Sunday, December 27, 2015

Yang bukan

Kita yang tersesat dalam rutinitas kekinian terkadang terjebak dalam kekakuan 
Sungguh membosankan jika menikmatinya dengan wajah murung atau muka berang
Coba buatlah semua kerumitan menjadi kebahagiaan walaupun itu taksemudah tutur
Melihat gelap sebagai terang atau menerima hujatan sebagai hiburan disaat tegang
Mencairlah seperti kutub selatan dan sesekali menyapa orang ditepi jalan

Pegawai kantor yang pulang malam
Kerumunan kuli bangunan berteriak saat jam istirahat datang
Parkiran mulai kosong dan lenggang
Burung-burung bertebaran sambil membuang kotoran
Beberapa penjual makanan mulai hilang secara perlahan
Lihat, para satpam mulai berkemas untuk pulang
Penjaga tiketpun mulai keluar dari bilik sempitnya
Semuanya turun kejalan dan bergabung di riuhnya kemacetan

Bekas hewan terlindas diaspal sudah mengering
Maklum hari ini hujan tak turun dan mendung sedikit ragu
Traffic lightpun penuh antrean para penjual koran yang tak laku
Lampu-lampu jalan seolah hiburan disaat pulang
Entahlah, apakah pekerjaan hari ini cukup melelahkan
Tapi, kenapa klakson kendaraan seolah liar mengancam
Tiada yang mematuhi aturan, jalan-jalan seolah arena perlombaan
Semua ingin didepan, kau ini hewan atau mahkluk jadi-jadian

Jika tujuanmu adalah pulang
Coba sesekali menikmati perjalanan yang membosankan ini
Lihat pejalan kaki itu
Pandang juga gendung dan bangunan megah disamping jalan
Semua mewah walau ada yang tidak dan biasanya tersingkir
Kontestasi pasar mulai kurang ajar
Kalau tak punya nilai jual pasti diasingkan
Sedangkan yang punya kuasa tak segan menjadikannya barang usang

Tak ada kasih sayang di kota besar ini
Semua seperti cerita horor tahun 70an
Jangan salahkan kalau orang baik pada diam
Karena sudah lumrah yang emas dihargai murah
Sedangkan yang batu disulap menjadi berlian
Jangan salah, kita sekarangkan sudah acuh
Yang kita mau hanyalah yang rasa jeruk
Bukan jeruk yang benar-benar jeruk

Nofianto Puji Imawan
Madura, 22 Desember 2015.



Sekaligus

Disini banyak lamunan tentang masa depan 
Setiap rentan waktu adalah perbincangan tentang masa datang
Menyesuaikan diri dengan asingnya kehidupan-kini
Berusaha taklelah dengan mamaksa diri untuk sesuap upah
Melupakan hal-hal penting dalam hidup untuk terus hidup
Bagaimana bisa manusia melakukan hal itu untuk sementara

Mengertilah bahwa realitas adalah ujian sekaligus pembelajaran
Kita diharuskan memetik hikmah sekaligus diuji pula
Batasan-batasan diciptakan untuk menguji atau memperingatkan
Sedangkan kini kita sudah tak tau mana yang terbatas dan yang tidak
Semua diseragamkan tanpa mau tau apa alasan dibaliknya

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 27 Desember 2015.

Kupikir Begitu

Melihat tumpukan buku disampingku
Dan pantulan kaca yang menyapa
Membuatku teringat pada banyak kesia-siaan
Berbulan-bulan waktu kuhabiskan dengan keraguan
Upaya perbaikan diri selalu kulakukan demi masa datang
Walau target memang sulit tercapai
Usaha ini begitu melelahkan
Entah kenapa semua menjadi sepi dan menegangkan
Padahal tak ada mata yang saling pandang

Supaya lekas tenang kucoba duduk dan memikirkan kenangan
Semuanya kupandang dan kurasakan satu-persatu
Akankah sama seperti keinginan atau hanya akan tersimpan
Degub jantung semakin mengencang
Tubuhku mulai melemah dan mataku sedikit buram
Kepalaku terasa berat hingga berjam-jam
Begitu pula asap rokok yang bergumul disekitar wajahku

Panas matahari mulai menembus kaca
Anginpun berhenti dan tak ada suara bambu
Saat ini aku tak memikirkan apapun di benakku
Banyak pertanyaan dalam otakku yang tak ada jawabannya
Semoga ini bukan jalan buntu

Nofianto Puji Imawan
Jombang. 27 Desember 2015.

Monday, December 21, 2015

Why Is Complicated

Dikotomi pemahaman manusia memang berbeda-beda. Masing-masing memiliki pola pikir
sendiri-sendiri. Percayalah bahwa perbedaan pola pikir mereka bakalan sukar menemukan titik temu, karena mereka berangkat dari logika yang jelas berbeda. Lantas bagaimana dengan menyakinkan, bukankah menyakinkan adalah ilusi buatan yang diciptakan akal untuk sebuah tujuan. Semuanya memang bisa dijelaskan, begitulah manusia. Padahal masih banyak yang sulit bahkan tidak mungkin terjelaskan dengan akal manusia. Benarkah?

Sifat manusiawi kitalah yang menutupi. Menutupi apa? apa yang ditutupi? Sadarkah bahwa apa yang kita lihat adalah tipuan yang kita ciptakan sendiri. Bagaimana bisa kita percaya bahwa hari ini hujan jika kita tidak melihat halaman rumah kita basah oleh air. Apakah seperti itu pola pikir kita. Atau bagaimana kita bisa kenyang jika 1hari 24 jam kita tidak makan.

Apa yang sekarang kita yakini dan diyakini banyak orang belum bisa menjamin kebenarannya. Kepastiannyapun tidak 100%. Coba kita telaah secara mendetail menurut pengalaman sendiri-sendiri, karena saya tidak akan memberikan contohnya. Sekali lagi bagaimana bisa kita percaya dan yakin bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Mengapa itu terus diyakini hampir semua orang. Bukannya pengalaman itu cukup menghabiskan waktu. Keraguan memang perlu untuk membuktikan sebuah ketepatan, bukan kebenaran. Terlalu banyak kebenaran yang sudah kita ciptakan sendiri sehingga maklum jika banyak dari kita yang semakin acuh dengan kepastian atau hukum yang berlaku. Apa karena kepercayaan yang menurun, keraguan yang meningkat, atau inkonsisten manusia yang berlebih mungkin juga kemunafikan yang overdiosis.

Banyak yang perlu dijelaskan dari tulisan ini. Lantas bernahkah semua hal itu perlu penjelasan jika penjelasan hanya berguna untuk menyakinkan kita sendiri. Kita terkadang sukar meng’amini bahkan menyakini apapun yang sulit diterima nalar. Logika manusia sangatlah rentan dengan itu, namun ada beberapa manusia yang rela menyakini banyak hal yang tak terjelaskan bahkan tak logis sama sekali bagi manusia lainnya. Lalu untuk apa mereka melakukan itu. Apakah hanya untuk menjadi penyeimbang dan pembeda dari manusia lainnya. Oposan diantara mayoritas.

Ini adalah penjelasan untuk segala kerumitan dalam memahami maksud tulisan ini. Kita pasti pernah memikirkan apapun yang sebenarnya tidak penting bagi kita, bahkan kita sering menyimpannya dalam waktu yang begitu lama. Mengendap, menguap, hingga menyublim kembali. Logika kita terbatas dalam menjelaskan bermilyar realitas hidup. Sehingga hanya dengan memakluminya kita bakalan mengenal yang namanya kompromi. Semua yang rumit menjadi lenyap, padahal sebenarnya tidak. Karena kita kompromi dengan diri sendirilah hal itu bakalan terjadi.

Mencapai kebijaksanaan dalam menerima kekurangan dengan memaksimalkan kelebihan menjadi pelarian yang tepat. Kemampuan setiap orang-orang memang berbeda-beda dan itu bukanlah alasan untuk saling merendahkan lainnya. Kelebihan orang juga sama seperti itu, maka jangan suka menyombongkan kelebihan yang jelas-jelas hanya titipan itu. Namun ini tak sesederhana itu. Kita yang tau kalau melakukan hal yang dilarang adalah dosa tapi kita masih saja melakukan itu. Semua memang tak segampang kelihatannya. Maka dari itu kita sebagaimana manusia abad 22 perlu mengkaji kembali pengalaman hidup. Apakah kita sudah pernah merasakan keontentikan pengalaman?

Hai...

Meredam rindu sampai lebam pipiku
Ini bukan sabtu malam minggu yang sendu
Dimana sepasang kekasih terpisah jauh dan...
Berdiam sambil mengantongkan tangan ke dalam saku

Hujan tak merata sedang jatuh
Semua jalanan menjadi basah
Air bercampur debu menutupi pandanganku
Hingga cahaya lampu yang pecah menghalau bayangmu

Kosentrasiku terganggu dalam malam penuh liku
Sesaat ingin selalu mencumbumu tapi aku tau kau jauh
Sesekali kudengarkan nyanyianmu dimalam itu
Hanya untuk mengingatkanku bahwa suaramu begitu merdu

Suasana ini melarutkanku dalam pertanyaan tak menentu
Siapa saja akan tau kalau kisah ini begitu pilu
Hutang pertemuan, ungkap kasih sayang, yang mungkin terlalu haru
Sudah membuat banyak gairah kelilangan hulu

Berdiam untuk menghayati banyangmu yang jauh
Beberapa kali kucoba mengalihkan rindu berwindu-windu
Dengan menolak segala ingin lainnya
Hanya untuk menunggu pertemuan sabtu malam minggu

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 05 Desember 2015.

Friday, November 27, 2015

Mukallaf Kilav

Selarut apapun malam, Allah tak pernah tidur 
Sepanjang masa adalah sekedipan mata bagi-Nya
Tiada umpama selain Asmaul-Husnah
Dan jangan sampai kita mencoba menerka-nerka
Apapun tentangnya sebelum benar-benar tiada

Proses pendewasaan memang cepat rasanya
Kitapun sudah berakal atau akil balihq
Ingat janji kita kepada-Nya
Tiada tuhan selain Diri-Nya
Atau mungkin kita lupa

Mengucapkan janji dan sumpah dengan bimbingan orang tua
Memilih iman kepada-Nya dan mencoba menyadari
Bahwa tiada pilihan selain beriman dengan pasrah
Melafalkannya, tanpa tau apa esensi dasar didalamnya
Yang penting sudah, lalu apalagi
Gugat kita dalam hati sembari mengelak ketentuan illahi

Ingat kesederhanaan perintah-Nya
Menjalankan perintah-Nya
Menjauhi Larangan-Nya
Begitu sederhananya sampai susah melaksanakannya
Entah kenapa, apa mungkin itu terlalu berat rasanya

Manusia memang rajanya tawar-menawar
Kompromi sebagaimanapun pasti kurang saja
Ketidakpuasannya seolah menutupi rasa syukurnya
Untuk memanjatkan do’a saja
Masih sering mengutamakan apa yang belum didapatnya
Daripada mensyukurinya sebagai anugrah paling esa

Allah begitu memudahkan kita dalam menjadi manusia
Sayangnya manusia terlalu rumit untuk menjalani hidupnya
Untuk ibadah saja, manusia begitu mudah menundanya
Tapi kalau sudah ingat keinginannya
Semua pagar rela dibongkar hanya untuk mencapainya

Hakikat yang sudah digariskan tapi tidak dianjurkan
Pejalan harus senantiasa berjuang walau berat berjalan
Untuk mencapai perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya
Memang susah walau sering dicoba
Karena pilihan itu ada batasnya
Dan ketentuan itu sudah hak-Nya

Nofianto Puji Imawan
Madura, 28 Nopember 2015.

Penyihir Sajak

Menyusun, merangkai, menggarang, mengubah, memaknai, dan menimba 
Semua diramu dalam beberapa huruf, kata, kalimat, hingga paragraf
Pengolahan batin dikombinasikan kecerdikan pikir sembari meniduri maksud
Yang semuanya serba absurd bahkan berujung kisut walau sembari duduk

Ilmuan-ilmuan makna mencoba meneliti kehebatan pola-cerna manusia
Untuk menemukan kepastian dan menolak ketidakpastian hidup
Penyihir-penyihir kata berusaha menyelimuti realita dengan metafora
Agar terlihat lebih indah dan syarat kemesraan-kemesraan tanpa dusta
Cendekia-cendekiawan tanda-baca begitu pandai membohongi manusia
Dengan ribetnya birokrasi yang selalu beralasan untuk memudahkan komunikasi
Ulama-ulama tata bahasa sangat lihai membolak-balik logika sembari bermain retorika
Walau maksudnya adalah menggalang dukungan dari jama’ah-jama’ah untuk mengikutinya

Gemuruh rindu menderu banyak manusia yang sudah kehabisan gairah
Semuanya berubah dan waktu selalu dipersalahkan karena itu
Kasihan betul mahkluk tuhan yang satu itu
Waktu, rupanya kau itu selalu dibuat sendu
Oleh manusia-manusia yang dungu
Yang tak tau apa sebab-musabab soal rindu

Bertugas menelisik kenyataan dan menimbang persoalan dengan mata telanjang
Hati memang perlu dipertajam sama halnya kejelian manusia yang mulai tumpul
Kesadaran tentang kesederhanaan hidup mulai diingkari bahkan disingkirkan
Karena yang disebut kemajuan adalah menghidari kerumitan dan permasalahan
Hidup dengan aman tanpa ancaman lalu meninggalkan ketidakbergunaan
Efesiensi hidup disulap dan disepakati sebagai evolusi besar peradaban
Melupakan hakikat utama untuk menjadi pejalan yang hanya berjalan
Keabadian menjadi harapan hingga kematian semakin jadi ketakutan umat

Rupa-rupanya banyak pengabadian kisah dalam kata
Semua dicatat dengan bahasa dan gaya yang begitu kaya
Macam-macam pula bentuk dan maknanya
Sayangnya belum banyak yang mampu menerjemahkannya
Menyederhanakan sebuah pesan dibalik banyak kenyataan
Makna-makna rahasia itu seolah bertebaran dimana-mana
Jalan-jalan, rumah makan, bukit-bukit atau lautan
Keterbatasan manusia memang terletak pada dirinya sendiri

Manusia tempatnya salah, manusia tempatnya lupa
Manusia tempatnya gegabah, manusia tempatnya dusta
Manusia tempatnya dosa, manusia itu peminta apa yang tidak ia punya
Minta-minta, nuntut-nuntut, mohon-mohon, maaf-maaf, itu saja
Masih gengsi dan sukar dijalani, menikmati hidup hingga lupa mati

Rumbai-rumbai pertanyaan selalu diterjemahkan dalam kesederhanaan
Seperti rasa lapar yang menuntut kita untuk segera makan dan kenyang
Sembari melupakan apapun yang menjadi kewajiban hingga tuntutan
Ingatkan saja kalau aku sudah sedikit hilang ingatan
Namanya manusia, kalau tidak lupa ya salah

Nofianto Puji Imawan
Madura, 26 Nopember 2015.

Pejalan

Perjalanan adalah keresahan yang dilampiaskan 
Seorang manusia yang dalam hidupnya takpernah berjalan
Melakukan perjalanan hingga menjadi pejalan
Yang tertunduk disetiap jalan dalam kehidupannya adalah sekedar manusia
Perjalanan adalah kehidupan itu sendiri
Maka jangan sepelekan sebuah perjalanan

Hanya perubahan yang kurasakan secara perlahan
Gairah telah berani mengolahnya menjadi kekesalan
Bagaimana aku harus tidak mudah mengeluh
Dan melakukan apa yang harus dilakukan
Bagaimana sebuah perjalanan ini menjadikan
Segala kemungkinan yang semakin mungkin
Untuk dicari tau “kenapa”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 14 September 2015.

Dalam Impian Bocah

Aku masih ingat saaat semua masih nyaman untuk layang-layang 
Dan bocah-bocah girang dimana kebun seolah rumah elok yang ditumbuhi buah
Begitu pula jalanan yang masih berwujud tanah dan belum aspal
Sehingga saat hujan menerpa bau khas itu muncul kembali

Masing-masing rumah hanya memiliki motor tak lebih dari satu
Semua selalu dilengkapi dengan teriak ibu-ibu yang selalu mengingatkan
Bahwa mahgrib sudah tiba dan jangan membantah
Umpama sebuah pagar disamping sawah yang selalu menjaganya

Itu adalah masa dimana gairah
Tentang dunia yang begitu sederhana
Telah mampu memupuk banyak cita-cita mulia
Sama seperti puluhan pemuda yang siap melanglang buana
Telah tercipta ditempat ini

Yang masih merasakan kecil dulu
Bercumbu dengan alam tanpa mau teralihkan
Bermain dengan sesama manusia
Sembari diawasi sang pencipta yang tertawa

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 14 September 2015.


Pada Awal

Dulu itu aku taktau, sampai tak mau tau hingga kini 
Semua berujung pada malu dan enggan mengaku
Bahwa yang diucapkan dulu itu benar adanya
Kenyataan itu memang tinggal menunggu waktu
Tanpa peduli seberapa besar nyalimu
Tingga sekali sentuh semua bakalan runtuh

Awal akan menyisakan sesal
Atas kegundahan dan hirauan yang tak diperhatikan
Semua akan bergantung pada awal
Tiada akhir yang tenang jika awal
Penuh dengan penyepelean-penyepelean
Ingatkan apapun yang ku hiraukan
Dan jangan pernah terjebak dalam sesal

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 14 September 2015.

Wednesday, November 18, 2015

Tanpa Alasan

Ia bertanya dengan aneh tentang suatu alasan yang sebenarnya tak mudah untuk dijelaskan 
Penasaranya membuatku gelisah, kenapa hal mendasar itu ditanyakan ulang
Kurasa ia harusnya mengerti dan paham, karena semua pasti punya alasan
Namun ia sekali lagi tak menjelaskan, kenapa pertanyaan itu terlontar kepadaku

Sekali lagi aku masih penasaran dengan alasan
Mencoba menebak bagaimana semua ini bisa berjalan tenang
Menerka setiap ucapan tanpa harus binggung atau gelisah
Tapi sekali lagi ia tak tau apa yang sebenarnya melandasi pertanyaan itu

Coba ia mampu menyederhanakan
Banyangkan semua ini adalah cara untuk menguji iman
Dimana pertemuan menjadi barang mahal yang sulit dibayangkan
Untuk satu pertanyaan, harusnya ia punya beribu alasan dibelakang

Ia memang sebuah kejutan diantara tumpukan kegundahan
Belum menyadari kelebihan membuatnya semakin menantang
Walau terkadang ia membuat binggung banyak orang
Bahkan sulit menyederhanakan kerumitan
Tapi syukurlah ia bisa memahami dan selalu bersabar untuk menjalani

Nofianto Puji Imawan
Madura, 17 Nopember 2015.

Friday, November 13, 2015

Masa depan & Kesiapan Batin

Rutinitas rumus pasti. 
jika tak patuh dan semaumu sendiri, tentu akan dibuang atau di mutasi. 
Itulah pekerjaan, dimana kalian tak mungkin menemukan kemerdekaan diri bahkan rawan lupa diri. Sebagai permulaan ini cukup tak menyenangkan. 
Siapapun akan resah kalau diberitau nanti kamu akan tertimpa bencana, apapun itu. 

Melupakan kesederhanaan hidup. 
Persis seperti kewajiban yang ditindih hak. 
Keinginan manusia memang menuntut untuk ditepati, terkadang sampai membuatnya lupa diri. Menghubungi yang jauh dan menghiraukan yang dekat. 
Analogi kalsik ini selalu pantas untuk manusia yang sedang tinggi.

Anakmu Perlu Rindu Bu...

Bu...anakmu sedang sombong 
Saat ini kerendahannya diuji waktu
Langkahnya memang selalu pasti
Tapi lihatlah bu...
Sebenarnya ia sedang kalut
Matanya mulai memancarkan kemilau
Pikirannya mulai ditumbuhi gelisah yang ragu
Ini bukan do’a bu...
Inilah rasa, dimana tempat munculnya suara
Panggilan tetang rindu yang membara

Sepertinya musim akan berubah
Saat itu pula pertanyaan akan berakhir
Sampai jawaban mulai mengalir bersama derasnya hujan
Bu...anakmu perlu arus untuk menghayutkannya
Karena rindunya mulai mereda
Kasihnya hanya mampu terasa lewat do’a semata
Sujudnya cuma pura-pura
Padahal tuhan sedang mengujinya
Semoga ia mampu menahan

Ucapanmu semakin terasa nyata
Disaat ia merasa utuh menjadi manusia
Bu...amburadul rasanya
Hidup diwaktu kejujuran sudah diubah
Menjadi bualan untuk memantapkan tujuan

Ia mendo’akan
Tapi menghiraukan
Saat jauh rasanya semua tentangmu adalah kebenaran
Sayangnya waktu itu ia hanya anak kecil yang serapah
Sampai-sampai takpeduli apapun tentang mu bu...

Kali ini waktu sudah merubahnya
Ia tak lagi menjadi buaya yang lupa sarangnya
Semua akan menjadi kepatuhan dan keta’atan
Yang haram untuk dilanggar apalagi ditawar

Bu...malam akan semakin larut
Sedang apa disana, apakah masih seperti biasa
Atau semua sudah berbeda dan sudah berubah
Ia tau kalau manusia hanya akan tertimpa tangga
Kalau tak berani memanjatnya

Nofianto Puji Imawan
Madura, 13 Nopember 2015


Tenang Sya...

Sya...gumam suaramu adalah pertemuan yang tertunda 
Aku tau kesempatan itu memang jarang datang
Kalaupun datang pasti sungguh mengkagetkan
Entah apa alasan kita untuk jadi satu-kesatuan cerita
Sya...perlukah pertemuan jika tanpa itu sekalipun
Kita sudah merasa dekat dan sangat dekat
Apa aku terlalu berlebihan menjalani rasa
Atau kau pikir aku hanya membual saja Sya...

Tidakkah kau ingin bertanya Sya...
Tentang apapun yang membuatmu resah
Ingat Sya...waktu pertama kau senyum & aku menatapnya
Dipelataran kontrakan waktu itu
Coba kau ingat Sya...lepas sekali senyumu
Hingga membuatku sadar kalau keindahan itu sederhana

Akupun tak percaya kalau kau itu mempesona
Apapun tentangmu menjadi istimewa
Walau beberapa kali aku mengelaknya
Tapi jujur, kau membuatku kompromi soal rasa
Bahwa aku sudah kalah olehmu

Pertemuan singkat namun begitu mengikat
Waktu itu sayangnya aku tak berani mengutarakannya
Karena kau terlalu istimewa saat aku mulai tergoda
Hingga taktertahan dan kuberanikan untuk mengatakannya
Awal yang singkat untuk kasih yang melekat

Bertemu dan aku malu-malu
Kau datang dari jauh sampai aku semakin jatuh
Percayalah Sya...aku sudah tenang waktu itu
Tapi pesonamu sudah berani menghentak batinku

Sudah tiga kali kita bertemu
entah berapa kata kita habiskan untuk saling merindu
tapi jangan lelah Sya...
karena ini adalah permulaan yang indah
kita diuji untuk menabung rindu
walau itu tidak enak, sama sekali tidak enak

Aku yakin, kalau sudah waktunya
Semua akan lebih baik dari kini
Kita akan menghabiskan setiap waktu tanpa terhalang jarak
Melepas gairah rasa yang sudah meluap seolah airbah
Dimana kita akan berpelukan tanpa menghiraukan apapun
Semoga akan cepat ya Sya...

Menjaga hati itu sungguh lelah
Tapi kalau sudah yakin, itu hanya persoalan waktu
Sya...yakinlah bahwa taksemua bisa seperti kita yang bahagia
Walau pertemuan hanya menjadi angan
Tapi siapa tau ini adalah rahasia tuhan untuk menguji batin dan keseriusan

Nofianto Puji Imawan
Madura, 13 Nopember 2015.

Thursday, November 12, 2015

Memaksa

Melakukan semua hal dengan harapan untuk menang
Semua manusia mungkin pernah begitu
Untuk tak munafik dan mengelak hakikat
Walau gensi, idealisme, prinsip, dan tujuan
Mampu membelokan, seakan takdir memiliki pilihan
Bahwa sekali hidup itu untuk memilih bukan menjalani

Lihat, begitu bermacam-macam manusia kini
Keinginan besar tapi kurang pengorbanan
Gairah berkobar namun sekeliling biasa saja
Sebab-akibat membuat rumus pasti
Sepertinya tak ada yang berani menebak masa nanti

Belum berani memilih tujuan pasti “hidup”
Sudah se’enak sendiri meramal mimpi
Bahwa kenyataan berawal dari kebiasan-diri
Namanya juga manusia
Pasti mudah menyala mudah pula menyerah

Untuk memulai langkah
Hendaknya menengok kesegala arah
Untuk berhati-hati
Karena apapun yang terlihat
Berbeda dengan aslinya

Nofianto Puji Imawan
Madura, 12 Nopember 2015

Tak Guna, Sederhana Sajalah

Sepertinya kita sedang dikepung ilusi
Saat harapan melambung tinggi tanpa dibekali pengetahuan lebih
Segaja menyakinkan diri dengan cara menjilat ludah sendiri
Hanya untuk mencapai keinginan duniawi sambil berlari

Datang dengan mata telanjang dan kaki yang ragu
Mencoba mengenal setiap wajah suram tertekan tanggungan hidup
Mungkin mereka lupa siapa sebenarnya dirinya
Sampai-sampai banyak yang buta mata hatinya

Memang benar bekerja itu tak membutuhkan rasa
Hanya bermodal profesionalisme dan tanggung jawab saja
Disiplin hanya soal waktu begitu juga tanggung jawab
Tak perlu mengenal apalagi memahami, cukup tau saja

Siapapun boleh bertanya dan siapapun boleh tak menjawabnya
Karena hak terlalu diutamakan sampai lupa keseharusan
Sistem ini seolah menekan tapi juga membiarkan
Namanya mencari uang, lumpurpun dibuat berenang

Untuk menjadi manusia yang diupah
Mereka rela dipaksa agar menghina dan merendahkan dirinya
Martabat sebagai manusia dinomor duakan
Keistimewaan mereka dijual murah

Melupakan kodratnya dengan sengaja
Sudah lumrah, kesadaran akan kesempurnaan cipta
Harus buang jau-jauh daripada harus jujur bermanusia
Karena hanya ada dua pilihan, menipu diri atau dikira gila

Krisis keberanian atau tidak mau membuat pilihan sendiri
Padahal keistimewaan manusia sangat berlebih diantara lainnya
Tapi begitu saja sudah lelah dan memilih ikut saja
Kalau ditanya tentang siapa dirinya, jawabanya adalah “entahlah”

Membicarakan keseharusan memang syarat kritik bahkan perlawanan
Realitas seolah tantangan kemunafikan zaman
Apalagi keunggulan-keunggulan yang tak disadari
Semua itu sudah hilang hanya dengan ilusi
Yang sengaja diciptakan sendiri dan diamini sendiri

Nofianto Puji Imawan
Madura, 06 Nopember 2015.

Akhirnya Jua

Siapa sangka kesempatan itu datang penuh gairah
Memaksa menomor dua kan hakikat dasar manusia
Sedangkan gelap sedang meminta kejujuran
Walaupun nyatanya kejujuran sudah berbalut awan

Redup, bias, sampai lenyap
Begitulah proses peleburan
Yang syarat kepogahan dalam membunuh batin
Seperti pejuang kalah perang yang enggan pulang

Ini bukan cara untuk tenang
Atau langkah cepat dalam memperjuangkan jaman
Hanya sekadar berusaha sebaik mungkin
Untuk segala keindahan bermanusia yang dilupakan

Karena semua maling adalah bagian
Bagian dari segala kehancuran yang direncanakan
Makanya jangan mentang mentang membenarkan
Bahwa kebaikan itu bisa merubah keseharian

Madura 2015

Usah'haah

Semua serba tak kentara
Wajah wajah penuh kegundahan mulai memaksa
Gairah yang diperkosa rutinitas hingga amblas
Hanya untuk beberap jam memperhatikan dusta

Berdoa sebelum memulai kewajiban sebagai manusia
Meminta restu untuk menuai barokah saat lelah
Memaksimalkan pemberian dengan usaha yang total
Walau sesekali melakukan banyak kemudharatan

Memikirkan segala kemungkinan dimasa datang
Menyakinkan bahwa ini adalah perjuangan
Dalam mencari kesejatian pikir
Sampai memantapkan hati

Bahwa sesungguhnya segala kemungkinan
Adalah bentuk ketentuan yang sudah digariskan
Namun disembunyikan sembari diam dan berpura
Agar tak menyepelekan setiap kesempatan hidup

Seperti banyak kemunafikan
Sampai menumpuknya kebohongan
Didalam kejujuran yang penuh celah
Seperti ucapan yang syarat kesombongan

Nofianto puji imawan
Madura 07 Nopember 2015.

Eman

Jarak memang bukan halangan atau alasan 
Tau banyak hal hanya dengan duduk pun bisa
Semua serba tersedia, tinggal mau apa
Selagi muda dan pernah bahagia

Perjalanan ini adalah upaya
Jauhnya seolah mekah dan madinah
Nawaitu pados elmu krono allah ta'allah
Adalah niat awal untuk meneguhkan tujuan

Seperti banyak kisah sejarah lainnya
Yang di percaya atau yang di kubur amarahnya
Pilihan bukanlah ahlinya
Pertimbangan adalah kompromi penindasan
Sudah tau tidak

Surabaya
Nopember 2015

Ram-raman

Rupanya ada diam diwaktu senang
Semua berupaya untuk berbaik baik
Disana sini seolah sama dan tak beda
Pogah meluapkan banyak dugaan

Lepas tertawa sesaat setelah diam
Didominasi itu menyakitkan
Seolah tiada kemungkinan untuk
Sesekali mengenali banyak tanda alam

Surabaya
Nopember 2015

Hantaman

Larut dengan banyak kebiasan 
Beranikah kita menjadi pilihan
Yang akan didekap atau dibuang
Untuk menemukan kepingan hikmah

Sumber bahaya lagi-lagi tetap kita
Manusia diantara manusia lainnya
Yang tak tau untuk apa merdeka
Seperti apapun yang senja redup tak ada cela

Seumpama akan datang bahaya
Siapkah kita diterjang olehnya
Ataukah kita hanya diam dan sengaja hilang
Untuk lari dan agar tak dikejar lagi

Siapapun tolong jangan bilang
Kalau kita sering lupa pantangan
Bahkan menghiraukan kewajiban
Maafkan saja dan terus berjalan

Celakanya kita yang sedang meradang
Ditebang alam hingga jatuh tanpa tumpuan
Kasihan bukan
Membelai seluruh angan hanya dengan tangan
Rapuh tanpa tulang belakang yang menyangga hingga terlihat garang

Siapakah kita yang diam
Sebaik apa semua kenyataan
Sejauhmana kita sekarang
Apa kita yang sebenarnya

Mojokerto
Oktober 2015