Monday, June 29, 2015

Pembawa

Seperti apa rasanya dicumbu sore 
Tak terlalu panas tak pula dingin
Hangat dan pas tanda ungkapan
Sehingga cela-cela sel kulit
Membuka diri untuk menerima
Debu dalam angin dan musim
Seperti diam atau kelam

Tangan duduk untuk tenang
Atau mengubur kelam dalam-dalam
Tanpa landasan
Bahkan ungkapan

Tiga malam selalu diam
Mencoba menerka gelisah
Melirik dan senyum sebentar saja
Setelah itu tak tau lagi

Pertama aku menaruh hati
Bersaksi untuk mencari sendiri
Siapakah kau ini
Dan apa yang membuatku begini

Lambatnya waktu memang memaku
Sampai habis haru tak sendu
Ungkapan rindu selalu menggebu
Dentuman haru mengganga tak tau
Apa sebenarnya mauku dan maumu

Sep, daun-daun sepertinya rapuh
Semua berguguran satu-satu
Padahal angin tak terlalu menderu
Jawablah sep tak usah meragu

Setidaknya kau bicara
Tangan kaku atau meragu
Apa memang mulutmu rancu
Sehingga hanya senyum
Yang kau berikan pada waktu itu
Tapi semoga kau tak bisu
Sehingga kau membalas tanyaku
Atau tanyamu

Setidaknya purnama mendahului malam
Tapi memang angin cepat perginya
Sehingga membawa kabur udara bulan
Untuk menghidar tatapan disudut hambar

Diam-diam kau taktau
Kalau ada ragam rasa cepat melekat
Rumbai kaca yang silau
Selalu mengalihkan rasa yang vepat

Bukan pasrah merangkai upaya
Atau gelisah secara tiba-tiba
Ini dadakan tak direncanakan
Itulah rasa yang ada diantara irama

Lapuk kayu sagu
Digerus air tembaga
Diperas sambil mengendapkan
Rindu yang menggebu

Untuk Sepri Ayu Flowrieta.

Nofianto Puji Imawan
Madura, 30 Nopember 2014.

Awas

Ia datang semata-mata hanya menantang
Caranya tak baik untuk dipandang
Tak ada genderang tandanya sudah berdendang
Sebentar datang sebentar hilang

Membawa debu dan bergemuruh
Menampar diam untuk terharu
Segala atau sebentar saja
Mengalihkan perhatian untuk menjajah

Lembaran terangkut
Jangan mendarat untuk mendekap
Tak suka menyekap istilah-istilah tetap
Berhembus untuk hal yang kuat

Nofianto Puji Imawan
Madura, 04 Nopember 2014.

Angin

Ia datang semata-mata hanya menantang
Caranya tak baik untuk dipandang
Tak ada genderang tandanya sudah berdendang
Sebentar datang sebentar hilang

Membawa debu dan bergemuruh
Menampar diam untuk terharu
Segala atau sebentar saja
Mengalihkan perhatian untuk menjajah

Lembaran terangkut
Jangan mendarat untuk mendekap
Tak suka menyekap istilah-istilah tetap
Berhembus untuk hal yang kuat

Nofianto Puji Imawan
Madura, 04 Nopember 2014.

Rindang

Menentramkan pejalan hingga sampai tujuan
Memberikan perlindungan akan panas dan ancaman
Mengasihi setiap mahkluk yang melakukan perjalanan
Meniupkan kenyamanan saat mata mencoba memandang
Keteduhan tampa maksud dan kepentingan

Merubah dendam menjadi beberapa keceriaan
Menyampaikan banyang-banyang pada tanah dan lapisan
Memberikan ketrentaman disetiap irama kehidupan
Menyaring ambisi sebagai intropeksi sehari-hari

Membawa pertanyaan alam pada bentuk-bentuk kemulyaan
Menunjukan keajaiban pada mata telanjang
Membentuk pola-pola yang tak terdefinisikan
Menyulut tenang untuk merasuk dalam pikiran

Membawa haru saat berfikir pada ketenagan
Menyentuh akal pikiran yang meronta ingin dikenal
Memenuhi hasrat kepuasan kembali kealam
Menunjukan kekuasaan membahagiakan tiap pejalan

Begitulah rindang
Selalu dibalut beribu ungkapan
Yang kelak akan dipertanyakan
Untuk mencari alasan sebuah perjalanan

Nofianto Puji Imawan
Madura, 04 Nopember 2014.

Ruang

Tentang ruang yang kutau luasnya 
Didalamnya penuh lemari dan kursi
Seperti tempat-tempat singgah lainya
Selalu harmoni dikala sunyi sendiri

Lambaian ini membuat banyak hari semakin ngeri
Seperti janji manusia tak selalu ditepati
Mencoba mengerti setiap keadaan yang tak pasti
Hanya untuk tenang dalam diri yang lari

Seumpama semua teras membuat irama sendiri
Pasti lebih tenang didalam sini
Jarang ada resah atau frustasi
Hingga pelarian sudah bukan pilihan lagi

Tapi sendiri tetaplah sendiri
Menyulapnya menjadi sunyi
Cukup sulit jika takkenal diri sendiri
Apalagi batas-batas emosi

Nofianto Puji Imawan
Madura, 29 Nopember 2014.

Sebentar

Gelap terang bukan lagi pertentangan 
Setiap datang, senyuman itu menembus bayang
Walau sebentar tertutupi malu ketidakpastian
Namun cara itu membuatku berfikir panjang

Ada tangan yang memeluk erat punggung ini
Gumaman hati menjadi lirih takut tersisih
Kalau kata hati dibiarkan lari untuk sendiri
Janganlah berlalu hanya karena tak bertemu sekali

Terlalu banyak membayangkan untuk berhadapan
Kau biacara aku tengadah memandang
Lihatlah kemilau bola mata kunang-kunang
Seakan cakrawala fatamorgana terpampang

Tak ada alasan untuk tetap memberi ruang
Apalagi menawarkan keindahan karbitan
Itu salah, kalau katamu tidak
Irama mata belum pantas untuk mengalah

Nofianto Puji Imawan
Madura, 30 Oktober 2014.

Semenjak Reda

Butuh banyak waktu untuk merasakan
Kalau ternyata sudah banyak genangan
Tak ada lagi rintik
Atau tetesan air dari langit

Seolah tentram padahal menakutkan
Semakin sepi karena banyak yang menepi
Dimana-mana basah dan lembab
Cipratan seperti peringatan

Membuat mendekam
Menunggu sinar untuk kembali
Menjadi manusia sekali lagi
Tidak runyam dalam tikaman

Karena sudah tenang
Tak ada yang merasa mengancam
Seperti kemenangan atas perbuatan
Yang salah dan kurang berang

Nofianto Puji Imawan
Madura, 13 Oktober 2014.

Tak Baik

Semua yang usai dengan baik 
Kadang tak melalui cara yang baik
Kepercayaan tentang hal baik
Itu dilalui dengan cara yang baik
Kini terbantahkan dan takdisangka-sangka

Manusia mana yang mengerti kepastian
Saat sedang dibutakan dengan keliaran hawa nafsu
Gelagapan, taksabaran, dan penuh kesia-siaan
Hanya keduniawian yang sesak memenuhi pikiran
Sedangkan semua kemisteriusan disendirikan

Suramnya suasana hati
Membuat dogma nyata tentang segala keinginan
Diri sendiri lebih penting dibanding lainya
Sampai pada akhirnya semuanya tumpah-ruah
Yang nyata diubah jadi fana dan sebaliknya
Untuk memenuhi keinginan yang serba tak pasti

Sekali saja untuk berkata iya
Beribu dosa melatarbelakangi ungkapan resah
Dimana suka tak selalu duka
Dan bagaimana duka tak mesti luka
Untuk meminta sedikit rasa
Saat dilema membeku dalam tekanan raga

Nofianto puji imawan
Madura, 01-11-2014.

Terkalah

Dulu yang kurasa hanya sebagai ketakutan
Kini berdiri gagah ditengah gedung-gedung megah
Manusia-manusia lebih dari pada serigala
Yang mengaung jika masalah datang menerka

Nurani yang digerogoti nafsu duniawi sudah rentan mati
Organ tubuh memang perlu diganti
Sedangan organ rohani nampak sulit dicari
Suasana hati memang diperlukan kini
Sebelum manusia-manusia mati
Dan dihakimi dosa mereka sendiri

Kebaikan yang muncul dikala butuh dan terdesak
Kepentingan telah mengalahkan kewajiban dan hak
Kecurigaan sudah mencederai segala sendi kebaikan
Kelaliman telah menumbuhkan bibit-bibit ketidakpantasan

Sebelum jalur busuk ketidakpedulian menghasut dendam dimasa silam
Mungkin tikaman-tikaman ucapan binatang
dengan akal sedikit meredam tumpuan tumpuan ruang
kembalikan kepedulian tampa harus menyisipkan prasangka
pada setiap insan lainya

manusia terlalu goyah menerima pelampiasan-pelampiasan
emosi keinginan-keinginan yang mendominasi akal pikiran
untuk menemukan dan mengisi apapun dalam dirinya
hanya untuk tahkluk pada sesuatu dalam euforia yang klise

Nofianto Puji Imawan
Madura, 07 Nopember 2014.

Tiga Kali Purnama Dibalut Mendung

Lengkung tak berujung 
Terkepung oleh mendung
Dirundung suara surau mendenggung
Dan berkabung pada awan yang membumbung

Ruang suntuk diam diambil jalan
Jeda pada pikiran dibuang kejendela
Kerikil kecil memberi sentuhan rasa
Hati-hati pada tanah yang basah

Memandang dan terus memandang
Tak hanya diam atau diambang bimbang
Susur aspal dengan tangan terkepal
Dagu diangkat lalu berangkat

Angin reda tak terasa lelah
Kalau malam tiba semua seolah berbeda
Tapi tetap sama saja
Cahaya dilapisi tebal yang berbeda

Tiga hari lamanya sama rasanya
Selalu dan takkira ada ganjilnya
Genap akan perangkap
yang menangkap lalu mendekap

Ada pesan dalam kelam
Seolah harus bisa meredam dendam
Untuk tidak melampiaskan
Hasrat kemauan pada keadaan

Jauhnya seperti jalan-jalan di sebuah benua
Lurus datar dan membosankan
Malam mengulang untuk yang kesekian
Seperti rasa gelisah yang terlalu basah

Sepertinya jalan itu paling panjang
Dan perjalanan atau renungan
Naungan sunyi kesendirian
Untuk tetap menjari jawaban ruang

Nofianto Puji Imawan
Madura, 07-11-2014.

Wanita & Dilema

Saat itu api belum menyala 
Ucapan-ucapan yang melenakan waktu
Menyembelih beberapa ragu dalam butuh
Saat semua menuai gugatan
Rindang dalam malam mulai bergumam

Dua pasangan datang dan mempertanyakan jawaban
Kenapa, mengapa dan bagaimana
Benarkah kenyataan memang mengkalutkan
Atau hanya karena ia merasa tertantang dan terbantahkan

Mereka bicara panjang lebar dalam diam dan nyanyian
Mengiringi ucapan dengan sentuhan emosi syair berbunyi
Serasa ada gugagatan atau bantahan yang terpinggirkan
Tanpa ada tatapan atau persepsi kiraan

Mereka bersama karena merasa tidak ada bedanya
Pasangan muda yang tak tau rimbanya
Mengucap suka dengan cara mesra dan dasaran iba
Untuk setiap hari membicarakan rasa dengan tanda tanya

Saatnya menunjukan kenyataan kepada mereka
Menerima atau mengelak sementara
Untuk ditelaah apakah memang benar seperti itu adanya
Begitulah keraguan bermain dalam dugaan fakta

Membuat meraka takpercaya satu dengan lainya
Membutakan rasa menjadi pertanyaan tentang
Apa yang sebenarnya dan yang seharusnya
Sehingga taksamalah mereka setelah semua berbicara

Bahwa dasarnya mereka hanya ingin untungnya saja
Suka hanya konsep munafik manusia untuk mencinta
Alasan menjadi pemanis hubungan kadaluarsa
Yang dijalani dengan terpaksa karena biasa

Merasa butuh untuk kesekian kalinya
Kebohongan seolah bicara selues anak ibadah
Begitulah realita dalam hubungan tak berdasarkan wibawa
Mudah direndahkan dan disepelekan

Lalu membuat banyak kecurigaan
Berimbas ketidak pedulian dan kekecewaan
Berlebihan untuk mengungkap jawaban
Sedikit banyak inilah keresahan yang dibagi-bagikan

Nofianto Puji Imawan
Madura, 02 Nopember 2014.


Curah

Memang kadang kalah itu lumrah
Suka dan tertawa setia didalamnya
Menjadi bumbu atas bahan pokok lainya
Untuk menyatu dan membentuk tubuh baru

Sembari menunggu hujan yang tak tentu
Punggung ditempa walau sedang runtuh
Untuk nyaman dalam surup-surup ilmu
Dimana batin sedang malu untuk tumbuh

Kami bercerita tentang waktu itu
Dimana semangat sedang mengebuh-ngebuh
Tumbuh diam-diam di rongga tubuh
Yang belum sembuh dari segala riuh

Penjual kisah yang senang dan bergembira
Dimalam-malanya selama rasa dan raga
Mencoba merumuskan istilah dan rencana
Yang sulit terealisasi atau dijalani

Berbicara selama angin menerpa
Membumbung ditengah-tengah purnama
Untuk setiap berkata
Bahwa ini sudah waktunya berubah

Semangat tanpa wadah
Ucapan rumit istilah
Tatapan haus dahaga
Pencana penuh cita-cita

Sedang tinggi

Nofianto Puji Imawan
Madura , 01 Desember 2014.

Terka

Sudah tiga hari aku beralih
Dari serius menghiraukanmu
Sampai selalu merindukan
Tapi karena apa, aku tak tau

Sepintas saja
Seolah bertahun lamanya
Menyelami sukma tanpa jiwa
Dengan buta sampai terlena

Tumbuh seiring irama mendera
Semua tangan meraba raga dengan belai rasa
Mencumbu dengan seksama
Untuk menikmati ragam nafsu durjana

Mungkin ini hanya pendapatku saja. 
Jangan menanyakan kebenaranya, karena apa atau kenapa. 
Sebab aku sedang buta oleh beberapa moment disaat mata sedang menerka setiap tanda dan irama. 

Melihat, berbicara, menduga, dan merasa, hanya itu saja kesempatanku untuk bisa memantapkan rasa atas segala kuasa yang sedang mudah dirasuki kedangkalan realita. Seberapa jauh aku mengenalmu, maka kujawab aku tak mengenalmu sama sekali. Memangnya aku siapa dan kau apa, sehingga kita punya alasan untuk saling berbicara. Kusadari sedikit saja pesan logika atas lalimnya prinsip dari bermacam goda. 
Saat aku bicara dalam diam ataupun resah.

Sepantasnya mata tak memandang yang bukan-bukan, pancaindra seolah liar menangkap setiap gerak-gerikmu. 

Semenjak fajar mulai menutupi pandanganku, sampai gelap menimpa batin disetiap cela. Bukankah adanya dan tidakadanya kau itu bukan menjadi masalah. 
Sehingga semua tetap seperti biasanya. 

Tapi kini sudah berbeda, selimut seperti cara untuk menutupi segala alasan. 
Bagaimana ini berawal dan akan seperti apa ini berakhir. 
Sejauh mana ukuran itu ku tanam, atau seperti apa kau memandang tingkah pola mata saat menajam. 

Lambaikan tangan jika kau sedang terjaga sesaat atau terlena oleh sesat.

Nofianto Puji Imawan
Madura, 03 Desember 2014.

Ajaklah

Marilah angkat tangan kita 
Untuk menghambah pada-Nya
Selagi sore tak banyak bicara
Anginpun tenang tak bersuara

Mana mungkin kita lupa pada-Nya
Kecuali saat kebutuhan sudah tercukupi
Dan makan lima kali sehari
Tapi bukankah ini sudah terlalu suri

Bahwa manusia semakin semaunya sendiri
Tak sadar kalau peranya adalah pejalan kaki
Yang menumpang di rumah illahi
Disetiap tempat mereka berhenti

Segera kembali intropeksi diri
Mengenal tuhan dan menjalankan kewajiban
Hilangkan kesombongan hewani
Segera sujud dan membersihkan diri

Nofianto Puji Imawan
Madura, 11 Desember 2014.

Mana Mungkin Gus

Mengucapkan kebaikan 
Tanpa melakukan kebaikan
Munafik mungkin juga hipokrit
Berkhotbah hanya ingin dianggap
Rutinitas dan tuntutan menjadi sekam diam-diam

Salah dan terlanjur sadar dan diam
Ingin apa lalu berbuat apa
Fokus dan mencoba menjalani saja
Siapa tau ada guna dan hasilnya

Jangan bertanya dengan telaah
Mengira-ngira tanpa tau asalnya
Semoga ada yang bicara lantang
Tentang keselarasan dalam dendam

Nofianto Puji Imawan
Madura, 30 Nopember 2014.



Rutinitas

Seperti biasanya 
Tak banyak yang menduga
Bahwa raga sedang bicara
Entah tentang apa

Seperti ada yang bertanya
Selalu mencoba memperkarakan rasa
Yang sebenarnya tak kutau asalmulanya
Sampai-sampai selalu begini-begini saja

Rumbai irama lagu tetap terjaga
Suasana sepi pasti membawa duka
Tak terasa pagi sudah tiba
Untuk menjemput nestapa yang belum bicara

Sampai pada akhirnya datang seorang pujangga
Bertanya tentang siapa diri kita
Yang berada dan mengada secara tiba-tiba
Tak sampai lama tapi membuat curiga

Beberapa jam lalu aku melihat tetangga
Yang sedang berkemas untuk kesawah
Setelah itu, barisan sepeda anak sekolah
Lalu lalang didepan teras rumah

Selalu begitu dan kini berubah
Matahari yang terbit dari timur sudah resah
Purnama yang tak tau datangnya mulai gelisah
Bintang yang selalu membentangpun seperti tak kuasa

Meninggalkan apa yang seharusnya dikerjakan
Membuang semua ingin yang sudah lama dikerjakan
Meragukan kepastian yang sudah digariskan
Tak pernah merasa cukup atas segalah pemberian

Semua lelah dengan keseharian
Kewajiban dipandang rumit untuk dijalankan
Hak dituntut habis-habisan
Sampai semuanya tak kerasan dengan keseharian

Di dusun mungkin petani sedang tandur
Memberi kesempatan untuk hidup makmur

Nofiant Puji Imawan
Madura, 01 Desember 2014.

Seksis Language Akar Yang Sulit Di Babat Atau Feodalisme Bahasa


Bahasa memang selalu menyiman misteri. Yang tak pernah kompromi dengan dua jenis manusia. Laki-laki begitu juga perempuan, yang telah dikalahkan oleh bahasa yang dinamakan bahasa seksis. Bagaimana geliat seksis telah membuat banyak sekali daya pikir dan stereotip dua jenis manusia itu saling merendahkan secara langsung, tidak langsung, sadar, tidak sadar, dan musti saling menjatuhkan salah satunya. Namun alangkah mirisnya kaum perempuan selalu paling banyak menerima seksis secara berkala. Budaya yang terus menerus. Sehingga membuat banyak sekali imbas sampai kerugian secara moral dan psikis. Entah dari mana bahasa ini namun sesungguhnya hal ini tak pantas untuk dilanjutkan. Verbal menjadi senjata, kebiasaan menjadi alasan, bagaimana ini harus selesai dan memakai pemakluman beserta kesiapan diri menerima sebuah kesetaraan yang sangat-sangat sulit dicapai antara kaum laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan haknya lalu menyelsaikan kewajibannya. Dalam konteks lingkungan sosio-masyarakat kita. Yang dimana dari mulai kecil, sampai dewasa dijejali dengan sebuah pembiasan gender dalam bahasa dan labelisasi yang melekat disetiap kepala masing-masing manusianya. Sehingga membuat iklim yang semakin runyam dengan segala problema beserta ketidakseharusan yang tetap berjalan dan penuh pembiaran-pembiaran secara strukturan, sistematis dan masif.
 

Seksi membuat bias gender semaki menunjukan bawah kejadian-kejadian seperti ini adalah sebuah cara dimana semua pembodohan secara besar-besaran masih berjalan. Dan membuat menurunya kualitas generasi yang semakin terlihat nyata. Namun itu masalah besarnya yang jelas-jelas sulit diatasi dalam waktu puluhan tahun. Seksis telah adalah efek dari masalah fundamental yang sangat sulit dirubah. Kebiasaan memang tak pernah diketahui akarnya. Kecuali kita mengetahui dari sebuah kebohongan yang disepakati (sejarah). dimana yang kuat yang menang dan yang menang akan menentuakan sebuah sejarah dan darisitulah akan menimbulkan sebuah hal yang kita lakukan secara terus menerus lantas akan kita sebut sebagai kebiasaan. Dimana hal itu selalu mengikat dan sulit dilepaskan dengan acar apapun. kebiasaan telah melekat di diri kita sebagai manusia yang masih bisa dikalahkan oleh keinginannya sendiri. Menimbulkan begitu bertumpuknya problema mengenai pencarian diri. Prasaka memang bukan akar dari sebuah seksis. Dimana motif yang sekadar berlatar belakang ketidak sukaan atas manusia satu kepada yang lainya, kelamin laki-laki kepada perempuan ataupun sebaliknya. Namun prasangkan selalu biasa menimbulkan sebuah stereotip dimana hal itu bisa memicu sebuah seksis dan bahasa tubuh yang rasis cenderung seksis. Diamana hal itu membuat segala negatifisme brainstrom memicu untuk menimbukan output-output negatif untuk memuaskan rasa ketidaktrimaan dan ketidaksukaan atas suatu hal.

Ruanglingkuang seksis language atau bahasa seksis menag sekadar sebuah bahasa sebagai medium. Medium untuk menyatakan pesan atau cara berkomunikasi demi mencapai apa yang diinginkan.bahasa menjadi sebuah medium yang sangat fundamental. Namun bahasa juga bisa menjadi bias. Terutama jika bahasa digunakan sebagai medium bahasa seksis. Makan akan menimbulkan banyak sekali biasa gender yang merugikan jenis kelamin lainya. Karena bahasa seksis secara sederhana adalah meninggikan salah satu jenis kelamin dan merendahkan yang lainya. Sehingga menimbulkan banyak sekali sebuah kesenjangan dan kepercayaan diri yang tinggi atas pengakuan secara luas bahwa atas status siapa yang lebih baik antara kelamin satu dan lainya. Seperti perempuan dan laki-laki yang memang memiliki banyak sekali perbedaan namun diciptakan secara berdampingan. Keselaran memang dibutuhkan. Tetapi kenyataan yang berjalan. Laki-laki menjadi garda depan, sedangkan perempuan berusaha untu setara saja, dari dulu hingga kini syarat dengan pengorbanan dan seksis dalam bahasa beserta tekanan-tekanan bertubi-tubi dari laki-laki.

Kenapa perempuan selalu merasa bahwa dirinya selalu direndahkan dan dianggap nomor dua dari pada lawan jenisnya yaitu laki-laki. Sehingga menimbulkan banyak kecaman, protes, dan muncul banyak sekali ilmu-ilmu yang menkaji hal ini. bagaimana gejolak antar gender yang ingin disetaraan dalam segala aspek kehidupan. Demi tak terjadinya fedalisme gender atau tindakan yang semaunya sendiri. Perempuan dan laki-laki menjadi objek pengkajian yang cukup mudah. Karena dari mereka selalu ada fakta dan realita mengenai bahwa budaya-budaya seksis masih bisa berjalan dalam lingkungan sosio-historys yang cukup padat. Ataupun di tempat-tempat kepulauan, pedalaman atau pedesaan. Masih banyak sekali seksis dan bias gender. Yang dimana hal itu terjadi dikarenakan budaya dan yang mereka sebut adalah kebiasaan dalam menyebutnya dengan medium bahasa dan menyikapinya dalam sebuah persepsi mengenai lingkungan sekitar.

Belum ada cara atau solusi pragtis. Mengenai bagaimana menghilangkan sebuah budaya buruk apalagi mengenai bahasa seksis ini. bagaimana realitanya sehingga mampu membuat efek, masalah, imbas, dan terutama kemerosotan moral yang tampa henti semakin berevolusi dengan banyak sekali acecories zaman dan globalisasi umur panjang berkesinambungan ini. namun seksis yang berasal dari sebuah pengadopsian bahasa dalam konteks bias gender. Namun anehnya seksis ini lebih cenderung keperempuan. Baik survei dari luar negri seperti ingris maupun di indonesia seperti dimadura. Perempuan masih menjadi objek seksis language. Yang nampak rapuh dan selalu disebut-sebut.

Singkat

Melingkar diujung bagunan, membicarakan segala keresahan dan ketidakpastian. Kewajiban yang diabaikan sampai dianaktirikan. Membuat orang-orang ini bergumul dengan serangga-serangga terbang yang jatuh karena sayapnya hilang. Meguntarakan pendapat sampai menggugat, ekspresi yang berang bercampur diam dengan ketidaktahuan. Memaksa nalar mencari sampai memetakan apapun yang dianggap perlu untuk disampaikan. Entah rujukanya dari mana, sumber dan literasi yang masih takjelas asal-usulnya. Begitu mudah dipercaya dan dipegang sebagai dogma. 

Orang-orang ini bicara apa, semuanya rancu tak jelas alurnya. Pijakannya rapuh, literasinya basi, gaya bahasanya susah, intonasi suaranya resah, bahkan kadar kebenarnya perlu diujicoba. Kalau begitu, apa sebenarnya yang sedang mereka terka. Logiska jika mereka bicara kebaikan tapi tingkahpola keseharianya masih mendahulukan hak dibanding kewajiban. Adakah yang percaya, jika mereka memperdebatkan mengenai sistem pendidikan yang rancu dan sangat tidak relevan dengan seharusnya, Sedangkan mereka sendiri belum bisa mendidik dirinya sendiri untuk berguna bagi yang lainya. Lantas, masih perlukah mereka membicarakan nasib garam lokal hingga dominasi garam import (Tema diskusi kedepan).

Bukankah mereka seharusnya mengetahui dahulu siapa sebenarnya mereka, apa tujuan mereka, dan untuk apa mereka setiap malam berkumpul dan membicarakan hal-hal yang sebenarnya meraka tidaktau, tidakmengerti, tidakpaham, dan tidak ada urusanya dengan mereka. Iya mereka, orang-orang malam yang diam. Yang sebenarnya masih bimbang dengan apa yang setiap hari mereka kerjakan. Orang-orang riang yang dipaksa untuk menentang, mendobrak kekang-binatang, yang menjamah banyak kemunafikan, ditengah badai kemudhorotan akan tindak-tanduk kesia-siaan. Beranikah mereka mencari alasan kenapa mereka harus melakukan banyak hal yang sebenarnya tidak mereka inginkan.

Semoga purnama lupa, bahwa banyak pertanyaan yang mereka sediri binggung menjawabnya. Memang gelisah jika pertanyaan yang susah, menghakimi mereka. Saatnya berbenah untuk sedikit belajar membaca, membaca segala rumusan kuasa yang kadang datangya sukar diterka. Siap-siap saja menangkap sekumpulan bebek tanpa pengembala, memiliah mana yang paling anak dikunyah atau dibuat menu berbuka puasa.

Mereka mungkin lupa setelah tidur pulas. Atau mereka masih susah tidur dan bertanya-tanya mengenai bagaimana?,mengapa?, dan apa?. Memang semua kembali pada niat dan usaha. Sedangkan setiap berkumpul, mereka selalu memiliki tatapan yang berbeda, cara bicara yang seirama namun beda makna. Kemampuan berfikir atau telaah yang cukup wah, bahkan ada yang selalu membuat kecewa. Waktu memang sering ditunda-tunda, kenikmatanya sungguh luar biasa, membuat semuanya menjadi tak terasa. Apakah mereka sering menunda waktu, ataukah waktu yang tak terasa cepat bahkan lamanya sedang mereka akali, untuk melakukan hal-hal duniawi. Jangan berburuk sangka, semua pasti ada porsi dan tatananya, qodho & qhodar sudah jelas adanya.

Lamunannya, kelakarnya, raut mukanya, gaya bahasanya, pesan non-verbalnya, aroma tubuhnya, cara berpakaianya, model duduknya, dan keseluruhan pengalamanya. Menjadi pembeda antara satu dan lainya, antara laki-laki & perempuanya, antara silsilah keluarganya, dan isyarat darahnya. Semakin menyakinkan bahwa mereka berbeda namun harus bersama.

(Mengenang Diskusi Malam Anggota Pramagang 2014 LPM-SM 11/12/14 di Samping GSC.)

Tabu

Menjadi bagian dari hal yang sungguh-sungguh besar
Membuat kita merasa kecil dan terbeban
Siapa sebenarnya kita?
Apakah kita selalu mempertanyakan hal itu
Atau untuk apa melakukan itu?
Pertanyaan mendasar dalam hidup memang
Cukup haru untuk di ulas dengan berani
Mengapa keterbatasan selalu membunuh
Sepertinya kita mengetahui
Bahwa waktu memang berasa malu
Untuk menunjukan kuasa atas segala penentu
Dengan menghakimi rasa bahwa ini seperti duri

Membenamkan kejujuran untuk menipu diri sendiri
Membalikan hati sebagaimana kebohongan selama ini
Seolah semuanya berubah hanya karena kita sendiri
Bukan atas siapapun atau apapun yang taktau diri

Raga dibuat lebih dari ketentuan yang diberi
Batasan-batasan dianggap meniduri keinginan yang meninggi
Rasa dibolak-balik hanya agar dapat untung sendiri
Sampai khilaf dan merasa paling menguasai diri

Lalim tipe apa yang sedang kita lakukan
Apa yang lazim jika semua semau-maunya
Melupakan yang hakiki
Untuk diganti dengan ingin pribadi

Nofianto Puji Imawan
Madura, 30 Nopember 2014.