Wednesday, February 10, 2016

Gila

Dengar, pintu terbuka dan masuklah seorang perempuan tanpa busana
Ia membawakanku sesobek BH dan pakaian dalam berlumur darah
Sembrononya aku, memperbolehkannya masuk di ruang tamu
Sejenak ia duduk sambil menyalakan cerutu Gurkha Black Dragonku
"Hey" ia memanggiku untuk duduk didekatnya
Ia tertawa sambil berbisik "kutuklah aku yang dusta tuan"

Aku tergoda dan kucium bibirnya
Ia pasrah dan membiarkanku menggerayangi tubuhnya
Sayangnya ia menangis sambil melepas semua pakaianku
Kamipun telanjang dan terbakar gairah
Ia hanya menangis dan menundukan wajah
Sambil mencumbu dengan beringas

Ia berbisik pelan ditengah cumbuan
"Maukah kau dengan hewan penuh luka tuan"
Semua menjadi berbeda dan aku mulai melepas tanganku
Kuambilkan dua gelas jus buah di meja belakang
Dan ia menolaknya, "apa yang salah darimu nyonya"
Ia menjawab "aku ini sudah gila dan penuh dosa tuan"

Nofianto Puji Imawan
Madura, 10 February 2016.










Friday, February 5, 2016

Menggigil Sampai Mati

Ada kucing mati di depan garasi pagi itu
Badanya basah kuyub oleh hujan semalam
Sampai matipun kucing itu masih menggigil
Tak seorangpun berani mengangkatnya
Saat semua tetangga berkumpul dan melihatnya
Kucing itu tak bergerak sama sekali

Semua orang menyepakati kematian dengan penasaran
Apakah benar-benar mati, mereka hanya terheran
Tertidur dengan badan membentang dan bulu kusut
Didepan garasi rumah kenangan milik seorang pria
Yang suka mengunjungi makam orang-orang dusun

Seperti pagi-pagi yang lain
Bocah salah asuhan pergi sekolah
Para ibu mulai mengaji di meja makan
Adik perempuan tidur mendengkur
Dan para bapak meminum kopi

Kucing itu bersaksi dalam hujan
Dan selepas adzan subuh ia meninggal
Dengan bulu-bulu basah yang bersaksi
Bahwa hujan itu sudah membunuh
Seekor hewan saat ingin berteduh

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 03 Februari 2016.

Suasana Sisa

Sepagi ini trembesi terlihat digagahi gunung
Rumput disisi aspal terasa lembab dan terlihat anggun
Belum terlihat bocah-bocah pergi sekolah
Penjual sayurpun belum menutut lapaknya
Apakah ada penyederhana selain panca indra

Seperti biasanya
Persimpangan ditutup tali sederhana
Penyebrang jalan tanpa alas kaki menaikan bendera
Memberi tanda telah ada lelaki bergairah mencari celah
Saat musim masih sulit ditawar oleh kepastian
Maka muncullah bayangan tentang sisa-sisa

Seorang pengendara menyebrang diselah trotoar
Pemulung tua berpapasan dengan ibu-ibu pengantar sekolah
Penjual besin belum sempat mencuci mukanya
Sekumpulan penjual durian kesepian dikursi bambu
Mereka seperti sisa saat jaman mulai berang
Meninggalkan yang kalah, lalu mengeluhkan yang menang

Saat semua peristiwa hanya sekilas bertahan
Begitu juga panca indra yang hanya sebentar mengingat
Tiada komentar atau resapan dalam jiwa-jiwa mereka
Hanya sebatas sisa
Hanya serasa suasana sisa
Didalam cela-cela kesibukan
Manusia dalam menunggu ajal

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 03 January 2016.

Derai Odu

Sepanjang malam aku memperhatikan tingkah pola mereka
Gelembung-gelembung gairah menunjukan betapa indah masa muda
Selepas malam, ada pertanyaan dalam benak yang sadar
Untuk mengenal diri tak perlu berdiri sendiri
Menyadari batas paham dalm bekam malam

Ingatkan aku untuk belajar dengan malam
Segelap apapun pupil mata akan membesar
Untuk menangkap serpihan cahaya
Demi melihat dalam gulita yang amat menyiksa

Semoga saja ada celah untuk mengejar
Tumpungan angan dalam tikaman suram
Agar mudah menjalankan desingan
Diantara ingin dan badan

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 03 Februari 2016.

Lindu Menunggu

Menunggu kesempatan untuk bercinta 
Sepasang kekasih sepertinya tersiksa
Pertemuan menjadi mahal harganya
Sampai si perempuan merasa resah

Bagaimana kabar lelakinya
Adakah ia berubah dan mulai terbiasa
Tak berjumpa dalam waktu yang lama
Atau ia mulai asing dengan hubungannya

Saat malam ia hanya bermimpi sederhana
Setia menanyakan kabar tanpa tau yang sebenarnya
Benarkah kekasihnya masih ingin bersama
Atau ia bosan menunggu perjumpaan mesra

Perempuan itu memang bergairah
Menanti pertemuan dan kesempatan
Sedangkan lelakinya mula menahan
Kerealistisan hubungan dengan aman

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 02 February 2016.




Naked Circle

Lihatlah malam itu
Saat semua berkumpul melingkar
Sambil menyalakan api unggun
Dari kayu sisa bangunan yang dirobohkan

Ada kenyataan yang disingkirkan
Skenario besar mulai direncanakan
Mengkaji masa suram dengan sesal mendalam
Dan memilih meluapkanya dengan nyanyian

Teriak lantang bersautan dengan suara gitar
Bisikan perempuan tentang keresahan mendalam
Bercampur kenangan kebersamaan yang hilang
Saat seleksi alam menikam mental-mental rumahan

Berjam-jam mengistirahatkan badan di tengah malam
Dengan kopi digelas bekas air mineral bau kencing
Ada permintaan dan harapan tentang masa depan
Bahwa kita harus telanjang

Menyadari banyak kemungkinan
Yang taksesuai dengan harapan
Siap menerima kenyataan
Tanpa mengeluh dan menentang

Dengan melawan banyak kemunafikan
Secara diam-diam dengan kertas usang
Agar menjadi sisa orang-orang malam
Yang sudah hilang ditawar zaman

Nofianto Puji Imawan
Jombang. 30 January 2016.

Karmo Pangling

Aspal menutupi tanah dusun soang
Gapuranya disulap menjadi papan reklame
tanah lapangnya berevolusi jadi gudang pabrik
jerami-jeraminya berganti bebatuan koral
lampu jalan gagah membentang di kanan jalan
teras rumah semuanya pada hilang tak karuan
untungnya rumah papan itu masih bertahan

saat petang serangga-serangga malam enggan datang
mungkin cahaya lampu kurang menarik perhatian
atau karena ini pertanda perubahan zaman
seakan kebiasaan berubah tanpa bilang-bilang

larut malam mulai cemas meninggalkan pertanyaan
kemana semua orang, apa mereka tidur diatas ranjang terbang
sambil menikmati tayangan dari kardus magis jaman edan
yang mengabarkan kebohongan dan kenyataan buatan

kokok ayam tak terdengar saat pagi datang
dusun soang menjadi lenggang
saat semua memilih menjadi sufi-sufi rumahan
dan aku akan berkeliling ditengah malam
untuk menerka sampai mana semua akan berjalan

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 30 January 2016.

Menjelma

Empat anak gerbang menjadi pembeda
Satu gerbang utama berdiri kokoh dimakan usia
Warnanya dirubah dan sering dihujat tertawa
Padahal dulu begitu megah dan penuh wibawa

Gudang pabrik berdiri disampingnya
Bekas tanah lapang sumber bahagia
Berubah menjadi ladang garapan
Penyambung hidup para pemudanya

Untungnya masih banyak sawah-sawah gembala
Membujur dan dibelah oleh aspal gegabah
Semakin hari tanah sudah menutup diri
Ia malu menunjukan kuasa

Nofianto Puji Imawan
Madura, 28 January 2016.

Hai Manisku

Hai manisku...

lelahkah kau menunggu waktu
dalam ilusi pertemuan lalu
timbunan rindu mulai menggangu
apakah kita akan seperti waktu
berjalan terus hingga tergilas

Hai manisku...

ini bukan tentang keraguan
ini juga bukan tentang keresahan
tapi ini kekagumanku
karena kita begitu dekat dalam jauh
hanya untuk mengikat rindu
saat waktu mulai menunggu

sebuah pertemuan penuh peluh
membicarakan haru tanpa pilu
dengan keinginan agar tetap satu
saat semua jarak mulai menyatu

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 27 January 2016.

Anggap Saja

Disaat hujan mulai reda
Semua malam membutuhkan suara
Sesaat setelah munculnya
Serangga-serangga cahaya
Lontaran hujatan mencuat dari mulut mereka

Mempertanyakan kebenaran dengan mempersalahkan
Menjual dogma agar selalu diperhatikan
Apakah memang harus dilakukan
Pembohongan dan pembodohan
Sambil berkelakar agar tak tegang

Mungkin saja malam mulai hilang
Bau tanah sudah menunjukan pertanda
Bahwa yang basah akan kembali kering
Bukan malah membusuk

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 27 Januari 2016.

Merangkai

Metafor-metafor indah menjadi andalan
Dicampur dengan analogi pasaran dan
Dibungkus oleh banyak ironi kekinian
Dengan wadah anekdot-anekdot asusila

Mengubah fakta menjadi kalimat sederhana
Didaurulang oleh pengalaman musiman
Untuk mendapatkan perumpamaan langkah
Sembari disuguhkan bagai komposisi rasa

Menebak dan menduga-duga
Mempelajari sambil memperbanyak konsumsi kata
Supaya mendapatkan instrumen yang jarang dipakai
Agar perbedaan menjadikan legitimasi terpenuhi

Benarkah kalau benar dikatakan benar
Dan salah tidak diperhinakan oleh mereka
Iya, mereka itu siapa
Atau mereka hanyalah khayalanku saja

Nofianto Puji Imawan
Madura, 21/01/2016.

Sebersit

Sejak jaman bocah
Aku sudah dekat dengan BH
Dijejali payudara dan mandi bersama-sama
Itulah masa dimana pemakluman selalu mesra

Seingatku, jika melakukan salah pasti ada hukumannya
Dikurung dikamar sampai dipukuli hingga lebam dan berdarah
Wajah bapak memang seperti sipir penjara waktu itu
Dan aku tak mungkin melupakannya

Sekarang ia tua dan renta
Akupun tak tega melihatnya bekerja
Rela separuh harinya habis untuk mengembala keluarga
Dan berharap anaknya mampu lebih baik darinya

Saat masalah menimpa
Hanya dia yang ada dikepala
Berharap mampu membereskan semua masalah
Yang disebabkan oleh ceroboh seorang bocah
Sayangnya kini tak mungkin lagi meminta
Karena waktu selalu bisa balikkan realita

Ini bukan penyesalan atau pernyataan
Ini permintamaafan untuk kepogahan
Saat aku mengerti
Semua ini hanya persoalan waktu
Dan pilihan adalah jalan
Agar menemukan kewajiban

Nofianto Puji Imawan
Madura, 19/01/2016.




Berkenalan Dengan Madura

Kupandang tempat ini sebagai antitesis kemajuan zaman
Menempuh jarak dengan ketidaktahuan dan dugaan
Ini kali pertama aku berkenalan dengan pulau Madura
Dimana Kesetiaan dan harga diri adalah pertaruhan
Diantara kesejatian sifat manusia yang selalu ingin menang
Maka sebagai awal pertemuan kupandang Madura layaknya
Pribumi yang diasingkan dan diambil Saripatinya
Itulah awal perkenalan kami

Semenjak aku dibuai gelora diatas cakrawala tanah Madura
Aku merasakan kemesraan yang tingkatanya begitu berbeda
Dimana semua orang saling menyapa meski tak saling kenal
Mereka punya cara sendiri untuk bermesraan dengan pencipta-Nya
Apalagi dengan musim dan mahkluk hidup lainnya

Sayang aku hanya larut diantara materealismenya
Hanya raga dan jiwa tak begitu menangkapnya
Maka kukatakan kalau ini akan menjadi pembuka
Untuk mengetahui apa yang tersembunyi diantaranya

Nofianto Puji Imawan
Madura, 21 Januari 2016.