Thursday, February 12, 2015

Tri Dharma Untuk Perguruan Tinggi


Perguruan Tinggi sebagai Institusi Pendidikan yang notabene selalu menghasilkan Sarjana setiap tahunya. Dirasa masih kurang memberikan sumbangsih yang nyata dan sesuai kewajibannya. Ditambahi menurun kualitas dan kuantitas Sarjana selalu menjadi dilema tersendiri dalam dunia pendidikan. Sarjana menjadi pengangguran, banyaknya skripsi yang menumpuk dan hanya menjadi arsip pribadi di kampus, kurangnya inovasi-inovasi yang tercipta, dan agenda-agenda kampus seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) beserta penelitian-penelitian yang hanya menjadi formalitas tampa pengawalan sampai menuntaskan sebuah permasalahan yang terjadi. Sudah menjadi siklus tahunan Perguruan Tinggi. Begitulah kenyataanya, output-output yang diharapkan tak kunjung terwujud. Padahal Perguruan Tinggi telah mendapat Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dengan total nilai 2,7T pada 2013 hanya agar dapat mewujudkan amanah kemerdekaan di bidang pendidikan dan memberikan pelayanan pendidikan yang maksimal. 

Seharusnya Perguruan Tinggi wajib memberikan sumbangsih nyata sebagai wujud penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu, Pertama Pendidikan & Pengajaran, kedua Penelitian & Pengembangan, dan ketiga Pengabdian Pada Masyarakat. Sayangnya hal itu belum dilakukan secara maksimal khususnya di Madura. Sehingga hasilnya, Perguruan Tinggi khususnya di Madura belum bisa memberikan sumbangsih secara nyata dan kongkret terhadap lingkungan sekitar Madura. Jika Tri Dharma dijalankan dengan maksimal, maka peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) bukan lagi menjadi problema. Begitu juga perkembangan secara sosial, masyarakat, dan ekonomi akan ikut tumbuh, khususnya di Madura.

Tri Dharma Perguruan Tinggi janganlah dijadikan jargon semata. Atau tetuah yang utopis dan embel-embel formalitas saat menjadi Mahasiswa atau Tenaga Pendidik di Perguruan Tinggi. Pahamilah esensi dan makna yang fundamental dalam Tri Dharma. Tidak hanya tau, hafal, dan paham, tapi juga harus dijalankan. Diakui atau tidak kualitas dan kuantitas Mahasiswa memang makin tahun makin menurun. Ditengah sistem pendidikan yang syarat campur tangan politik dan kepentingan. Membuat salah satu aspek penting ini menjadi terkontaminasi. Seperti sekarang, salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Madura Universitas Trunojoyo Madura (UTM) masih perlu dipertanyakan sumbangsihnya. Bagaimana lingkungan sekitar UTM yang terletak di Kab-Bangkalan masih jauh dari kata baik. Karena masih banyak SDM yang tidak bisa menyokong pertumbuhan ekonomi lingkungan sekitar. Infrastruktur sekitar UTM juga belum sepenuhnya baik, seperti akses jalan, bangunan atau hunian-hunian, dan kondisi masyarakat di bidang ekonomi, pendidikan, beserta budaya yang masih stagnan. Jika disimpulkan dengan berdirinya UTM, perkembangan lingkungan sekitar beserta perkembangan di Kab-Bangkalan masih belum signifikan. Lalu, iklim birokrasi dan kepemerintahan Kab-Bangkalan masih belum sepenuhnya baik untuk ukuran dimana terdapat Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang mempunyai kewajiban melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi. 

Dengan adanya dua PTN di Madura. yaitu UTM di Kab-Bangkalan dan berdrinya POLTERA di Kab-Sampang. Seharusnya sudah mampu membawa Madura beserta Masyarakatnya jauh lebih baik dalam segala hal. Terutama peningkatan mutu dan pengembangan SDM yang lebih harus dijadikan prioritas utama. Agar tercipta sebuah keadaan dimana Madura ini bisa mandiri dalam pengembangan masyarakat beserta lingkungan. Selain itu, perlunya menciptakan iklim dimana bakalan tercipta hal-hal inovatif yang positif dalam upaya-upaya pegembangan dan pembangunan Madura melalui pelaksanaan Tri Dharma oleh Perguruan Tinggi dan orang-orang didalamnya termasuk mahasiswa beserta seluruh Tenaga Pendidik lainya. Yang harus bertujuan untuk memenuhi kebutuhan SDM yang berkualitas (Cerdas, Unggul & Bermartabat).

Maka dari itu, perlunya peningkatan kualitas & kuantitas output-output Perguruan Tinggi seperti hasil Riset, Penelitian, Pemberdayaan Masyarakat, Sosialisasi Secara Berkala, Kegiatan-Kegiatan Kewirausahaan Yang Melibatkan Masyarakat, Pengembangan Teknologi, dan Pelatihan-Pelatihan beserta Pemantauan Secara Langsung Kondisi Sosial Masyarakat di Lapangan. Tentunya harus mempunyai komitmen tinggi terhadap bangsa dan negara. Terutama kesadaran bahwa banyak hal yang masih perlu diperbaiki dan dibenahi. 

Diperlukan kesungguhan dari pemerintah dan aparat penentu kebijakan di tingkat pusat dan daerah khusunya Jawa Timur dalam pendanaan untuk sektor pendidikan khususnya Pendidikan Tinggi. Jika ingin Visi-Misi Perguruan Tinggi dapat dilaksanakan. Terutama dalam pembangunan SDM. Karena SDM merupakan suatu hal yang paling penting bagi perkembangan di Madura bisa lebih dikembangkan bahkan bisa dijadikan sebagai langkah memperkuat SDM di Madura, dan dapat dijadikan sebagai ajang untuk reformasi budaya secara fundamental. Untuk melakukan reformasi harus dilakukan bukan hanya dari satu sisi saja, tapi semua kalangan dari yang atas memberi perintah dan yang bawahan harus menurut dan menjalankan perintah tersebut dengan baik dan saling menjaga kebijakan ini dengan baik. Dengan meningkatkan kesadaran atas masing-masing peran, amanah, tanggung jawab, dan kewajiban demi kebaikan bersama khususnya di Madura.

Puncuk Madura Perlu Berbenah


Memang Jembatan Suramadu sudah berdiri megah dan mampu menghubungkan antara dua pulau. Yaitu pulau Jawa dan Madura. Tapi apakah tujuan dan harapan meningkatkan sektor ekonomi masyarakat, mempercepat pembagunan Madura, dan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi wilayah Jawa Timur, beserta simpul transportasi nasional sudah tercapai. Lantas apa yang menjadi kendala belum terwujudnya tujuan-tujuan tersebut. Bagaimana dengan peran Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura (BPWS). Apakah masih kurang untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Padahal Badan Pelaksana BPWS (Bapel BPWS), sesuai dengan amanah Perpres 27 Tahun 2008, memiliki tugas dan fungsi untuk melaksanakan pengelolaan, pembangunan dan memfasilitasi percepatan kegiatan pembangunan wilayah Suramadu. Bahkan kalau sempat melihat atau membaca Masterplan dan Rencana Induk BPWS di Portal Online BPWS. Bukan tak mungkin Visi-Misi BPWS bisa segera terwujud. Tetapi kenyataanya, implementasi dan kondisi dilapangan sangat berbeda. Masih banyak pembagunan yang belum usai, perawatan infrastruktur yang kurang baik, dan banyak permasalahan khususnya Kawasan Kaki Jembatan Suramadu Sisi Madura (KKJSM), dan Kawasan Khusus di Pulau Madura (KKM). Masih jauh dari target pembagunan yang diharapkan atau yang tertera di Masterplan dan Rencana Induk BPWS.
 
Padahal Sektor pariwisata diyakini akan menjadi salah satu penggerak perekonomian Pulau Madura. Begitu juga Keberadaan Jembatan Suramadu sendiri menjadi daya tarik bagi masyarakat di luar Pulau Madura untuk mengunjunginya, tapi hal ini belum termanfaatkan secara maksimal. Alhasil pada kawasan KKJSM ini bermunculan pedagang kaki lima liar di sepanjang akses Jembatan Suramadu. Karena pembagunan fasilitas seperti ruko, pusat oleh-oleh atau souvenir khas Madura, dan infrastruktur masih belum ada. Menurut data dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan, saat ini jumlah pedagang kaki lima liar telah mencapai kurang lebih 800 pedagang. Selain itu kawasan belum dilengkapi sarana dan prasarana pendukung yang memudahkan bagi para wisatawan untuk menikmati Jembatan Suramadu dan kawasan sekitarnya dengan nyaman. Padahal Masterplan dan Rencana Induk BPWS di KKJSM akan dibagunkan tempat-tempat seperti Rest Area, Pemukiman, Masjid, dll. Tapi kenyataanya belum terealisasi. Baru-baru ini telah dibangun sebuah taman dibawah KKJSM. Namun berselang beberapa bulan kondisinya sudah tidak terawat dan banyak sekali tanaman liar tumbuh. Bahkan penerangan seperti lampupun banyak yang mati. Akibatnya tak banyak orang yang tertarik untuk singgah di tempat itu khususnya wisatawan.

Seharusnya KKJSM bisa menjadi sangat potensial sebagai sebuah kawasan pariwisata yang bisa mengapresiasikan bentuk budaya masyarakat Madura pada khalayak umum khususnya pada para wisatawan. Karena kesan pertama memasuk pulau Madura akan selalu diingat. Sehingga KKJSM atau pucuk Madura ini haruslah dikembangkan secara maksimal. Bukan saja tentang pembagunan infrastruktur tetapi pengembangan SDM juga perlu. Untuk meningkatkan budaya masyarakat sekitar dan mewujudkan ekonomi masyarakat yang lebih baik. supaya masyarakat bisa lebih mandiri dan inovatif. Karena itu akan berpengaruh pada perkembangan daerah dan lingkungan sekitar khususnya KKJSM dan Madura. Supaya masyarakat tidak merasa dirugikan atau terkena imbas pembagunan Jembatan Suramadu. Dan menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar adalah hal wajib yang harus dilakukan BPWS. untuk menciptakan budaya dan lingkungan yang lebih baik. Hal ini bisa dilakukan dengan cara sosialisasi, melakukan acara yang bermanfaat dan mendidik, memberikan pelatihan-pelatihan secara rutin pada masyarakat. Dan memberikan ruang untuk masyarakat berperan aktif dalam pembagunan Madura dan merasa punya kewajiban yang sama. Yaitu mengembangkan dan memajukan daerahnya sendiri.

Pengembangan KKJSM perlu direncanakan secara komprehensif dan diselaraskan dengan konsep pengembangan Kabupaten Bangkalan yang memperhatikan daya dukung lingkungan, kondisi sosial budaya lokal, dan potensi ekonomi yang lebih besar. Perlunya kerjasama antara BPWS dengan Kabupaten-Kabupaten di Madura. Adalah salah satu kewajiban dalam proses saling mendukung dan menjalankan regulasi. Untuk mempercepat dan mewujudkan kemajuan Madura khususnya. Dalam eksplorasi potensi daerah dan pemberdayaan SDM maupun SDA yang ada. Demi kepentingan bersama dan tentunya untuk kebaikan bersama menuju Madura yang lebih baik.

Kesungguhan

Menulis dengan banyak sekali keinginan. Sepertinya membuat keruh air bening. Walaupun keinginan adalah bagian dari diri kita. Yang selalu membuat kita kalah demi melegakan dahaganya. Sekarang semua benda multifungsi. Tidak ada satu benda yang hanya berfungsi untuk satuhal. Semuanya juga bisa dimodifikasi dan diubah-ubah sesuai keinginan. Membuat kebanyakan orang lebih bisa menerima sebuah realita dengan mencocokanya sesuai ukuran dan porsinya masing-masing. Jika ada orang yang ingin membuat sebuah ukuran untuk keseluruhan atau mengidealkan sesuatu. Maka tak akan lama itu akan sirnah. Bahkan ada yang menyebut itu lari dari kenyataan. Karena tak mampu menerima atau menjalani sebuah kenyataan yang telah berjalan. Maka ia mengidealkan sesuatu dan memberikan ukuran-ukuran pada realitas tertentu, agar ia tak kalah dan bisa bertahan menghadapi realitas tertentu tersebut. 

Semakin hari semakin banyak yang ingin memotivasi dirinya. Agar lekas menemukan dirinya dan berusaha mengenai hal lain selain dirinya. Memaksimalkan kemampuan berserta agar bisa mencapai apa yang dinamakan keinginan. Secara fundament dan tersier. Selalu dan selalu, disaat semua serba pragtis dan mindset semakin pragmatis beserta manusia-manusia yang serba oportunis. Kebaikan dan ketulusan semakin dimukaduakan. Sedangkan kemunafikan semakin dierami supaya lekas menetas. Namun ada hal yang ditinggalkan dan dilupakan bahkan tak tercatan oleh perkembagan modernisasi global ini. biasanya disebut dengan “membatasi diri”. Kemampuan manusia dalam menahan semua keinginanya dn mengolah rasa beserta mengolah raganya untuk kepentingan orang banyak. Mengkosongkan diri. Atau membentuk sebuah cara berfikir dalam beberapa hal. Yang berbeda beserva memunculkan karakter-karakter baru demi menghilankan penyetaraan-penyetaraan dalam cara dan rasa. 

Semampunya atau semaunya. Sebatas keinginan atau karena tuntutan. Ketulusan kasih atau kelembutan nafsu yang dibutakan. Keagungan tuhan atau ketakutan yang amat menyeramkan. Sabar namun dengki atau dengki tapi menafik. Seharusnya bukalah sebaiknya. Sebaiknya bukanlah ketulusan, ketulusan tak mesti jujur, namun kejujuran sedikit banyak itulah kesungguhan. Sungguh-sungguh-sungguh yang bila menyakinkan hal yang tak seharusnya mudah untuk diyakini. Ditengah krisis kepercayaan dan kehancuran struktural sistematis dan masif ini. maka kebaikan akan diobral, kejahatan nampak rupawan.