Saturday, May 31, 2014

Ada

Sebelum menyebutkan mereka yang berhasil dengan bantuan pendidikan-pendidikan yang dilembagakan dan disuguhkan dalam tanda petik, untuk memperbaiki generasi yang semakin kurang berisi dengan banyak sekali penyederhanaan-penyerdehanaan. Dimana segalanya dimudahkan, dikerdilkan, dianalogikan dengan lingkup semakin kecil, agar mudah dipahami dan ditangkap oleh indra manusia pada generasi ke generasi. Yang tak diberi kepercayaan lebih untuk mengetahui yang sesungguhnya atas realita, tampa di kurang-kurangi, dilebih-lebihkan, atau dimodifikasi supaya mudah dan lebih gampang dipelajari, dimengerti, dipahami, dan dipraktekkan. Atau sederhananya memberikan fakta yang apa adanya dari generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya secara apa-adanya.

Siang tadinya, banyak sekali kerumunan warga yang sedang berkumpul disamping jalan. Dari mulai anak-anak memakai peci dan baju kokoh rapi, ibu-ibu mengendong anaknya, bapak-bapak yang memasang wajah ketidaktahuan, dan pemuda-pemudi yang selalu penasaran diatas sepeda motornya. Sedangkan aku lewat menuju kampus pinggiran dengan tergesah-gesah karena waktu kuliah sudah telat beberapa jam. Namun pas aku lewat, aku melihat seperti akan ada sesuatu yang lewat. Pejabat, dinas pertahanan, polisi, atau apa. aku tau tahu. Mereka sepertinya tegang menunggu sesuatu yang aku sendiri taktahu. Aku tetap tegang melihat mereka yang juga tegang menurut subjektifitasku yang sudah terlalu hypersubjektif dalam menilai, merasakan, memperhitungkan, mengambil keputusan, atau bahkan bersikap. Namun mungkin saja aku akan diadili beberapa jurnalis umum maupun jurnalis nyemplang yang masih mempertahankan idealis anugrahi-modifikasinya. Ditengah realitas-industri yang sulit di petakan konstalasinya. Dari akar sampai ranting-rantingnya.

Tetapi setelah beberapa jauh kedepan, saat perjalanan menuju kampus aku melihat ada banyak sekali pemuda-pemudi yang berpakaian warna-warni, rambutnya seperti anak ayam alay yang dijual dipasar, mereka semua memakai motor yang suaranya seperti suara anjing, dengan beberapa asesoris suporter sepakbola, dan kemampuan memobilisasi-pengendalian layaknya geng motor dengan slogan raja-jalanan. Ternyata itulah perayaan kelulusan siswa SMA di daerah kampus pinggiran Madura ini. Mereka yang rata-rata pemuda-pemudi digadang-gandang oleh menteri pendidikan sebagai generasi muda. Sedang merasakan kepuasan, karena bisa menyelsaikan ujian nasional dan studinya di jenjang SMA. Uforia kelulusan seperti layaknya fenomena yang selalu, dan selalu terjadi tampa henti. Bahkan modernisasi dan konsepsi postmodernisme sudah merambah gaya perayaan kelulusan yang terjadi setiap tahunnya.

Dari ujung pelabuhan Madura, hingga jalanan tak jauh pelabuhan itu. Mereka konvoi sambil membunyikan knalpot motor mereka, seperti gong-gong’an anjing, dan kebersamaan dalam berkendara secara solid. Namun alangkah kagetnya pemuda-pemudi itu dengan berakhirnya perayaan penting atau utama dalam kelulusan. Ada beberapa petugas keamanan yaitu polisi. membuntuti konvoi yang dilakukan. Sedikit dan membuat jalanan daerah sini ramai. Sedikit menghiburlah. Yang biasanya sepi dan angker ini, lebih terasa seperti jalan yang seharusnya. Namun beberapa hal semakin aneh dan janggal. Banyak siswa yang melakukan konvoi menjadi kalang kabut tak karuan dijalan-jalan. Mereka semua seperti ketakutan tetapi tetap menantang.

Tapi aku terlalu gelisah dengan kejedian yang sungguh-sungguh tak karuan ini. Bagaimana fenomena konvoi semakin membuadaya dan menghilangkan banyak nilai-nilai luhur generasi berpendidikan. Semuanya seperti luntur, tak ada lagi sebuah hasil yang bisa akurasakan dan kepuasan akan tuntutan hidup beserta dinamikanya yang aku rasa benar dan sesuai. Semua yang terjadi khususnya mengenai generasi pendidikan ini sepertinya tak pernah benar-benar seperti nyata. Apapun serba berbeda hasilnya. Tak ada ruang lagi untuk sebuah harapan merubah yang belum baik menjadi lebih baik. Tak ada ruang bagi kejujuran, tak ada lagi ruang bagi pemakluman, tak ada lagi ruang bagi kebaikan, tak ada ruang bagi yang mudah kalah, dan tak akan ada lagi ruang untuk menerima kenyataan yang nyata, berat untuk diperjuangkan. Sehingga hanya beberapa pilihan; menyingkir atau mengikuti saja.

Nyamannya Keterpaksaan

Saat sudah sekian lama berdiam diwarung yang selalu tak ramah-tamah ini. ada beberapa hal baru yang dapat membuat perhatianku menjadi terbagi. Pemuda-pemudi yang berasal dari ibukota yang selalu menjadi sorotan utama media massa dan beberapa pola pemikiran yang selalu merujuk kepadanya. Sedang asyik bercengkrama tampa malu atau merasa menghargai orang lain yang disekitarnya. Mereka selalu ada disini, mereka selalu berkumpul hingga pagi, mereka selalu membicarakan mengenai primordialisme ibukota, mereka tak lupa untuk melogatkan mereka dengan bahasa anak muda ibukota, mereka selalu berkelompok dan ramai sendiri, jikalau sedang minum kopi atau sekedar kumpul bareng. Namun ada sebuah penyesalan yang diatasi dengan “terpaksa harus nyaman dengan keadaan disini”. Mereka banyak yang tidak tahu, kalau pendidikan tinggi yang diambil mereka dari sebuah satuan sistem pendidikan berskala lebih besar, telah menjerumuskan meraka di tanah gersang penuh pelampiasan ini. Ketidaktahuan mereka menujukan sebuah kebodohan mengenai sebuah generasi yang diberi kemampuan besar, dan dijajaki pembodohan megapolitan. Untuk mengarungi sebuah perjalanan yang mereka harus mencari tahu sendiri mengenai mereka sendiri dalam proses menemukan, melalui pencarian.

Mereka tergolong orang-orang yang menyesal lalu melakukan pelarian atas hal tersebut. Harapan mereka saat ingin melanjutkan sebuah jalur pendidikan tinggi yang baik dan sesuai dengan angan-angan yang dibentuk oleh realitas global mengenai ukuran, keindahan, kebaikan, keberhasilan, kemampuan, kesuksesan yang serba dibentuk bukan menurut diri sendiri. Sehingga kita menjadi penganut yang paling manut.. mereka kira pendidikan yang mereka ambil bertempat didaerah surabaya. Namun ternyata. Pendidikan yang mereka pilih sedikit mensilumankan diri. Tak jauh disurabaya. Pendidikan yang diambil adalah bertempat di sebuah pulau disamping surabaya. Yaitu Madura, pulau dengan seribu sejarah, seribu manusia yang merantau hingga kebeberapa penjuru dunia. Karena kebanyakan masyarakat madura adalah peranakan nelayan besar yang suka mengarungi semua belahan indonesia. 

Namun penyesalan mereka sekarang ini akan semakin meyakinkanku bahwa sebuah peradaban akan memilih generasinya. Dimana segalanya sudah ditentukan tampa harus dipilih. Kalau seandainya dipilih mereka akan tau sendiri. Bahwa memilih adalah sebuah jalan dimana pilihan akan semakin menekan opsi yang sedang diperkirakan.

Adilisme

Siapa yang benci dengan keadilan. Jika keserakahan, perampasan hak, pembunuhan karakter belum bisa dikalahkan oleh diri sendiri. Menuntut keadilan, sama halnya dengan menunjukan ketidakberdayaannya terhadap realita yang memang tidak bisa adil padanya. Semua akan menuju oportunisasi. Pemenuhan diri sendiri. Yang tak akan selesai sebagai pelengkap ketidakadilan yang membuat ketidak berdayaan dalam benak masing-masing manusia.

Ketakutan bahwa keadilan tak akan tiba. Adalah kenyataan. Tapi yang lebih nyata adalah bahwa keadilan memang tak akan tiba untuk sekarang ini, apalagi nanti. Lawong dari dulu intelektual, buruh, mahasiswa, masyarakat, militer, pemerintah saja masih merumuskan lalu melaksanakan, mufakatisasi bentuk keadilan yang butuh penyesuaian menurut diri sendiri saja belum bisa. Sehingga realisasinya mendapat kontroversi menggurita. Keadilan memang bukan membutuhkan ruang atau waktu (kapan). Namun kita yang membutuhkan keadilan itu. Sehingga penyesuaian perlu. Disini begini, disana begitu. Mana bisa menyatukan bentuk realisasi keadilan yang hakiki, nyaman, sesuai, cukup, pas, enak, dan diapresiasi. Jika masing-masing kepala mempersepsi bahwa keadilan memiliki masing-masing representasi. Persepsi menurut orang beda mengenai keadilan. Sehingga tak ada yang bisa menciptakan keadilan yang dapat dinikmati semua orang.

Jika mengacu kepada bernegara, berbangsa, atau berkehidupan. Keadilan hanya di gambarkan dalam bidang duniawi. Bisa pangan lancar, sandang cukup, rohaniah memuaskan, dan jasmani menyehatkan. Lantas itulah ukuran keadilan sekarang ini. bukanya keadilan itu segala bentuk yang “adi” unggul, besar, luhur, tulus, dan besar.  Namun keadilan semakin dikerdilkan dengan makna “keadilan itu sama rata, tak merugikan” dan ditambahi oleh banyak warga dengan “tapi ya,,,harus menguntungkanlah, jangan rugi-rugi banget”.

Bagaimana bisa menentukan ukuran keadilan jika banyak kepala ingin tak dirugikan. Dengan kata lain ingin untungnya sendiri-sendiri. Sehingga tak digubris itu “sama rata”. Yang seharusnya dimaknakan secara luas. Dan menjadikan hal yang tidak ada hubungannya menjadi ada hubungannya, menjadikan hal yang berhubungan menjadi lebih dekat hubungannya. Menjadikan yang utuh menjadi batu, mengumpulkan butiran menjadi padat. Namun yang ada sekarang adalah membuat yang cair menjadi menguap. Yang artinya, ini semua sudah terlalu tak berhubungan. Banyak orang yang jauh dari kepercayaan dan meng’amini sebuah hubungan dapat membentuk perkembangan. Entah baik-buruk, itu nanti. Yang penting mari kita buat sebuah ikatan dengan dasar kepercayaan yang adil dengan maknawiah keadilan lalu menjunjung tinggi yang sudah tinggi.

Rong-rong’an Mapalda

Apapun yang diinginkan setiap orangtua sekarang ini, adalah bagaimana anaknya dapat lebih baik dalam hal apapun dibanding orangtuanya. Pendidikan contohnya, pendidikan tinggi apalagi. Bagaimana pertarungan antara gengsi dan realita, yang sulit dilogikakan oleh orang waras. Perguruan tinggi adalah tempat dimana sekarang ini disepakati oleh seluruh sistem tata kehidupan modern sebagai jenjang pendidikan tinggi yang dipercaya sebagai lembaga pendidikan paling diharapkan sumbangsihnya dalam menajemen sampai regenerasi negara, bangsa, dan segala element berkehidupan.

Sehingga aku masuk didalam sebuah lingkaran kesepakatan itu, lingkaran kesepakatan bahwa pendidikan tinggi adalah keselanjutan atas pendidikan-pendidikan sebelumnya. Namun alangkah kagetnya saat aku kuliah ditempat yang benar-benar tak kutau asal-usulnya, tak kutau bagaimana keadaanya, tak kutau bagaimana orang-orangnya, tak kutau bagaimana lingkungannya, tak kutau entah apa yang terjadi disana, tak kutau cara mendidiknya, tak kutau siapa yang mendidik aku disana, tak kutau bagaimana sejarah perkembangannya, tak kutau bagaimana keadaan saat ini, tak kutau akan seperti apa selanjutnya disana, dan akan jadi apa aku saat menempuh pendidikan disana. Disana, di tapal kuda Madura. Untuk menjalankan kewajiban atas perintah yang diprakarsai allah, disampaikan pada qodho & qodhar, dititipkan disaku orang tuaku, dan sampailah di tindak-tandukku hingga kusebut sebagai dinamika keseharusan yang harusku plesetkan sebagai jalan yang sudah ditunjukan.

Bagaimana disini, seharusnya aku menempuh pencarian yang tak boleh sia-sia, pencarian yang berbuah kebaikan ataupun keburukan, pencarian akan bagaimana aku, siapa aku, dimana aku, untuk apa aku, mengapa aku, dan sampai kapan aku. Itulah pertanyaan yang harus kujawab, kulaksanakan, kuamalkan, dan kuevaluasi. Layaknya penyerahan diri yang harus menjadi orang yang bukan diri sendiri, demi mencari diri sendiri, lalu mengenai hal yang selain diriku sendiri. Untuk tetap hidup dalam diri sendiri dan dalam hal yang selain diri sendiri.

Sebentar rasanya. Adalah selama-lamanya berada disini, untuk menjalankan buah kesepakatan atau pemenuhan atas kontribusiku kepada allah. Dimana aku harus menjalankan yang tak kusepakati. Karena dulu aku tak ikut menyepakati bahwa belajar itu harus sekolah di perguruan tinggi, belajar itu harus menempuh jenjang pendidikan yang seperti saat ini, pendidikan itu harus ujian, pendidikan itu harus, memakai baju atau seragam rapi, pendidikan itu masuk jam tujuh pulang jam satu, pendidikan itu harus mempelajari ilmu-ilmu yang membuatku menyepelekan ilmu-ilmu lainya, yang seharusnya aku pelajari juga, pendidikan itu harus menghormati, pendidikan itu harus mengerjakan tugas, pendidikan itu harus mencontek waktu ujian, pendidikan itu harus, melewati semester demi semester, pendidikan itu tidak boleh bolos, pendidikan itu harus aktif tidak pasif, pendidikan itu harus membayar, pendidikan itu harus fokus, pendidikan itu harus ini-itu. tapi aku dulu itu tak pernah menyepakati hal itu. Apa karena aku lahir belakangan sehingga tak bisa ikut menyepakati pendidikan yang seperti ini. atau itu murni salahku, mana hakku untuk bisa saling menyepakati sebuah konsepsi yang menentukan nasib generasi selanjutnya. Generasi yang lahir belakangan, generasi pengekor, generasi yang hak-haknya tak dihargai dan selalu disepelekan dan dibicarakan bahwa generasi selanjutnya adalah generasi yang bodoh dan semakin bodoh mengenai dirinya sendiri. Bahwa banyak generasi sekarang ini tak sadar kalau hak-haknya dihabisi, hak-haknya direbut paksa secara 50:50.  Membodoh saja yang bisa dilakukan dan akhirnya menjadi benar-benar menjadi bodoh-sebodoh-bodohnya. Tak kenal siapa dirinya dan yang seharusnya ia kenali.

Semakin jauh, semakin lama, semakin tak kunjung selesai ini hal-hal diluar pengetahuan yang secuil ini. “siapa yang mengaku dekat dengan-Nya, ia akan mendapat cobaan lebih dari yang lainnya.” Benarkah begitu. Aku mengaku dekat, tapi tak pernah betah dengan ujian-ujian welas asihnya. Bagaimana lagi bersembunyi jika pendidikan yang kutempuh ini, menuntutku untuk tampil penuh ekspresi dan eksis tampa henti. Bagaimana bisa pendidikan tinggi membentuk watak tak tau diri yang berapi-api. Entah siapa, siapa. Berani menancapkan kedalam lorong-lorong gua bawah tanah relung jiwa manusia-manusia lugu, lucu, kemplu, dan rada dungu. Untuk menentukan nasib bangsa yang sedikit miring seperti menara pisa, sedikit hancur seperti dogma-dogma penentu kuasa, sedikit rabun karena matanya jarang digunakan melihat kuasa-Nya.

Serasa meminum ramuan paling ampuh. Semenjak menjalani pendidikan yang begitu ketat hingga kadang tali BH-nya mbeltat, kelasnya banyak yang di kososngkan karena mahasiswanya terlalu pintar untuk diajari teori-teori dasar. Hatinya terlalu dangkal karena banyak staff pengajar, dan petinggi kampusnya adalah preman pasar diseberang jalan. Organisasinya semakin tak nampak sombong, karena semua organisasinya hanya merongrong minta dana yang agar segala yang tak diperlukan bisa dimakan hingga kenyang.
Awalnya yang ingin nyaman dengan kampus ini atau menuntut pendidikan tinggi disini. Harus berjiwa bajingan, ber’otak residivis, bermuka dewi shinta, dan bersikap layaknya presiden obama. Bagaimana lingkungan yang cukup sulit untuk bertahan hidup. Warung-warungnya sangat disiplin, jalananya begitu mandiri sehingga tak membutuhkan cahaya penerangan untuk malam dan subuhnya, pengamanannya cukup baik karena selalu ada preman yang siap membersikan jalanan dari pengendara motor yang lalu-lalang, kontraannya dan kos-kosannya sering menyumbangkan hartanya kepada mbah-mbah warung pertigaan yang siaga kalau keadaan mulai tak aman, setiap hari untuk keamanan mahasiswanya yang tinggal didalamnya. Polisinya selalu duduk kerjanya, karena keadaan lingkungan yang tak memerlukan keamanan atau pengendalian dan pengawasan dari petugas yang berwenang, karena keadaan lingkungan kampus tapal kuda Madura sungguh-sungguh sangat aman dan safety.  Lingkungan yang paling cocok untuk belajar hidup sabar dan mendidik keberanian yang hakiki. Dimana semua aman, terkendali, tak pernah ada masalah berarti. Karena jika ada yang membuat masalah, petinggi kampus ini akan memerintahkan bawahanya yang terdiri dari kiai, ulama, preman, blater, klebun, penganggur-penggangur, tukang becak, pemilik warung, tokoh masyarakat untuk segera membereskan, menyingkirkan siapa saja, apa saja, kapan saja, dimana saja, bagaimana saja, untuk mengatasi sebuah permasalahan dengan penyelsaian seselsai-selsainya. Alias pembersian seperti jaman orba soeharto dulu. Berani bertingkah, habisi saja. Itulah memo pejabat kampus ini, itulah mantra sihir yang membuat kampus tapal kuda Madura ini begitu lestari. Dan semakin tahun semakin mendapatkan banyak peminat yang tinggi, yang siap dijadikan budak abadi.

Setelah merasakan aura ketenangan dan keamanan VIP dari lingkungan kampus ini. aku mulai mencari tau bagaimana mahasiswa-mahasiswinya yang ada dalam pusaran arum jeram jarang kepang ini. Mereka adalah laki-laki titisan brahmana dan perempuan sudra yang membrahmanakan dirinya sendiri. Mahasiswanya begitu bertumpah ruah, mereka semua siap perang. Ada yang membawa parang, golok, pisau, ketapel, busur, elpiji, sapu, gitar, drem, tali, komputer, tasbih, dan ada yang tangan kosong. Siap menyerang apa saja yang tak sepaham dengan mereka, watak mereka sangat keras mengkristal, kebaikan mereka adalah keburukan bagi kita, pemaklumannya sangat menyakiti hati tampa kita sadari, ideologi mereka sama halnya dengan kambing yang dikebiri, kebaikan mereka seperti kisah tujuh kurcaci, ketulusan mereka sangat-sangat sulit dimengerti, cara mereka adalah bunuh diri, dan mereka tak pernah menyadari, tak sanggup mengerti, tak bisa memahami, bahwa mereka sesungguhnya hanya berdiam diri mengikuti apa yang dikehendaki petinggi kampus ini. Bukan berarti harus seenaknya sendiri. Namun ya  seharusnya tau diri, dari pada mempermasalahkan masalah yang jelas-jelas sulit untuk tidak bertambah menjadi masalah yang lebih bermasalah. Makin dan makin, semakin untuk tidak menyadari yang makin menumpuki jaringan pola komunikasi mahasiswa baik rohaniah dan jasmani.

Saat sudah banyak yang menyukai kegemberiaan yang samar-samar dan dibuat khusus untuk tempat ini. semalaman yang cukup diimbang-imbangi dengan enaknya suasanya ngopi, ngobrol, dan pengeluaran unek-unek yang ada dalam cantolan masing-masing hati, dimana ada yang harus di keluarkan disini, semua harus lega, sekarang ini, namun bukanya lega karena gelisah-resah telah keluar dari diri. Tapi malah karena banyak hal-hal yang seharusnya tidak mungkin menjadi mungkin dan yang mungkin menjadi tidak mungkin disini. Maka sebaiknya menyingkir agar tak jatuh dari tempat jatuh sekarang ini.

Ingin merasakan belantara liar yang disuguhkan didalam film-film penghalallan pembunuhan. Atau ingin melihat dengan mata telanjang perkelahian ideologi, perang batin, sakit sejarah, nepotisme sama rata, atau hukum rimba dan sistem kerajaan zaman kuno disini. Belanda selalu mewariskan, kita memang diwarisi. Lantas bukan berarti kita bisa memilih, karena kita disini khususnya. Adalah generasi pewaris, generasi dihendaki, gerenasi kurcaci, generasi emansipasi, generasi tukang pukul besi, generasi sublimasi, generasi puting basi, generasi kacang kemiri, generasi penuh gengsi, generasi reduksi ekologi, namun yang paling tepat adalah generasi pencari yang tak kunjung menemui apa yang dicari. Sehingga mencari hal lain yang bukan haknya. Sehingga banyak sekali perseteruan yang terjadi dalam mata pusaran eksotika kusam lingkungan luar kampus tapal kuda Madura. Memang dalam sebuah kampus apalagi kampus ini. ada banyak kutu yang melakukan simbiosis mutualisme. Namanya selalu disebut dengan organisasi kusam luar kampus yang padat berisi. Sehingga semakin mewarnai dinamika tapal kuda Madura. Mereka kebinggungan untuk mencari lahan garapan. Sehingga selalu ada dalam lahan garapan tetangganya. Merana atau gembira. Seandainya organisasiya hanya onani sambil berkata “ayo lagi.... 3x”. Bagaimana bisa mempercayai sekumpulan orang yang mereka sendiri ingin dipercaya. Entah oleh siapa dan  oleh apa.

Jika diluar kampus seperti hutan, maka didalamnya adalah rawa-rawa yang selalu menipu. Tak ada yang tau bahwa itu adalah rawa dan yang diluarnya adalah belantara. Dan siapa saja yang masuk tak akan keluar dengan rasa senang.

Sudahlah”, kataku. Ini adalah bentuk lain dari ujian-Nya. Modifikasi penderitaan yang dihaluskan. Bagaimana membunuh dengan cara yang nampak tak seperti ingin membunuh. Kesanya adalah baik. Artinya adalah mati. Namun selama itu terjadi, alangkah pamrihnya jika dihadapkan dengan banyak ketidakterimaan. Gunakan segala yang bisa digunakan dan yang tidak bisa digunakan, sebagai representasi ketulusan atas keadaan yang mensarkasmekan diri sendiri.

Siapakan diri, basulah kaki, ucap basmallah, dan akhiri dengan alhamdulillah. Sehingga terucap hamdallah 3x. Apapun adalah realita. Jangan memaksa untuk memakai realita kita. Tapi coba menerima realita sebagai diri kita. Sehingga kepasrahan tak sekedar ketidak berdayaan yang diagung-agungkan.

Senyum Pamrih

Sedari dulu senyum itu sungguh topeng yang paling menipu. Tapi sekarang banyak orang mudah tau, mana yang palsu, mana yang menipu. Sehingga orang senyum sekarang sangat langkah. Efeknya, banyak yang muda makin tua, yang tua kelihatan sepuh, yang sepuh tambah cemberut. Ini bukan hipotesis tampa dasar, atau tebakan-perkiraan asal. Namun ini sungguhan. Sungguh-sungguh menyayangkan jika senyum hanya ditujukan untuk yang pantas disenyumi. Seperti keadaan, orang, lingkungan, dan hal-hal yang pantas untuk kita senyumi. Bagaimana kalau kita belajar tersenyum pada sesuatu yang seharusnya tak boleh kita senyumi, atau mensenyumi sesuatu yang sebenarnya sulit untuk kita tersenyum?.

Seperti kebanyakan persepsi mengenai banyaknya persoalan yang makin tak mutu untuk ditelanjangi. Segala manusianya lebih murung dari pada pembohongannya lewat senyuman dan tertawaan pelipurlara. Semuanya menipu. Jika melihat banyak senyuman, sesungguhnya melihat banyak kebohongan. Pengakalan diri yang semakin dimodifikasi untuk menipu manusia lainnya. Adalah cara bagaimana manusia kita menghadapi persoalan yang sungguh-sungguh semakin menggerogoti nurani mereka. Tubuh meraka terlatih untuk menunjukan bahasa tubuh yang membuat orang mudah menagis jika melihatnya. Bagaimana semuanya ada hubungannya dengan cara hidup untuk hidup. Tertawa, senyum, sumringah, cekikik’an. Adalah bagiaan dari bertahan hidup manusia-manusia kita. Dari yang jahanam, sampai khalifah yang mengharapkan surga. Sehingga membuat yang nyata dengan yang sungguh-sungguh realita. Semakin samar akan kerinduan kita atas ketidak mampuan dan ketidakberdayaan manusia-manusia lainya dalam hidup di era mbujuklanngapusi.

Seandainya tiada lagi manusia yang senyum terhadap diri-kita. Maka bagaimana kita akan awet muda. Begitupula bagaimana kalau kita tak pernah bersenyum terhadap siapa saja manusia yang ada disekeliling kita, maka kita ini buta. Apakah senyum yang diberikan gratis dari-Nya itu kita pelihara dengan kikirnya. Apakah kita ini pastas menimbang-nimbang apapun pemberian-Nya. Yang sesungguhnya adalah gratis. Padahal senyum adalah ibadah yang sungguh-sungguh baik. Senyum dihadapan siapa saja, tapi asal tau konteksnya. Bagaimana jika ada saudara kita meninggal dunia, kecelakaan, kena musibah, bencana, dan beberapa permasalahan yang sungguh berat. Lantas kita datang dengan senyam-senyum. Bukan begitu yang saya maksud. Namun bagaimana kita bisa menghadapi apapun, masalah, rejeki, musibah, bencana, azab, dan segala macam godaan manusia dengan senyuman.

Tersenyum itu bukan selalu dalam kias makna wajah dan raut. Namun dalam hati juga bisa senyum. Dan itu adalah lapang dada, legowo, sabar, atau dalam istilah agama adalah istiqomah. Bagaimana kita menenangkan, melapangkan, menerima apapun yang sudah kita usahakan dengan melakukan banyak hal tersebut. Maka kita lebih bisa belajar akan sebuah pendewasaan yang menua. Tapi juga mengerti dan memaklumi. Bagaimana kiasan bisa jadi serius, kalau dalam kenyataan adalah pembohongan yang melebur. Sehingga siapapun yang mencoba mengerti kita, maka sebenarnya mereka sedang kita tipu dan mereka meng’amini tipuan kita.

Tuhan pun tersenyum, kenapa kita untuk tersenyum saja masih itung-ini, itung-itu. Padahal senyum kita belum tentu sungguh-sungguh senyum. Semua senyum kita pamrih. Tak ada yang tulus. Senyum karena senang, senyum karena luka, senyum karena ingin dicinta, senyum karena iba, senyum karena ingin senyum, senyum karena diperhatikan, senyum karena lucu, senyum karena kaget, senyum karena ikutan senyum, senyum karena ketidak tahuan. Semua selalu ada karena.  Apapun ada karenanya  kenapa kalau tidak karena karena?. Kenapa?,,,kenapa?... karena itu selalu ada. Padahal itu pamrih. Sedangkan pamrih itu buruk bagi diri sendiri. Jalan paling cepat menuju oportunisasi.

Sunday, May 4, 2014

Subversif Pemuda Masiv

Pemuda dusun ini sulit untuk beradaptasi dengan banyaknya persoalan yang kasat mata namun syarat makna. Bagaimana menumbuhkan sebuah kepedulian tapi tampa menyakiti perasaan yang membuat kesenjangan sampai dengki hati yang mendendam. Sulitnya menemukan sebuah cara atas harapan akan tumbuhnya kepedulian yang harus diciptakan secara masal, agar muncul kesadaran-kesadaran mengenai persoalan yang sepele namun efeknya frontal dan brutal, dengan masalah kompleks yang efeknya bercabang kebeberapa hal kecil yang dianggap sepele, namun akan menimbulkan banyak pengerucutan. Yang berimbas pada keterpurukan generasi pemuda dusun yang semakin tersusun pembodohannya, terpatrinya keacuhan, terbungkusnya kesadaran, terpuruknya kemerdekaan hak, dibunuhnya kebebasan pikir, tertutupnya padangan akan hari depan yang semakin sulit ditebak dan membuat banyak jenis pemuda yang terjerembap dalam jurang kemerosotan, keterpurukan hingga pembunuhan karakter.

Tanggung jawab yang besar akan semakin meliputi banyak ruang pemuda dusun yang selalu bersikap acuh, munafik, pamer, serbasalah, gagalpaham, umbar kebodohan, dan kesulitan mengikuti aturan permain peradaban. Sehingga setiap waktu ada pemuda dusun yang gagal menjalankan perannya sebagai generasi penerus, pemantik masalah yang akan selalu membuat inovasi dalam kemunculan sampai bentuk dari masalah yang timbul. Bagaimana ketidak tuntasan pemuda dusun dalam menyelsaikan pertautan dirinya dengan hakikat serta takdir yang mereka usahakan sendiri. Entah bagaimana tuhan menskenario kisah mereka, pemuda dusun akan semakin terpuruk, terkutuk, terkerdilkan, tersiksa, terlihat remeh. Jika mereka tak merubah keseharusan sebagai generasi yang remeh-temeh. Menjadi generasi mata pisau yang mampu membelah apa saja. Sehingga geliat zaman yang semakin edan, bisa mereka belah untuk menciptakan ruang yang cocok bagi mereka sendiri.

Sebagai pemuda didusun yang diberi kesempatan dan kenyamanan lebih, serta tanggung jawab pengetahuan serta kesadaran yang bisa dikatakan lebih. Harusnya minimal bisa membantu yang lainya. Amanah pengetahuan dan kesadaran akan menjadi berat jika diberikan sebuah fakta mencengangkan mengenai hal-hal yang jika dipandang miris dan kasihan. Serta mencari sesuatu yang bisa seharusnya dilakukan untuk mengusahakan agar yang seharusnya terjadi namun belum terjadi. Menjadi terjadi dan benar-benar sesuai fungsinya. Adalah bagaimana mengolah kemampuan diri dan menjalankan amanah dari tuhan untuk tetap berpegang teguh atas bagaimana kita melakukan sebuah konsistensi dan kesepakatan dengan semua yang berada disemesta untuk melakukan sesuatu usaha, untuk membuat semuanya lebih baik dan sesuai.

Setidak-tidaknya ada banyak alternatif untuk beramal kepada lingkungan terdekat. Jika kita adalah pemuda yang berasal dari sebuah dusun, dan diberi kesempatan lebih untuk belajar dan mengalih ilmu lebih dari pemuda dusun yang tak seberuntung kita. Maka seharusnya apa yang kita dapat haruslah bisa dirasakan pemuda dusun lainya. Bagaimana mengamalkan sebuah titipan, yaitu ilmu pengetahuan dan pelajar lainya yang pernah kita dapat dan yang tidak didapatkan pemuda dusun lainya. Kuncinya adalah bagaimana bersikap dan menjalankan tanggung jawab. Serta berbuat baik untuk kebaikan yang akan menjadi lebih baik jika kita menambahkannya dengan hal baik yang bisa berguna bagi orang lain.

Bagaimana bersikap sebagai manusia yang benar-benar manusia, untuk menumbuhkan kebaikan dimana mana saja, kapan saja, dengan siapa saja, dan bagaimanapun permasalahannya kita harus bisa berguna bagi yang lainya. Jangan takut dengan kekalahan atau hal-hal lain yang membuat kesadaran kita mengenai semua hal didunia yang hanya berstatus pinjaman, yang tak abadi dan kapanpun bisa diambil dari tangan kita. Gunakanlah apa yang didapat untuk yang lainnya. Bukan untuk memenuhi diri sendiri hingga terpuaskan. Karena hakekatnya manusia tak akan puas, apalagi pemuda. Ia adalah tahap dimana lapar adalah yang mengendalikan dan pemuda tak akan sanggup menahan lapar lebih lama kalau ia belum pernah merasakan kelaparan demi kesejahtraan dan kebaikan untuk sesamanya.

Karso Bukan Karl James

Ini malam menuju minggu,  apapun malamnya pasti akan menuju minggu. Namun apa bedanya malam dengan malam lainya dalam seminggu. Menurut banyak pujangga cinta di desa-desa atau dusun-dusun, yang dilabelli secara bodoh oleh beberapa mayoritas masyrakat, terutama pemuda sebagai pemuda desa, atau pemuda dusun yang gayanya norak, selera stylenya buruk/rendah, jarang sekolah, suka ngodai penjual kopi, gaya rambutnya alay, omongannya selalu rendahan, baunya tenggik, liurnya beracun, nafasnya bau, kencingnya sembarangan, selalu jual murah, tak tau etika, suka mabuk sambil ngomel, ucapanya tak teratur, pikirannya takpernah serius, pantatnya hitam, dan kerjanya serabutan. Padahal pemuda desa dan pemuda dusun itu syarat akan kepunjanggaan. Penuh kasih dan kisah cinta yang lebih jujur dan tulus dari pada seribu pemuda kota, yang modern dan selalu mengedepankan penyepelehan, pemborosan, pembunuhan diri, pelampiasan buta, kenakalan tak beretika, kurang sadar diri, tak ingat asal-usul, pembodohan struktural, hedonisme pikiran, sumbar jasmani dan rohani, sampai-sampai hobby antri untuk masuk neraka.
 
Setidaknya pemuda dusun atau desa adalah pujangga yang bisa jujur dengan keadaan, bisa jujur dengan segala-galanya yang seharusnya dijujuri dengan ucapan dan laku diri. Tetapi kemunafikan dan ketidakpuasan akan aktualisasi mengenai pemenuhan kehidupan. Akan semakin membuat ketidak seriusan dalam berkehidupan jujur dengan konsekuensinya. Menuntaskan perjalanan sertanya beradaptasi di era anti-nurani ini. haruslah jujur dan betah diludahi. Tetapi setan sudah menjelma gengsi, sehingga gengsi sulit sekali dihindari dan ditolak tawarannya untuk menanamkannya dari diri masing-masing pemuda-pemudi yang semakin menuntut kenyamanan tak tau diri. 

Sama halnya saat karso membahas mengenai sukarti dan kartini-kartininya dulu. Ia menjadi melankolia. Banyak yang semakin memasrakah jiwa, mengalihkan hatinya, mencari pelampiasan didiskotik-bar-atau dolly. Bagaimana dengan kepolosan dan kejujuran atas realita-rasa karso sebagai pemuda dusun. Pemuda dusun yang jujur akan ketidakmampuannya dalam menerjemahkan rasa, mengungkapkan gairah jiwa, menuliskan kiasan-kiasan rayuan, merealisasikan keluluhan hatinya dengan perlakuan nyata. Bagaimana jika karso diejek ndeso oleh teman-temanya yang sudah terkontaminasi bau kota dan hedonisme, apalagi yang murni generasi kapitalis yang trauma akan sikap jujur mengucap dan beretikad. Karso akan selalu menjadi pemuda dusun yang tak tanggung dalam bercinta dan berharap akan sebuah kisah rasa yang ideal. Bagaimana karso berharap terjadi sebuah keinginan yang memang dibuat untuk diinginkan, agar tercipta semua yang sesuai dengan keinginannya. Tetapi lain hal dengan kepantangan karso mengenai bagaimana ia seharusnya menyikapi sebuah rasa yang memang sulit untuk ditahan. Padahal tak lama berselang sukarti dan kartini-kartini karso adalah pembunuh kejujuran dan ketulusan seorang pemuda dusun yang sedikit kena akan banyaknya tuntutan konsumsi yang semakin diciptakan untuk membodohkan.

Jika karso adalah seorang anak yang dilahirkan jauh dari kebiasaan-kebiasaan akan kejujuran, rasa menghormati, kebijaksanaan, menghargai, kepolosan, keingintahuan lebih, rasa memiliki yang tak henti. Maka karso akan menjadi Karl James yang nampak dengan jas beserta dasi kupu-kupu dan selalu membebani wanita-wanita dengan banyak pikiran. Namun itu tak terjadi. Karena lagi-lagi dusun akan menumbuhkan sebuah hal yang sekarang dicari-cari, bagaimana enaknya menyikapi sebuah bentuk dan beberapa laku. Dimana akan semakin tumbuh subuh keangkuhan-keangkuhan yang dibentuk untuk menghancurkan asal-usul, dimana kemunafikan semakin meraja.

Sehingga teman dekat karso menemukan benang merahnya. Karso sebagaipemuda dusun yang suka sukarti beserta kartini-kartini dusun sejak lama, namun gagal tapi pernah berhasil dan ingin mencoba merebut hatinya kembali. Tapi karso sudah tak muda lagi, banyak hal yang terjadi didalam dirinya, dari mulai berpindah lingkungan beserta bertambahnya tanggung jawab hidup yang tak mudah dilewatinya apalagi untuk memenuhinya. Tetapi hidup didusun sangat syarat maknawiah sebuah ketulusan, kejujuran, kepolosan, dan banyak hal yang menjadikan karso sebagai pemuda terjujur dengan sikap dan lakunya yang jauh dari munafikisme.  Walau sedikit lebay, karso akan tetap berusaha melawan sukarti dan kartini-kartininya yang ia suka. Dengan kejujuran dalam menyepelekan dirinya sendiri dan menurunkan harga diri demi menuntaskan kehidupannya yang dilema akan perasaan suka bercampur nafsu dunia. 

Karso bukan aktifis kiri yang mentalnya kuat untuk seukuran pemberontak perasaannya sendiri. Namun ia sudah seperti  sufi rasa. Dimana akan dibenamkannya cinta antar sesama manusia untuk mengembalikan dirinya sebagai pemuda yang tak muda dalam menghadapi banyak perjalanan dan pergulatan demi pergulatan yang akan menentukan bagaimana nanti karso dalam menjalani perjalanan yang sampai sekarang ia belum tau akan kemana, bertemu siapa, dan bagaimana ia membawa bekal untuk perjalanan tersebut.

Karso akan menjadi karso yang sama dan akan lebih baik dalam menjalani apa yang seharusnya ia jalani. Apa yang nanti akan ia jalani, dan bagaimana ia akan belajar mengenai apapun yang sudah ia lewati sebagai pelajaran dan relevansi atas yang sudah ia lewati dan ia kira, sia-sia itu. Karso jangan lagi takut mengakui dirimu sebagai dirimu. Karena itu adalah paham paling dasar dalam belajar untuk tau diri.

Lagi-lagi pemuda dusun seperti karso akan lebih dihargai dibandingkan Karl James yang sudah mengenal banyak hal tetapi tak bisa mengamalkan apa yang ia punya untuk kebaikan bersama.

Diskon, 99% Nama Allah

Saat kakekku sedang sekarat dan butuh perhatian lebih, dari seluruh elemen keluarga  saya. Ada salah satu paklekku yang berasal dari Madura ingin membantu dan membawa kakekku kepada guruh sepuhnya. Dengan alasan bahwa kalau dibawa kepada guruh sepuhnya kakekku akan sehat sampai wal’afiat. Namun hal itu tak selancar ucapan paklekku. Banyak dari keluarga lainya yang menentang hal itu dan ingin menyerahkan sepenuhnya pada aji-ajinya doktor bahkan kepercayaan-kepercayaan alamiah. Sebagaimana manusia lainya yang tak percaya dengan hal-hal yang instan, jika kepepet. Namun sempat mengejutkan ibu dan bapakku. Penolakan-penolakan mengenai pembawaan kakekku kepada guru sepuh paklekku mengalami kejanggalan. Sebelum paklekku membawa kepada guruh sepuhnya. Paklekku berujar kepada seluruh keluargaku mengenai umur kakekku dan nasibnya saat ini sebelum ia membawa kepada guru sepuhnya diMadura.
“ini umur mbah masih lama. Masih jauh dari pencabutan nyawa oleh izrail. Lah si mbah ini masih panjang umurnya, tenang saja. Itu kata guruh sepuh”
Hal itu didengar oleh semua elemen keluargaku. Dan kebanyakan percaya mengenai hal itu. berbeda dengan orangtuaku yang tak menunjukan gelagat kepercayaan. Masih angkuh dengan kuasa iman kepada allah. Bagaimana setiap waktu selalu mendo’akan orang tua mereka seperti do’aku yang selalu mencumbu detak jantung mereka. Namun alangkah akbarnya allah. Selalu mengejutkan setiap iman manusianya yang terkecoh. Bagaimana memberikan sebuah pertunjukan yang selalu allah tunjukan saat manusia sedang kepepet dan bimbang atas kuasa-Nya. Allah memberikan shockterapi kepada seluruh elemen keluargaku dan sedikit kejutan kepada ibu-bapakku. Kakekku meninggal dunia beberapa hari setelah paklekku  berujar mengeni ucapannya tadi. Betapa terniang dan bermuram durja. Bahwa apa yang dikatakan guru sepuh paklekku di pukul dengan kuasa allah yang takterbatas ruang dan waktu. bagiaman ia mencoba menunjukan kuasanya, memperingatkan seluruh elemen keluargaku, bahwa sebetapa sepuhnya guru dan para kiai ataupun ulama meramalkan sesuatu mengenai nasib manusia lainya. Maka akan dihajar habis-habisan oleh kuasa allah. Beraninnya manusia dengan label apapun, sudah berani meramalkan, mengira-ngira suatu yang pasti mengenai kematian atau ketuntasan hidup, maka akan habislah pikirmu hanya dengan diketetapan allah. 

Sungguh kagum orangtuaku dengan hal ini. sungguh kaget terkencing-kencing keluargaku yang terlanjur khusnudon mengenai umur kakek yang akan panjang. Eh ternyata allah berkata lain, bertingkah kontradiktif. Diujilah iman kita bahwa sesungguhnya tak ada yang pasti selain mati. Seandainya beberapa bentuk kemerosotan iman cepat bisa pulihkan tampa harus diperingatkan dengan sebuah kematian atas segala hal yang sungguh-sungguh masih diharapkan kehidupannya. 

Keraguan semakin menunjukan beberapa penyepelehan atau ketidak tangguhan iman dalam melintasi zaman. Bagaimana sebuah iman yang dibentuk dari pengalaman, pencarian, kemantapan jasmani rohani, sampai kekonsistenan atas Dzat-yang Maha pemurah, Maha pengasih, Maha agung, Maha suci, Maha selamat sejahtera, Maha melimpahkan keamanan, Maha pengawal & pengawas, Maha berkuasa, Maha kuat, Maha memiliki kebesaran, Maha pencipta, Maha menjadikan, Maha pembentuk, Maha pengampun, Maha menentukan, Maha pemberi, Maha pemberi rezeki, Maha pembuka, Maha mengetahui, Maha pengekang, Maha melimpahkan nikmat, Maha merendahkan, Maha meninggikan, Maha memuliakan, Maha menghinakan, Maha mendengar, Maha melihat, Maha penghukum, Maha adil, Maha lembut, Maha mengetahui, Maha penyantun sabar, Maha agung, Maha pengampun, Maha bersyukur, Maha tinggi, Maha besar, Maha pemelihara, Maha penjaga, Maha penghitung, Maha sempurna, Maha pemurah, Maha mengawasi, Maha mengabulkan, Maha luasMaha bijaksana, Maha mengasihani, Maha mulia, Maha membangkitkan, Maha menyaksikan, Maha benar, Maha pentadbir, Maha kuat, Maha pelindung, Maha teguh, Maha terpuji, Maha penghitung, Maha memulai, Maha mengembalikan, Maha menghidupkan, Maha mematikan, Maha hidup, Maha berdiri sendiri, Maha penemu, Maha mulia, Maha esa, Maha esa (satu), Tempat bergantung, Maha berupaya, Maha berkuasa, Maha menyegerakan, Maha mengakhirkan, Yang pertama, Yang akhir, Yang zahir, Yang batin, Yang memerintah, Maha tinggi & mulia, Maha baik, Maha penerima taubat, Maha penghukum, Maha pemaaf, Maha belas kasihan, Maha pemilik kerajaan, Maha memiliki keagungan & kemuliaan, Pemilik keadilan, Maha mengumpulkan, Maha kaya, Yang maha memakmurkan, Maha pencegah, Maha mendatangkan, Yang memberi manfaat, Maha pemberi cahaya, Maha pemberi petunjuk, Maha pencipta keindahan, Maha kekal, Maha mewarisi, Maha pemberi petunjuk, dan Maha penyabar. 

Bagaimana mempertahankan iman disaat banyak tawaran yang lebih menggiurkan dibanding dengan kuasa allah yang lebih dari kecukupan untuk pemenuhan kehidupan. Entah apa yang selalu membuat banyak keimanan selalu bisa ditawar-tawar atau dicair-cairkan dengan mudah saat  kebinggungan atau ngeluisasi melanda banyak hati, pikir, nurani, sukma, prana, dan ruh. Padahal janji kenikmatan yang sudah lebih dari memuaskan telah disuguhkan dengan cuma-cuma oleh allah hanya dengan iman yang harus diperkuat lalu dipertahankan dalam menjalani sebuah perjalanan, menuju kematian yang pasti dan hakiki.

Saturday, May 3, 2014

Kopi Instan

Tau rumahnya, bisa menyimpulkan apa isinya, paham bagaimana orang-orangnya, mengerti kebiasaanya, tau seluk-beluk dan kegunaan setiap barang-barang dirumahnya, mengerti kebiasaan orang-orangnya dalam melakukan aktivitas diluar rumah. Tapi tak mengerti dimana dapurnya, tak pernah merasakan bagaimana kora-kora (cuci piring), tak paham sistem dan peraturan dalam mengolah masakan saat didapur, dan tak tau apa yang dimasak didapurnya. Sehingga tak pernah mengetahui berasal dari apa, bagaimana mengolahnya, sehingga bisa terbentuk sebuah makanan-makanan yang dapat menghidupkan seluruh isi rumah dan penghuninya. Semua selalu bersumber dari dapur, dapur tempat memasak. Makanan yang selalu disediakan untuk pemenuhan hidup. Dan itu semuanya dihasilkan dari tempat yang bernama dapur, atau pawon.

Begitu kok berani-beraninya menabuh genderang dengan berang. Menantang kebebalan dengan keuletan, menasehati ketidakadilan dengan prasangka kebaikan atau khusnuhdzon, meniduri keselarasan dengan padu ucap dan laku diri. Sedangkan pabrik penentunya tak pernah tau, tak pernah merasakan bekerja dipabrik tersebut, acuh terhadap sumber daya isi yang sesungguhnya menentukan segala dan apapun dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang sulit diwakili hanya dengan sebutan “dinamika kehidupan”. Semuanya akan seolah tidak afdhol.

Bagaimana mungkin bisa menilai bahwa bekerja sebagai penjaga warung kopi itu gampang. Cobak nyemplung’o dewe(coba rasakan sendiri) siapa bilang gampang dan mudah. Sekelas pejaga warung kopi itu harus bisa memahami paling sedikit itu 5 ilmu; ilmu pahamroso(paham rasa), sabar lan nrimo(sabar dan nerima), nglebur karo jiwo(melebur dengan jiwa), ngudek jenang(mengaduk jenang), & sungkan nglangkah(tidak enak melangkah). Dan itu biasanya disebut oleh beberapa penjaga warung kopi baik senior, amatir, atau harian “Ponjogo”, yang terdiri dari “po” atau panca yang artinya angka lima, sedangkan “njogo” atau menjaga yang artinya melindungi segala yang ada. Berarti lima ilmu yang dipergunakan untuk menjaga segala yang ada demi terkonsistennya keadaan dimana semuanya punya tempat dan waktunya masing-masing sehingga nampak keselarasan.

Rasakan dulu bagaimana pedihnya butiran kerikil dan endapan debu berterbangan hingga menemukan matamu sebagai tempat tujuan. Atau rasanya melihat orang tak makan karena terlalu banyak uangnya dan binggung membelanjakannya. Bagaimana dengan tuntutan demi tuntutan yang kita hajarkan kepada orang tua. Pengelompokan pemuda yang ingin melanjutkan belajar ke perguruan tinggi yang mengamini banyak dogma dan ribuan mahdzab yang klise. Seandainya pengasuh pondok pesantren adalah bigbos majalah playboy, apakah anda yakin bahwa sebenarnya bigbos majalah playboy tersebut akan menjadikan santri-santri yang salah satunya, anak anda menjadi lulusan yang bejat. Tampa sebelumnya anda kenal bagaimana sejarahnya, pengalamannya, lingkungannya, ibu-bapaknya, kakek-neneknya, pekerjaannya, jenjang pendidikannya, agamanya, dan orang mana itu bigbos majalah playboy itu. Baru anda boleh meramalkan, memastikan, menuduh-nuduh, mengira-ngira, kalau nanti bigbos majalah playboy tersebut adalah pengasuh dipesantren yang dihuni oleh anak anda, akan membuat anak anda setelah lulus dari pesantren itu akan bejat, blunat, rusak, ajor, atau bahkan anak anda bisa jadi model cover majalah playboy edisi pesantren.

Jika sumbar ditegagkan, getun-getuno......apapun yang didapat sebelum melewati legitimasi dan kedaulatan luar-dalam saat proses yang harusnya dilewati secara sadar dan tidak. Maka seharusnya kita tak sah untuk mengakui atau menghakimi yang seharusnya belum pantas kita akui apalagi kita hakimi. Pantas saja sebuah kebiadapan peradapan selalu berlangsung secara turun-temurun. Dari berbagai versi dan bentukpun, selalu mengadaptasikan lingkungan, generasi, dan moment kekinian. Seandainya sikap tau diri dan kerendahan nurani bukan saja kerendahan hati. Maka kesatuan dalam sebuah harapan atas kemungkaran, plesetan atas ketidak nyamanan berkehidupan, pemenuhan kehidupan yang syarat akan sikut-sikutan. Entah bagaimana bentuknya kesebaikan yang harus diciptakan. Bagaimana harusnya dan apa yang bisa diperbuat saat semuanya hanya ingin hasil tampa berharap proses bisa mengantarkannya pada sebuah harapan kepuasan yang semua dan tak pasti. Sudahkah memantapkan diri untuk serius berproses tampa pragmatis-egalistis.

Thursday, May 1, 2014

Idiom Buruh

Merasa penting dan tidak penting. Sampai tak sadar kalau kambing tetap mengembik, burung tetapi bersiul, dan jalanan disurabaya semakin padat oleh ribuan buruh beserta atribut demontrasi yang menunjukan keperkasaan tampa taring dan kering. Berhamburan seluruh buruh dan semua itu bisa dilihat di semua layar televisi, sekarang ini atau bahkan gembar-gembornya sudah sejak subuh tadi. Ini bukan kegiatan yang membudaya dikala 01 Mei berlangsung. Semua mendung asap kendaraan dan penuh teriakan-teriakan menuntut kesejahtraan yang relatif dan bentuk penyesuaian mengenai kepuasan-kepuasan yang setiap hari mengalami aktualisasi.

Jika buruh memang sebuah sebutan yang dibentuk untuk memblow-up ketertindasan, keserakahan yang ditentang, keadilan yang dipincangkan, kemrosotan nilai moral yang semakin anjlok, sampai penghilangan-penghilangan martabat manusia-manusianya dalam sistem pemenuhan kehidupan yang sudah di mobilisasi dengan gaya kapitalisasi. Semua akan menjadi carut-marut tak terkontrol. Bagaimana kontradiktif yang ditampilkan dengan ekstra ruang spesial di hari buruh ini. Entah apa yang menjadi pikiran mereka yang berkumpul dengan banyak atribut dari mulai yang primer, sekunder, hingga tersier. Demo yang menuntut, aspirasi yang menghasut, bahasa tubuh yang menyampaikan pesan kelaparan, namun gaya berdemo yang hedonis serta sistem tahunan yang begitu estetis. Selalu menylimuti layar televisi dan perhatian tahunan atau keadilan yang dinilai tak aktual dan pintar menyesuaikan tuntutan-tuntutan yang selalu perbarui dan ditambahi demi pemenuhan hajat pribadi yang tak pernah selesai dan tetap ini.

Siapapun, dimanapun, kapanpun. Semua selalu sama. Sama-sama menunjukan keperkasaannya dalam berjuang dan mencapai apa yang diinginkan. Keinginan yang selalu tak pernah selesai, perjuangan yang dinilai hanya sia-sia walaupun tetap bergelora dalam menyampaiannya. Hati dan jiwa yang keras akan selalu menunjukan keberingasannya. Ketertautan persaudaraan menjadi pantas diibai dengan beberapa kompromi-kompromi perasaan sadar diri. Bagaimana sikap kemanusiaan yang diuji dalam menuntaskan banyaknya permasalahan buruh yang kadang masuk diakal dan syarat kasihan. Meraka kepanasan, kita keluar keringat dingin, mereka kebinggungan dengan ketidaktahuannya, kita nyaman karena banyaknya pengetahuan yang tak didakwahkan kepada yang lainya, mereka sukar untuk santai karena pekerjaan dan sistem yang selalu mencekik saat mereka ingin memuaskan keringnya tenggorokan mereka dengan air comberan atau ludah bekas jilatan kaum proletar lainya. Dirasakannya kelelahan namun tak dirasakannya hasil dari keringat sampingan yang dilakukanya setiap tahunnya.

 Jika akan dibuat sebuah kesepakatan mengenai apa yang harus dilakukan untuk menyikapi, merealisasikan, atau lebih sederhanannya, manusia-manusia yang diberi label buruh ini supaya dapat mewujudkan keinginannya, mewujudkan keinginan kelompoknya, mewujudkan keinginan-keinginan yang dipoles seperti benar-benar keinginannya sendiri tapi sebenarnya keinginan titipan. Atau keinginan-keinginan bohongan yang ditanamkan di otak manusia lainya sehingga kesannya keinginan sendiri-sendiri yang berbeda-beda variannya itu menjadi sama. Sama dan mudah diarahkan kearah yang terserah kemana, oleh para penentu arah. Jika yang diketahui buruh hanya upah yang tak pernah cukup memenuhi kebutuhan hidup yang selalu mengalami perkembangan secara pesat, secara besar dibandingkan dengan usaha-usahanya dalam pemenuhan hidup, seperti yang sudah saya bilang tadi.

Apakah jika kemurniaan keinginan yang mewakili atau amanah yang diterima untuk menyampaikan sebuah ketidak puasan kepada pemerintah, hanya akan dibuat sebuah slilit yang semakin kecil semakin bisa memasuki labirin di sela-sela taman yang berhiaskan mahkota-mahkota yang pamer akan kekuasaan dan haus menguasai. Maka sebaik apapun seorang yang menembus labirin itu pasti akan tersesat. Labirin selalu menunggu apapun untuk disesatkan, baik buruh, pekerja, penindas, pemusnah, simiskin, sikaya, dan segala yang diamini dengan sebutan-sebutan kesepakatan tersebut.

Buruh selalu punya hari spesial untuk menunjukan keperkasaannya, kekuasaanya, soliditas atas saudaranya senasib, dan ketertindasan yang dimobilisasi. Untuk dijadikan kekuatan demi menentang ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Ketakutan mengenai pemanfaatan kekuatan besar yang identik dengan penderitaan, pemiskinan, ketidakberdayaan, dan ketidakpuasan akan tunjangan-tunjangan hidup setiap tahunnya.  Demi memuaskan keinginan para buruh yang tidak puas akan pemenuhan-pemenuhan keinginan dalam sebuah dinamika pemenuhan kebutuhan hidup. Maka budaya turun kejalan dan mengumpulkan semua yang dipandang senasib, akan selalu sulit menemukan sebuah jalan keluar demi terciptanya kepuasan dan kesejahtraan yang relatif. Karena setiap waktu semua keinginan dan tuntutan buruh atas ketidakpuasanya akan selalu menginginkan hal yang lebih dari yang sebelumnya. Ketidakinginan mengenai sebuah pengkerdilan dan penyebutan idiom “buruh” adalah sebuah penyepelean makna yang sungguh-sungguh besar. Bagaimana mungkin ketertindasan, ingin tercipta keadilan, harapan untuk sejahtera, cita ingin bahagia, berusaha untuk memenuhi hidup, peluh dan usaha penghabisan waktu, harapan untuk mendapat tunjangan dan bayaran lebih, manusia-manusia yang dibuat layaknya mesin yang habis buang dan ambil yang baru, hingga tangis, harapan bertumpuk, serta angan-angan mengenai keluarga beserta ingin hidup damai. Menjadikan ketidak pantasan mengenai penyingkatan dan pembutan idiom atau sebutan “buruh” sungguh takseimbang dengan apapun yang sebenarnya nyata dan dirasa.