Sunday, January 17, 2016

14 Januari

Ada mayat yang mati dan punggungnya mengeluarkan asap
Satunya lagi tubuhnya terpisah dan tangannya masih bergerak
Mereka berdua terlempar keluar dari pos polisi ditengah jalan
Saat sebuah bom meledak pada kamis pagi sekitar jam sepuluh’an
Semua orang berhamburan keluar sambil berteriak
Dan semuanya tak selesai hanya dengan sebuah ledakan
Masih ada rentetan tembakan terdengar dengan gamblang

Lagi-lagi jakarta menjadi sasaran
Kerumunan manusia memenuhi bahu jalan
Puluhan petugas keamanan memecah kebuntuan
Suasana mencekam mulai dirasakan
Apakah ini teror atau ancaman
Mungkinkah ini perang yang ditunggu-tunggu
Atau ini hanya kejutan kecil sebelum pesta dimulai

Media televisi, radio, online, majalah, dan koran mulai membinggungkan
Semua orang mulai menduga apa penyebabnya
Sedangkat keluarga korban hanyut dalam ketidaktrimaan
Pihak keamanan dan intelejen mulai dipersalahkan
Mereka dianggap tak becus bahkan kecolongan
Media sangat menyenangkan waktu itu
Sampai semua orang dibuat binggung olehnya

Apapun itu
Jakarta tetaplah jakarta
Problematika dan semua yang terjadi disana
Sangat menarik untuk media kita
Karena hanya jakarta yang mampu menarik perhatian media
Semoga tidak hanya ini
Kita tunggu jakarta dan tangis darah

Nofianto Puji Imawan
Madura 15 Januari 2016.

Friday, January 8, 2016

Porsi


Untuk mengetahui masa datang, apa salahnya bersikap acuh. Menyimpan banyak keluh-kesah terkadang tak baik untuk diutarakan. Bukan karena tak ada pendengar yang baik atau bosan dengan nasehat dan saran pasaran. Diluar itu semua ada yang lebih penting. Menyimpan adalah proses penting yang mendahulukan akal dibanding nafsu. Pelampiasan adalah bukti ketidakmampuan atas kesabaran, ketabahan, kekuatan, dan kemampuan untuk memaksimalkan keistimewaan yang sudah diberikan tuhan.

Pernakah kita didalam pikiran merasa telah mengerti dan memahami suatu hal namun untuk mengutarakannya apalagi menjelaskan rasanya susah setengah mati. Aku pernah mengalami itu, tentu hal itu sangatlah tidak enak. Lantas bagaimana kita menjelaskan proses tersebut. Apakah itu dikarenakan kedangkalan kita dalam memahami suatu persoalan, hingga jika kita menjelaskanya dengan bahasa sesederhana mungkin rasanya runyam. Atau karena kurangnya konsumsi kata dan minimnya wawasan sehingga sulit untuk menganalogikannya selalu mengalami jalan buntu. Pengalamanku malah sederhana, pernah ada seseorang yang menceritakan bahwa jika kamu tau dan mengerti sebuah persoalan sedangkan saat itu pula kamu kesusahan dalam menjelaskannya kepada orang lain maka berarti kamu belum memahami hal itu. Apa benar sesederhana itu. Dari itulah aku mengambil banyak asumsi, bahwa secara tidak sadar kita telah melakukan pembatasan-pembatasan atas apapun dalam hidup secara otomatis. Bukan kitalah yang membatasi diri kita sendiri namun diri kitalah yang melakukan itu. Dan hebatnya itu jauh didalam alam bawah sadar kita sendiri-sendiri.

Mungkin sedikit rumit, namun coba kita telaah setelah menyedari hal itu. Berarti kita memang sudah memiliki bagian sendiri-sendiri. Peran kita sudah ditentukan seorang dalang yang lihai memilihkan peran diatas panggung. Porsi hidup yang kita jalani termasuk batasan-batasan yang membatasi kita dalam apapun, namun kita sendiri tak memahami itu. Sedangkan itu sangat berbeda dengan sifat manusia yang sesungguhnya tidak pernah puas atas apapun yang ia miliki. Kerakusan manusia memang lebih dari tikus walaupun begitu drajat kita bisa dikatan lebih tinggi dibanding malaikat. Tapi kenapa terkadang kita sendirilah yang merendahkan diri sendiri tanpa sadar kemuliaan kita sebagai manusia.

Sadar peran, sadar tempat, sadar porsi dan tentuntunya sadar diri. Ini bukan gugatan atau justifikasi atas degradasi kesadaran dan moralitas. Tapi ini adalah kenyataan yang diasingkan bahkan disemukan.

Diantara Alasan

Kompleksitas yang buas. Terjebak dalam kerumitan dan kesadaran tentang degradasi dalam
segala hal telah memaksanya menjadi idealis yang pesimis. Ia sudah tak percaya lagi tentang perbaikan-perbaikan kecil adalah langkah konkret dalam menyembuhkan penyakit moral yang kompleks. Ia percaya bahwa semua langkah solutif akan selalu utopis. Sehingga wajahnya murung dan sulit tersenyum. Apa yang ia bicarakan selalu melebar seolah ia tau banyak tentang banyak hal. Kedangkalan yang tak ia sadari membuatnya menjadi kritikus kudus yang mampu membelah laut hanya dengan tongkat tanpa iman. Semoga ia akan berubah menjadi idealis berbakat yang mampu menciptakan sintesis diantara problematika dan cacatnya cita-cita hingga ia bisa memahami realitas tanpa mengesampingkan idealismenya. Seorang pejalan kaki mulai tersesat ditengah gurun, dan ia akan terus diam karena tak banyak orang yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit dalam hidup.

Malam itu mataku lelah. Aku yang diam sambil menahan argumen kekesalan tak sabar ingin memulai perdiskusian kecil ini. Dimana lelaki akan jadi hakim dan perempuan rela menjilat ludahnya sendiri. Dominasi memang membosankan, kadang aku berfikir begitu. Tapi semua sungguh relatif, dimana dominasi itu akan kompromi jika kerumitan logika taksesegera mungkin dipahami sebagai tawaran bukan anjuran. Berbicara panjang lebar dan berharap akan didengarkan memang sesuatu yang indah malam itu, karena dianggap adalah kepuasan bagiku malam itu. Seandainya aku tak lelah dan tiada rencana esok harinya. Mungkin aku akan membiarkan keinginan ini mengontrolku hingga pagi menjelang. Tapi lagi-lagi realitas dan rutinitas sedikit menuntut dan mengarahan namun belum tentu aku tak mampu mengendalikan waktu. Maka kusebut hal itu adalah pangkal kompromi, dimana tawaran akan mengarahkan keinginan ditengah kepasrahan.

Tak sedikit dari kami yang resah oleh kemunafikan. Sama halnya disaat standar kami mulai naik, semua akan disepelekan bahkan diri kami sendiri. Bergulat dalam sekte orang-orang malam adalah bentuk puasa ditengah kebobrokan moral.

Mungkin benar ucapannya tentang bagaimana kita harusnya berfikir mengenai hal-hal fundamental dalam memperbaiki manajemen hidup. Apalagi disaat akal kami meninggi, kami tak segan untuk menghakimi banyak individu hanya dengan duduk dan menghisap sebatang lisong tanpa berhenti. Bagi kami dan baginya, semua ini adalah tentang efektifitas dan dampak yang luas. Karena mana mungkin pengorbanan ini dilakukan jika tak ada maksud dan motif yang melatarbelakanginya.

Monday, January 4, 2016

Alih-Alih

Bekas hujan malam itu begitu terasa 
Bau tanah belum terkalahkan oleh polusi
Ladang kosong menjadi hijau dan penuh benih padi
Suara sapi dan obrolan petani seperti mimpi dikala pagi
Teriakan bocah pejalan kaki menuju sekolah
Sudah memenuhi gendang telinga

Jalan berbatu tak beraturan memaksaku untuk pelan
Pemandangan lumrah ini sudah mengalihkan banyak perhatian
Fokusku terancam, karena mata telanjangku sering berang
Menelaah kesenjangan dengan diam dan tegang

Selalu kubayangkan indah didalam kehancuran
Inginnya semua ketimpangan ini kujadikan refleksi semua orang
Bahwa kita masih telanjang dan akan terus menggerang
Tak ada perbaikan kalau kita masih seperti hewan

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 03/01/2016

Kelak Mengerti

Aku menyerap banyak petanda hidup 
Tapi aku sendiri tak mampu mengolahnya
Memaksakan peran hingga kurang ajar
Gairah terkadang memang tidak tau aturan

Dentuman petasan itu membuyarkan imajinasiku tentang hari depan. Empat puluh malam lalu semua otakku seolah penuh dengan perkiraan-perkiraan ragu. Dibujuk berbagai kesia-siaan dan sesekali mengamini kemunafikan tanpa tindakan. Akupun bertanya tentang bagaimana aku bisa percaya pada apa yang belum dan tidak bisa dipercaya. Untuk itulah aku tak gegabah dalam bertemu, memantapkan dan menjalani proses dengan tidak menjadikan surga sebagai tujuan. Semakin menjadikan malam-malamku seolah pasir waktu.

Jika aku meminta, maka tuhan tak ragu untuk memberikannya. Tapi kenapa apapun yang tuhan hendaki selalu kutawar-tawar tanpa henti. Mungkinkah sesungguhnya aku tak mengerti atau aku sedang ditutupi kabut duniawi, hingga indrawiku mudah terhasut dan acuh pada-Nya. Syair-syair tanpa arti yang kususun dan berharap akan berguna nanti, akankah itu benar-benar berguna. Keraguan yang kupupuk setiap hari benarkah akan terjadi. Untuk meyakinkan diriku sendiri, kusisihkan semua hal dan kufokuskan pada satu sisi. Dimana pecarian kesejatian hidup harusnya tak berhenti sampai disini.

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 03/01/2016.




Oh Ya Ha

Waktu itu kulihat beberapa anak ditengah perempatan 
Banyak kendaraan berhenti seperti keremunan tawon
Gerimis ragu mulai membasahi seluruh tubuhku
Mata pengendara semua tertuju pada anak-anak itu
Entah apa yang mereka pikirkan, akupun taktau

Sejak pancaroba berganti menjadi musim sunyi
Jalan kota ini begitu licin dan penuh peluh
Pedangang kaki lima yang biasanya ramai
Sekarang hilang entah kemana
Apa mereka sedang bersembunyi

Disini persoalan sepele bisa menjadi besar
Kemampuan memaklumi manusia disini sudah lenyap
Kalau mereka ditanya mana yang penting antara hidup dan mati
Hampir mereka semua menjawab, lebih penting surga
Dari pada diri mereka sendiri

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 03/01/2016.

R. M. Putra Imawan

Aku melihat dunia dalam matamu
Saat kau tertidur kupeluk tubuh mungilmu dengan tanganku
Suara hujan bercampur desahan nafasmu
Sudah membuatku lelap dan nyaman
Semuanya tenang dan tak perlu ada yang berang
Hanya kau dan aku, adikku

Jadilah dirimu sendiri
Biarlah semua orang tua melakukan tugasnya
Untuk hidup memang tak semudah angan kita
Sesekali harus diuji dengan kecewa dan tangisan manja
Untuk tegar dan tak mudah menyerah memang belum waktunya
Buktikanlah adikku, kau itu lelaki diantara banyak pria yang lupa

Memulai semua tak harus dari awal
Ada banyak cela dalam hidup
Masamu ini sangat berbeda jauh
Perlu tenaga ekstra untuk berdampingan dengan alam
Karena persaingan bukanlah keutamaan
Maka tetap jadilah adikku diantara hidupmu

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 03/01/2016 untuk Adik Lelakiku.