Thursday, December 29, 2016

Di Bawah Payung Hitam Ku Berlindung


(Terinspirasi dari lagu yang awalnya “yang hujan turun lagi, dibawah payung hitam ku berlindung....hehehehe)

Bocah-bocah mulai lumrah dengan rokok
Walaupun kini sudah banyak yang memakai vapor
Pemuda-pemudi begitu rindu akan sex bebas
Sampai-sampai minimarket sering kehabisan stok kondom

Kecewa serta pelarian dibuat alasan
Yang dilarang kenapa selalu menyenangkan
Peraturan dibuat untuk dilanggar
Kadang semua perlu penyeimbang

Ah

Ada yang baik sedikit, dan yang tidak makin membukit
Kejujuran setidaknya mulai tumbuh, kebohongan malah kabuh
Kesadaran kian bertambah, munafik tambah melejit
Budaya hemat sudah ditanamkan, tapi pemborosan lebih keliahatan

Kata kotor lumrah diucapkan, katanya cirikhas daerah lokal
Buang sampah sembarang sudah berkurang, malah sampahnya di sembunyikan
Katanya sadar dan tau peran, lihat itu sepertinya masih ingin dapat banyak uang
Korupsi sedikit demi sedikit di tuntaskan, nyatanya masih kecolongan

Kesetian diutamakan, ternyata banyak janda masuk koran
Sering kunjungan ke pengajian, tapi masih bohongi teman
Ingin berbeda dari yang lainnya, malah ikut-ikutan gayanya
Ingin kaya dan terkenal, sama diri sendiri saja tak kenal

Aduh

Kapan ada waktu kita ketemuan
Tiga kali lebaran tak kunjung kasih kabar
Nanti kubayar setelah gajian
Malah kabur bawa uang perusahaan

Dasar

Munafik ?, oh tidak
Hipokrit ?, jelas bukan
Realistis ?, tipis sih
Manusiawi ?, mendekati
Kompromis ?, boleh juga
Idealis ?, tidak sama sekali
Selektif ?, sangat
Perhitungan ?, wajib itu
Bajingan ?, tidak dong
Saudara ?, so pastilah

Ini pasti bener?

Pemuda-pemudi Indonesia. Benar sekali

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 29 Desember 2016.

Iman Tak Sekadar Percaya


Sudahkah aku mencaritau siapa diri kita
Sudakah kita tau apa tujuan kita
Sudahkah kita yakin dengan keyakinan kita
Benarkah kita punya pilihan dalam hidup
Berapa persen yang kita ketahui dan yang tidak
Lalu pantaskah kita menyombongkan diri

Diantara air yang menghantam dan perempuan yang dirindukan
Aku duduk untuk kembali menenangkan pikiran yang terlalu liar
Sengaja untuk diam dan membuang semua kekeliruan
Kembali meluruskan niat dan mencoba menyelsaikan ujian
Saat datang hujan, maka tak segan malam menelan
Menenangkan pria-pria ditengah buaian lirik lagu kasih sayang
Sembari menelan perempuan-perempuan yang lupa kodrat alam

Sayangnya semua akan kembali hilang
Keraguan, pilihan, keyakinan, cara pandang, nikmat tuhan
Segala sesuatu yang nyata bakal dikubur dan hancur
Seperti kisah akhir jaman yang penuh penghakiman
Dan seluruh kitab akan bersaksi
Ditengah puluhan matahari

Lagi-lagi aku membual
Pertanyaan berbalut keresahan
Kemarahan yang dipendam
Kasih sayang yang dipalsukan
Gumam dendam diantara iman
Keyakinan yang meragukan
Sampai tak ada pilihan
Selain kembali meluruskan iman

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 29 Desember 2016.

Wednesday, December 28, 2016

Bocah Wifi Id dan Nostalgia Keresahan

Kurang bajingan apa coba, disaat lagi asik-asiknya download tiba-tiba gerombolan bocah kecil berumur kurang lebih 12 sampai 14 tahun datang dan duduk di depanmu lalu dengan menghisap vapor, mengeluarkan rokok surya, mendengarkan musik EDM dan hiphop lalu teriak-teriak anjing, fuck, bangsat, tai, asu, kadal, babi, ayam, mujaer, cok, ngewe, tetek, dan sebagainya. Lalu sebagian joinan rokok surya, dan spontan ngomong putusin aja semua wifi disini. Kampret...(dan itu semua dilakuin didepanmu pas, banyang sekali saja, kira-kira apa yang bakal kamu lakuin?).

Sekadar intermezzo saja. Menurut hemat saya, kini banyak anomali kejadian aneh yang lucu namun miris dan sangat tragis terjadi. Kebanyakan dikarenakan perkembangan zaman, teknologi, informasi, dan menurunnya moralitas masyarakat atau bahasa akademiknya dekadensi moral. Mungkin dari kalian yang sempat membaca tulisan ini pernah mengalami keanehan lucu seperti ini. Sepertinya memang edanisme sudah terlalu mengakar hingga ke sel-sel tubuh. Dimana semua yang salah menjadi lumrah, yang seharusnya benar malah mengherankan, bahkan di Youtube, sudah berapa hal bodoh yang di videokan lalu diupload dan viewersnya sangat banyak. Banyangkan berapa banyak anak kecil yang sudah bercita-cita menjadi Youtubers, dan berapa banyak kejadian aneh yang gara-gara Facebook, bahkan berapa kali media massa membahas sebuah Twet di Twitter dan itu menjadi pembahasan publik. Apapun yang penting bagi publik dialihkan dan yang tidak penting bagi kita malah di bahas bahkan di permasalahkan. Tapi sudahlah, dijaman edan tak semua menjadi edan, tapi yang pasti di jaman edan ialah ketidak mungkinan untuk menjadi lebih baik (tentunya semua hal).

Tak mungkin semua lebih baik, karena rumusnya ialah semua akan hancur dan sebelum kehancuran pasti ada yang namanya proses menuju kehancuran ya...seperti makin banyak bencana alam, makin membinggungkannya konstalasi global, eksplorasi sumberdaya alam yang over, moral manusia yang tambah tai, yang kaya makin kaya, yang bodoh malah bertambah, munculnya hipokrit-hipokrit kecil, banyaknya kejahatan yang dibiarkan, banyak orang memilih bekerja keras demi dunia seolah-olah ia hidup selamanya, banyak negara memperkuat basis militer mereka, teknologi makin canggih dan membuat kita pragmatis, semua manusia diubah menjadi konsumtif, meluangkan banyak waktu untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting secara umum dan membenarkan diri sendiri, menjadi munafik seolah realistis, banyak homo dan lesbi bahkan ada yang bisex, transgender, insex, sampai-sampai di era emansipasi ini semua diterima walaupun menyimpang dari agama, salah kaprah dianggap lumrah, dan banyak keresahan lainnya bahkan mungkin kalian lebih banyak menyimpan keresahan tentang segala hal yang sudah tidak biasa ini.

Semua ini berawal dari kebiasaanku yang memilih wifi id dibanding internetan dirumah. Fasilitas wifi id sekarang lebih nyaman dibanding warnet, tau sendirilah bagaimana wifi id sekarang. Menjanjikan kecepatan internet yang sangat cepat walaupun tidak secepat iklannya. Ya minimal bisa lancar streaming Youtube dan Vimeo. Namun semua itu relatif, kecepatan internet, fasilitas, kenyamanan, dan keamanan kadang kembali kediri masing-masing, apa kalian nyaman dengan wifi.id atau lebih nyaman tetring internet melalui handphone, mungkin lebih enak internetan dirumah, tapi tidak mungkin kalau sekarang masih nyaman pakai warnet (mau buka bokep aja susah). Khusus buat daerah yang masih belum dapat akses internet pasti dimaklumi kalau masih pakai warnet. Tentunya bagiku wifi id sangatlah menyenangkan, bisa membuatku betah hingga berjam-jam sampai lupa harus menyelsaikan skripsi. Kenapa bisa lama di wifi id (tau sendirilah kalau cowo internetan itu ngapain).

Untuk sekadar mendownload file kita kadang-kadang dibikin terlena untuk membuka banyak hal, seperti video di Youtube dan mendownload file di Torrent terutama film terbaru. Banyangkan saja terlalu banyak akses informasi yang begitu mudah yang seharusnya bisa membuat ente makin efesien malah sebaliknya. Bagaimana mau efesien kalau mau download file dokumen sebesar 121 Kb malah kesasar mendownload film sebesar 2 Gb, ya nunggu lama dan sangat tidak efesien. Entah sistem apa yang dipakai wifi id untuk membuat kita rela berjam-jam duduk sambil menghadap laptop daripada tadarus di musolah.

Fenomena bocah sekarang juga menjadikan logika para orangtua pada angkat tangan. Bocah globalisasi kadang lebih mengerti bagaimana membuat program android serta coding dibanding memahami bagaimana taat kepada orang tua. Kurang ajarnya bocah selalu membuatku kembali nostalgia saat dulu, kompromiku selalu muncul disaat aku menyadari kalau aku dulu sangat kurang ajar sama orangtua.

Sepertinya alangkah baiknya jika kita lebih kompromi akan kurang ajarnya zaman, dengan selalu mendengarkan lagu-lagu metal atau musisi yang tak terkenal. Mereka selalu mengajarkan bahwa tak semua yang terlihat menjanjikan selalu menjanjikan dan melakukan apa yang kita suka terkadang tak baik untuk dilakukan. Jargon lakukan yang kamu suka alangkah baiknya jika direvisi dengan jargon “lakukan yang orang suka” supaya zaman ini tak makin edan gara-gara kalian ok, tapi manamungkinlah.

Tapi ya ndak semua yang terlihat benar memang benar, kadang yang baik belum tentu tepat, bahkan yang tepat belum tentu nikmat.

Monday, December 26, 2016

Semua Ingin Kreatif dan Produktif

“Obrolan Malam Bersama Kumat Productions di WAKO Mojokerto - Menyoalkan Konten Kreatif dan Produktifitas Dalam Berkarya”

Tak bermodal namun kreatif dan bermodal tapi kurang produktif, atau bermodal dan kreatif serta produktif menghasilkan karya. Obrolan berjam-jam yang kulakukan semalaman dengan pemuda-pemuda bernama Apenk, dan Tegar yang baru saja melanjutkan kuliahnya di bidang film & broadcast. Menghasilkan berbagai keresahan, antara menjadi yang berbeda atau memilih menjadi yang pertama. Karena kalau takbisa menjadi yang berbeda, cobalah menjadi yang pertama. Skenario terburuknya, kalau takbisa menjadi yang berbeda atau yang pertama cobalah mencari cela dimana kejenuhan akan maraknya konten kreatif di media sosial dan internet tentunya, karena sekarang semua ingin menjadi kreatif dan selalu mencoba memproduksi karya dengan alasan ingin mendapat keuntungan materi dan menambah eksistensi untuk sebuah alasan pribadi di era global, MEA, atau pasar bebas. Untuk menciptakan karya entah visual, audio, audio-visual, teks, atau kombinasi dari beberapa elemen tersebut. Dimana karya tersebut mampu diterima atau minimal dilirik sebagian viewers diruanglingkup terdekat, entah keluarga, teman, kelompok, komunitas, atau khalayak diregional tertentu. Walaupun melalui internet seluruh dunia mampu mengaksesnya, namun jangan sampai salah target audiens. Karena semua kembali ke tujuan dan niat awalnya.

Keinginan yang berdasarkan idealisme kadang kala menjadi pisau bermata dua. Obrolan ini berawal dari pertanyaan “sibuk apa sekarang?” dan pertanyaan itu pasti dijawab dengan deskripsi panjang tentang apa yang kita lakukan, punya rencana apa, apa yang sudah berjalan, bagaimana prosesnya, apa kendalanya, mengapa seperti itu, mulai kapan, sekarang bagaimana, rencananya seperti apa, apa yang sudah didapat, kerugiannya sebesar apa, dan itu sangatlah menyebalkan. Dimana kami harus menjawab bergantian dengan kondisi warung yang penuh nyamuk dan harga kopi yang sangat tidak manusiawi, anehnya obrolan ini dimulai dari pukul sembilan malam hingga jam 2 dini hari. Entah sihir apa yang membuat kami betah membicarakan hal gaib seperti itu dengan begitu lamanya.

Membahas konten video dan film hingga vlog. Mungkin karena lagi tren dan mulai memenuhi platform Youtube. Kebetulan kami punya inisiatif membuat sebuah media indie atau media kecil kecilan yang bergerak dibidang kreatif entertaiment. Membuat karya hingga mencoba mencari kesempatan untuk menghasilkan materi guna memenuhi kebutuhan pribadi, ya minimal bisa buat ngopi atau kuliah. Mungkin karena itulah kami membahas hal seperti ini. Mulai dari bagaimana sekarang, apa project dan kondisi masing-masing kesibukan kita, mulai dari Kumat Productions (Semacam Production House) dan Majazine (Media Indie). Awalnya obrolan ini selalu membahas kendala, kondisi yang buruk, minim dana, tidak adanya penghasilan dan masing-masing sibuk dengan kesibukan sendiri-sendiri seperti kerja sampingan, kuliah dan lain sebagainya. Kebetulan kita bergerak satu regional yang sama yaitu Mojokerto, kota kecil yang dengan dengan Surabaya. Aku yang mulai bertanya-tanya dengan bagaimana cara membuat konten video yang menarik hingga mencari orang yang idenya gila. Dan dilanjutkan dengan membahas peralatan sinematografi atau videografi yang super tai anjing itu. Membuat kami semakin membicarakan hal-hal yang tak nyata ini. Seoalah olah semua hanya sekadar bicara dan bermimpi (sekadar teman mimpi). Maklum dari kami tidak ada yang punya peralatan videografi atau kamera yang lengkap, kadang untuk sekadar liputan event saja kami pinjam kamera, itupun bukan kamera video, namun kadang kamera poket paling bagus yang DSLR yang standart ABG alay. Ini hanyalah sebuah catatan obrolan yang tak jelas, nanti pembahasannya bakal aku tulis di postingan selanjutnya. Jadi ini hanya intermezzo saja. Intinya sebenarnya terletak di paragraf awal. Sekarang pertanyaannya ialah, apa harus kreatif dulu atau modal dulu, atau apa harus kedua-duanya. Dan mengapa harus begitu?

Jawab di komentar kalau tau, kalau tidak ya tidak apa-apa. La wong ini juga tidak penting-penting amat, amat juga ya tidak penting. So just journal.

Friday, December 2, 2016

Hiprokrit Elektrik



Menenun kenangan diatas angan
Ia berkata kalau hujan datang tanpa lisan
Sebentar lagi kau akan merasakan
Setetes demi setetes air diatas pelipis

Terenyuh dan tiba-tiba tersadar
Matahari dan hingar-bingar hanyalah cadar
Menutupi semua keindahan
Layaknya angan-angan dikala malam

Aku membuta untuk mengerti
Hal terkecil yang sering dianggap kerikil
Kau seringkali bertanya
Seberapa kecil kita diantara semesta

Kuharap kau menerima
Runyamnya rasa
Gelisah, tak tau ingin apa
Selama belum sadar jua
Akan indahnya dunia

Selama resah
Kau seolah manusia
Pencerna realita
Mengulang kesalahan takberarti
Mengingkari suara hati
Setiap kali hingga mati

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 01 Desember 2016.

Wednesday, November 30, 2016

Semusim Bersama Pemuda Pemudi Penyakitan


Kenyamanan bersanding dengan gegabahnya angin
Menepuk pundak dan mendobrak ingin
Kemana lagi malam akan berpaling
Hanya sekali aku tersadar

Beribu nasihat dari ia yang kesal
Tumpah-ruah hujatan kutelan habis
Aku masih nyaman dan takmau keluar
Sekumpulan srigala meninabobokan takdir
Memalingkan keseharusan untuk sejenak berkata

“ini kenyataan, bukan dunia utopis dambaan pemuda penyakitan”

24 jam terasa sebentar dan tak cukup mengantar
Semua keihklasan mempersiapkan masa depan
Hanya dengan duduk dan mengobrolkan kemunafikan
Menghakimi moral tak berakal
Mengidam-idamkan dunia impian
Dari akal-akal yang diupayakan masuk akal

Setiap detik mereka dikejar pencapaian
Godaan mereka ialah keinginan mereka yang terdalam
Mengupayakan nasib agar berpihak dan tak segan memberika kenyamanan
Tak sadarkah mereka kalau rasa nyaman sudah ditangan

Kemauan kelam dihapus dengan hitam yang tersamar
Ungkapan langit tiap detik terlontar dan dipegang

“hey, aku punya pedang dan kau hanya setebal leher ayam”

Padahal setiap pembicaraan mereka
Bakal berhenti pada tindakan karbitan
Yang sekali memuncak setelah hilang dihirau kepuasan

Antara kemunafikan atau ketuntasan berkehidupan
Disaat kesampatan tak diimbangi dengan kemampuan
Dimana kekuatan dimanfaatkan seolah kelemahan
Dikaruniai kesadaran tapi dengan efek samping kemunafikan

Sesungguhnya tiga tahun belakangan ini, untuk apa
Benarkah takdir membawaku kedalam sumur kering
Atau justru menenggelamkanku pada samudra lumpur

“aku tak menyesal dan aku sadar akan semua pesan-pesan tuhan”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desember 2016.

Adakalahnya Semua Harus dibiarkan Saja


Bayangkan senja datang dengan gegabah
Burung-burung walet terbang membentuk sumur
Mata-mata tetua desa mulai menerka
Akankah ada badai atau hujan murka

Bagai musim, semua ada maksud dan tanda
Ilmu-ilmu tak ilmiah diantah anta-berantah
Keraguan akan sebuah pembuktian memang sulit menyakinkan
Untuk menyakinkan saja, perlu depat tilap-telaah
Apalagi membiarkan semua tetap tak ilmiah

Membiarkan yang tak ilmiah
Menyakini atau menolaknya
Entah percaya atau membantah
Tapi ilmu ini lama diterima
Percaya atau tidak, tapi ini nyata
“padat wibawa, syarat umpamaPenuh metafora berbalut gairahMencoba mengolah hikmah dan hidayahMenjadi telaah, pasti ada maksud dan pesanKenapa kita memakai umpama atau ilmu-raya”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desember 2016.

Jangan Kaget Kalau Ditinggalkan


Apa yang kau banyangkan, jika terbagung ditengah petang
Dengan bekas jejak yang meninggalkanmu
Semua terasa kosong dan menyadarkan
Semua hal, tapi menyakinkan bahwa kita sendirian
Dan akan sendirian

Kabar malam mulai menagih pulang
Kesadaran mulai membutuhka perhatian lebih
Harapan kecil mulai dikesampingkan
Kewajiban seolah memukul untuk dikerjakan
Andai semua hal dapat di anak tirikan
Mungkin aku lebih sering mendua

Bagaimana mungkin bayangan lahir
Dan membunuh kenyataan dengan metafora
Membuat semua kabar burung
Menjadi berhala-berhala musiman

Aku tak ingin melukai takdir
Tapi aku jago mengakali diri-sendiri
Sungguh runyamnya akal sehatku
Bahkan sampai tertipu syahduh

Malam memang kelam
Saat aku mulai bersaing pembuktian
Manusia lebih sering menimang angan
Daripada menyadari peran masing-masing

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desemeber 2016.

Ingkarilah Kenyataan

Perahu mulai menepi
Badai sebentar lalu pergi
Sering sekali, dan aku tak memahami
Apa rumus waktu perlu dikelabuhi

Baru-baru ini ada rawa tak berpenghuni
Tak hijau namun penuh kabut putih
Tenang aku hanya mengarang
Jangan berang, kan ini hanya terkaan

Berbohong
Bukankah semua suka berbohong
Lihat, rasakan berapa kebohongan
Yang kita produksi dan kita konsumsi
Sampai bersama-sama kita amini

Kebohongan, berbohong, membohongi, dibohongi
Dan kita hidup damai dengan itu
Ingat ini

“Berbohong jika tak bohong”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desember 2016.

Wednesday, November 16, 2016

Teruslah

Memandang jauh jalan
Seakan perlu bersabar
Tergesah namun pelan
Seperti menerima masa depan

Melupa serta menimang
Kunang-kunang diladang
Mulai menghilang
Begitu persis seperti kenangan

Terus menggerus
Ambisius hingga haus
Panas-panas sangat ganas
Perlulah kita bergegas

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.

Umpat


Menempa umpatan agar tak tersimpan
Membuatkan ruang terang dalam tidurnya
Hanya sebentar saja
Ia berujar tanpa mau di dengar
Melakukannya seperti lebih
Mengherankan dibanding diam

Namanya juga halusinasi
Pasti akam duduk dan takmau kemana-mana
Saatnya nanti

Nofianto Puji Imawan
Gunung Arjuno, 01/09/2016.

Penasehat Weton

Lihat apa yang ia lakukan
Terlahap penasaran hingga gelagapan
Apapun yang ia dulu katakan dan inginkan
Bakalan hilang dan dibayar oleh hasrat lima-menitan

Sungguh sayang-bukan!
Janji dan harapan tulus
Tiba-tiba dihantam bualan teman
Perempuan datang lalu mencengkram

Andai aku mampu mencegahmu
Nyatanya ucapakanku hanya bunga tidur
Dikala kau berburu petuah dan nasehat
Bukankah memang begitu nyatanya

Bukan tak memaklumi
Bodohnya aku kalau kompromi hal itu
Sekali melakukan, setelah itu habis dan hilang
Semua ambisi dan ketulusan perjuangan
Menuruti keinginan
Yang menjulang

Kau lelaki dengan wajah berang
Mengejar harapan sambil menggila
Tak pernah tenang apalagi bimbang
Malu-malu sedikit tapi menggigit
Memang bajingan
Tak kau dengarkan aku

Selama masih dan terus
Apa bernai kau berbijak hati
Dan membicarakan takdir serta weton
Dihadapanku

Menerka, menebak, mudah penasaran
Sehina malam tanpa hujan
Berbalut dosa yang sempurna
Aku tak menghakimi atau menyesal
Siapa aku
Siapa kau itu

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/11/2016.

Penenun Kisah Semu

“Sedang apa kau”

Apa indah mengingatmu
Apa perlu melihatmu
Aku malu mengenangmu

Untuk sehari yang ambigu
Aku datang dan kau terharu
Sampai kini ku mengaku
Bahwa hal itu membunuhku
Entah dalam waktu
Seolah romansa semu

Cukup sebentar
Kau datang
Dan dengan lantang
Kau meninggalkanku
Seolah ingin melupakan
Kisah penenun sapu tangan

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 05/10/16.

Untuk Nurul Syafaati Irsyad

Pertemuan Yang Ditemukan

Ini malam bukan anak haram
Yang dilahirkan untuk teguran
Seolah tiada masa depan
Dan langsung dibuang di jalan

Kumpulkan saja serpihan kelam
Walau kadang itu melelahkan
Perlu ruang untuk mengenang
Setiap perang sebelum tenang

Dipertemukan orang-orang pilihan
Walau kadang itu melelahkan
Semoga jalan masih lenggang
Dan aspal masih menghitam

Disekali malam
Kita dirajut dan ditimang
Untuk tenang
Selagi berang

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 04/10/2016.

Serah


Ia menduga kehendak
Kepastian mutlak yang telak
Bukan tak percaya atau apa
Tapi ini begitu tak terelak

Kapan diam, kapan dendam
Tau apa yang dilakukan
Gelisah, marah, lelah, dan resah
Membuntuti seperti pengembala

Mengutik tak tertawa
Hanya teriak sukar berdoa
Mempunyai tongkat penuh wibawa
Namun kesepian ditengah prahara

Di pojok bilik pondok berlapis seng
Suara nafas hingga dengkuran
Lebih keras dibanding jangkrik
Banyangan lilin seolah paling berharga

Dingin, lelah, malas, gegabah, serta gairah
Seolah melebur dengan tenang
Dan menghilang
Sesaat sebelum subuh datang

Nofianto Puji Imawan
Gunung Arjuno, 01/09/2016.

Kadang


Menempatkan kenyakinan dengan memaksa
Apa perlu membicarakannya sekarang
Kadang aku gelisah dengan itu
Terlalu banyak tau dan terlalu malu

Harusnya ia diam saja
Begitupun telingannya
Jangan liar mendengarkan
Mulut itu perlu kecewa

“Namannya terang”

Nofianto Puji Imawan
Gunung Arjuno, 01/09/2016.

Meninggalkan Ia Yang Tertidur


Mengenai rumus tak ada anak yang menurut orang tua
Memang terdengar sangat miris
Apa yang harusnya dipatuhi
Atas kemunafikan ini

Untuk tujuan yang sebentar
Seperti ingkar kuasa malam
Hanya memandang dan meninggalkan iba
Semua terasa semalam saja

Tak tau serta kecewa mendalam
Binggung ingin apa, sesederhana itu
Semuanyapun seperti sebentar
Kembalinya ingin bersama mimpi

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 10/09/2016.

Pejalan


Menyimpan umpatan
Agar tak menggangu
Memandang aspal
Sampai hafal
Bahwa angan-angan
Makin menyesatkan
Dan membungkam tindakan

Pejalan
Makin pelan
Terasa sangan nyaman
Memegang ucapan
Harusnya aman
Namun nyatanya jarang
Ada yang diam

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.

Memenuhi

Suara dendam memenuhi nurani
Banyangan angan seolah membebani
Kapan terakhir kalinya manusia merasa sepi
Sampai mati, kapan manusia akan menjauhi ilusi

Ilusi memupuk ambisi
Menutupi akal dan keberanian
Membutakan lawan-haluan
Serta membiarkan ambisi

Sekali menipu
Maka hati akan tercacati
Setelah itu mati rasa
Memenuhi semua pancaindra

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.

Hasileg


Aku tak hanya heran
Atas buih dan kesurupan jaman
Semua menikam dengan kejam
Padahal kita tak diciptakan
Hanya untuk saling merajam

Kisah kelam diumbar
Telinga-telinga lebar merekam
Lontaran kata-kata liar
Dimaklumi hanya untuk mengetahui
Apakah nasibmu akan berarti
Tanpa ingin hanyut dan menyesali

Indahnya hal ini
Saling jujur untuk mengisi
Kekosongan dan arti hari
Supaya tak sia-sia nanti

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 04/10/2016.

Jalani Saja


Sweater itu masih milikmu
Semenjak meninggalkan kotamu
Aku seolah rindu sampai terharu
Walau sebenarnya aku masih malu

Aku tau, aku memang gegabah
Kaupun bertanya ragu padaku
Romansa singkat yang memikat
Bukan maksudku menggerutu
Atau bermain rasa dengamu

Tajam mata itu
Seolah menyihirku sejenak
Irama ucapanmu begitu syahdu
Entah mulai darimana
Kau melakukan itu padaku

Sekali lagi kita jauh dan taktau
Keraguan masih mungkin menyelimutimu
Akupun begitu
Kuharap kau masih mau
Menunggu

Tenang saja
Sweatermu masih dikamarku
Tak sekalipun kusentuh
Hanya kupandang sesekali
Untuk membiasakan rindu
Padamu yang jauh

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 29/10/16.

Edan Tenan


Semua kutunda dengan gegabah
Seoalah yakin bahwa esok masih ada
Berani membayangkan dan merencanakan
Yang sebenarnya tak tau

Maklum saja
Manusia memang serakah
Berkehendak semaunya
Menundapun se’enaknya

Selalu berandai-andai
Bahwa esok akan seperti ini
Mencoba merencanakan masa datang
Seolah ia hidup sepanjang jembatan layang

Menyalahkan nenek moyang
Memperdebatkan kenyataan
Seolah-olah mengerti dan paham
Kalau semua mulai tak sejalan

Menyalahkan keadaan
Berfikir dengan dugaan
Logika atau perasaan
Seolah pasangan akhir jaman

Jika malam tenggelam
Bulanpun remang-remang
Saat mendung datang
Semua berfikir bahwa akan hujan

Siapa yang edan
Melogikakan takdir kehancuran perdaban
Kalau bukan manusia berjubah hitam
Dan membawa menyan

Daun jatuh bukan tanda kematian
Keindahan tak semata-mata senangnya tuhan
Bencana besar tak hanya peringatan belaka
Bukankah semua pancaindra mulai gelagapan

Melihat tanda-tanda akhir jaman
Yang mulai terang-terangan
Menebarkan ketakutan
Tapi tenang
Semua bakal dihiraukan
Oleh kita sendiri

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 08/11/2016.

Gemilang



Rimba bualan malam gemilang
Menyelimuti upaya ingin pulang
Disaat godaan sedang menimang
Angan-angan itu muncul menghilang

Sekali bosan
Dan dikagetkan
Rencana bualan
Ambisi remang-remang

Semua mulai gegabah
Bertahan dan tercecer
Tinggal waspada
Dan tunggu hasilnya

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.

Biar


Biar terang tak menyilaukan
Agar malam tak menegangkan
Untuk menemukan jalan
Di ujung gelisah yang mudah hilang

Akar akan tetap tumbuh
Hingga ranting mulai patah dan jatuh
Dedaunan bersemi
Buah, bunga menipu kenyataan

Untuk sebentar menyilaukan
Gerak, malu, dan penyakit
Akal manusia yang teracuni
Oleh penawarnya sendiri

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 09/09/2016.

Delusi Pemimpi

Diam-diam malam mulai kurang ajar
Satu-persatu kami mulai ditimang
Terlena memang menyenangkan
Terasa tenang seolah masalah lenyap
Harapan memang seolah pandai menipu akal
Menutupi kenyataan dengan bunga-bunga kertas
Penebar pesona

Akankah ini akan terus berulang
Siklus pelana pemuda jaman berang
Hanya sebentar namun mampu
Merambat hingga melarutkan nalar
Sekali itu saja, mampu membunuh semua

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.

Durjana Penebar Tanya


Mendengarkan nada hingga berbusa
Memaksa panca indra hingga berdarah
Umpama ini ciptaan manusia
Mungkin sudah lebur dan musnah

Aku tak bisa menjawab
Pertanyaan paling mudah dalam diriku
Sebenar-benarnya waktu
Apa harus merelakan
Atau hanya membelenggu
Segala sesuatu yang perlu dan butuh

Selama mungkin
Sesaat yakin
Sampai ingin
Dan hilang dilebur angin

Mendengar kisah pemuda resah
Diambang percaya dan kecewa
Yakin dan ragu seolah menderu
Lebih baik tak tau
Atau mati menggerutu

Bisa apa atau apa bisa
Menimbang amanah
Dengan tubuh penuh darah
Semoga tak seperti itu

Tapi takdir selalu hadir
Tanpa perlu dipikir

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 04/10/16.