Thursday, January 8, 2015

Objek’Absurd

Dalam cara kita memandang seseorang selalu hanya ada dua jenisnya yaitu, baik dan tidak. Namun seiring dengan perkembangan maka ada yang namanya munafik atau ucapan dan perbuatanya berbeda. Maka menjadi tiga varian. Tapi kesubjektifan atau biasanya lebih dikenal dengan nafsu, ego, keinginan, kemauan, dll. Yang selalu dominan, apalagi dikala kita cenderung oportunis atas sesuatu. Maka tak ada yang bisa mengalahkan dominasi fasisme internal terhadap/dalam diri kita. Bukan hanya orang lain atau hal lain selain diri kita yang biasanya melabeli diri atau seseorang. Namun internal self kitapun sering melabeli diri kita sendiri. Dengan tidak langsung mempengaruhi atau menawar-nawar keseharusan. Sehingga segala bentuk penyebutan diri, labelisasi, julukan, anggapan, persepsi dan cara pandang tak akan sampai pada objektif. Soalnya objektif itu layaknya semar dalam penokohan jawa, yaitu artinya samar-samar. Menurut salah satu referensi. Objektif itu tak ada, yang ada itu hypersubjektif. Karena komunikasi antar pribadi selalu mencampuri setiap individu dalam bertindak dan mengambil keputusan. Tapi dalam keobjektifan, pengalaman dan pengaruh lingkungan atau internal maupun eksternal tak dibolehkan dalam pengambilan tindakan atau keputusan. Sehingga hal itu benar-benar objektif. Namun apa bisa kita melepaskan diri saat mengambil keputusan atau memulai sebuah tindakan tidak berdasarkan faktor internal dan eksternal atau bahkan pengalaman kita.

Kisah dongeng yang telah mewarnai masa kecil adalah Maling Kudang. Pesan dan moment munculnya dongeng itu memang sangat pas dan tepat. Dimana kedurhakaan makin mewabah, dan harta semakin mengalahkan segalanya. Setimpal atau sepadan, ketidaktahuan ukuran sebuah balasan atas perbuatan memang masih dirahasiakan tuhan. Semakin lama hidup semakin besar dosa. Tapi tak menutup kemungkinan semakin banyak pula amal kebaikan yang kita lakukan. Sebagaimana ucapan demi ucapan yang berkutat pada kebijaksanaan. Beraninya menghakimi setiap akal pikiran. Memaksa untuk melakukan kebaikan karena dianggap yang dilakukan adalah keburukan. Perlu membunuh segala macam ungkapan-ungkapan bermakna terpendam. Supaya lekas jujur pada keadaan yang suram. Ingatlah kapan terakhirkalinya memunculkan kebaikan tampa menghalangi datangnya keburukan. Segalanya dibuat untuk selalu menutupi, setiap lubang yang digalih dalam berbagaibentuk dan musim. Apakah kata-kata hanya akan membuat banyak sekali kematian. Atau hanya kesekaratan atas pemahaman. 

Pikiran kita selalu dibuat lebih cerdas dalam menawar-nawar nurani. Walaupun nurani adalah minoritas didalam diri kita. Namun ada baiknya kita mendengarkan dan mengkaji minoritas. Karena dari minoritaslah kesungguhan itu lebih nampak bercahaya. Keterikatan kita atas dimensi yang sudah terlalu merumitkan pola berfikir dan pola hidup. Terkadang selalu berbuah tekanan yang teramat berat. Sekarang banyak orang yang lebih takut miskin dari pada tak tuhannya. Sekarang gengsi menjadi bahasan yang mempunyai prospek tinggi dalam ranah dunia metropolitan. Dan kealamian alam raya malah dieluh-eluhkan untuk menjadi pelarian atas eksploitasi besar-besaran budaya yang mendahulukan hak dibanding kewajiban yang harusnya disadari dan dilakukan. Lorong waktu hanya ada di imajinasi semu. Namun penyesalan adalah tempat terbaik untuk tetap belajar dari kelalaian atau tawar-menawar pilihan. Sehingga penyesalan menghasilkan buah yang bervitamin untuk dimakan.

Ngambut

Panorama memang sukar dicari cacatnya. Keindahan selalu nampak lebih dominan daripada kerinduan untuk memejamkan mata dan meluruskan punggung. Kalau biasanya bangun dan melihat televisi, maka isinya tak jauh dari kemacetan, pembunuhan, korupsi, kisruh politik, dan berbagai macam kategori siaran televisi dikala pagi atau setiap satujam sekali (breaking news). Namun sebelum pagi menuju siang dan siang menuju senja atau seterusnya. Aku dan beberapa orang-orang baik sedang sibuk merintis sebuah kebaikan yang masih minoritas dikala keburukan lebih asik diajak kompromi dengan nasib. Selalu dan selalu perkembangan dibuntuti dengan permasalahan yang saling berkesinambungan. Antonim realitapun masih berlaku dan sangat kontras. Namun kegelisahan masih terjaga hingga hari akhir tiba.

Asalmuasal memang cukup sulit diterima nalar. Namun bukti sudah timpang-tindih menebar. Sejarah mungkin hanya bisa diketahui dari cerita-cerita dan ingatan-ingatan. Namun jika dengan pembuktian. Akal pikiranpun kadang sukar cepat menerimanya. Karena struktur pemikiran memang dibentuk untuk menemukan sebuah pangkal dan lebih cenderung sistematis. Begitulah pendidikan kita menanamkannya. Jadi orang lebih sistemik saat berfikir. Namun sangat tak logis saat beringin-ingin akan keinginannya. Hindarilah cara berfikir yang sistematis. Karena bisa membuat kita seakan kurang bebas. Walaupun keuntungan dan kerugian cukup membuat setiap cara pandang menjadi mempertimbangkannya. 

Tanah ini memang berbeda dengan tanah manapun. Karena kabut pekat tak pernah ketinggalan untuk mengamankan tanah ini dari penglihatan dan maksud buruk dikalah malam hingga pagi. Apapun yang melintas ditanah ini, maka tak segan kabut pekat akan menyongsong dan mengkaburkan pandangan bahkan nalar perasanya. Namun kabut bukanlah apa yang akan kubahas atau keunggulan tanah ini. Tapi dibaliknya. Prolog mengenai kekokohan bagunan dan kemegahan modernitas yang sudah masuk diberbagai ranah termasuk masing-masing dinding imun manusia-manusia kekinian. Kekebalannya menjadi tercemar oleh virus pendatang bermana perkembangan modernitas. Namun bukan berarti itu buruk. Namun sedikit banyak kurang bijak. Modernitas yang sudah menjadi mayoritas, lebih berkuasa dibanding tradisionalitas yang minoritas. Sehingga sedikit banyak tirani menjadi pasti dan sudah berjalan untuk mengagahi minoritas. Namun ada yang tak banyak disadari, bahwa minoritas sekalah-kalahnya pasti ada beberapa yang bertahan. Karena minoritas diciptakan memang untuk memiliki kelebihan atas hal yang tidak dimiliki oleh mayoritas yaitu modernitas. Sehingga minoritas akan lebih dilirik dibanding mayoritas yang mainstream. Seperti warung yang berada jauh dari kemegahan, tampa listrik, tampa lambang-lambang bahwa zaman sudah maju. Berada diantara sawah dan tampa tetangga. Terbangun dari beberapa anyaman bambu (gedek) yang berlumut bahkan cenderung reot. Tertutup oleh kabut, dan dikelilingi oleh luas sawah dan ladang tempat membuat bata. Bisa dikatakan jauh dari peradaban. Tapi lebih tepatnya kusebut, sebuah kebanggaan atas kekuatan dan konsistensi dalam berserah diri kepada tuhan. Istiqomah dan sangat menjaga keselarasan dalam semesta yang sudah mulai ditawar-tawar oleh keinginan nafsu mencari keuntungan sendiri-sendiri.

Sebaiknya Jangan Dusun Namanya

Menerjemahkan setiap pesan dan makna ataupun hal yang terjadi didusun ini, seperti mengeja kembali kalimat-kalimat yang sudah tersusun rapi dalam buku catatan seorang empuh. Menyederhanakan permasalahan dalam berbagai ruanglingkup. Atau mengkaitkan segala kejadian dan momentum yang terjadi, dengan hal yang lebih besarnan jauh disana. Adalah cara bagaimana memahami setiap jengkal pendidikan yang diberikan dusun ini sebagai ruanglingkup kecil, kepada kita sebagai element penting semesta. Setiap sosok mempunyai peran yang taksama. Bahkan saling melengkapi kerangka struktur keselarasan dusun yang mulai terjamah arus modernisasi. Unsur-unsur tradisional yang masih bertahan hanya dibuat kedok seremonial atas eksistensialisme yang semakin redup akibat budaya baru yang menghisap saripati keguyuban warga dusun dan kedusunawian. Semakin melorotnya moral warganya, keterikatan rasa kekeluargaan yang menipis akibat saling sikut dalam mencari lahan pekerjaan, keinginan untuk mencari keuntungan yang menimbulkan hubungan kurang baik, egoisme dan gengsi turun temurun semakin diwariskan dengan berbagai cara. Ketidaksadaran memang membuat hanyut manusia disini. Alambawahsadar mulai terinfeksi virus kurang memaklumi, bahkan hawa tak saling menyukai. Walau itu adalah saudara sendiri. Penyebabnya bisa karena hal sepele atau urusan sehari-hari. Sawahnya dikikis oleh kapitalisme industrialisasi. Seandainya saja disini tak tersentuh perkembangan global kompleks struktural. Mungkin kebersamaan dan aura persaudaraan dusun ini tak bakalan menipis atau bahkan kembang kempis.

Mengawali banyak hal dengan bangun dikala pagi sepertinya berbeda saat tak ada suara sapu lidi menyapu pekarangan tanah. Aku terheran-heran waktu itu. tiga tahun yang lalu masih terdengar suara itu, bahkan suara teriakan penjual sayur, tahun, tempe, jamu, dan daging. Dimana para pejual itu, dan suara sapu lidi itu. Aku kebinggungan mencari-cari suara dan moment seperti itu. Seperti orang yang kasmaran atau membayangkan suasana dahulu. Tak lama akupun mulai memainkan logika dialam pikiranku. Pekarangan tanah sudah dilapisi dengan batako dan semen kokoh, sampai jika diteliti lebih jeli lagi. Hampir semua rumah tak punya pekarangan tanah. Semuanya dibangun hingga bangunanya tak berjarak dengan bahu jalan, alias tampa pekarangan. Karena pekaranganya ditutup rumah yang dibangun lebih kedepan. Para penjualpun sudah jarang menampakan diri dikalah pagi. Kebanyakan beralih berjualan dipasar kecamatan. Apalagi kebanyakan warga dusun lebih suka berbelanja di supermarket. Karena sudah banyak dibangun supermaret dipinggir jalan dekat dusun. Sehingga otomatis banyak sekali yang memilih belanja disitu. Apalagi dengan belanja di supermarket bisa menaikan gengsi antar warga. Sehingga jika dirunut lagi, maka tak salah jika perubahan dikalah pagi memang perlu dimaklumi. Namun juga perlu dipertanyakan.

Apapun yang menonjol, pasti lebih menonjol pemuda-pemudinya. Perubahan zaman tak pernah kompromi dengan yang namanya pemuda-pemudi. Siapapun yang tak pernahkuat kekebalan tubuhnya, pasti terlibas habis oleh perubahan zaman. Awalnya memang terpengaruh namun akhirnya akan terikat sampai menjadi candu. Kebersamaan bermain dihalaman telah digantikan dengan saling beradu strategi bermain playstation di rental. Kebersamaan bersepeda bersama keluar dusun hingga ke daerah-daerah nan jauh diganti dengan ria-riuh bersepeda motor dengan berbagai asesoriesnya. Kegembiraan kumpul bersama dikala malam hari berubah menjadi obrolan mengenai handphone, motor, perempuan, dan terkadang video bokep terbaru. Lebih sibuk memperhatikan handphone dari pada antusias ngobrol dengan yang lainya mengenai dusun dan perkembangannya. Atau mengenai hal-hal yang dulu pernah dilakukan didusun sewaktu kecil bersama-sama. Semuanya digantikan dengan konsentrasi memanto sosial medianya masing-masing dengan serius. Hingga suasana kumpul dan keguyuban menjadi berkurang.

Wednesday, January 7, 2015

Hal Yang Tak Selsai

Awal puasa ini bertepatan dengan malamminggu. Setelah tarawih dan nantinya sahur, ada bagian dimana banyak nilai-nilai luhur menjadi luntur. Pembanding selalu menunjukan sarkasme dan antitesis tanpa menghasilkan sintesis yang estetis. Seperti saat ini, perjalanan dari Madura sampai Mojokerto seperti tidak mengambarkan sebuah “gapura menuju fitrah”, atau kesan pertama dimana kebahagiaan terpancar dalam hati manusia-manusia dalam menyambut kedatangan bulan ramadhan dan dibukanya bulan penuh ampunan.

Sepertinya keadaan memang takpastas untuk disalahkan kembali. Baik waktu maupun frekuensi, keduanya adalah sesama mahkluk yang takpastas disalahkan. Ketidakmampuan kita selalu dilampiaskan pada apapun yang bukan kita (manusia). Nampaknya keterbatasan manusia memang selalu berpangkal pada sebuah pelampiasan tak beralasan. Bagaimana membuat diri menjadi lebihbaik dengan mengotori orang lain. Bukan baik secara baik, namun kelihatan baik, karena mengotori yang lainya. Perasaan itu nampak melekat dan aku rasakan dalam perjalanan ini. Cuaca angin dan riuh knalpot motor-motor beringas menghiasi dengan tatapan sinis pengguna jalan. Dijalanan ini, walau awal puasa seperti ini. tidak ada belas kasihan dijalanan. Karena jalanan bukan tempat untuk manja dan bersuka cita. Lebih tegas dan paling lugas dalam melampiaskan segala bentuk dan unsur orang-orang yang melewatinya. Sehingga nampak sulit dan sunyi dalam mengembangkannya. 

Bukan penyesalan atas kesalahan yang dibuat. Atau sedikit penghapusan kenangan atas keinginan membuat kebaruan dalam musim baru yang datang. Namun meneruskan dengan lebih baik untuk melebihbaikan hal yang seharusnya baik. Seperti memutuskan sesuatu yang masih membuat ragu jika dikatakan dan dilakukan. Atau sekadar menjawab pertanyaan yang sulit untuk diterapkan.

Sunday, January 4, 2015

Rasa & Berubah

Apapun bisa dipersoalkan, hanya dengan beberapa ketidakpuasan atau kekagetan akan perubahan. Bagaimana bisa menyelaraskan perasaan atau menciptakan “perasaan saling menerima”, dalam lingkungan paling kecil. Contohnya keluarga. Bagaimana banyak sekali perkembangan setiap individu dalam sebuah keluarga. Yang membuat perubahan secara langsung atau tidak. Baik perubahan fisik, pribadi, dan suasana. Sehingga keluwesan diri lebih besar dari egoisme pribadi yang sering ditonjolkan, dalam menanggapi atau memberikan feedback secara langsung atau tidak dalam suatu hal. Meminimalisir keadaan tentang cara setiap individu dalam menyikapi sebuah hal yang berorientasi pada segala bentuk perubahan atau perkembangan. Dari mulai bentuk atau isi, yang dulunya seperti ini, menjadi seperti itu. Yang dulunya seperti itu menjadi seperti ini. Maka sikap dan rasa atau cara kita dalam menunjukan kepedulian atau ketanggapan kita akan suatu hal. Haruslah lebih bisa menerima dan memaklumi. Karena perubahan itu pasti, entah lebih baik atau sebaliknya. Cuma kedinamisan sebuah perubahan kadang selalu bergesekan dengan hal lainnya, sehingga memunculkan kemungkinan-kemungkinan akan kerugian dan sebuah permasalahan atas banyak hal yang timbul. Dari sebuah pergesekan atas perubahan yang terjadi. Maka munculah sebuah efek. Dan bercabang secara negatif dengan sebutan imbas.

Mungkin dulu Jombang menjadi sebuah daerah yang penuh misteri tak terelakan. Dalam pandanganku, Jombang memang syarat orang-orang baik, orang-orang berpengaruh, orang-orang penting, orang-orang hebat, dan orang-orang yang bisa menjadi manusia diantara manusia lainnya. Kekagumanku akan kota kelahiranku ini memang bukan semata-mata pujian kekosongan. Atau bukti kelemahan atas kebutuhan pengakuanku dalam sebuah geliat keributan eksistensi. Kalau dibilang Jombang memang sangat istimewa dibanding daerah lainya. Tapi hal ini menimbulkan kesan, bahwa kita sebagai generasi kekinian hanya membanggakan atau membesar-besarkan kehebatan dahulu. Kita bercerita, membanggakan, mengenang, hingga terlena dengan kebesaran pendahulu atau ketersohoran suatu daerah. Untuk sebuah pengakuan dan penghormatan yang lainya atas diri sendiri. Kalau kataku, memang dahulu Jombang begitu hebat dibanding daerah lainya. Namun sekarang apa yang bisa ditawarkan, kecuali keterpurukan generasi yang semakin tak berdaya menghadapi persaingan zaman dimana materi lebih utama dibanding rohani. Sehingga Jombang bukan saja menunjukan aib secara gamblang. Tapi juga menyiarkan ketidakmampuannya berdiri dengan tubuhnya sendiri. Jombang kini lemah, Jombang kini tak berdaya. Karena orang-orangnya dan keadaan lingkungan yang sudah berubah semakin kurang baik. Seperti, kalau dahulu jalanan masih belum lebar, aspalpun belum baik, dan masih jarang sekali marka ataupun lampu merah. Tetapi sangat berguna untuk sirkulasi perekonomian perdagangan ataupun aktivitas warga masyarakatnya. Namun sekarang alangkah mirisnya, jalanan sudah dibuat sebagus mungkin, marka jalanpun dibuat, lampu merah nampak megah dimana-mana, polisipun ditugaskan disela-sela jalan raya, peraturan dibuat sedemikian rinci, dan lampu jalan semakin berkembang seperti lampu jalan yang menggunakan  panel surya. Namun bukan malah baik, malah makin banyak sekali kecelakaan transportasi, perampokan atau pemalakan dijalanan waktu sepi, dan kurangnya kesadaran atas keselamatan pribadi dijalan-jalan.

Namun bukan itu sesungguhnya yang patut dibuat sebuah contoh. Bentuk perubahan yang sedang membuat keresahan dalam pikiranku adalah sebuah perubahan sebuah pola yang kosmos. Jombang memang memiliki daya pikat yang sangat besar. Tapi daya pikat hanya sebatas pembuka dalam tatanan protokoler. Lantas isi dan konten yang utama dalam muatan sebuah Jombang itu harusnya bagaimana. Tak salah jika tuntutan semakin besar. Bagaimana menyempurnakan hal yang dianggap kurang efesien fungsi dan gunannya. Merujuk pada sebuah ketidakpuasan akan realitas yang disuguhkan. Semakin besar tuntutan, namun usaha untuk mencukupi itu kurang. Maka jadinya timpang atau tak seimbang.

Friday, January 2, 2015

Dalam Malam Dekat Bulan

Minggu ini memang baik untuk mengawali kebaikan, dan meninggalkan keburukan. Setiap waktu harus bisa merendah atau mengesampingkan ego. Nafsu dan kejengkelan seakan monster yang harus ditiadakan. Sebagaimana keseharusan untuk menjaga keselarasan kosmos yang ada disini, dilingkungan ini, dan disamping pemuda-pemuda ini. Perbedaan bukan selalu menjadi halangan atau pemicu keresahan. Namun perbedaan membuat semua yang disini dapat selalu belajar dan mengerti tentang apapun yang belum dimengerti dan segala hal lainya, untuk kebaikan bersama. Dalam kehidupan bersama pula. Seperti yang selalu diucapkan orang itu “guyup”.

Jika berfikir untung-rugi, maka yang didapatkan mungkin akan kurang maksimal. Timbal balik menjadi sebuah kelemahan yang berujung pamrih dan ketidakihklasan dalam melakukan kewajiban berbuat baik pada sesama. Selekas meluangkan waktu untuk menanam benih ditanah gersang. Maka yang dibutuhkan adalah keyakinan kalau benih itu akan tumbuh. Dengan usaha menyiraminya dan berdoa dalam tiap kesempatan nafas. Seakan banyak ucapan masih dipertanyakan diam-diam. Apapun yang dilakukan untuk mencapai kepuasan bahwa keinginan itu tiada habis dan tiada tuntas. Seharusnya tetap saja membuat tuntutan akan kenyataan bahwa yang harus jadi tidak karena kenyataan sudah membuat banyak orang menipu kenyataan dan mengakali realita yang sungguh-sungguh menyakitkan. Apapun yang dilakukan bukan semata-mata untuk mengakhiri keinginan yang sebenarnya sulit untuk diakhiri. Seperti sebaik-baiknya merewat diri sendiri, agar terhindar dari tindaka yang kurang terpuji dimata tuhan masing-masing. Namun tetap tidak dengan mengesampingkan atau menyepelekan yang lainya dengan keutamaan.

Pelajaran demi pelajaran, selalu nampak dan tersampai dimalam-malam belakangan ini. orang-orang yang harusnya aku kenal sejak dulu, malah baruku pahami. Realita memang sekeras yang dibicarakan. Kenyataan akan kesusahan memutuskan dan mencoba mengerti suatu keadaan, memang layak untuk diperbincangkan. Adakalanya setiap orang bebas menilai dan menjatuhkan dirinya sendiri didepan yang lainya. Apalagi mencoba mendahulukan keinginannya untuk mencapai kecukupan dalam merasakan. Pembenaran-pembenaran yang merujuk pada penghakiman atas keadaan yang diterima pihak lainya, selalu menjadi obrolan atau gunjingan. Apapun dikomentari, hingga lupa bahwa diri sendiri adalah ketidakmampuan yang berlebih. Kapan datang malam, aku merasakan kangen yang tak terhindarkan. Beberapa jam sepertinya tak cukup untuk memuaskan pendengaran dan merasuki badan. Merasa selangkah lebih maju, terkadang membuat kalap seseorang dalam berbagai bentuk goresan bangunan yang kalah, kalu ditempa dengan baja bulat dari mesin produk modernitas. Apalagi merasakan cukup dan penuh dalam pikiran dan kering dalam perasaan. Semata-mata semuanya didapatkan dengan mudah dan gampang. Kenyamanan demi kenyamanan adalah kematian dari beberapa manusia atas kesombongan atas manusia lainya.

Blog & Persaingan

Eksistensi seperti nomor satu di zaman ini. Kebutuhan untuk diakui, dianggap, dilihat, dipahami, dimengerti, dan disadari keberadaannya. Lebih menakutkan dibanding rasa lapar. Karena pengakuan atas keberadaan dan kesosokan manusia atas manusia lainnya lebih diinginkan dan didahulukan dibandingkan pengakuan Allah SWT. Sebagaimana mestinya, manusia lebih mendahulukan hal selain yang pantas didahulukan dalam kehidupan. Semua serba salah kaprah. Apa yang semestinya malah tak dilakukan, dan lebih buruknya adalah kenyamanan atas kesalahan kaprahan telah dijadikan kebiasaan yang sudah dipantaskan sehingga yang salah dianggap benar dan yang benar dianggap aneh. 

Ini bukan sebuah pembahasan yang fokus tapi sesungguhnya bisa saling terkait. Bagaimana eksistensi selalu digambarkan dengan pengakuan-pengakuan. Kalau eksistensialisme adalah sebuah aliran filsafat manusia atau individu yang bertanggung jawab atas kemauannya, yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar. Tapi fokusnya sama-sama mengandung muatan bahwa manusia bebas dalam melakukan segala hal yang dibuat untuk menunjukan bahwa manusia ini ada dan meng’ada. Sama halnya apa yang aku lakukan melalui sebuah blog ini. Bagaimana aku menuliskan mengenai keakuan yang aku dan yang tidak. Lalu itu membuat sebuah persaingan, dan segala hal mengenai persaingan merambah dalam sebuah kesepakatan tentang bagaimana semua hal bisa dimenangkan.

Dalam sebuah pencarian. Atau penuntutan atas jawaban dari sebuah keadaan yang sangat dinamis kontruktif ini. maka yang selalu dipersoalkan adalah sebuah batasan, “akan sampai dimana”. Sebuah pencarian dan susunan pertanyaan yang diberikan atau dituntutan. Bukan saja soal diri sendiri dan keadaan, namun mengenai segala hal yang dipikirkan dan dirasakan. Seperti kegelisahan, keresahan, kemunafikan, kenyataan, dan keseharusan. Apa perlu aku meminum kopi dan menumpahkan sisa kopi ke korden jendela kamar ini.

Dua Orang & Penasaran

Dua orang itu duduk dan saling berhadapan. Serius sekali wajahnya, sungguh fokus dan sepertinya membahas hal yang tak kalah pentingnya dengan Piala Dunia, Pemilu 2014, Bulan Puasa, dan Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok.  Namun aku masih baik dan tak ingin membaik-baikan hal yang seharusnya tak baik. Mungkin dua orang itu boleh serius dan tak menghiraukan siapapun. Tapi apa yang sedang mereka bicarakan secara serius itu adalah  bentuk kesadaran atas keresahan diri. Memuncaknya gelisah atas permasalahan, mirisnya melihat kenyataan yang bertolak belakang, kasihan merasakan realita atas perbandingan.

Dua orang itu aku dengarkan dengan setia. Aku awasi bersamaan gerak irama rima tubuh keduanya. Namun aku masih belum tahu siapa mereka. Bersamaan semakin memuncaknya penasaranku akan mereka, saat itu pula salah satu dari mereka berbicara, dengan mengebrak meja dan menaikan dagunya,

“Aku tidak ingin adek-adekku disini bernasib sama sepertiku, aku ingin sekali membuat semua adek-adekku menjadi lebih baik dan lebih berkembang. Dengan cara apapun akan aku usahakan. Dan aku tidak rela jika adek-adekku nantinya jadi bodoh dan dibodohi”.

Apapun maksudnya, aku semakin dibuat penasaran dengan kata-kata itu. Sangat besar sekali ketulusan yang ada dihati orang itu. Hingga statment itu keluar dengan lugas dan lantang. Namun kudengar lagi statment dari orang yang satunya,

“Tapi kalau itu yang bapak inginkan, maka seharusnya perlu cara dan proses yang bertahap dan usaha nyata. Bukan saja kehendak yang direncanakan lalu menyuruh orang untuk merealisasikan agar segera tercapai. Mungkin bapak harus merintisnya dan benar-benar serius melakukannya. Karena generasi sekarang lebih sulit daripada mendidik anak anjing agar bisa menang dalam kontes anjing”.

Sepertinya ada sebuah ketidakseimbangan dalam pembicaraan mereka. Orang-orang ini sepertinya memiliki perbedaan umur, tingkat pendidikan, tingkat pegalaman, dan status sosial yang berbeda. Sehingga ada salah satu dari mereka yang memanggil bapak, sedangkan yang satunya tidak. Namun yang pastinya, mereka memiliki ikatan dalam sebuah satu struktural formal. Karena begitu menjaga etika dan gaya bahasa. Tapi tunggu dulu, aku baru ingat dengan hal-hal seperti ini. Seperti seorang dosen atau pendidik dalam lingkungan pendidikan tinggi dengan mahasiswa, atau orang yang sedang melanjutkan jenjang pendidikan pada sebuah perguruan tinggi. Iya, ini mungkin konsultasi atau konsolidasi. Yang menginginkan tercapainya tujuan dengan menyatukan persepsi dan pandangan.

Berarti pembicaraan ini adalah sebuah bentuk konsultasi mahasiswa dengan pengajarnya atau dosennya. Namun mereka bertujuan apa, dan merencanakan apa. Karena penasaran ini membuatku bertahan memperhatikan mereka. Mereka yang sedang berbicara dan tak pernah teralihkan dengan apapun bunyi-bunyian atau pengalih perhatian lain didekatnya. Ini yang dibicarakan tentu adalah hal yang tak jauh-jauh dari lingkungan mereka. Pendidikan tinggi, lingkungan akademik, mahasiswa, pengembangan wawasan, penelitian, pengkajian, dan hal-hal utopis yang selalu diinginkan atau disumbangsihkan oleh pendidikan tinggi dan segala macam hal didalamnya. Yang pasti kurang kongkret dalam realita yang semakin menuntut kebutuhan, mementingkan diri sendiri, dan segala macam permasalahan yang sangat kompleks.  

Tapi apapun jenis perbicangannya dan siapa saja mereka. Aku sudah muak dengan hal-hal semacam ini. Sehingga ini membuat trauma berkepanjangan dalam psikisku. Apapun  yang terjadi pastinya akan menentukan hal yang belum terjadi.

Generasi Tabah Yang Barokah

Sudah berapa kali kita mencatat kejanggalan yang terjadi diluar diri kita. Semacam ketidak sesuaian. Entah perilaku orang, keadaan lingkungan, yang meliputi sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan, dan segala macam bentuk pengkotak-kotakan apapun diluar diri kita. Kalau bagiku, sudah tak terhingga berapa kalinya. Atau entah bagaimana semuanya ini selalu meliputi hakikat kita sebagai manusia. Yang sekarang sedang diuji tampa henti oleh yang Maha-Kuasa. Mungkin aku mengiranya, bahwa kita sebagai manusia. Sedang disuguhi oleh berbagai macam pendewasaan yang dibentuk dari berbagai unsur permasalahan yang bukan saja berat atau membebankan. Namun juga, pusing jika dipikirkan. Contoh sederhananya saja, saat seorang mahasiswa sedang binggung mengerjakan tugas kuliah. Yang tugasnya cuma menuliskan sebuah makalah yang datanya bisa dicari melalui media-online dengan mudah dan gampang. Dan mahasiswa tersebut tinggal mempelajarinya agar bisa presentasi didepan teman-teman mahasiswanya. Karena rata-rata tugasnya mahasiswa yang pokok untuk awal-awal perkuliahan, adalah membuat makalah lalu mempresentasikannya. Begitu saja, ituloh sudah mengeluhnya minta ampun. Alasannya ribet, malas, atau bahkan kadar kemauan untuk belajar mahasiswanya saja yang begitu kurang untuk benar-benar serius untuk kuliah dan mengemban tugas sebagai mahasiswa, yang tanggung jawabnya besar.

Bukan hanya kepada dirinya sendiri. Namun juga kepada apapun selain dirinya. Tetapi itu cuma bentuk dari salah satu contoh, dari ketidak sanggupan manusia menerima sebuah ketetapan dan tanggungjawab untuk menempuh sebuah proses pendewasaan yang skalanya kecil bahkan sepele. Sehingga sedikit banyak, bisa menggambarkan kualitas manusia yang semakin hari semakin melemah dalam menghapadi ujian, masalah, tanggung jawab, amanah, kewajiban, tuntutan, dan cara dalam memenuhi keinginan manusia-manusia. Yang semakin banyak atau pola konsumsi, keinginan,  harapan, yang tidak diimbangi dengan kemauan dalam mengusahakan agar tercapai dan terealisasi atas apa yang diinginkan supaya benar-benar bisa terealisasikan kepada diri manusia-manusia itu sendiri. Bahwa seharusnya kadar kemampuan manusia sekarang ini haruslah lebih baik dan jelas-jelas tidak seperti sekarang ini. dalam menghadapi sebuah permasalahan, kesenjangan, kemunafikan, bencana, ujian, keos-zaman, pembodohan struktural, pengkerdilan generasi, pelengseran kearifan lokal, pembudidayaan mental kacang’an, atau bahkan yang lebih ekstrem lagi. Produksi manusia-manusia tak berkuaitas melalui lembaga-lembaga yang diciptakan dan konsisten dalam mencetak generasi bodoh masakini.

Sering bicara sana-sini. Keinginannya takpernah diimbangi dengan usaha nyata. Harapannya melebihi unsur-unsur pancasila dan ideologi bangsa. Perilakunya aneh, berbeda dengan apapun yang diucapkan didepan orang lain. Namun selalu mencoba ingin menjadi yang paling peka, dalam menimbang-nimbang segala masalah. Inginnya menciptakan citra dirinya sebagai orang yang paling bersahaja, berbudi baik, bertanggung jawab, rela berkorban jiwa-raga, tak pamrih tapi tak ingin rugi dan ingin dipandang sebagai orang yang paling berkorban tinggi, diantara orang lain selain dirinya sendiri. Namun besar pasak daripada bumi. Tak seimbang, seperti orang yang punya banyak cara untuk memberikan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Tetapi saat ditanya pegalamannya dalam mengambil keputusan atau, apakah pernah melakukannya?. Ternyata takpernah. Kalau begitu syaratkah, bila orang memberikan kebijaksanaannya atau mengarahkan untuk melakukan suatu yang ia sendiri tak pernah melakukannya. Sama saja menyuruh ibadah tapi tapi ia sendiri tak pernah ibadah, menyuruh sabar tapi ia tak bisa sabar. La,,, ndasmu sempal. Bertanya pada orang mengenai bagaimana rasanya digigit ular, tapi ia sendiri tak pernah tau rasanya digigit ular. 

Tapi sudah bicara dan ndawuh sakkarepe dewe kalau digigit ular itu rasanya sakit. Itukan semacam ngateli. Namun memang sekarang banyak yang begitu, manusia-manusianya, kelompoknya, organisasinya, lembaganya, pemimpinnya, bahkan negaranya. Sehingga kebinggungan dalam melakukan apa saja hal. Memang cukup bisa dimaklumi dan dikompromi. Karena itu adalah keunggulan kita yang tak kita sadari. Manusia-manusia disini, dilatih untuk sabar, memaklumi segala persoalan, komprosi maksimal mengenai segala keruwetan permasalahan, sabar sampai hati sedikit makar, dan tabah menerima cobaan yang jika diukur oleh kewajaran, hal itu sudah tidak wajar dan kurang ajar. Tetapi inilah namanya kenyataan. Sukar atau tidak harus pintar-pintar mempelajari, agar tak dirugikan. Namun bkan berarti harus oportunis dalam menghadapi segala ujian kesengajaan. 
Namun buktinya, generasi sekarang ini masih bisa bertahan. Lebih kerasnya masih hidup, walaupun kelihatanya mati. Seandainya, kemauan selalu diimbangi dengan sebuah usaha yang benar-benar usaha. Optimesme atau sekedar pesimisme. Namun alangkah tidak mampunya aku menentukan sikap, apakah aku ini pesimis atau optimis. Karena aku belum mampu untuk melabeli diriku. Jadi yang kulakukan sekarang ini bukanlah bersikap saja, tetapi usaha agar aku tak Cuma bisa bersikap dan menilai apapun yang diluarku. Namun bagaimanapun manusia. Selalu bisa berusaha, namun untuk hasil bakalan ditetapkan oleh-Nya.

Kesepakatan

Banyak orang yang menyebut ruang abstrak yang belum kita ketahui secara mendetail ini, atau sebuah kesepakatan yang mendasar atas penyatuan etnik, ras, suku, cita-cita, harapan, kejenuhan, pelarian atas rumitnya permasalahan, bangsa, manusia, dan itu kita sebut sebagai indonesia. Dengan banyak sekali sejarah yang tidak diketahui, pembelokan sejarah, kebohongan-kebohongan sejarah, kepentingan-kepentingan sejarah, dan kita sepakat untuk menyebutnya sebagai indonesia. Karena pemenang, berhak membuat sebuah sejarah menurut mereka sendiri. Sedangkan yang kalah, mati dan tak bisa meneruskan sejarah. Negara yang membutuhkan kita, tapi apakah kita membutuhkan indonesia untuk hidup dan menjalani kehidupan dengan sesama manusia lainya. Apakah ada perintah langsung dari tuhan kita, untuk membuat indonesia. Kalau indonesia sudah terlanjur tercipta, apakah kita siap menghadapi sebuah permasalahan-permasalahan yang sungguh-sungguh sulit untuk kita hadapi tampah mengeluh.

Tapi alangkah bersyukurnya jika kita membuat indonesia tampa disuruh oleh tuhan semesta alam. Namun dengan inisiatif kita sendiri, suapaya terwujud sebuah wadah dalam menampung begitu banyak manusia-manusianya yang unik dan terampil untuk menghadapi permasalahan sebesar apapun. Sehingga banyak yang terheran-heran sekarang mengenai kemampuan masyarakat indonesia yang begitu kuat untuk tetap berada indonesia. Beberapa hal yang masih bisa dipertanyakan setiap orang adalah, apakah dibuatnya indonesia adalah iniisatif yang justru mendahului kehendak tuhan semesta alam. Atau bahkan membuat indonesia adalah bisikan dari setan yang bekerja sama dengan jin untuk mengarahkan kita sebagai manusia dalam kesengsaraan, kerunyaman, pergulatan, berkehidupan yang dipersiapan untuk berlatih dan bersiap saat menghadapi kiamat nantinya. Sederhananya adalah, kita membuat kesepakatan, membuat negara yang dinamakan indonesia supaya kita bisa memulai sebuah tatanan kehidupan baru. Tetapi manusia-manusia kita masih belum siap menghadapi permasalahan yang sudah dipersiapkan oleh tuhan semesta alam saat indonesia sudah tercipta. Namun masalah yang terjadi secara kompleks di indonesia adalah resiko, salah sendiri membuat indonesia. Sekarang masalahnya tanggung sendiri. Tetapi sungguh kagum aku melihat manusia-manusianya yang cepat belajar bertahan dan kuat menghadapi permasalahan yang sudah dipersiapkan untuk indonesia. Sehingga batal sudah pesimisku atau manusia-manusia indonesia, tapi miris sekali jika melihatnya terus-terusan seperti ini.

Sisa-sisa sejarah yang selalu dipoles dengan kebanggaan akan, nenek moyang mengenai sebuah kekuatan besar yang menang mempengarui setiap generasi dibawahnya. Permasalahan yang menylelimutinya. Cara manusianya dalam bertahan hidup. Pemerintahannya, dan realita atas hubungan antar manusianya hingga lingkungannya dalam sebuah kesepakatan yang dinamakan Indonesia ini.