Wednesday, April 30, 2014

Indrakarma

Sehari menjadi kiai, adalah pengalaman tak terduka. Ditengah banyak bisikan untuk jadi raja. Malah yang nyabet raga adalah setan kiai yang nampak kurus dan berjenggot putih. Rambutnya yang lebat terkepang kebelakang, memesankan kopi dan menyuguhkan rokok sambil menumpakan tetesan es milo yang habis dan tinggal sisa. Di gang itu semua melebur menjadi satu. Tapi bukan dua menjadi satu. Namun satu-satu yang menjadi satu kenyamanan pemesona. Terlena, terasa, terlupa, tertindih, terlindas dan ter,,,puter otaknya. Darimulai pagi bicara diri dan problema sulit yang menerpa, siang yang tetap kekeh menunjukan kepribadian dengan rancu, sore yang habis karena malas dan bicara mimpi, dan malam yang melebur sampai perut buncit dan tertidur-tidur saat menemui kejanggalan hati, kedengkian iri, kebolehan tak berarti, kepintaran yang menasehati, ucapan hati beda dengan laku diri, hingga peran sakti antara hati dan nurani. Siapa yang benar sendiri?. Dan siapa yang akan mati nanti?.

Sudah tau kalau malam akan meninggalkan semua yang mengharapkannya. Subuh akan menang dan menindas siapa saja yang melawan. Jika waktunya tiba, maka yang tak menyerah akan kalah juga. Namun sebelum subuh melindas mereka yang tak menyerah, ada pihak yang terlupa. Yaitu si pemberang, tukang paling di benci diwaktu malam. Tak pernah mengerti kalau malam tak selalu bisa melawan subuh. Sedangkan si pemberang akan tetap memerlukan moment-moment seperempat malam, untuk menemukan siapa sebenarnya dirinya. Si pemberang selalu marah saat seperempat malamnya direbut subuh yang egois menyabet jatah pencarianya. Sempat ada maklumat si pemberang yang gagah menghujat subuh.

“siapa kau ini, wahai subuh. Tak bermurah hatikah engkau memberi sedikit ruang yang cukup untuk menyelsaikan pencarianku ini. Aku ini sudah hampir gila, tapi masih saja kau ini takmau tau kapan harusnya kompromi-kompromi itu dilaksanakan.”

Sembah batu, sembah ragu. Yang dilakukan si pemberang selalu tak jauh berbeda dengan kekecewaan atas waktu yang terbuang dan ketidak berdayaanya untuk memanfaatkan seperempat malam sebelum disahut oleh subuh. Kuharap malam bisa lebih berani dari kedikdayaan subuh saat menampakkannya. Apalagi subuh itu sudah tak tau batas kekuasaan dan keberanian. Mencari-cari yang tak harusnya dicari. Sehingga yang lainya takbisa mencari yang seharusnya mereka cari. Beranikan diri untuk mencari, bukan beranikan diri untuk menutup diri demi mendekatnya permasalahan-permasalahan yang menyita ruang pikir. Sehingga si pemberang dimalam itu di tampaki oleh om kiai dan pakdhe bahula. Namun alangkah beruntungnya si pemberang saat duduk dan merenungkan masalahnya. Tiba-tiba om kiai dan pakdhe bahula mampir duduk bersamanya.

Sebelum itu, om kiai dan pakdhe bahula sempat berkunjung di pesta perkawinan tumenggung bondocongor dengan endar swastika. Meriahnya pesta perkawinan yang diadakan oleh tumenggung bondocongor dan endar swastika di hotel prasongko desa tunggaljiwo sungguh meriah. Pesta begitu meriah, sehingga om kiai dan pakdhe bahula lupa, malam ini telah menghabiskan whisky dan jack daniels berbotol-botol. Sambil di temani dayang-dayang striptis yang telah disuguhkan khusus dari tumenggung bondocongor untuk menyambut kedatangan sahabat karibnya. Sahabat karib yang bertemu dan sedikit bernostalgia mengingat-ingat masa-masa mereka saat melakukan demo bersama di depan gedung dan pendopo pemerintahan desa tunggaljiwo saat diperintah raja kondorekso. Dimana semua amatlah diatur, sampai kencing, berak, bersiul, tidur, makan, minum, pacaran, bercinta, bicara, bertingkah, dan bersembahyang. Namun itu dulu, tapi ya tidak dulu-dulu amat.

Terlenalah, om kiai dan pakdhe bahula. Sampai-sampai mereka pulang dengan sempoyongan sambil menyanyikan lagu-lagu iwan fals edisi jadul. Bukan karena mereka menggaguminya tapi karena mereka tak sengaja memutar playlist lagu di smartphone mereka sambil mendengarkan lewat headset, yang ternyata itu lagunya iwan fals. Berjalan dan bernyanyi, hingga sampailah pada gang yang disebelah kanan dekat gapuranya ada sebuah warung sepi. Warung yang disitu ada seorang yang terkenal bernama si pemberang atau biasanya dipanggil tumenggung bondocongor dengan sebutan kemendel atau orang yang sok berani, padahal tidak berani-berani amat. Karena melihatnya seperti pertapa kesepian yang merana memikirkan sesuatu, maka mampirlah om kiai dan pakdhe bahula untuk sekedar menghabiskan malam. Dan sungguh tak taunya mereka bahwa si pemberang sedang sumpek memikirkan pencarianya dan kemarahanya atas kefeodalan subuh.

Setelah meletakan badan dan menempelkan pantat mereka berdua om kiai dan pakdhe bahula langsung menatap si pemberang dengan kebinggungan dan sedikit tertawa. Entah kenapa mereka berdua tertawa, apakah pengaruh minuman beralkohol yang tadi di minum, atau karena melihat orang yang biasanya nampak jagoan dan perkasa di desa tunggaljiwo ini kelihatan binggung dan bimbang.

“sungguh beda, wes sudah jangan murung begitutoh rang,,,”

“astajim, siapa anda-anda ini, beraninya mengkagetkan dan mengganggu renungan saya”

Pakdhe bahulapun menyahut dan disusul oleh om kiai yang sudah ngiler dan sempoyongan duduknya.

“renungan-renungan gundulmu, lawong kamu loh mainan BBM gitu. Iya, dasar temungkak kamu itu rang-rang”

Tertawa sambil memukul pundak om kiai, begitu pakdhe bahula yang mukanya sudah sedikit tak tertata ini menjadi cemberut. Padahal tadi diakan tertawa sinis. Malah yang tertawa lebar adalah si pemberang. Om kiai yang tiba-tiba sadar setelah di dipukul pundaknya oleh si pemberang, malah om kiai sekarang geblak dan tertidur pulas secara mendadak. Semua terkaget dan kebingunggan. Logika apa ini, realita model apa. habis ketawa, dipukul kok langsung tidur.

Si pemberang pun kaget, “loh pakdhe, ini kenapa?”

Pakdhe bahula menyahut sambil memegang kepala om kiai, “ndak papa, ndak panas kok. Malah yang panas ini tanganku,,,hahahhahahhahhah”

“padhe ini lak bercanda terus, sudahlah. Tadi tertawa tiba-tiba cemberut, sekarang malah tertawa, bercada pula.”

“sudah lah biarkan om kiai ini tidur, dia tadi lelah. Gara-gara salah pilih obat kuat waktu mendatangi pesta perkawinan tumenggung bondocongor, pak lekmu itu”

Dibiarkanya om kiai tertidur, dan tinggal pakdhe bahula dan si pemberang. Kini mereka menjadi serius merasakan malam, ditengah ketenangan itu, sipemberang mengawali pembicaraan. Ia menanyakan sebuah pergulatan batinnya dan rasa ketidakterimaanya kepada subuh yang mentang-mentang atas kekuasaanya. Sehingga merebut waktu seperempat malamnya si pemberang untuk melakukan sebuah pencarian. Si pemberang stress dan curhat kepada pakdhe bahula.

“pakdhe, saya harus bagaimana. Ini sudah mentok pikiran saya mengenai subuh dan mokongnya.saya cuma mau mencari siapa sebenarnya diri saya. Tapi gara-gara subuh. Seperempat malam menjadi hilang dan sulit kutemui”

“kenapa rang, kenapa mau mencari siapa sebenarnya dirimu itu?”

“untuk melengkapi ajirogo-sukmoingsun. Dan untuk meleburkan diri”

“terus setelah kamu mendapatkan hal itu, kamu akan apakan?”

“ya, rencananya akan saya akan mendirikan padepokan guna dedengkulan, yang mengumpulkan anak-anak desa tunggaljiwo untuk dilatih ilmu kanuragan dan ilmu kebatin yang diwajibkan sebagai bekal hidup lan lestari. Sebagaimana menjadi bermanfaat bagi yang lainya dan menjadi sebuah media baru dalam anugerah ning gusti. Pakdhe”

“kamu tau bahwa subuh sekarang sudah berkuasa penuh atas malam, tindasannya sudah sampai pada surup-surup, sehingga berani memakan seperempat malam yang kau cari sekarang”

“benarkah pakdhe, sebegitu kuasanya subuh hingga menindas surup-surup yang mahasilau itu”

“benar rang, apalagi malam yang masih butuh waktulama menuju pendewasaanya. Sehingga subuh malah gampang melindasnya”

“lantas apa yang  bisa dilakukan, tentunya aku ingin niat baik ini secepatnya terlaksana pakdhe bahula. Ini menyangkut nasib anak-anak tunggaljiwo untuk lebih merasakan sebuah peradaban yang benar-benar peradaban, bukan peradapan plastik atau peradaban imitasi. Kepekaan akan kesenjangan dan ketertinggalan massal sungguh merisaukan saya pakdhe. Bagaimana melihat anak-anak semakin mendengki, mendendam, melongo, merongos, melarat pikir, meralat imajinasi, dipingit sambil telanjang, dipukul dengan rotan oleh bapak-ibuknya, ditipu mainan-mainan impor, dijejali gadjet-gadjet impor, dan disuguhi televisi yang semakin hari semakin tak tau diri”

“iya pakdhe mengerti rang, tapi jangan gegabah dong. Semua itu ada waktunya dan harus kuat sabarnya. Istiqomah adalah jalan, usaha adalah perang, entah apa yang harus kau lakukan untuk secepatnya melenyapkan subuh dan menemukan seperempat malammu itu, tapi ingatlah hakikatnya....”

“apa hakikatnya pakdhe?”

“hakikatnya adalah,,,dengar baik-baik rang. Pagi, malam, siang, sore, surup-surup, padang-padang, mentor-mentor, ataupun pagi ndak pagi, sore ndak sore, malam ndak malam dan subuh ndak subuh. Adalah sebuah keterikatan. Keterikatan atas sebuah regulasi, sirkulasi, pabrik jumbo, yang saling tindih-menindi, saling bunuh-membunuh, saling hidup menghidup, saling dendam mendendam, saling dengki, mendengki. Dimana akan menjadi sebuah dinamika sebuah tatanan alam yang memanusia. Sehingga menimbulkan sebuah ketergantungan bagi yang ada didekatnya, ketertantangan hasrat untuk merasakan hal yang sama, keselarasan yang padu dan jauh dari kemungkaran tak berbentuk.”

“Saya tidak begitu nyantol pakdhe bahula”

“memang sulit untuk memahami apapun yang sebenarnya tak kita hayati. Mendengarkan karena hal lain, bukan karena ingin mendengarkan, tetapi ingin, tau, ingin bisa, ingin cepat, ingin baik, ingin praktis, dan ingin-ingin yang membelakangi rasa ingin mendengar.”

“Malah njelimet sekali pakdhe, ada yang sedikit lebih enak atau yang paket simple gitu pakdhe. Supaya omongan-omongan pakdhe bisa tak makan tapi ndak nyangkut di tenggorokan.”

“pakdhe akan jelaskan lebih simplenya mengenai hakikat....”

“iya pakdhe,,,!!!”

“begini loh rang seharusnya itu. kalau kamu ingin jelas mengenai ilmu hakikat, kamu harus belajar dan bersabar dalam mengenal, menyayangi, berkorban, dan untuk menuju ilmu hakikat. Itu yang namanya hakikat. Yang akhirnya kamu akan mengerti ”

“ya mesti toh pakhe”

“bener toh begitu. Hahahahahaha”

Sambil tertawah mulutnya komat-kamet, pakdhe bahula segera memukul punggungnya om kiai dan si pemberang dengan tanganya, ia ketawa tak jelas, mengapa?, apanya yang lucu?. Padahal tadikan seriusnya tak karuan, bagaimana pakdhe bahula mencoba menerangkan mengenai hakikat kepada si pemberang yang sempak menyimaknya dengan harapan bahwa ia akan menemukan sebuah cara dalam mengatasi pencariannya yang terhalangi oleh subuh.

“kok ketawa toh pakdhe bahula ini ndak asik. Serius-serius malah tertawa.”

“badan pakdhe bahula yang nglempruk sempoyongan sambil duduk di depan si pemberang dan disamping om kiai. Langsung tergeletak sambil ketawa yang keras pelan-pelan semakin pelan tak terdengar, lalu tidurlah pakdhe bahula beserta om kiai yang sama-sama mabuk dan menuntas kan sebuah pengembaraanya menuju kesadarannya. Sedangkan si pemberang kebinggungan karena tak bisa menantang subuh dan mencapai tujuannya untuk menemukan seperempat malamnya. Sehingga semua menjadi aneh, tak selesai, berjalan terus menerus, tampa bentuk, tampa kantuk dan tetap tak selesai.

Bagaimana si pemberang yang tak padam amarahnya, tak padam penasarannya, tak padam merah matanya, tak padam keingin menangannya, tak padam apa-apa yang seharusnya bisa padam dengan sendirinya, bagaimana menumbuhkan sebuah kenyataan bahwa keseharusan memang sulit dan tak berpihak dengan diri walaupun mencari cara sampai tak puas hati.

Wednesday, April 23, 2014

Mahabakso “Temungkak” & Cemburu “Buto”

Masih melotot, sambil berbicara tetapi salah ucap semua. Namun tetap nyolot. 
Ini pemuda masih binggung, untuk menunjukan jalan yang benar terhadap darahnya sendiri. Ia membimbing darahnya naik kemata sampai matanya melotot saat penasaran dan tak diperdulikan. Otot-otot leher yang tarik-menarik karena tak sanggup menahan beban darah yang dibimbing dan memenuhi bagian atas kepala, sehingga kepalanya menjadi berat dan otot-otot leher harus tarik menarik untuk menyokong beban kepalanya yang berat karena semua darah mengalir kepadanya. kram rasanya. Melihatnya saja jadi ingin tertawa. Uwong kantepen sira. Baru bisa ngomong sedikit saja, sudah suka ngomong. Lihat, malah membuat ludah dan liurnya tidak betah berada terus-terusan di dalam mulut goanya. Sehingga kalau ada kesempatan mulutnya terbuka, maka secepat kilat ludah bercampur liur melesat jauh menuju apapun yang ada didekatnya.

Diwaktu lenggang, tempat santai selalu disibukkan dengan pelampiasan-pelampiasan beberapa pelajar yang tersesat. Tersesat disebuah penjara pikir, penjara ruh, penjara nurani, dan penjara expresi. Iya benar sekali, perkuliahan atau pendidikan tinggi yang benar-benar tinggi. Sampai-sampai tak sembarang orang bisa memanjat dan sampai di lantai paling atas. Namun kasih yang memaksa untuk masuk di pendidikan tinggi ini, memohon-mohon dan tak sadar diri kalau sesungguhnya meminta itu, menjadi haram jikalau kita masih mampu. Namun calon pelajar selalu mengerjar, menghajar, menikam, meminta, memelas, menerkam, dan menjerumuskan agar para orang tua mau untuk memanggul, membopong, mengendong, menyokong agar anaknya bisa naik dan mendapatkan keinginannya. Namun masih saja tak menghargai. Tetap meminta dikalah akil-baligh sudah cukup bisa beradaptasi dengan seluruh nilai dalam diri. Pengertian itu ya mbok harus dikembangkan. Jangan cuma ingin pengertian yang ingin balasan, pamrih atau biar sama-sama impas hutangnya gitu.

Sama halnya dengan seorang pesolek, pemuna-fik, penjilat, yang sudah memenuhi tempat ini. dimana makanan, minuman, rokok, dan bau kertas bersama tinta print yang semerbak menghiasi lalu lalang kesibukan bangku pendidikan tinggi di dataran pesisir ini. Dengan panas yang dibuat khusus untuk mencairkan hati para masyarakatnya, hujan yang disetting lebih besar untuk mendinginkan pikiran-pikiran yang mudah panas, sampai petir yang disiapkan khusus untuk memperingatkan para masyarakatnya agar tetap patuh pada budaya dan adat istiadatnya. Madura, pulau penyuplai manusia terbesar di indonesia setelah jawa. Masyarakatnya dikirim keberbagai belahan tanah nusantara yang unik-unik. Sehingga tak heran jika dimana-mana banyak Madura. Entah ituh preman, korak, germo, tukang parkir, penjual sate, penjual bebek, produsen batik, pencuri, pengusaha besi tua, pencopet, penjagal, pemilik tanah, juraga sapi, bos mafia sabu-sabu, residivis, kordes, PSK, koruptor, atau pengusaha rosok’an. Begitu mengertinya kalau kita semua, kita semua manusia indonesia sedang ingin dan membutuhkan tenaga, cara dan apapun didalam diri seorang Madura. Dimana ngeyel, mengeluh, kerjakerasnya, persaudaraanya, fanatismenya, kepercayaanya, kekuatanya, sikap pantang malunya, keunikan cara komunikasinya, keahlian mengakali apapun kehendak tuhan, suka menggoda tuhan, suka pura-pura nolak rezeki supaya dibilang baik dan supaya siapa tau rezekinya akan ditambah lagi sama tuhan. Namun begitulah jika Madura merupakan masyarakat yang paling sadar akan desentralisasi atau pemerataan manusia-manusia yang benar-benar dibutuhkan dimana saja. Namun akibat menyebarnya dan disebarnya masyarakat Madura maka semua yang kacau makin kacau, tapi kadang jadi aman, kadang juga jadi amin. Suara perang atau pertempuran bahkan menyerupai suara peluru dan teriakan-teriakan prajurit perang yang selalu disia-siakan.

Keunikan akan diutamakan jika keunikan yang sebelumnya sudah dianggap biasa. Gelas dahulu cuma begitu saja sudah bagus dan unik. Soalnya gelas tidak diproduksi masal, gelas cuma begini saja bentuknya, dan gelas selalu ada ruang kosongnya. Tetapi sekarang gelas yang seperti itu, sederhana, polosan, simple dan mudah dan tidak membuat orang bertanya atau kebinggungan “apa itu gelas?”. Gelas. Dimana gelas adalah wadah air, air adalah minuman manusia, dan air adalah element penting dalam sebuah kehidupan. Dan hal itu membuat sebuah silogisme bahwa gelas itu penting bagi kehidupan. Berdebat dengan cara yang tidak menarik, berada ditempat yang tak strategis. Ingin selalu diperhatikan orang dan belajar menjadi pribadi yang mengispirasi sampai-sampai selalu diperhatikan hingga diperhitungkan eksistensimu.

Ini kenapa, semua yang ada disekeliling bangku makan di tempat santai pendidikan tinggi pesisir ini, semua pada ingin pancing-pancingan mengenai kemampuan bercakap-cakap, ingin menunjukan kalau, ini loh punyaku lebih baik, ini aku lebih bisa, ini aku sudah mengetahuan dan mengeuasai hal ini. bagaimana menaruh sebuah kepercayaan agar apa yang sebenarnya kita maksudkan tidak diselewengkan dengan rapi dan harus diawali dengan bissmilah atau semacam doa apapun untuk mengingat-ingat bagaimana kita dilahirkan dan bagaimana bersyukur setelah itu. jangan menunggu apapun untuk melakukan apapun jika hendak menjadikan apa yang kamu miliki menjadi manfaat dan barokah. Tetapi kesungguhan dan keinginpameran atau cara untuk mendapatkan keuntungan informasi dengan menelaah dan memancing agar apapun bisa keluar dan dijadikan sebuah preferensi untuk melebihi lawan-lawanya.

Duduk dengan gaya seorang diplomatis berkain putih dan memakai sepatu aladin. Semua itu berawal ketika sepi dan kutinggal konsentrasi kepada kertas ajaib yang bisa membuatku berimajinasi dan melihat dunia, hanya dengan memandangnya berlembar-lembar sampai-sampai celetukan yang begitu mencari perhatian mengesalkanku. Membanggakan dirinya secara tidak langsung dengan arah senada amarah dan melakukanya dengan sebuah perantara supaya tak terlalu kentara, kalau sedang membanggakan dirinya sendiri. Seperti teguran atau penegasan bahwa hanya dia, hanya dia, hanya dia dan dia saja yang telah melakukan sebuah hal yang seharusnya dilakukan dilingkungan pendidikan tinggi yang kisah nya seperti kacang polong ajaib penghubung antara kerajaan langit dan bumi.

Kalau dari luar dan sedang mengeluh sambil menghibur diri. Terlihat sekumpulan manusia yang mempercayakan diri kepada pendidikan tinggi tetapi manusia ini berasal dari jauh, barat sana. Mereka kadang suka galau dan tak menentu perasaanya. Seperti setiap hari harus menghibur diri tampa menyibukan diri dan berusahan untuk menilai, mengunjing, mencemooh, mengkritisi, membujuk, menipu diri, mencari seribu penegasan, menata keuntungan pribadi, melangkahkan sekurelitas pikiran dan hati, menjelma diri lain, mencari eksistensi yang mati, mengumbar telaah pribadi, memastikan semua hal-hal yang tidak pasti akan, dimana, dan seperti apa jadinya. Semua sibuk dengan menghibur diri. Jauh dari tempat asal membuat mereka seperti mahluk selain mahluk yang tak percaya bahwa mereka disini dan akan bernasib seperti yang sudah dan akan selalu seperti ini. pikiranya jauh dari keseriusan yang absah, dimana semua adalah relatif bahkan ilmu pasti tak pernah dipakai oleh mereka demi membuat sebuah cara, agar bagaimana mengakali diri mereka untuk nyaman disebuah keadaan yang sesungguhnya tidak membuat mereka nyaman dan tak barang tentu sebuah gagasan untuk menemukan cara agar bisa mengakali diri, menipu hati, merubah kaidah kaidah pasti bahwa sesungguhnya mereka begitu rindu tanah asli mereka, pasif dan akan menunggu sampai kapanpun. Enta akan berakhir atau akan berbeda seperti keseharusan putaran zaman. Jika semua paham mengenai cara untuk lebih nyaman adalah meninggalkan kenyamanan dan membungkam penyia-nyia’an. Karena hal itu akan membuat terlena dan lekas punah. Punah seluruhnya, tiada yang tersisa, hingga seakan ada kesadaran-kesadaran bahwa akan terjadi perubahan.

Perbuahan juga akan terjawab jika teman berubah menjadi tak saling menegur, menyapa, melihat, tertarik, dan curhat sampai mengeluarkan sebuah kegelisahan yang akan dibalas oleh solusi-solusi aktif dan konstruktif. Namun bak sebuah dongeng. Si jahat akan dijauhi dan tak diperdulikan sedangkan si baik akan disayang dan tak dihiraukan. Kejahatan apa yang tak terungkap untuk mendapatkan sebuah kemenangan. Jika wanita hanya untuk memuaskan birahi, maka itu sungguh jujur adanya. Namun harganya tak semurah eceran surya yang semakin naik, krenik-krenik. Ayolah buat sebuah cara yang baik, jika kekalahan harusnya tak menjauhkan atau menghindar, apalagi persaingan. Tak musti harus menjadi musuh. Namun kenyataanya memang begitu. Keras dan tak mungkin diterima akal waras.

Keegoisan, pamrih, eksistensi berlebih, dan butuh pujian. Adalah pelengkap dari ketinggian pendidikan tinggi yang telah melebamkan pungguh orang tua yang tak tau apa-apa. semakin dijual tak terkontrol ini pendidikan. sudah habis, sisa-sisanya dijual pula. Bagiaman ini bisa terjadi dan siapa yang mengamini supaya ini akan selalu terjadi dengan berbagai pembelaan, penegasan, penyakinan, penisbihan, kekompakan, kesolidtan, bebarengan untuk melakukan yang mungkin bisa untuk seharusnya tidak dilakukan. Walaupun akan merugi dan selesai. Bukanya malah enak “sekali berarti, setelah itu baru mati”. Charil anwar saja masih memperbolehkan siapa saja memakai karyanya. Semua pengarang buku masih cuek dan ada yang pasrah oleh tingkah laku dan maraknya pembajakan. Kiai-kiai saja sudah njelimet ngurusi pendidikan santri-santrinya dan akhirnya ingin mauk dalam percaturan pol’itik atau goyang itik yang selalu bergeser karena terkena goyangan dan cukup ada dua, yaitu baik dan tidak. Pilihan yang menguntungkan jika pintar memilih tidak. Namun kebodohan yang saklek jika mengiyakan yang tidak.

Tapi cobalah melirik penjual bakso yang setiap sore masuk kawasan pendidikan tinggi yang seperti dongeng ini. orangnya baik jika dengan pelanggan, suka senyum, tak suka mengeluh. Tapi kepalanya sering ngelu sendiri. Ingat ini masih kawasan tapal kuda, preman tentu jadi rujukan. Tadah sini tadah sana itu seperti sudah biasa. Namun ini bukan biasa jika dikaitkan dengan lingkungan yang ada. Semua harus kenal tempat dan konteks. Bagaimana dan kenapa. Kata sebuah tesis. Namun asalkan semua tau porsinya, maka tak akan terjadi hal-hal yang terlalu didramatisir dan menakuti sampai jadi batu dinurani. Cak man namanya, panggillanya bakso. Cak man penjual bakso dan selalu dipanggil bakso, bukan cak man. Seharunya kita layak dipanggil bakso bukan yang lain. Seperti begini. Pelajar harusnya mau dipanggil bakso karena sesungguhnya pelajar hanya sebuah hakikat yang takterikat. Bakso memiliki sebuah penyatuan yang lebih mengikat. Seperti ia terbuat dari daging yang digiling dan setelah itu dicetak dan dimasukan air panas sampai matang. Lalu disajikan dan dijual oleh cak man. Tetapi walaupun yang menjual adalah cak man. Lantas para pembelinya pasti lebih mengenal baksonya bukan cak man nya. Maka yang dipanggil selalu bakso bukan cak man atau pelajar. Sehingga bukan siapa yang menjual tapi apa yang dijual. So...bakso !!!.

Tuesday, April 22, 2014

Memperingati Hari Bumi

http://www.radarindo.com/wp-content/uploads/2016/04/Gambar-DP-BBM-5-1024x1024.jpgMendengar hari bu’mi dikumandangkan dan dituliskan di hampir semua sosial media, baik oleh, kelompok sosial lingkungan, aktivis lingkungan, komunitas pecinta alam, lembaga sosial peduli lingkungan, individu-individu pemerhati hati lingkungan, praktisi, menteri lingkungan, dan sampai-sampai banyak jargon, idiom, ajakan, kritikan, yang merujuk pada sindirin selalu menghiasi 22 April ini. di hari bu’mi ini, sehari ini. Seolah semua kalangan menjadi punya hak dan kewajiban untuk melindungi bu’mi, dan mengajak lainya untuk menjaga, merawat , dan melestarikan bu’mi. Tapi beda dengan kemarin malam sebelum memasuki tanggal 22 April. Apalagi aku tak menemukan antusiasme yang sama pada 23 April kali ini. sudah seperti pasar malam, semalaman saja kelihatan banyak pengunjung yang gembira. Namun besoknya semua memasang wajah kusut saat kembali bekerja sambil menjalankan aktifitas mereka.

Bu’mi sedang ngam’mbek, sudah jangan membahasanya terus-terusan, nanti ndak bisa move’on malahan. !

Hari bu’mi sudah membuat banyak manusia belajar menjadi bermuka dua, munafik semua. Tak bisa mengerti perasaan mahkluk lain-Nya. Sebagai manusia dan sebagai bu’mi yang sama-sama memiliki 1 tuan. Yang seharusnya saling menjaga antar mahkluk, bukan malah saling menjegal. Manusia tidak bisa menahan kemarahanya, karena bumi sudah menyetop aliran kesejukan-alamiah, kerindangan-pohonya, kesuburan-tanahnya, kesegaran-airnya, kesejukkan-udaranya, keindahan-pemandanganya, dan persahabatan cinta kasihnya yang cuma musiman saja. Manusia pun kaget bukan main, dan bertanya-tanya. Karena bu’mi ngam’mbek berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, beraba-abad dan tetap mengunci pintu kamarnya sampai saat ini.

“wahai bu’mi, kenapa engkau menyetop semua fasilitas yang harus kau berikan pada kami, kami, manusia sedang kalang kabut, pikiran kami tercecer untuk mencari tau apa penyebab engkau ngam’mbek. Kami sudah tak habis pikir lagi wahai bu’mi. Kami sudah datang ke dukun-dukun, penasehat, tabib, dokter kandungan, praktisi kesehatan, kiai-kiai sepuh, panglima, intelegent, tukang jual jamu, mbah-mbah kamituo, dan beberapa anak ajaib. Tapi masih belum tau mengapa engkau ngam’mbek wahai bumi tersayang. Ya jangan lama-lama dong ngam’mbeknya. Ini soalnya fasilitasmu begitu penting bagi kami.”

Bu’mi menjadi merah. Banyak baju-bajunya yang berlubang dan membuat bu’mi gerah, kepanasan, dan mau pingsan. Karena bajunya yang dulu bisa melindungi dari terik mata’hari, sekarang malah membuat bu’mi kepanasan dan memilih tidur dan mengunci kamarnya. Sebab semakin hari semakin hitam kulit bu’mi.

Bu’mi sebenarnya masih malu untuk keluar kamar dan menyalakan kembali fasilitas-fasilitasnya. Malunya karena sudah pernah di injak-injak manusia. Sudah di injak-injak tapi selalu minta air sambil menusuk-nusuk punggung bu’mi, dan mengambil barang berharga yang berada disaku-saku celana bu’mi, sampai-sampai bu’mi baru sadar kalau ternyata saku-sakunya telah dilubangi dan di keruk habis-habisan. Hingga seluruh barang berharganya habis dan entah dijakan apa.

“He manusia-manusia. Sama-sama mahkluk-Nya, ya jangan semaumu sendiri. Ngertiin dong perasaanku ini. sudah di injak-injak, diambil semua barang berhargaku. Dibunuh semua permaisuri pepohonanku, dicemari pula dayang-dayang airku, di kontaminasi lagi prajurit-prajurit udaraku. Sadar dong. Ini sudah tidak berakal. Servisan mana yang bisa memperbaiki ilham akal budimu. Indra-indra yang dipinjami oleh-Nya. Apa sudah tak kau pergunakan dengan baik dan sesuai porsinya. Mentang-mentang lebih banyak dan lebih mulia. Apakah itu berarti boleh menindas mahkluk seperti bu’mi ini. terus setelah menindas dan bu’mi ini benar-benar ngam’mbek, malah marah-marah pada bu’mi. Ingat dong bu’mi inikan sudah kalian perkosa berkali-kali, kalian setubuhi beramai-ramai, diludahi sampai kamipun menelan ludah kalian, kalian tembaki dengan penyepelehan-penyepelehan, kalian tak memperhatikan nasib kami, kalian telantarkan sampai kami ditangkap satpol PP dan dikira pelacur, kalian ambil anak-anak kami sampai kami dikira perawan tua, padahal kalian sudah menyetubuhi kami sampai vagina kami diameternya seperti lubang buayanya PKI. Anus kami sudah mencret-mencret dan mengeluarkan lumpur bercampur gas. La,,, sudah parah begitu kok kalian para manusia-manusia yang diilhami sebagai khalifah bersama kami di bu’mi, malah semaunya sendiri. Menyalahkan lainya selain diri sendiri tapi tak pernah tau siapa yang sebenarnya membuat aku ini ngam’mbek dan tak mau keluar kamar lagi. Apalagi untuk menyalakan fasilitas-fasilitas yang akan membuat kalian tetap nyaman tinggal bersamaku. Ya mbok di nalar dong.”

Manusia pun terhenyak dan diam untuk waktu yang lama. Setelah mendengar jawaban bu’mi yang bicara atau ngomel atau entah apa itu. dengan semburan-semburan ludah sampai komat-kamit jawab tuntutan manusia yang ingin dimanjakan lagi oleh fasilitas yang distop oleh bu’mi yang ngam’mbek.

Akankah kesadaran manusia untuk mengerti ngam’mbeknya bu’mi karena apa dan apa penyebabnya bisa dirasakan dan merubah perlakuan yang ternyata, manusia sebagai mahkluk yang mulia dan juga mahkluk yang meyalahi kodrat dan menjadi mahkluk penyiksa, penghina, mahkluk-mahkluk lain-Nya. Sadar seperti apa yang diharapkan oleh bu’mi kepada manusia-manusianya. Dan apakah manusia masih menuntut bu’mi untuk mengikuti apapun keinginannya tampa sadar kalau bu’mi sudah mencapai limit dan umurnya tidak panjang lagi.

Demi menghormati hari bu’mi 22 April 2014 ini. mari kita berdoa dan benar-benar merubah tingkahlahku kita sebagai manusia yang disebut-sebut sebagai mahkluk paling mulia diantara semua mahkluk lain-Nya. Tidak usah koar-koar bahwa ini hari bumi dimanapun, baik di sosial media, media cetak, media penyiaran, media apapun, atau sekedar mengeluh mengenai hari bu’mi tampa memberikan solusi dan menjalankan apa solusi tersebut. Biar tidak cuma omongan, tulisan dan semua hanya selesai pada 22 April saja. Setelah 22 April selesai bukan berarti kita tak boleh bicara mengenai bu’mi. Bukan begitu dan itu tak berguna. Berdoa, usaha, istiqomah, dan tetap melakukan yang terbaik untuk bu’mi biar bu’mi tidak ngam’mbek lagi.

Monday, April 21, 2014

Bohong Sampai Banyu Kobo'an

“Nak, kalau sama siapa saja, biasakan jangan bohong”

 “Loh buk, berarti biasanya anakmu ini sering bohong dong”

“Model-model sepertimu ini, mana pernah tidak bohong”

“Lah habis aku binggung mau bohong sama siapa lagi, dimana lagi, kapan lagi, bagaimana lagi, dan bohong apa lagi buk”

“Ya kamu kira hidupmu, yang ngatur kamu sendiri apa?”

“Ya yang diatur itu kan kita buk, tapi liat saja buk, apa masih ada orang yang mau diatur-atur”

“Ya banyak toh, contohnya ya ibuk, bapak, sama adek-adekmu ini”

“Loh berarti selain ibuk, bapak, adek-adekku semuanya tidak mau diatur dong. Ya tapi aku kok ndak masuk daftar contoh orang suka diatur”

“Ya pokoknya kamu ndak bohong lagi, ya ibuk masukan dalam contoh itu”

“Iya buk, anakmu ini tidak akan bohong lagi”

“Tidak boleh bohong lagi itu, banyak sub-subnya loh. Sudah ngerti apa belum”

“Endak buk, loh bukanya pokoknya ndak nipu ya ndak bohong toh buk, baik nipu diri sendiri atau nipu orang lainya, bahkan nipu keadaan”

“Ya beda toh, tidak boleh bohong sama gusti allah, kalau semua yang ada di setiap inci hidupmu, hidup mahkluk lainya dan semesta ini milik-Nya. Bukan milik siapa-siapa lagi. Jadi status semua manusia hanya dipinjami, baik apapun itu. jadi jangan se’enaknya sendiri. Atau khilaf-khilaf bohongan, lawong orang ngaku salah saja kadang bohong. Katanya biar masalahnaya ndak lama-lama, makanya kadang ngaku salah, tapi sebenarnya bohong, pintarnya manusia sekarang sudah bisa membohongi kebohongan itu sendiri, sampek-sampek bohong yang sejati itu jadi terkontaminasi”

“Kok susah ya buk, ternyata mau untuk tidak bohong itu susahnya pol-polan, apalagi ingin bohong. Malah disusahkan. Bagaimana mau tidak bohong lagi, la kalau bohong saja kita tidak punya apa-apa untuk dibuat bohong. Kan semuanya kata ibuk cuma dipinjami, apalagi bohongnya dibuat-buat”

“Ya bohong itu seperti banyu kobo’an 1. Sudah tau kotor tapi masih diminum, sudah tau bau masih dicium dan dipastikan, sampai-sampai dijilat dan di teguk sedikit-demi sedikit, hingga percaya kalau banyu kobo’an itu masih enak kalau diminum, dan parahnya lagi, berita mengenai banyu kobo’an itu masih bisa diminum dan rasanya enak, itu diberitakan sambil didakwahkan diseantero dunia. Dan banyak yang percaya kalau banyu kobo’an itu masih bisa diminum dan enak rasanya.”

Catatan 1 Banyu kobo’an = air bekas cucian kotor yang sudah ba’ngger (lebih dari busuk).

Thursday, April 17, 2014

Analogi Remeh-Temeh

Jika tetap begini, maka tidak ada lagi yang bisa diperbuat. Arang sudah tak tau kalau dia arang, sapi tak mengakui kalau dia sapi, angin tak pernah tau kalau dia angin, pohon semakin tak sadar kalau dia sebenarnya pohon, apalagi manusia semakin tak tau kalau sebenar-benarnya mereka adalah manusia yang ditakdirkan menjadi manusia bukan menjadi artis, koruptor, politisi, pahlawan, kiai, doktor, jambret, maling, dukun, penjual jamu, atau yang lainya yang selain manusia. 

“Membohongi diri” adalah mahkluk yang terinspirasi dari “kebohongan”, dan menimbulkan hawa yang bernama “kepalsuan”. Namun kebohongan dan kepalsuan itu bermusuhan dalam sebuah perjalanan menuju rumah yang disebut “kebaikan”. yang didalam rumah itu terdapat dua kamar yang satu adalah “kamar kebaikan jasmani”, dan yang kedua disebut “kamar kebaikan rohani”. Dan di dalam rumah tersebut ada kamar mandi yang disebut dengan “hati nurani”, sampai pada ujung belakang rumah ada sebuah dapur yang disebut “akal pikiran”. Samar-samar rupa halaman rumah ini, tapi ada yang musti di perbaiki didalam rumah ini. dapur saja yang mengebul, bukan semuanya, baik kamar satu, dua, kamar mandi, ruang tamu, halaman dan lain-lain harusnlah mengebul seperti dapur. Bukan mengebul, kebakaran, bukan itu. Tapi sama-sama dibersikan kalau lagi bersih-bersih, sama-sama direnovasi, kalau mau direnovasi. Adil dalam menempatkan barang dan imbang. Bukan saja merenovasi dapur tapi kamar mandi tidak direnovasi, atau yang lainya.

Media – “Pembohongan Yang Tak Adil”


Media penyiaran harus menjamin terciptanya informasi yang adil, merata, dan seimbang demi terciptanya keadilan. Meskipun sulit dan terkesan utopia. Namun seharusnya usaha-usaha untuk mencapainya, minimal harus dilakukan dengan serius dan konsisten. Pengawalan, pengawasan, dan soliditas dalam melaksanakan tujuan. Supaya mewujudkan media penyiaran yang sesuai dengan filosofi dasar penyiaran dan peraturan-peraturan luhur media penyiaran, mengenai keadilan bersiaran di era pasar bebas dan modernisasi zaman. Apalagi banyak yang memandang media penyiaran sekarang tak lebih dari bisnis semata. 
 
Adil, apanya yang harus diadilkan?, media penyiarannya, mau diadilkan bagaimana?, bukanya semua media penyiaran sudah membela dan menegaskan bahwa media penyiaranya sudah sesuai dengan peraturan yang ada?, Pembelaan apalagi?, pembohongan seperti apa lagi?, penipuan yang bagaimana lagi?, akan diapakan lagi media penyiaran kita ini?. padahal, slogan media penyiaran sudah membuat bulu kudukku berdiri. Dari mulai; "Milik Kita Bersama" (tapi nyatanya, yang memiliki cuma pemilik medianya saja. Publik malah tidak seperti ikut memiliki.), "Makin Indonesia Makin Asyik Aja" (tapi tanyangan-tanyangan ke-Indonesianya malah kurang di expose dan malah hiburan-hiburan produk luar negeri yang dibudidayakan.), “Satu Untuk Semua" (bukanya hanya untuk yang punya uang saja, bukanya hanya untuk kepentingan bisnis pemiliknya dan kolega-koleganya.), “Saluran Informasi & Hiburan” (bukanya sekarang ini hanya hiburan saja yang mengantri di list media penyiaran kita, malah fungsi dasar media penyiaran tidak dilaksanakan dengan utuh), “Stasiun televisi berita pertama di Indonesia” (tapi isinya malah pencitraan pemilik medianya saja sampai-sampai setiap jam isinya kampanye partai politik semata.), "Memang Beda" (bedanya apa?, malah tidak lebih memperbaiki kualitas media penyiarannya. Namun malah membuat banyak berkembang pelanggaran-pelanggaran media penyiaran.), "Memang Untuk Anda" (memang untuk pemiliknya dan untuk yang punya uang saja), dan banyak lainya. 

Namun  apakah slogan ini menjadi relevan jika yang nampak  dan yang nyata cukup kontradiktif. Baik fungsi, sumbangsih, kelakuanya berbeda dengan apa yang dijanjikan. Itulah media penyiaran kita, jika dilihat dari motto/slogan/brandingnya. 

Walaupun kuasa yang begitu besar pasti membuat apapun yang dibawahnya menjadi tak berdaya. Mengikuti saja, menjalankan perintah saja, nurut dengan atasan, takut resiko walaupun yang dilakukan itu benar, takut dirugikan dengan banyak kompromi-kompromi. Atau yang lainya. Jika sudah masuk dalam dunia kerja dan sistem yang mengikatnya, hingga mempunyai beban yang menuntutnya untuk bertanggung jawab atas hidup beserta tanggungannya. Akan membuat banyak hal menjadi tidak bisa bebas dalam berbuat. Harus tetap taat jika ingin bertahan, atau dikeluarkan dan tak mendapat apa yang dinginkan sampai dirugikan dan tak mendapat kesempatan yang menguntungkan baginya. Walaupun begitu seharusnya yang namanya kuasa tetap harus bisa berlaku adil, dimanapun. Terutama mengenai media penyiaran kita ini.

Jika keadilan selalu di identikan dengan ketidakmungkinan. Begitupula permasalahan di media penyiaran kita. Yang selalu muncul dengan slogan-slogan yang seolah-olah propublik, namun ujung-ujungnya malah kita yang diakali dan dibohongi. Visi-misinya sungguh bagus dan mulia namun sampai saat ini masyarakat malah dimanfaatkan dan dirugikan dengan pembohongan-pembohongan yang dilakukan media-media penyiaran kita. Sama halnya peraturan-peraturan mengenai media penyiaran yang tersusun baik, rapi, adil, dan dengan proses yang lama, tapi malah apa yang terjadi ?. Peraturan-peraturan itu malah diakali tampa ada pembuktian dan keinginan untuk menjalankan dengan serius hingga menaati semua peraturan mengenai media penyiaran yang telah dibuat oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik nasional atau regional.  

Friday, April 11, 2014

Mbegedud Sarap Penyampai Rahmat

Mbegedud ini adalah anak kesayangan dari seorang bandar togel termakmur di desa gumiharjo. Apapun yang ia inginkan takpernah tak didapatkanya. Walaupun mbegedud hanya meminta apa yang sekiranya ia butuhkan saja, sebagai anak remaja yang seperti embah-embah. Namun, mbegedud memang pengangguran yang unik di desa gumiharjo. Ia suka meminta-minta buku-buku bekas dirumah tetangga-tetangganya, kalau subuh sukanya membakar sampah-sampah di got depan rumahnya, malamnya ia sering ngomel sendiri di bawah sinar bulan (kalau padang mbulan & tidak mendung), apalagi kalau sedang begadang bersama pemuda desa lainya, mbegedud suka bernyanyi lagu-lagu yang kebanyakan tak diketahui asal-usulnya alias ngarang dewe ra jelas asal-usule

Sampai ia mengamen tampa sepengetahuan orang tuanya, hanya untuk memuaskan jiwanya yang aneh-aneh mintanya dan kadang-kadang keinginya sering mendadak berubah-ubah. Bukan saja candu membaca, tapi mbegedud juga candu ngrasani warga desa lainya. Namun yang paling sering ia lakukan adalah mengumpulkan warga desa gumiharjo dan berbicara didepan mereka sambil menunjukan gestur tubuh dan ekspresi menasehati, mengenai ilmu pengetahuan, rethorika, sampai filsafat bak filosof termanshur. Baik mengenai sosial, ekonomi, politik, kosmologi, ekologi, budaya, dan agama. Namanya juga masih muda atau remaja, apalagi anak dari bandar togel termakmur ini sedang mengalami jatuh hati. Sehingga ia sering di olok-olok warga desa gumiharjo seperti orang gila yang gilanya itu sampai menggangu tetangga-tetangga dan kadang-kadang tak terkontrol. Walaupun mbegedud kadang kalau gila tak keliatan seperti gila, tapi seperti motivator yang mabuk istilah sambil menganjurkan dogma-dogma yang begitu diyakininya. 

Walaupun dibilang sudah gila dan meresahkan warga desa lainya. mbegedud punya keinginan yang luhur dan ketertarikan. Dimana tak memandang derajat sebagai pembatas perasaan, dan strata sosial sebagai pembeda. Ternyata mbegedud suka dengan swastika, atau panggilan akrabnya tika. Gadis dengan rambut sebahu, berhidung mancung tapi tak amat-amat, berlesung pipit tapi ya manisnya tanggung, tinggi dan seksi tapi agak gemuk dan berisi. Yang selalu bertingkah seperti anak putri permaisuri tak tau diri. Kadang gayanya sok sekali, padahal masih termasuk anak desa gumiharjo yang rata-rata tak kaya-kaya amat. Tetapi memang bapaknya tika adalah pemilik lahan persawahan terluas di desa gumiharjo dan sangat dihormati. Jadi siapa saja yang menyukai tika, minimal haruslah memiliki sawah dan dari keluarga yang baik-baik. Jadi tak boleh sembarangan, itulah yang diinginkan keluarga swastika darimulai bapaknya, ibunya, dan mbah-mbahnya. Yang membuat tika bakalan menjadi perawan tua, karena tak mungkin ada pemuda desa yang keluarganya memiliki sawah. Apalagi kekayaan yang melimpah. Kalau dari keluarga baik-baik ya lumayan banyak, banyak yang baik kalau ngutang, baik kalau, nyuri sapi, baik kalau nyopet, baik kalau ngrasani tetangga lainya, atau baik kalau mengambil cucianya orang lain. 

Dengan geografis desa gumiharjo yang terletak di timur jauh dari gunung, jauh dari pantai, jauh dari sungai besar, dan jauh dari hutan. Berada di dekat daerah industri sampai pabrik-pabrik tekstil yang selalu mengeluarkan limbah busuk dan berbahaya. Beserta asap dan bebauan dari pabrik pakan ternak yang terletak berdekatan dengan desa gumiharjo ini, membuat tak banyak yang diharapkan dari kekayaan alam desa yang seharusnya melimpah ini. Seperti dahulu, gumiharjo menjadi desa dengan buah pisang yang amat enak, ladangnya yang luas dan manisnya buah pisang tersebut membuat desa gumiharjo menjadi produsen besar buah pisang di kawasanya. Apalagi ladang tebu beserta kacang-kacangan yang telah lama menjadi andalan warga sebagai sumber penghidupan mereka. Namun seperti yang disebutkan tadi, bahwa semenjak industrialisasi efek buruk yang menimpa desa gumiharjo semakin nyata. Penjajahan memang semakin merambah ke berbagai bentuk, tak hanya portugis, belanda inggris, prancis, dan lainya. Penjajah paling kejam saat ini yang telah membuat desa gumiharjo menjadi layaknya tanah gurun alias tak kaya lagi. Adalah ketamakan dan ketakpernah puasan warga-warganya.

Dipimpin kades bernama cak uwit. Kemajuan desa gumiharjo hampir tak pernah terjadi, sudah sepuluh tahun tetap seperti ini. bagunannya masih lebih banyak gubug dan seng lapis kayu, aliran drainase air di desa ini masih jauh dengan teknologi tradisional nenek moyang sampai sekarang dipakai. Belum ada pembaruan cara hidup warga desa gumiharjo. Dengan begitu banyak pemasalahan ketamakan dan nafsu-nafsu kekuasaan menunjukan bahwa kewibawaan desa gumiharjo yang dulu kaya raya menjadi kebalikan. Miskin gersang, penduduknya jauh dari makmur dan warganya semakin tamak dan jauh dari peradaban yang diinginkan oleh mbegedud saat ini.

Seyogyanya mbegedud yang mempunyai jiwa yang luhur dan keinginan yang tulus. Selalu menginginkan sebuah keselarasan tampa ketimpangan, keadilan yang seadil-adilnya, dan transparansi kepemimpinan desa yang lebih nyata dalam memakmurkan sampai menyejahtrahkan warganya. Walau itu sampai sekarang masih disimpan oleh mbegedud didalam tubuh dan laku yang dianggap kontradiktif dengan keluhuran dan ketulusan oleh warga lainya. Sampai-sampai bapak dan ibunya yang masih menjadi bandar togelpun, punya niatan untuk memasukan mbegedud ke rumasakit jiwa.

Bagaimana keselanjutan mbegedud dan kisah swastika yang ia sukai. Dan desa gumiharjor yang memburuk beserta warganya?. Tunggu di kisah “Mbegedud Dan Rungsepnya Gumiharjo”.

Saturday, April 5, 2014

Sumadji, dari RT sampai Takut Istri

“yasudah, aku ingin bisa membantu caleg-caleg itu. Biar seperti mbah dirman. Dan nantinya supaya rumahku ramai dan tidak sepi-sepi kuburan.”

“benar kamu dji. Terus siapa yang jadi RT.”

“iya ganti kamu saja…”

lholholho lambemu, sudah se’enak udelmu sendiri. Belum jadi dukun saja sudah sok. Apalagi kalau sudah didukuni kamu dji,,,dji.”

“lho, biar terasa dulu nuansa sok-sok dukunnya”

Dengan nada kesal aku berbicara pada Sumadji, “Iya, aku tau kalau akan diadakan PEMILU 2014”. Sambil kembali berfikir, apakah segitu pikunnya masyarakat sekarang. Kok sampai-sampai setiap hari banyak yang menghimbau bahwa akan diadakan PEMILU 2014. Baik di televisi, radio, Koran, media online, bahkan seluruh orang-orang di lingkunganku termasuk pak RTku ini. Iya, Sumadji ini. Kalau bertemu denganku selalu membicarakan dan menanyakan, apa yang akan aku pilih nanti di PEMILU 2014 dan apa pendapatku mengenai hal itu. Hingga diminta untuk memprediksi siapa yang bakal menang di PEMILU 2014.

“Edan kamu itu dji,,,,Sumadji, RT edan. Ya mbok pikir aku lembaga survei atau dukun. Kok bisa-bisanya memprediksi yang begituan.”

Sumadji pun mengelak “ah jangan gitu, biasanya kamu seneng sama yang begituan.”

“ya ndak mesti. Liat-liat dulu lah dji.”

“liat-liat apa. Liat Si Fatma saja. Diakan perawan terseksi di kampung.”

“lho ya. Musti mbahas Si Fatma lagi. Apa ndak bosen kamu. Setiap hari ngodain Fatma terus. Awas ketahuan istrimu lo dji.”

“iya-iya beres, tenang pak RTmu ini pintar kalau masalah, perkelaminan.”

“ah gayamu, liat saja nanti kalau sampai ketahuan istrimu. Kalau kamu ngodain Si Fatma, bakalan habis kamu ndak dapat jatah.”

“sudah-sudah” dengan menghardik.

Sambil menunjuk kearah barat tepat di sebuah gubuk peyok yang ditinggal seorang dukun bernama mbah dirman. Aku dan Sumadji memandanginya dengan seksama. Karena aneh sekali gubuk peyot yang biasanya sepi, semenjak sekarang begitu ramai dan dihalaman jalan itu berjajar mobil-mobil mewah ber plat-merah.

“dji, liat itu rumah mbah dirman.”

“iya-iya, kenapa itu ramai sekali. Tumben ya. Biasanya sepi dan sunyi.”

“banyak mobil mewah dji. Kamu tahu ada apa.”

“ya ndak no. kan aku baru liat ini.”

“gimana se dji, bukanya kamu seharusnya mencari tau, kamu kan pak RTnya.”

“yaya nanti aku cari tau.”

“tapi kira-kira ada apa ya dji.”

Dengan mimik muka penasaran dan mendekatkan telinganya ke mulutku, sambil berbisik “emangnya dirumah mbah dirman lagi ada slametan, atau ada acara keluarga.kok kita ndak diundang.”

Menarik badan yang membungkuk, aku mencoba memberitau Sumadji.
“ya kok tetep polos kamu itu dji, mereka yang memenuhi rumah mbah dirman itu pasti caleg-caleg yang akan mencalonkan diri di PEMILU 2014 nanti dji.”
Dengan wajah gelagapan dan penasaran, Sumadji semakin kelihatan ingin tau.

“terus”

“terus, terus, terus nubruk, dji. Hahahahhah. Lho ya, aku ini serius dji”

“bagaimana tadi itu, kalau benar mereka caleg, kenapa mereka mendatangi mbah dirman. Seharusnya mereka kan kampanye. Katanya ingin menang di PEMILU 2014, kok malah mendatangi rumah mbah dirman.”

“ya mungkin, caleg-caleg itu ingin membantu mbah dirman memperbaiki rumah”

“tapi kok tidak kelihatan ingin membantu, kok malah mereka antri keluar masuk dirumah mbah dirman.”

Akupun tertawa dan memukul punggung Sumadji RTku yang tercinta ini.
“gini lo dji, mbah dirman itu bisa membantu caleg-caleg supaya menang PEMILU 2014. Jadi mereka mengunjungi rumah mbah dirman dengan alasan minta dilancarkan.”

“membantu bagaimana. Dilancarkan apanya. Mbah dirman kan sudah tua, pikun pula. Emangnya mbah dirman masih kuat kampanye dan teriak-teriak dilapangan untuk membantu caleg-caleg tersebut mendapat simpatisan banyak dan pemilih yang banyak di PEMILI 2014 nanti.”

“ya bukan membantu begitu dji.”

“la bagaimana?.”

Akupun mencoba meyakin kan Sumadji sambil mengajaknya kewarung sebrang jalan.

“ayo kewarung dulu, kita bicarakan disana, aku mau pesan kopi. Kan lebih enak kalau ada kopi sambil ngobrolin. Mbah dirman, caleg-caleg, PEMILU 2014, dan maksud dari minta bantuan tadi.”

Sumadji pun langsung semangat dan menuju motornya dan memboncengku. Sesampainya diwarung akupun memesan kopi dan Sumadji membeli rokok eceran seperti biasanya.

“jadi bagaimana ceritanya dan penjelasan mengenai hal-hal tadi.”

“iya-iya ini aku mulai, sabar dji, perhatikan baik-baik dan jangan bertanya dulu sebelum aku selesai bicara”

“siap ndan.”

“jadi begini dji. Caleg-caleg sekarangkan cukup banyak dan berasal dari berbagai kalangan. Dari mulai yang miskin, pintar, bodoh, cerdik, terdidik, nekad, ambisisus, ingin mencari duitnya saja dan haus popularitas. Hampir semua caleg rata-rata punya latar belakang pendidikan, walaupun tak semuanya punya sebenarnya. Kebanyakan mereka takut kalau tidak terpilih. Jadi rugi besar dan tidak bisa mengembalikan modal kampanye atau modal untuk mencalonkan diri. Jadi mereka memilih cara meminta bantuan kepada orang pintar. Kalau bahasa kunonya dukun, terus dirubah menjadi paranormal, lalu berkembang lagi menjadi penasehat spiritual. Tetapi yang namanya dukun ya tetap dukun.”

“dukun pikun ya.” Tambah Sumadji.

“iya juga, mbah dirman kan pikun.”

“lho jadi mbah dirman itu dukunya.”

“iya,,,dukun pikun yang rumahnya penuh dengan caleg-caleg keluar masuk itu dji.”

“sudah banyak yang gila ya, edan puol. Masih percaya yang begituan. Aku nyalonin RT saja lho ndak pakai dukun-dukunan. Cukup bikin slametan dan bagi-bagi makanan.”

“ya beda dong dji. Tapi kamu ya tetep saja memakai makanan biar dipilih warga.”

“yang penting kan gag ada dukun-dukunya.”

“ya sama saja dji.”

“ya ndak dong. Kan bagi-bagi makanan ndak musrik. La sedangkan memakai dukun kan dilarang oleh agama.”

“tapi kamu itu dji. Membagi-bagikan makanan supaya dipilih jadi RT. Jadi bukan karena memang warga yang memilihmu menjadi RT secara jujur. Tapi karena kamu kasih makanan, makanya warga memilihmu.”

“oh, begitu ya. Ya maaf namanya juga lulusan SD.”

“sudah-sudah, ya ndak ada hubunganya apa kamu lulusan SD, SMP, SMA, SMK, KULIAH. Apapun lah.” Tetap saja ndak boleh begitu.”

“iya-iya ndak bakal aku ulangi. Tapi bagaimana tadi, kok bisa banyak caleg yang ingin menang PEMILU 2014 malah berkunjung ke mbah dirman.”

“namanya juga jaman edang dji.”

“tapi, kok gag minta bantuan gusti allah. Malah datang ke mbah dirman.”

“dari pada datang ke kantor polisi, mendingan lebih baik ke rumahnya mbah dirman toh dji.”

“ah bisa saja kamu itu.”

“tapi sesungguhnya sekarang orang-orang pada edan dan tetap semakin lama semakin edan dji. Tak kenal tempat, tak kenal apapun. Pokoknya yang bisa membantu dan menguntungkan pasti akan dilakukan. Dan meminimalisir kerugian.”

“wah ndak paham aku”

“yasudah biarkan saja,,,,,malas aku jelasin ke kamu dji. Biar makin gila ini orang-orang, biar makin gendeng, makin banyak yang gila makin banyak yang gendeng malah makin dekat kiamat itu dji.”

lambemu, ya mbok jangan mbahas itu.”

Tiba-tiba terdengar suara Endah istri Sumadji berteriak memangginya.

“dji, Sumadji…dasar suami tak tau diri. Maunya enak sendiri, disuruh kesawah malah ngopi.”

Saat setelah mendengar suara itu dan mencari tau sumbernya dari mana. Saat aku kembali menoleh ke Sumadji. Tiba-tiba orangnya sudah menghilang tak tau kemana. Dan aku putuskan untuk terus mengamati rumah mbah dirman yang penuh sesak caleg-caleg penerus bangsa ini. Keluar masuk dirumah mbah dirman yang kusebut gubuk peyot.

Friday, April 4, 2014

Nepotisme Imitasi

“Nepotisme itu terkadang tidak masalah, karena didalam sebuah organisasi, hal ini lumrah.”

Lho......bapak ini benar-benar tulus dalam mengajar kami!. Orang mana bapak ini?. siapakah gerangan guru bapak yang telah mengajari bapak?. Apakah bapak ini memang orang baik yang dipilih tuhan untuk mengajari kami?. Atau sudah terlalu cerdas dan cermatkah bapak ini?. “Ucapan bukti kelemahan diri” pun di gaungkan. Dimana bapak belajar hal itu?. kenapa saya diajarkan nepotisme imitasi seperti ini?. Terlalu bodohkah kami ini pak?. Sampai-sampai tak ada yang menyangkal bapak bicara bahwa nepotisme itu boleh/dibolehkan?. Walaupun dalam versi bapak, dengan bermacam-macam kopromi dan keilmiahan sudut pandang saat menyikapi nepotisme imitasi ini.

Bukanya perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan kepada kerabat dekat atau saudaranya sendiri demi membantu agar mendapatkan hal yang diinginkan atau kecenderungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak saudara sendiri, terutama dl jabatan/pangkat di lingkungan pemerintah, namun bisa juga sebagai tindakan memilih kerabat atau sanak saudara sendiri untuk memegang pemerintahan. Kurang lebih nepotisme memiliki pengertian seperti itu tadi. Namun benarkah bapak,,, nepotisme imitasi ini sudah terlalu lumrah dan biasa, menjadi belum afdol jika hal yang lumrah dan biasa dianggap baik.

Kalau hal itu baik. Kenapa masih banyak pembunuh yang masuk penjara?. Bukanya pembunuhan itu sudah biasa dan lumrah sejak zaman dulu sampai sekarang ini. apalagi kok masih boleh penjara-penjara menerima pelaku-pelaku korupsi. Bukanya korupsi itu sudah mencakup 3 hal; mengakar, membudaya, melekat, bahkan mengkristal?. Tapi kok masih dilarang itu yang namanya korupsi dan pembunuhan ini. kan seharusnya hal yang biasa dan lumrah bahkan membudaya harusnya diperbolehkan karena sudah mencakup tiga hal tadi.

Kembali ke kuliah

Lagi-lagi diruang kuliah dengan mahasiswa yang tak pernah tau, akan dididik seperti apakah mereka ini?. Dan akan diajari apa saja?. Hingga akan dijadikan apa mereka ini?. tentulah di barisan paling belakang bangku itu. selalu aku yang nampak ditatap tajam. Dengan muka menahan beribu-ribu sanggahan atau pertanyaan-pertanyaan pembunuh. Bagaimana kesalahan sampai pembohongan tetap dilanjutkan dikelas ini?. tak pernah salah dan dianggap benar adalah bahan pengawet yang sangat sempurna. Kokoh dengan pikiran-pikiran yang salah. Percaya diri dengan apa yang diucapkan, karena terpengaruh oleh latar belakangnya sebagai pendidik yang sudah diakui oleh lembaga. Bergelar, berdasi dan penuh wibawa ditambah dengan gaya berbicara lantang sambil menatap tajam. Adalah sebuah modal. Namun memiliki keterbatasan pemahaman layaknya manusia-manusia lainya.

Bedanya adalah pendidik yang kali ini aku hadapi adalah pendidik yang membatasi dirinya dengan ilmunya, pendidik yang tidak bisa menerima logika lain selain logika yang menurut dia benar. Lingkunganya telah membentuk kekokohan pikir beserta laku jasmani menjadi mesin yang haus bahan bakar. Namun selalu menginginkan bahan bakar yang mahal dan berkualitas tinggi tampa mau mencoba bahan bakar eceran yang dijual karena keterbatasan-keterbatasan diri dalam menjalani tuntutan zaman.

Nepotisme imitasi ini adalah bukti bahwa mental-mental penjilat semakin mengembang. Dengan bahan bakar karbit. Balon-balon udara berisikan mental penjilat dan berlapiskan ketakutan-ketakutan hidup. Dilepas terbang dan mengombang-ambing dilautan. Sampai pada akhirnya badai membawanya ke tepat bernama ketulusan. Tempat yang tak ada kepalsuan dan tampa kompromi-kompromi perasaan dalam diri manusia. Jika generasi menjadi menurun seperti ini. maka tuntutan zaman adalah pembunuhan. Logikanya adalah “ada yang dilahirkan maka harus ada yang dijadikan tumbal”.

Siapakah tumbal itu ?.....kitakah, atau siapa ?