu seng idola ne soper-soper.”

“Sssst,,,,ojo ngunu, ngunu iku wes nduwe bojo lan anak’e, Er.” tambahku sambil memotong kata-kata temanku itu.

“Iyo-iyo, guyon, Yan”.

Dengan hal itu di perjalanan pulang kami yang tinggal 30 menit sampai di kota Jombang. Seluruh perjalanan kami dihiasi dengan canda mesum mengenai gadis-gadis yang tadi. Dengan banyak sekali obrolan kami diatas motor. Namun bagiku itu adalah sebuah isyarat. Mengenai sebuah bentuk betapa kayanya negeri ini dengan kejutan-kejutan sederhana. Contohnya, pekerjaan penjual Es Sari Tebu yang harus dandan rapi dan cantik demi totalitas dalam bekerja dan suapaya menarik pelanggan.

Sekelas penjual Es Sari Tebu saja, di indonesia harus seperti super model di amerika. Lantas bagaimana sekertaris-sekertaris perusahaan besar di indonesia. Pastilah dandannannya lebih dari super model di amerika. Berarti selera manusia di indonesia lebih tinggi dan tuntutan untuk berpenampilan di negeri kaya tapi tak tahu kalau dia kaya ini. memang cukup ketat dan sikut-sikutan. Jadi kalau urusan berpenampilan jangan minder dengan Korea, China, Jepang, Amerika, dan negara-negara lainnya. Karena di indoensia ini, selera masyarakatnya begitu tinggi. Sekelas penjual Es Sari Tebu saja harus berpenampilan seperti super model di negara-negara di dunia. Apalagi tingkatan atau status sosialnya lebih tinggi. Pasti tuntutanya lebih tinggi.

“Tapi apakah hal seperti itu layak untuk di sebut sebagai kebangga’an?.”

Tentu, kalau mau kita tertipu dengan masyarakat indonesia yang ternyata cukup sulit untuk dimengerti oleh masyarakat di negara lain. Dimana semua di indonesia bakalan sulit untuk dinalar dan di teliti. Bagaimana manusianya?, bagaimana cara hidup?, dan menghadapi sebuah permasalahn yang global bakalan dihadapi dengan cara-cara yang aneh dan tak masuk akal.

Friday, March 21, 2014

Pemakluman

Kini tetap saja masih banyak waktu yang terbuang sia-sia. Tapi kini tak sia-sia pula aku membuang waktu. dengan wajah yang tetap serupa tajamnya, dalam mengikuti perkuliahan sore ini. menyimpan dendam-dendam yang sulit dimengerti oleh semua orang di kelas ini. mengenai bagaimana bisa pemakluman yang harus selalu kami amini/lakukan saat dosen selalu menlanggar kontrak kuliah yang seharusnya ia taati. Tetapi bagaimana piciknya dosen-dosen tersebut. Dengan kedok kesibukan, banyak kegiatan yang justru membuat mahasiswa menjadi di rugikan. Seperti bagaimana bisa dosen tersebut lebih mengutamakan melakukan pertemuan dengan petinggi-petinggi kampus lainya dari pada tepat waktu dalam menjalankan tugas mengajarnya, ya,,,mengajar mahasiswanya. Bukan malah mementingkan pertemuan, mendahulukan kepentingan pribadi, atau mengurusi apa yang lebih menguntungkan dosen itu, untuk kehidupanya sendiri dari pada melakukan kewajibanya mengajar mahasiswa. Dimana amanah yang mulia dan kebaikan-kebaikan lahiriah akan tercipta dari didikan-didikan yang benar-benar tulus dan baik. Kalau faktanya, proses pendidikan institusi tinggi ternyata lebih banyak membuang waktu.

Persepsi yang keliru tentang tenaga pendidik di lingkungan institusi perguruan tinggi yang berfikiran “mendahulukan bertemu dengan atasan atau mejalankan tugasnya untuk mendidik mahasiswa” itu lebih penting mana. Ya tentu lebih penting mendahulukan mengajar mahasiswanya. Tapi tidak begitu kata dosen, Demi mencocokan jadwal untuk bertemu dengan atasan yang cukup sulit untuk ditemui, itu lebih penting, soalnya tak setiap hari bisa bertemu, ujar salah satu pendidik atau dosenku ini. Dan hal itu membuat ia menjadi sering telat mengajarku dan hal itu merugikan waktuku untuk kuliah. Maka bukanlah apakah ukuranya, penting tidak penting, atau untung tidak untung. Tetapi dosen ini telah melupakan nilai luhur dari pendidikan. Medahulukan tuntutan kerja yang seharusnya bukan yang utama. Karena yang utama dalam pendidikan adalah, bagaimana kita mendidik atau dididik dengan baik dan tentu bermanfaat bagi kedua pihak. Bukan malah melakukan pembelokan makna yang selalu berujung pada pemakluman semata. Hingga menjadi salah kaprah.

Saat banyak dosen yang telat dalam mengajar perkuliahan, maka hanya pemakluman yang selalu diamini oleh teman-teman mahasiswa. Jika dosen menyebutkan alasan kalau dia melanggar kontrak kuliah maka yang diminta dari dosen hanyalah pengertiannya. Bukan malah mengakui kalau di telah melakukan tindakan yang merugikan-aku dan semua mahasiswa untuk mendapatkan ilmu dengan baik. Bukanya memaklumi dan mendengarkan alasan dosen yang selalu membuat aku untuk selalu memaklumi dan memaafkan kesalahan yang dilakukan dosen tersebut.

Setelah jenuh hampir satu jam lebih menunggu kedatangan dosen tersebut.

Tiba-tiba, telfon teman ku berdering

“Hallo”

“iya ini siapa”

“Ini bu dinara,,,her”

“iya bu, ada apa”

“anak-anak yang lain masih nunggu ta,,,,her”

“iya bu, ibu masuk kuliah apa tidak, ini hampir satu jam lebih ibu belum datang”

“ibu masih di perjalanan, tolong ditunggu sebentar”

“iya bu”

Tiba-tiba beberapa teman-temanku nyelonong keluar kelas, karena sudah jenuh menunggu dosen yang datangnya lama. Tapi tiba-tiba saat keluar, ada yang melihat dosen tersebut datang dan berjalan dengan pelan sambil membawa tas besar. Langsung kembalilah teman-temanku yang baru saja nyelonong keluar kelas tersebut dan duduk manis di kursi belakang sambil menggerutu.

“maaf, temen-temen saya terlambat”, “mohon dimaklumi”

“iya bu”

“kan tadi bertemu dengan rektor, dan ibu harus menyesuaikan jadwal. Soalnya jadwalnya rektorkan sibuk jadi ibu yang harus menyesuaikan jadwal. Tapi kadang juga ibu dan pak rektor saling mencari jadwal yang pas. Tetapi hal itu selalu terbentur dengan perkuliahan. Jadi biasanya ya harus mengorbankan jam kuliah, demi bisa bertemu pak rektor. Biasa ada urusan karena persiapan kelulusan dan lain-lain.”

“iya bu”

“apalagi kalau bertemu dengan pak dekan lainnya, atau bahkan pembantu rektor lain. Bisa-bisa saya liburkan saja jam kuliah. Karena ada kepentingan yang cukup penting atau pembicaraan-pembicaraan yang cukup panjang. Maka biasanya saya putuskan untuk mengkosongkan jam kuliah, tapi kalau mahasiswanya mau nunggu lama ya gpp, saya akan tetap ngajar. Yang butuhkan kalian, bukan saya.”

“iya bu”

Saat dosen tersebut menjelaskan mengenai kenapa ia telat lama sekali. Hampir satu jam, padahal hal itu jelas melanggar kontrak kuliah. Dimana berbunyi. Jika dosen telat 30 menit, maka tinggal saja. Tetapi kan kita malah rugi besar disisi lain karena kesewenang-wenagan dosen aku malah tak mendapat ilmu yang seharusnya aku pelajari di perkuliahan ini.

Namun apa yang terjadi. Dosen tersebut menjelaskan kenapa ia terlambat. Ia terlambat dikarenakan mendahulukan pertemuan dengan rektor yang di jelaskan dalam argumen pembelaannya bahwa ia sedang ada urusan dengan rektor dan pihak-pihak lainya.

Dengan sejenak aku melihat jendela kelas yang cukup aneh itu, sambil membayangkan bahwa bagaimana ini, dengan semakin banyak yang tidak mengetahui bahwa mahasiswa hanya akan dirugikan. Perkuliahan tak akan membuat output yang maksimal, apalagi sesuai harapan kalau kebiasaan-kebiasaan salah kaprah tetap di lestarikan.

“kalian yang butuh saya, bukan saya yang butuh kalian”

Itulah kata yang cukup ku ingat. Memang kita harus baik, kita harus berusaha dalam belajar, sekarang belajar saja tidak cukup. Kita harus mencari guru yang bisa menjadi panutan yang baik. Jika dosen hanya mendidik dengan niatan menjalankan kewajibanya sebagai dosen. Maka dimana letak ketulusan dan keiklasan, jika dosen tersebut mengatakan kalimat diatas. Dan hanya datang mengajar, memberitugas, bicara kesana-kesini, mengurus urusan administrasi. Namun bahkan ada yang terlalu cuek untuk mengerti permasalahan mahasiswanya dalam belajar. Kurang perhatian. Hanya dengan kalimat diatas itu. dosen bisa beralasan apapun untuk tidak terlalu ribet dan membuat dosen tersebut susah dalam mengajar.

Dimana letak ketulusan dalam mengajarkan mata kuliah demi terciptanya harapan-harapan utopis diranah pendidikan sekarang yang latar belakangnya, dari dulu banyak sekali pembohongan, pembodohan, pembelokan sejarah, matinya keluhuran yang nyata dan semua hanya akan menjadi mimpi-mimpi disiang bolong. Namun sebenarnya semuanya saling terkait dan tak lepas dari fungsinya. Namun hanya kebaikan yang benar-benar baik, ketulusan yang benar-benar tulus, kejujuran yang benar-benar jujur yang bakalan menjadi jalan dan membantu semuanya menjadi lebih baik dari sebelumnya dan setelah lebih baik dari sebelumnya. Akan menjadi seperti apa?. itu saja.