Friday, November 27, 2015

Mukallaf Kilav

Selarut apapun malam, Allah tak pernah tidur 
Sepanjang masa adalah sekedipan mata bagi-Nya
Tiada umpama selain Asmaul-Husnah
Dan jangan sampai kita mencoba menerka-nerka
Apapun tentangnya sebelum benar-benar tiada

Proses pendewasaan memang cepat rasanya
Kitapun sudah berakal atau akil balihq
Ingat janji kita kepada-Nya
Tiada tuhan selain Diri-Nya
Atau mungkin kita lupa

Mengucapkan janji dan sumpah dengan bimbingan orang tua
Memilih iman kepada-Nya dan mencoba menyadari
Bahwa tiada pilihan selain beriman dengan pasrah
Melafalkannya, tanpa tau apa esensi dasar didalamnya
Yang penting sudah, lalu apalagi
Gugat kita dalam hati sembari mengelak ketentuan illahi

Ingat kesederhanaan perintah-Nya
Menjalankan perintah-Nya
Menjauhi Larangan-Nya
Begitu sederhananya sampai susah melaksanakannya
Entah kenapa, apa mungkin itu terlalu berat rasanya

Manusia memang rajanya tawar-menawar
Kompromi sebagaimanapun pasti kurang saja
Ketidakpuasannya seolah menutupi rasa syukurnya
Untuk memanjatkan do’a saja
Masih sering mengutamakan apa yang belum didapatnya
Daripada mensyukurinya sebagai anugrah paling esa

Allah begitu memudahkan kita dalam menjadi manusia
Sayangnya manusia terlalu rumit untuk menjalani hidupnya
Untuk ibadah saja, manusia begitu mudah menundanya
Tapi kalau sudah ingat keinginannya
Semua pagar rela dibongkar hanya untuk mencapainya

Hakikat yang sudah digariskan tapi tidak dianjurkan
Pejalan harus senantiasa berjuang walau berat berjalan
Untuk mencapai perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya
Memang susah walau sering dicoba
Karena pilihan itu ada batasnya
Dan ketentuan itu sudah hak-Nya

Nofianto Puji Imawan
Madura, 28 Nopember 2015.

Penyihir Sajak

Menyusun, merangkai, menggarang, mengubah, memaknai, dan menimba 
Semua diramu dalam beberapa huruf, kata, kalimat, hingga paragraf
Pengolahan batin dikombinasikan kecerdikan pikir sembari meniduri maksud
Yang semuanya serba absurd bahkan berujung kisut walau sembari duduk

Ilmuan-ilmuan makna mencoba meneliti kehebatan pola-cerna manusia
Untuk menemukan kepastian dan menolak ketidakpastian hidup
Penyihir-penyihir kata berusaha menyelimuti realita dengan metafora
Agar terlihat lebih indah dan syarat kemesraan-kemesraan tanpa dusta
Cendekia-cendekiawan tanda-baca begitu pandai membohongi manusia
Dengan ribetnya birokrasi yang selalu beralasan untuk memudahkan komunikasi
Ulama-ulama tata bahasa sangat lihai membolak-balik logika sembari bermain retorika
Walau maksudnya adalah menggalang dukungan dari jama’ah-jama’ah untuk mengikutinya

Gemuruh rindu menderu banyak manusia yang sudah kehabisan gairah
Semuanya berubah dan waktu selalu dipersalahkan karena itu
Kasihan betul mahkluk tuhan yang satu itu
Waktu, rupanya kau itu selalu dibuat sendu
Oleh manusia-manusia yang dungu
Yang tak tau apa sebab-musabab soal rindu

Bertugas menelisik kenyataan dan menimbang persoalan dengan mata telanjang
Hati memang perlu dipertajam sama halnya kejelian manusia yang mulai tumpul
Kesadaran tentang kesederhanaan hidup mulai diingkari bahkan disingkirkan
Karena yang disebut kemajuan adalah menghidari kerumitan dan permasalahan
Hidup dengan aman tanpa ancaman lalu meninggalkan ketidakbergunaan
Efesiensi hidup disulap dan disepakati sebagai evolusi besar peradaban
Melupakan hakikat utama untuk menjadi pejalan yang hanya berjalan
Keabadian menjadi harapan hingga kematian semakin jadi ketakutan umat

Rupa-rupanya banyak pengabadian kisah dalam kata
Semua dicatat dengan bahasa dan gaya yang begitu kaya
Macam-macam pula bentuk dan maknanya
Sayangnya belum banyak yang mampu menerjemahkannya
Menyederhanakan sebuah pesan dibalik banyak kenyataan
Makna-makna rahasia itu seolah bertebaran dimana-mana
Jalan-jalan, rumah makan, bukit-bukit atau lautan
Keterbatasan manusia memang terletak pada dirinya sendiri

Manusia tempatnya salah, manusia tempatnya lupa
Manusia tempatnya gegabah, manusia tempatnya dusta
Manusia tempatnya dosa, manusia itu peminta apa yang tidak ia punya
Minta-minta, nuntut-nuntut, mohon-mohon, maaf-maaf, itu saja
Masih gengsi dan sukar dijalani, menikmati hidup hingga lupa mati

Rumbai-rumbai pertanyaan selalu diterjemahkan dalam kesederhanaan
Seperti rasa lapar yang menuntut kita untuk segera makan dan kenyang
Sembari melupakan apapun yang menjadi kewajiban hingga tuntutan
Ingatkan saja kalau aku sudah sedikit hilang ingatan
Namanya manusia, kalau tidak lupa ya salah

Nofianto Puji Imawan
Madura, 26 Nopember 2015.

Pejalan

Perjalanan adalah keresahan yang dilampiaskan 
Seorang manusia yang dalam hidupnya takpernah berjalan
Melakukan perjalanan hingga menjadi pejalan
Yang tertunduk disetiap jalan dalam kehidupannya adalah sekedar manusia
Perjalanan adalah kehidupan itu sendiri
Maka jangan sepelekan sebuah perjalanan

Hanya perubahan yang kurasakan secara perlahan
Gairah telah berani mengolahnya menjadi kekesalan
Bagaimana aku harus tidak mudah mengeluh
Dan melakukan apa yang harus dilakukan
Bagaimana sebuah perjalanan ini menjadikan
Segala kemungkinan yang semakin mungkin
Untuk dicari tau “kenapa”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 14 September 2015.

Dalam Impian Bocah

Aku masih ingat saaat semua masih nyaman untuk layang-layang 
Dan bocah-bocah girang dimana kebun seolah rumah elok yang ditumbuhi buah
Begitu pula jalanan yang masih berwujud tanah dan belum aspal
Sehingga saat hujan menerpa bau khas itu muncul kembali

Masing-masing rumah hanya memiliki motor tak lebih dari satu
Semua selalu dilengkapi dengan teriak ibu-ibu yang selalu mengingatkan
Bahwa mahgrib sudah tiba dan jangan membantah
Umpama sebuah pagar disamping sawah yang selalu menjaganya

Itu adalah masa dimana gairah
Tentang dunia yang begitu sederhana
Telah mampu memupuk banyak cita-cita mulia
Sama seperti puluhan pemuda yang siap melanglang buana
Telah tercipta ditempat ini

Yang masih merasakan kecil dulu
Bercumbu dengan alam tanpa mau teralihkan
Bermain dengan sesama manusia
Sembari diawasi sang pencipta yang tertawa

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 14 September 2015.


Pada Awal

Dulu itu aku taktau, sampai tak mau tau hingga kini 
Semua berujung pada malu dan enggan mengaku
Bahwa yang diucapkan dulu itu benar adanya
Kenyataan itu memang tinggal menunggu waktu
Tanpa peduli seberapa besar nyalimu
Tingga sekali sentuh semua bakalan runtuh

Awal akan menyisakan sesal
Atas kegundahan dan hirauan yang tak diperhatikan
Semua akan bergantung pada awal
Tiada akhir yang tenang jika awal
Penuh dengan penyepelean-penyepelean
Ingatkan apapun yang ku hiraukan
Dan jangan pernah terjebak dalam sesal

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 14 September 2015.

Wednesday, November 18, 2015

Tanpa Alasan

Ia bertanya dengan aneh tentang suatu alasan yang sebenarnya tak mudah untuk dijelaskan 
Penasaranya membuatku gelisah, kenapa hal mendasar itu ditanyakan ulang
Kurasa ia harusnya mengerti dan paham, karena semua pasti punya alasan
Namun ia sekali lagi tak menjelaskan, kenapa pertanyaan itu terlontar kepadaku

Sekali lagi aku masih penasaran dengan alasan
Mencoba menebak bagaimana semua ini bisa berjalan tenang
Menerka setiap ucapan tanpa harus binggung atau gelisah
Tapi sekali lagi ia tak tau apa yang sebenarnya melandasi pertanyaan itu

Coba ia mampu menyederhanakan
Banyangkan semua ini adalah cara untuk menguji iman
Dimana pertemuan menjadi barang mahal yang sulit dibayangkan
Untuk satu pertanyaan, harusnya ia punya beribu alasan dibelakang

Ia memang sebuah kejutan diantara tumpukan kegundahan
Belum menyadari kelebihan membuatnya semakin menantang
Walau terkadang ia membuat binggung banyak orang
Bahkan sulit menyederhanakan kerumitan
Tapi syukurlah ia bisa memahami dan selalu bersabar untuk menjalani

Nofianto Puji Imawan
Madura, 17 Nopember 2015.

Friday, November 13, 2015

Masa depan & Kesiapan Batin

Rutinitas rumus pasti. 
jika tak patuh dan semaumu sendiri, tentu akan dibuang atau di mutasi. 
Itulah pekerjaan, dimana kalian tak mungkin menemukan kemerdekaan diri bahkan rawan lupa diri. Sebagai permulaan ini cukup tak menyenangkan. 
Siapapun akan resah kalau diberitau nanti kamu akan tertimpa bencana, apapun itu. 

Melupakan kesederhanaan hidup. 
Persis seperti kewajiban yang ditindih hak. 
Keinginan manusia memang menuntut untuk ditepati, terkadang sampai membuatnya lupa diri. Menghubungi yang jauh dan menghiraukan yang dekat. 
Analogi kalsik ini selalu pantas untuk manusia yang sedang tinggi.

Anakmu Perlu Rindu Bu...

Bu...anakmu sedang sombong 
Saat ini kerendahannya diuji waktu
Langkahnya memang selalu pasti
Tapi lihatlah bu...
Sebenarnya ia sedang kalut
Matanya mulai memancarkan kemilau
Pikirannya mulai ditumbuhi gelisah yang ragu
Ini bukan do’a bu...
Inilah rasa, dimana tempat munculnya suara
Panggilan tetang rindu yang membara

Sepertinya musim akan berubah
Saat itu pula pertanyaan akan berakhir
Sampai jawaban mulai mengalir bersama derasnya hujan
Bu...anakmu perlu arus untuk menghayutkannya
Karena rindunya mulai mereda
Kasihnya hanya mampu terasa lewat do’a semata
Sujudnya cuma pura-pura
Padahal tuhan sedang mengujinya
Semoga ia mampu menahan

Ucapanmu semakin terasa nyata
Disaat ia merasa utuh menjadi manusia
Bu...amburadul rasanya
Hidup diwaktu kejujuran sudah diubah
Menjadi bualan untuk memantapkan tujuan

Ia mendo’akan
Tapi menghiraukan
Saat jauh rasanya semua tentangmu adalah kebenaran
Sayangnya waktu itu ia hanya anak kecil yang serapah
Sampai-sampai takpeduli apapun tentang mu bu...

Kali ini waktu sudah merubahnya
Ia tak lagi menjadi buaya yang lupa sarangnya
Semua akan menjadi kepatuhan dan keta’atan
Yang haram untuk dilanggar apalagi ditawar

Bu...malam akan semakin larut
Sedang apa disana, apakah masih seperti biasa
Atau semua sudah berbeda dan sudah berubah
Ia tau kalau manusia hanya akan tertimpa tangga
Kalau tak berani memanjatnya

Nofianto Puji Imawan
Madura, 13 Nopember 2015


Tenang Sya...

Sya...gumam suaramu adalah pertemuan yang tertunda 
Aku tau kesempatan itu memang jarang datang
Kalaupun datang pasti sungguh mengkagetkan
Entah apa alasan kita untuk jadi satu-kesatuan cerita
Sya...perlukah pertemuan jika tanpa itu sekalipun
Kita sudah merasa dekat dan sangat dekat
Apa aku terlalu berlebihan menjalani rasa
Atau kau pikir aku hanya membual saja Sya...

Tidakkah kau ingin bertanya Sya...
Tentang apapun yang membuatmu resah
Ingat Sya...waktu pertama kau senyum & aku menatapnya
Dipelataran kontrakan waktu itu
Coba kau ingat Sya...lepas sekali senyumu
Hingga membuatku sadar kalau keindahan itu sederhana

Akupun tak percaya kalau kau itu mempesona
Apapun tentangmu menjadi istimewa
Walau beberapa kali aku mengelaknya
Tapi jujur, kau membuatku kompromi soal rasa
Bahwa aku sudah kalah olehmu

Pertemuan singkat namun begitu mengikat
Waktu itu sayangnya aku tak berani mengutarakannya
Karena kau terlalu istimewa saat aku mulai tergoda
Hingga taktertahan dan kuberanikan untuk mengatakannya
Awal yang singkat untuk kasih yang melekat

Bertemu dan aku malu-malu
Kau datang dari jauh sampai aku semakin jatuh
Percayalah Sya...aku sudah tenang waktu itu
Tapi pesonamu sudah berani menghentak batinku

Sudah tiga kali kita bertemu
entah berapa kata kita habiskan untuk saling merindu
tapi jangan lelah Sya...
karena ini adalah permulaan yang indah
kita diuji untuk menabung rindu
walau itu tidak enak, sama sekali tidak enak

Aku yakin, kalau sudah waktunya
Semua akan lebih baik dari kini
Kita akan menghabiskan setiap waktu tanpa terhalang jarak
Melepas gairah rasa yang sudah meluap seolah airbah
Dimana kita akan berpelukan tanpa menghiraukan apapun
Semoga akan cepat ya Sya...

Menjaga hati itu sungguh lelah
Tapi kalau sudah yakin, itu hanya persoalan waktu
Sya...yakinlah bahwa taksemua bisa seperti kita yang bahagia
Walau pertemuan hanya menjadi angan
Tapi siapa tau ini adalah rahasia tuhan untuk menguji batin dan keseriusan

Nofianto Puji Imawan
Madura, 13 Nopember 2015.

Thursday, November 12, 2015

Memaksa

Melakukan semua hal dengan harapan untuk menang
Semua manusia mungkin pernah begitu
Untuk tak munafik dan mengelak hakikat
Walau gensi, idealisme, prinsip, dan tujuan
Mampu membelokan, seakan takdir memiliki pilihan
Bahwa sekali hidup itu untuk memilih bukan menjalani

Lihat, begitu bermacam-macam manusia kini
Keinginan besar tapi kurang pengorbanan
Gairah berkobar namun sekeliling biasa saja
Sebab-akibat membuat rumus pasti
Sepertinya tak ada yang berani menebak masa nanti

Belum berani memilih tujuan pasti “hidup”
Sudah se’enak sendiri meramal mimpi
Bahwa kenyataan berawal dari kebiasan-diri
Namanya juga manusia
Pasti mudah menyala mudah pula menyerah

Untuk memulai langkah
Hendaknya menengok kesegala arah
Untuk berhati-hati
Karena apapun yang terlihat
Berbeda dengan aslinya

Nofianto Puji Imawan
Madura, 12 Nopember 2015

Tak Guna, Sederhana Sajalah

Sepertinya kita sedang dikepung ilusi
Saat harapan melambung tinggi tanpa dibekali pengetahuan lebih
Segaja menyakinkan diri dengan cara menjilat ludah sendiri
Hanya untuk mencapai keinginan duniawi sambil berlari

Datang dengan mata telanjang dan kaki yang ragu
Mencoba mengenal setiap wajah suram tertekan tanggungan hidup
Mungkin mereka lupa siapa sebenarnya dirinya
Sampai-sampai banyak yang buta mata hatinya

Memang benar bekerja itu tak membutuhkan rasa
Hanya bermodal profesionalisme dan tanggung jawab saja
Disiplin hanya soal waktu begitu juga tanggung jawab
Tak perlu mengenal apalagi memahami, cukup tau saja

Siapapun boleh bertanya dan siapapun boleh tak menjawabnya
Karena hak terlalu diutamakan sampai lupa keseharusan
Sistem ini seolah menekan tapi juga membiarkan
Namanya mencari uang, lumpurpun dibuat berenang

Untuk menjadi manusia yang diupah
Mereka rela dipaksa agar menghina dan merendahkan dirinya
Martabat sebagai manusia dinomor duakan
Keistimewaan mereka dijual murah

Melupakan kodratnya dengan sengaja
Sudah lumrah, kesadaran akan kesempurnaan cipta
Harus buang jau-jauh daripada harus jujur bermanusia
Karena hanya ada dua pilihan, menipu diri atau dikira gila

Krisis keberanian atau tidak mau membuat pilihan sendiri
Padahal keistimewaan manusia sangat berlebih diantara lainnya
Tapi begitu saja sudah lelah dan memilih ikut saja
Kalau ditanya tentang siapa dirinya, jawabanya adalah “entahlah”

Membicarakan keseharusan memang syarat kritik bahkan perlawanan
Realitas seolah tantangan kemunafikan zaman
Apalagi keunggulan-keunggulan yang tak disadari
Semua itu sudah hilang hanya dengan ilusi
Yang sengaja diciptakan sendiri dan diamini sendiri

Nofianto Puji Imawan
Madura, 06 Nopember 2015.

Akhirnya Jua

Siapa sangka kesempatan itu datang penuh gairah
Memaksa menomor dua kan hakikat dasar manusia
Sedangkan gelap sedang meminta kejujuran
Walaupun nyatanya kejujuran sudah berbalut awan

Redup, bias, sampai lenyap
Begitulah proses peleburan
Yang syarat kepogahan dalam membunuh batin
Seperti pejuang kalah perang yang enggan pulang

Ini bukan cara untuk tenang
Atau langkah cepat dalam memperjuangkan jaman
Hanya sekadar berusaha sebaik mungkin
Untuk segala keindahan bermanusia yang dilupakan

Karena semua maling adalah bagian
Bagian dari segala kehancuran yang direncanakan
Makanya jangan mentang mentang membenarkan
Bahwa kebaikan itu bisa merubah keseharian

Madura 2015

Usah'haah

Semua serba tak kentara
Wajah wajah penuh kegundahan mulai memaksa
Gairah yang diperkosa rutinitas hingga amblas
Hanya untuk beberap jam memperhatikan dusta

Berdoa sebelum memulai kewajiban sebagai manusia
Meminta restu untuk menuai barokah saat lelah
Memaksimalkan pemberian dengan usaha yang total
Walau sesekali melakukan banyak kemudharatan

Memikirkan segala kemungkinan dimasa datang
Menyakinkan bahwa ini adalah perjuangan
Dalam mencari kesejatian pikir
Sampai memantapkan hati

Bahwa sesungguhnya segala kemungkinan
Adalah bentuk ketentuan yang sudah digariskan
Namun disembunyikan sembari diam dan berpura
Agar tak menyepelekan setiap kesempatan hidup

Seperti banyak kemunafikan
Sampai menumpuknya kebohongan
Didalam kejujuran yang penuh celah
Seperti ucapan yang syarat kesombongan

Nofianto puji imawan
Madura 07 Nopember 2015.

Eman

Jarak memang bukan halangan atau alasan 
Tau banyak hal hanya dengan duduk pun bisa
Semua serba tersedia, tinggal mau apa
Selagi muda dan pernah bahagia

Perjalanan ini adalah upaya
Jauhnya seolah mekah dan madinah
Nawaitu pados elmu krono allah ta'allah
Adalah niat awal untuk meneguhkan tujuan

Seperti banyak kisah sejarah lainnya
Yang di percaya atau yang di kubur amarahnya
Pilihan bukanlah ahlinya
Pertimbangan adalah kompromi penindasan
Sudah tau tidak

Surabaya
Nopember 2015

Ram-raman

Rupanya ada diam diwaktu senang
Semua berupaya untuk berbaik baik
Disana sini seolah sama dan tak beda
Pogah meluapkan banyak dugaan

Lepas tertawa sesaat setelah diam
Didominasi itu menyakitkan
Seolah tiada kemungkinan untuk
Sesekali mengenali banyak tanda alam

Surabaya
Nopember 2015

Hantaman

Larut dengan banyak kebiasan 
Beranikah kita menjadi pilihan
Yang akan didekap atau dibuang
Untuk menemukan kepingan hikmah

Sumber bahaya lagi-lagi tetap kita
Manusia diantara manusia lainnya
Yang tak tau untuk apa merdeka
Seperti apapun yang senja redup tak ada cela

Seumpama akan datang bahaya
Siapkah kita diterjang olehnya
Ataukah kita hanya diam dan sengaja hilang
Untuk lari dan agar tak dikejar lagi

Siapapun tolong jangan bilang
Kalau kita sering lupa pantangan
Bahkan menghiraukan kewajiban
Maafkan saja dan terus berjalan

Celakanya kita yang sedang meradang
Ditebang alam hingga jatuh tanpa tumpuan
Kasihan bukan
Membelai seluruh angan hanya dengan tangan
Rapuh tanpa tulang belakang yang menyangga hingga terlihat garang

Siapakah kita yang diam
Sebaik apa semua kenyataan
Sejauhmana kita sekarang
Apa kita yang sebenarnya

Mojokerto
Oktober 2015

Hari Gajah

Semua mulai membicarakan misteri
Ujung sampai pangkal tak di ikutkan
Untuk satu ketidaktahuan yang dibagi
Bersama sumbar lelaki dengan mata merah
Iya menampakkan seribu ekspresi
Beserta meyakinkan kami yang diam
Malas campur resah karena di ajak bicara
Untuk apa sebenarnya
Pikiranku hanya berisi sampah-sampah
Untuk seumurannya aku seolah tiada apa apanya
Mirip seorang ayah tanpa anak yang melanglangbuana dengan hasrat dewa 
ditengah gurun tanpa savana

Mojokerto
Oktober 2015

Sudut

Siapa saja bisa bergurau dengan apapun 
Sama halnya kebencian yang perlahan timbul
Untuk menjadi apapun yang bukan asli
Diperlukan kepengkuan yang total
Karena semua akan berubah dalam hitungan detik
Dari yang baik hingga yang tidak
Untuk itulah aku bertanya sekali lagi
Siapa sebenarnya kita saat ini
Benarkah kita adalah hari dalam sunyi
Atau hanya kepalsuan yang dibuat rumit
Hanya untuk tujuan dan ketidakpastian
Padahal tak sedikit diantara kita lupa diri
Tak semua mengerti diri sendiri apalagi lainnya
Semuanya serba palsu dalam lingkup tak menentu
Seperti peluru yang salah tuju

Untuk suatu malam di sudut alun-alun itu
Aku membiarkan semua menjadi keheningan
Dan membiarkan dusta tetap digarisnya
Hanya untuk tau atau pura-pura malu
Seperti angin dan gerutuan perempuan gila itu
Namanya juga kemunafikan dan kejujuran yang gamblang diantara diam
Semakin membutakan anggapan bias seorang yang lupa arah pulang

Mojokerto
Oktober 2015