Pekerjaan menulis sebenarnya bisa dikatakan mudah tapi kadang sulit. Hampir semua tips atau metode menulis yang ditawarkan di internet sebenarnya tidak benar-benar jitu dalam memberikan solusi terhadap penulis yang ingin menulis tapi mengalami kendala. Dalam dunia kepenulisan atau dunia sastra, esai masuk dalam kategori non-fiksi, atau ilmiah. Untuk membedakannya dengan puisi, cerpen, novel atau drama sebenarnya cukup sulit. Karena kini, banyak esai yang bermacam-macam karakteristiknya. Kecenderungan orang kekinian ialah tidak mau karyanya dikotak-kotakkan atau dikategorikan dalam suatu golongan tertentu.
Hal ini menimbulkan sebuah dikotomi pengkategorian, termasuk dalam karya tulis entah itu esai, opini, artikel, atau kolom. Mana yang esai dan mana yang bukan. Menurut hemat saya esai itu punya karakteristik sebagai berikut:
Esai itu mewakili opini penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa tertentu. Esai juga memiliki lebih banyak unsur subyektifitas, bahkan jika tulisan itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang “obyektif”. Esai juga memiliki unsur persuasif, esai memiliki lebih banyak unsur imbauan penulis ketimbang sekadar paparan “apa adanya”. Esai dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar mengadopsi sikap dan pemikiran penulis, atau bahkan bertindak sesuai yang diharapkan penulis.
Meskipun banyak, sayang sekali, tulisan-tulisan itu jarang dibaca. Dalam berbagai survei media, rubrik opini dan editorial (OP-ED) umumnya adalah rubrik yang paling sedikit pembacanya. Ada beberapa alasan kenapa rubric kolom, opini atau esai jarang diminati:
Terkadang esai itu terlampau serius dan panjang, orang mengganggap tulisan rubrik opini terlampau serius dan berat. Para penulis sendiri juga sering terjebak pada pandangan keliru bahwa makin sulit tulisan dibaca (makin teknis, makin panjang dan makin banyak jargon, khususnya jargon bahasa Inggris) makin tinggi nilainya, bahkan makin bergengsi. Padahal itu keliru! Tulisan seperti itu takkan dibaca orang banyak.
Kering, banyak tulisan dalam rubrik opini cenderung kering, tidak “berjiwa”, karena penulis lagi-lagi punya pandangan keliru bahwa tulisan analisis haruslah bersifat dingin: obyektif, berjarak, anti-humor dan tanpa bumbu.
Menggurui, banyak tulisan kolom dan esai bahkan opini terlalu menggurui (berpidato, berceramah, berkhotbah), sepertinya penulis adalah dewa yang paling tahu.
Sempit, tema spesifik umumnya ditulis oleh penulis yang ahli dalam bidangnya (mungkin seorang doktor dalam bidang yang bersangkutan). Tapi, seberapa pun pintarnya, seringkali para penulis ahli ini terlalu asik dengan bidangnya, terlalu banyak menggunakan istilah teknis, sehingga tidak mampu menarik pembaca lebih luas untuk menikmatinya.
Berbeda dengan menulis untuk jurnal ilmiah, menulis untuk koran atau majalah adalah menulis untuk hampir “semua orang”. Tulisan harus lebih renyah, mudah dikunyah, ringkas, dan menghibur (jika perlu), tanpa kehilangan kedalaman—tanpa terjatuh menjadi tulisan murahan.
Bagaimana itu bisa dilakukan? Kreatifitas. Dalam era kebebasan seperti sekarang, seorang penulis dituntut memiliki kreatifitas lebih tinggi untuk memikat pembaca. Pembaca memiliki demikian banyak pilihan bacaan. Lebih dari itu, sebuah tulisan di koran dan majalah tak hanya bersaing dengan tulisan lain di koran/majalah lain, tapi juga dengan berbagai kesibukan yang menyita waktu pembaca: pekerjaan di kantor, menonton televisi, mendengar musik di radio, mengasuh anak dan sebagainya.
Mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius, panjang dan melelahkan, tantangan para penulis esai lebih besar lagi. Dari situlah kenapa belakangan ini muncul “genre” baru dalam esai, yakni “creative non-fiction”, atau non-fiksi yang ditulis secara kreatif. Dalam “creative non-fiction”, penulis esai mengadopsi teknik penulisan fiksi (dialog, narasi, anekdot, klimaks dan anti klimaks, serta ironi) ke dalam non-fiksi. Berbeda dengan penulisan esai yang kering dan berlagak obyektif, “creative non-fiction” juga memungkinkan penulis lebih menonjolkan subyektifitas serta keterlibatan terhadap tema yang ditulisnya. Karena memberi kemungkinan subyektifitas lebih banyak, esai seperti itu juga umumnya menawarkan kekhasan gaya (style) serta personalitas si penulis.
Di samping kreatif, kekuatan tulisan esai di koran atau majalah adalah pada keringkasannya. Tulisan itu umumnya pendek (satu halaman majalah, atau dua kolom koran), sehingga bisa ditelan sekali lahap (sekali baca tanpa interupsi).
“Creative non-fiction” bukan “genre” yang sama sekali baru sebenarnya. Pada dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an kita memiliki banyak penulis esai/kolom yang handal, mereka yang sukses mengembangkan “style” dan personalitas dalam tulisannya. Tulisan mereka dikangeni karena memiliki sudut pandang orisinal dan ditulis secara kreatif, populer serta “stylist”.
Para penulis itu adalah: Mahbub Junaedi, Goenawan Mohamad, Umar Kayam, YB Mangunwijaya, MAW Brower, Syubah Asa, Dawam Rahardjo, Abdurrahman Wahid, Arief Budiman, Mochtar Pabottingi, Rosihan Anwar, dan Emha Ainun Nadjib. Untuk menunjukkan keluasan tema, perlu juga disebut beberapa penulis esai/kolom lain yang menonjol pada era itu: Faisal Baraas (kedokteran-psikologi), Bondan Winarno (manajemen-bisnis), Sanento Juliman (seni-budaya), Ahmad Tohari (agama), serta Jalaluddin Rakhmat (media dan agama).
Bukan kebetulan jika sebagian besar penulis esai-esai yang menarik itu adalah juga sastrawan—penyair dan cerpenis/novelis. Dalam “creative non-fiction” batas antara fiksi dan non-fiksi memang cenderung kabur. Bahkan Bondan (ahli manajemen) dan Baraas (seorang dokter) memiliki kumpulan cerpen sendiri. Dawam juga sesekali menulis cerpen di koran. Namun, pada dasawarsa 1990-an kita kian kehilangan penulis seperti itu. Kecuali Goenawan (“Catatan Pinggir”), Bondan (“Asal-Usul” di Kompas) dan Kayam (Sketsa di Harian “Kedaulatan Rakyat”), para penulis di era 1980-an sudah berhenti menulis (Mahbub, Romo Mangun, Sanento dan Brower sudah almarhum).
Pada era 1990-an ini, kita memang menemukan banyak penulis esai baru—namun inilah era yang didominasi oleh penulis pakar ketimbang sastrawan. Faisal dan Chatib Basri (ekonomi), Reza Sihbudi, Smith Alhadar (luar negeri, dunia Islam), Wimar Witoelar (bisnis-poilik), Imam Prasodjo, Rizal dan Andi Malarangeng, Denny JA, Eep Saefulloh Fatah (politik) untuk menyebut beberapa. Namun, tanpa mengecilkan substansi isinya, banyak tulisan mereka umumnya “terlalu serius” dan kering. Eep barangkali adalah salah satu pengecualian; tak lain karena dia juga sesekali menulis cerpen. Sementara itu, kita juga melihat kian jarang para sastrawan muda sekarang menulis esai, apalagi esai yang kreatif. Arswendo Atmowiloto, Ayu Utami dan Seno Gumiro Adjidarma adalah pengecualian. Padahal, sekali lagi, mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius (panjang dan melelahkan), tantangan kreatifitas para penulis esai lebih besar lagi. Kenapa esai astronomi Stephen Hawking (“A Brief History of Time”), observasi antropologis Oscar Lewis (“Children of Sanchez”) dan skripsi Soe Hok Gie tentang Pemberontakan Madiun (“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”) bisa kita nikmati seperti sebuah novel? Kenapa tulisan manajemen Bondan Winarno (“Kiat”) dan artikel kedokteran-psikologi Faisal Baraas (“Beranda Kita”) bisa dinikmati seperti cerpen?
Hawking, Lewis, Hok Gie, Bondan dan Baraas adalah beberapa penulis “pakar” yang mampu mentrandensikan tema-tema spesifik menjadi bahan bacaan bagi khalayak yang lebih luas. Tak hanya mengadopsi teknik penulisan populer, mereka juga menerapkan teknik penulisan fiksi secara kreatif dalam esai-esai mereka. Untuk mencapai ketrampilan penulis semacam itu diperlukan sejumlah prasyarat dan sikap mental tertentu:
Keingintahuan dan Ketekunan:Sebelum memikat keingintahuan pembaca, mereka harus terlebih dulu “memelihara” keingintahuannya sendiri akan sesuatu masalah. Mereka melakukan riset, membaca referensidi perpustakaan, mengamati di lapangan bahkan jika perlu melakukan eksperimen di laboratorium untuk bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka tulis. Mereka tak puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali. Sebab, jika mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis, bagaimana mereka bisa membaginya kepada pembaca?
Kesediaan untuk berbagi:Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas atau hanya untuk pembaca tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin memakai istilah teknis atau jargon yang khas pada bidangnya; mereka menggantikannnya dengan anekdot, narasi, metafora yang bersifat lebih universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas. Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang “rumit” dan sulit dibaca adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan struktur tulisan sederhana, seringkas mungkin, untuk memudahkan pembaca menelan tulisan.
Kepekaan dan Keterlibatan:Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul lebih intens dengan kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan dan penjual sayur di pasar?Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang “sastrawi” jika dia bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan alam dan suka merenungkan berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung Semeru).
Menulis catatan harian serta membuat sketsa dengan gambar tangan maupun tulisan seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial yang beragam mengasah kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap tragedi, humor dan berbagai aspek kemanusiaan pada umumnya.Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang indah melainkan karena dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.
Kekayaan Bahan (resourcefulness):Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya bukan penulis yang “berkacamata kuda”. Dia membaca dan melihat apasaja. Hanya dengan itu dia bisa membawa tema tulisannya kepada pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa saja (dari komik sampai filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood), mendengar musik (dari dangdut sampai klasik). Dia bukan orang yang tahu semua hal, tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang diperlukannya: di perpustakaan mana, di buku apa, di situs internet mana.
Kemampuan Sang Pendongeng (storyteller):Cara berkhotbah yang baik adalah tidak berkhotbah. Persuasi yang berhasil umumnya disampaikan tanpa pretensi menggurui. Pesan disampaikan melalui anekdot, alegori, metafora, narasi, dialog seperti layaknya dalam pertunjukan wayang kulit.
Yang Bisa Dijadikan Tema Esai:Kebanyakan penulis pemula mengira hanya tema-tema sosial-politik yang bisa laku dijual di koran. Mereka juga keliru jika menganggap tema-tema seperti itu saja yang membuat penulis menjadi memiliki gengsi. Semua hal, semua aspek kehidupan, bisa ditulis dalam bentuk esai yang populer dan diminati pembaca. “Beranda Kita”-nya Faisal Baraas menunjukkan bahwa tema kedokteran dan psikologi bisa disajikan untuk khalayak pembaca awam sekalipun.
Ada banyak penulis yang cenderung bersifat generalis, mereka menulis apa saja. Namun, segmentasi dalam media dan kehidupan masyarakat sekarang ini menuntut penulis-penulis spesialis.-Politik lokal (bersama maraknya otonomi daerah)
-Bisnis (industri, manajemen dan pemasaran)
-Keuangan (perbankan, asuransi, pajak, bursa saham, personal finance)
-Teknologi Informasi (internet, komputer, e-commerce)
-Media dan Telekomunikasi
-Seni-Budaya (film, TV, musik, VCD, pentas)
-Kimia dan Fisika Terapan
-Elektronika
-Otomotif
-Perilaku dan gaya hidup
-Keluarga dan parenting
-Psikologi dan kesehatan
-Arsitektur, interior, gardening
-Pertanian dan lingkungan
Pilihlah tema apa saja yang menjadi minta Anda dan kuasai serta ikuti perkembangannya dengan baik. Fokus, tapi jangan gunakan kacamata kuda.
Mencari ide tulisan:Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya. Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).
Merumuskan masalah:Esai yang baik umumnya ringkas (“Less is more” kata Ernest Hemingway) dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek. Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.
Mengumpulkan Bahan:Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan dan sebagainya.
Menentukan bentuk penuturan:Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog. Tapi, tema yang lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak narasi serta deskripsi yang diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis memilih bentuk penuturan yang ajeg untuk setiap tema yang ditulisnya:-Dialog (Umar Kayam)
-Reflektif (Goenawan Mohamad)
-Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari)
-Humor/Satir (Mahbub Junaedi)
Tata Bahasa dan Ejaan: Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan tanda hubung? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).
Akurasi Fakta: Tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita tulisa secara benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?
Jargon dan Istilah Teknis: Hindari sebisa mungkin jargon atau istilah teknis yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Kreatiflah menggunakan deskripsi atau anekdot atau metafora untuk menggantikannya. Hindari sebisa mungkin bahasa Inggris atau bahasa daerah.
Sunting dan Pendekkan: Seraya menulis atau setelah tulisan selesai, baca kembali. Potong kalimat yang terlalu panjang; atau jadikan dua kalimat. Hilangkan repetisi. Pilih frase kata yang lebih pendek: melakukan pembunuhan bisa diringkas menjadi membunuh. “Tidak” sering bisa diringkas menjadi “tak”, “meskipun” menjadi “meski” dan sebagainya.
Pakai kata kerja aktif: Kata kerja aktif adalah motor dalam kalimat, dia mendorong pembaca menuju akhir, mempercepat bacaan. Kata kerja pasif menghambat proses membaca. Pakai kalimat pasif hanya jika tak terhindarkan.
Tak menggurui: Meski Anda perlu menunjukkan bahwa Anda menguasai persoalan (otoritatif dalam bidang yang ditulis) hindari bersikap menggurui. Jika mungkin hindari kata “seharusnya”, “semestinya” dan sejenisnya. Gunakan kreatifitas dan ketrampilan mendongeng seraya menyampaikan pesan. Don’t tell it, show it.
Tampilkan anekdot: Jika mungkin perkaya tulisan Anda dengan anekdot, ironi dan tragedi yang membuat tulisan Anda lebih “basah” dan berjiwa.
Jangan arogan: Orang yang tak setuju dengan Anda belum tentu bodoh. Hormati keragaman pendapat. Opini Anda, bahkan jika Anda meyakininya sepenuh hati, hanya satu saja kebenaran. Ada banyak kebenaran di “luar sana”.
Uji Tulisan Anda: Minta teman dekat, saudara, istri, pacar untuk membaca tulisan yang sudah usai. Dengarkan komentar mereka atau kritik mereka yang paling tajam sekalipun. Mereka juga seringkali bisa membantu kita menemukan kalimat atau fakta bodoh yang perlu kita koreksi sebelum diluncurkan ke media.
Apa yang umumnya dipertimbangkan oleh redaktur esai/opini untuk memuat tulisan Anda?
Nama penulis: Para redaktur tak mau ambil pusing, mereka umumnya akan cepat memilih penulis yang sudah punya namaketimbang penulis baru. Jika Anda penulis baru, ini merupakan tantangan terbesar. Tapi, bukankah tak pernah ada penulis yang “punya nama” tanpa pernah menjadi penulis pemula? Jangan segan mencoba dan mencoba jika tulisan ditolak. Tidak ada pula penulis yang langsung berada di puncak; mereka melewati tangga yang panjang dan terjal. Anda bisa melakukannya dengan menulis di media mahasiswa, lalu menguji keberanian di koran lokal sebelum menulis untuk koran seperti Kompas atau majalah Tempo.
Otoritas: Redaktur umumnya juga lebih senang menerima tulisan dari penulis yang bisa menunjukkan bahwa dia menguasai masalah. Tidak selalu ini berarti sang penulis adalah master atau doktor dalam bidang tersebut.
Style dan Personalitas: Tema tulisan barangkali biasa saja, tapi jika Anda menuliskannya dengan gaya “style” yang orisinal dan istimewa serta sudut pandang yang unik, kemungkinan besar sang redaktur akan memuatnya.
Populer: Koran dan majalah dibaca oleh khalayak yang luas. Tema tulisan harus cukup populer bagi pembaca awam, tanpa kehilangan kedalaman. Bahkan seorang doktor dalam antropologi adalah pembaca awam dalam fisika. Kuncinya: tidak nampak bodoh dibaca oleh orang yang paham bidang itu, tapi tidak terlalu rumit bagi yang tidak banyak mendalaminya.Inti atau point penting dalam menulis esai atau kolom ialah, pesan apa yang ingin anda sampaikan pada pembaca, dan cobalah awali menulisnya dengan jujur. Lalu tulislah, jangan terlalu banyak bicara.
Artikel atau yang sering disebut karangan ilmiah populer ialah opini, pendapat, atau gagasan pribadi seseorang yang sifatnya ilmiah dan disajikan secara populer di media massa atau media publik, yang meliputi berbagai aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial-budaya dan hankam. Dalam penyajiannya karangan ini mengacu pada metode penulisan yang gampang dimengerti, lugas dan kritis. Adapun langkah- langkah penulisan artikel ialah :
Menggali ide :kita harus bisa menuangkan ide-ide kita kedalam artikel hingga tulisanya ialah murni pikiran kita. Dalam menggali ide, kita harus mengunakan pemikiran yang sistematis. Mungkin kita bisa bertanya pada diri kita sendiri apa yang ingin kita sampaikan, lalu mengapa ada masalah muncul dan bagaimana pandangan kita cara menyelesaikan masalah tersebut.
Membuat kerangka tulisan secara detail :Kerangka tulisan secara sederhana biasanya bermula dari pendahuluan, pembahasan masalah, kesimpulan. Bisa pula dilengkapi dengan solusi permasalahan.
Mengumpulkan data, fakta, referensi dan bahan bacaan :langkah ketiga adalah mencari dukungan opini kita. Ketika kita membuat tulisan tentang budaya freesex yang sedang merajalela, maka kita memerlukan data tentang berapa orang yang pernah melakukan hubungan sex dalam sampel yang kita pilih, berapa frekuensi hubunganya, seberapa sering berganti-ganti pasangan. Lantas kita kemudian mengumpulkan tulisan tentang budaya freesex. Tanpa dukungan dari data-data atau bahan bacaan maka tulisan kita terlihat impoten alias tidak mampu melakukan penetrasi yang lebih mendalam pada otak pembaca.
Menulis dengan ekspresi bebas :Langkah terakhir ialah mulai menuliskan semua yang sudah kita dapat. Kita tidak perlu berpikir bahwa menulis itu seperti menjalankan sebuah mesin mekanis yang amat rumit. Jangan pernah mengulur waktu, sebab dengan menunda-nunda akan timbul rasa bosan untuk memulai lagi. Tulis apa saja yang terbersit dalam pikiran.
Editing :Setelah semua ditulis barulah kita membaca ulang apa yang sudah kita tulis lalu mengedit dan menyusunya dengan rapi. Periksalah tulisan yang sudah selesai dibuat, dari kesalahan yang terjadi baik kesalahan pada data, kata atau kalimat serta pembahasan yang kurang tajam.
Standar penulisan artikel :Aktual. Aktualitas ialah prioritas utama. Prioritas bisa dikaitkan dengan momentum yang tengah terjadi di masyarakat, bisa juga dengan momentum sejarah. Misalnya dengan menulis soal kartini menjelang tanggal 21 April.
Bahasa yang lugas, padat dan tidak bertele-tele. Bahasa yang bertele-tele membuat penyampaian gagasan menjadi kurang menajam. Selain itu dapat pula membingungkan dan memusingkan pembaca sehingga ide yang tersirat gagal ditransformasikan.
Tulisan mengandung hal yang baru, baik data maupun pandangan. Banyak penulis baru yang berambisi memasukkan nama besar dan pemikiranya dalam tulisan, namun hasilnya tak lebih merupakan kumpulan review atau kutipan belaka. Upayakan juga agar data yang anda gunakan akurat.
Ide anda orisinil ? Upayakan agar ide opini anda memang orisinil. Hal ini untuk menghindari tuduhan plagiator.
Tulisan anda tidak terlalu berat dan teoritis. Harus dicamkan, bahwa artikel harus bisa dibaca semua orang. Menulis teknis fisika atom misalnya, jelas tidak akan dimuat. Tapi menulis sumbangan faslsafah atom bagi kemanusiaan kemungkinan besar bisa dimuat.
Isu dalam tulisan anda belum berlalu dalam mainframe besar. Perhatikan isu-isu besar yang tengah terjadi di masyarakat. Jelas anda sekarang tidak mungkin menulis menulis soal tata cara pemilihan anggota legislatif sebab masa kampanye dan sidang umum telah berlalu.
Tidak terlalu panjang (maksimal lima halaman).
Syarat penciptaan tulisan yang bermutu :Menulis ternyata butuh ketrampilan khusus dan latihan secara terus menerus. Untuk menulis opini seseorang harus mempunyai sejumlah kemampuan antara lain bisa merumuskan masalah dengan baik, berbahasa lugas, punya pengetahuan umum yang baik, serta barangkali yang agak penting ialah punya pemahaman filsafat. Muatan tulisan orang yang punya pengetahuan jelas berbeda dengan tulisan orang yang tidak mempunyai pemahaman filsafat.
Pemahaman filsafat ini janganlah diartikan kita akan menjadi filosof seperti plato atau aristoteles. Namun, bagaimana kita mampu menganalisa sebuah masalah dengan pisau bedah yang kita miliki. Pisau bedah itu ialah filsafat. Misalkan bagaimana kita membedah ketimpangan pendapatan antara si kaya dan si miskin dengan teori marxis. atau sikap pemda yang pilih kasih terhadap PKL dan menganakemaskan pembangunan ruko dan supermarket dengan teori strukturalis.
Tapi ingat! teori hanya sebatas teori. Intinya ialah bagaimana kita mengaplikasikan penggunaan teori atau filsafat untuk menganalisa permasalahan yang kita tuju. Lalu, jangan sampai kita terjebak dalam hanya mengulang secara redaksional teori atau filsafat itu.
Selain itu, pengetahuan dan wawasan juga diperlukan untuk membikin tulisan kita “bernyawa”. Ada banyak cara untuk menambah wawasan kita. Misalnya dengan banyak-banyak membaca buku serta rajin mengikuti diskusi serta mengkomunikasikanya dengan seorang yang berpengalaman. Bila pikiran kita sudah kekeyangan wacana dan informasi maka proses penciptaan tulisan akan semakin ringan. Setelah itu semua selesai, sajikanlah tulisan kita dengan penuh percaya diri. Jangan pernah beranggapan bahwa tulisan orang lain selalu lebih baik dari tulisan kita.
Budayakan Menulis :Menulis adalah bagian dari unsur-unsur belajar (study). Proses belajar tidaklah dilihat dari banyaknya berdiskusi atau membaca buku saja. Namun, bagaimana kita mampu menuangkan itu dalam bentuk dan mensosialisasikan dalam bentuk lain.
Menulis opini adalah sarana efektif untuk menyuarakan aspirasi atau menyebarkan ide kita. Melalui sebuah media, tulisan kita akan terbaca oleh orang lain. Itu berarti misi penyebaran ide kita sedikit banyak telah terlaksana.
Rentang waktu untuk menyerap pesan yang disampaikan secara lisan itu sangat singkat. Berdasarkan penelitian kemamp[uan sesorang untuk mengingat pesan maksimal hanya 12 jam. Lewat dari itu, kemungkinan pesan akan hilang hingga 80 %. Sedangkan pesan tulisan dapat diserap dan dipelajari untuk waktu yang lama.
Pesan tertulis dapat dijadikan dokumentasi yang dapat digunakan kembali jika diperlukan. Dengan kemampuan kits menulis, maka kita tidak hanya belajar untuk menuangkan gagasan dalam bentuk media saja. Namun juga, dengan menulis kita bisa mencatat suatu proses yang terjadi secara aktual dan dapat digunakan untuk dokumentasi.
Tips menulis dengan mudah :
Menulis = membebaskan diri Setiap orang punya kemampuan menulis. Kemampuan ini ibarat jin yang tersumbat dalam botol Aladin. Karena itu tiap orang perlu berupaya keras membebaskan sumbatan agar potensi menulis melejit keluar.
Menulis = mengekspresikan diriHal ini merupakan cara membuang sumbatan botol. Anggaplah di dunia ini hanya anda sendiri. Dan anda bebas mengutarakan apupun tanpa ada orang yang akan menganbcam atau menilainya.
Menulis = menemukan diriIni dapat dikatakan mempercepat pembuangan sumbatan botol. Anda akan terdorong sangat keras bila aktivitas menulis di targetkan untuk mengenal diri anda sendiri. Memiliki catatan harian. Ini untuk menampung semburan potensi menulis. Tulislah apa saja sepanjang hari. Dan terbukti, orang yang sering mengungkapkan isi hatinya pada buku harian, mampu menghasilkan tulisan yang nyaman dibaca.
Kebiasaan menulis = menangkap ideSeringkali kita menghadiri sebuah diskusi dimana banyak ide-ide berloncatan. Maka amat berguna sekali kalau kita mencatatnya sebagai investasi ide yang siap di”blow up”. Dan bisa juga dijadikan dokumentasi yang berisi kumpulan informasi yang bisa dipanggil setiap saat kita membutuhkanya.Langkah-langkah penulisan sebuah artikel :
Menentukan topik tulisan :Topik harus memiliki nilai yang aktual, sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di masyarakat.
Membuat kerangka tulisan secara detail :Kerangka tulisan secara sederhana biasanya bermula dari pendahuluan, pembahasan masalah, kesimpulan. Bisa pula dilengkapi dengan solusi permasalahan.
Pengumpulan data, fakta dan kepustakaan penunjang berdasarkan kerangka tulisan.
Memeriksa tulisan yang sudah selesai dibuat, dari kesalahan yang terjadi baik kesalahan pada data, kata atau kalimat serta pembahasan yang kurang tajam.
Ini adalah catatan lama yang ditulis pada awal Desember 2012, tentang kisah fiksi dalam menulis catatan harian (Journal).
Tak semua catatan penting untuk di baca. Anehnya, tak semua orang mau menyadari hal penting dari banyak hal tak penting dalam hidupnya. Jika kita memakai rumus hikmah, pasti kita akan mengambil apa saja dari apapun yang pernah kita lakukan dan alami. Berbeda kalau kita memakai efesiensi atau dogma efektifitas, kita akan membuang yang tak penting dan menyisihkan yang penting atau berguna bagi kita.
“Sebaik-baiknya mencatat, adalah jujur lalu membiarkannya.”
Apa pentingnya kita mencatat semua yang kita lakukan hari ini. Kenapa semua itu harus dituangkan dalam tulisan, bukankah itu sangat melelahkan. Tak cukupkah mengingatnya saja, atau sekadar menyimpannya lalu menyebutnya sebagai kenangan atau pengalaman pribadi. Bukankah mencatat justru sebuah kesia-siaan, kalau sebenarnya kita sudah mengingatnya (mencatatnya dalam pikiran).
Ini cukup rahasia, karena ini adalah opini pertamaku saat disuruh membuat catatan harian oleh beberapa orang masokis :
Aku dulunya tak suka mencatat. Bagiku mencatat adalah kesia-siaan yang disadari. Saat disuruh membuat catatan harian, aku mememikirkan banyak alasan untuk tidak melakukannya. Pernah kusebut itu sebuah paksaan. Saat anak muda yang baru melanjutkan kuliah di jurusan yang bahkan tidak ia inginkan, ia malah disuruh menulis catatan setiap hari atau lazimnya disebuat catatan harian. Membuat catatan harian (Journal) dalam benakku itu hanya pekerjaan perempuan, dan lelaki tak seharusnya melakukan itu. Berhubung paksaan itu begitu membuatku penasaran, kenapa harus dengan mencatat, tidak adakah hal lain yang bisa kulakukan. Untuk apa aku harus mencatat semua kegitan harianku dan menunjukannya pada beberapa orang yang memaksaku melakukan hal itu. Apa yang membuat mereka memaksaku untuk mencatat. Hal sepele tanpa alasan yang wajib kulakukan; mencatat setiap hari dan menunjukannya pada mereka. Paksaan memang membuatku penasaran dan bergairah dalam mengejar alasan, kenapa aku harus mencatat?
Seperti pemuda polos lainnya, aku menuruti kehendak masokis asing yang tak kukenal itu. Setiap hari kucatat semuanya, apapun tak terkecuali. Sampai selama berbulan-bulan kebiasaan itu menghanyutkanku. Aku selalu mencatat apapun yang kulakukan, bahkan hal itu membuat aku lebih segar dalam mengingat apapun yang kulakukan 2 minggu kemarin. Aku ingat apapun disetiap kata dari semua catatanku. Saat semua temanku tertidur dengan rokok yang masih menyala diasbak-asbak bambu. Aku mulai membaca kembali apa yang berbulan-bulan kutulis. Banyak kebodohan, penuh kesia-siaan, syarat kesombongan, dan semuanya bercerita tentang kemunafikan. Itu adalah kesan pertama membaca catatanku sendiri. Sekali lagi, dari semua yang kubaca, ada satu hal yang begitu menarik dari catatanku sendiri. Kurasa ini adalah benang merahnya, aku menyimpulkan bahwa catatanku tidak enak dibaca. Entah kenapa, autokritik ini spontan dari mencuat dari mulutku. Semenjak malam itu, aku mulai berfikir tentang catatanku. Hal itu membuat dua malamku terasa janggal dan tak biasa. Setiap kali aku memikirkan tentang bagaimana catatanku harus lebih enak dibaca. Saat itu pula aku tak ingin mempermalukan diri dihadapan diriku sendiri.
Berkali-kali aku merasa bahwa setiap hariku tak ada yang menarik untuk dicatat atau diceritakan. Bayangkan, apa perlu aku menuliskan tentang bagaimana aku bagun tidur, ganti baju, berangkat kuliah, mendengar ocehan dosen, ngobrol dengan teman dikantin kumuh, kencing di sembarang tempat, mencuci baju di masjid kampus, atau berbincang dengan tukang becak didepan kampus. Apa perlu aku menuliskan semua itu, apa aku harus menuliskan kenyataan-kenyataan yang tak banyak disadari banyak orang seperti, temanku yang bergairah saat melihat dosen dengan BH yang melorot sedang mengajarkan materi Public Speaking atau keresahan warga kampus tentang kekesalannya melihat mahasiswa/mahasiswi saat mesum di kos-kosannya tengah malam.
Bayangkan semua imajinasimu dicampur dengan interpretasi dan tetap berlandaskan realitas, namun tidak lupa berpegangan pada moralitas norma hingga dikolaborasikan dengan kreatifitas dan keinginan akan hal baru untuk menjadi sistensis diantara perseteruan tesis dan antitesis yang menjemukan. Memulai untuk bertanya dan berhenti meneruskan peryataan. Cobalah bertanya setiap hari, tanpa harus mengeluh tentang apapun yang tak dipahami, tak di mengerti, tak diketahui dan melanjutkan semua yang sudah terlanjur dengan mencatat dan menuliskan kesadaran-kesadaran realitas yang mulai ditinggalkan banyak orang.
Selama catatanku belum enak dibaca, aku mulai mengolah banyak pertanyaan dan menatanya hingga aku dibuat pusing sendiri. Maka untuk itu aku datang dihadapan para masokis yang menyuruhku mencatat. Aku mulai bertanya pada mereka, bagaimana caraku harus menuliskan catatan harian yang enak dibaca, tidak membosankan, fokus pada satu titik, menarik dan jujur ?Mereka hanya tertawa, hingga mereka hanya menjawab pertanyaanku hanya dengan “Ngopi Saja” nanti pasti lama-kelamaan bisa baik catatannya, semua itu hanya soal kebiasaan.
Mari kita menuju benang merah dari tulisan ini. Mencatat sebenarnya bebas dan tidak ada pakem tertentu. Karena ini tulisan bebas jadi tidak usah binggung. Tulislah apapun yang ingin kamu tulis. Catatlah apapun yang memang ingin kamu catat, namun bagaimana kalau kita tak ingin mencatat apa-apa dan bagaimana kalau tidak ada hal yang bisa dicatat. Padahal semua hal bisa dicatat tergantung bagaimana kita melihat dan memulainya :
Pertama, lebih baik jangan memulai sebuah catatan harian (Journal) dengan kata-kata yang sudah biasa digunakan orang dalam menulis catatan harian. Coba gunakan kata-kata yang berbeda, supaya tidak bosan dan mudah ditebak.
Kalau masih binggung dan merasa sulit melakukannya, coba gunakan strategi tiga kata. Yaitu dengan menggunakan tiga kata untuk membuat sebuah lead atau awalan dalam catatanmu. Tidak harus kata-kata tertentu, semuanya bebas dan semenarik mungkin. Sayangnya jangan terlalu klise dalam membuat tiga kata itu, coba buatlah kata-kata yang masih berhubungan dengan konteks tema dan sudut pandang (Angel) apa yang ingin kamu catat.
Kedua, peka dengan realitas, jangan terlalu rumit. Sadarilah kejadian-kejadian, moment, peristiwa, dan beberapa hal yang tidak banyak disadari orang. Pahamilah lingkunganmu dengan sebaik-baiknya. Kenalilah apapun yang ada disekitarmu, baik yang terlihat ataupun yang tidak.
Ketiga, hindari pengulangan kata. Karena itu sangat membosankan. Bahkan hanya karena banyaknya pengulangan kata, maka tulisanmu akan terlihat sangat membosankan. Lebih membosankan dari menonton pagelaran jazz dan swing sendirian.
Ketiga, carilah angel atau sudut pandang yang menarik pada hari itu. Jangan terpaku pada rutinitas. Coba pikirkan secara runut apapun yang kamu lakukan hari itu. Pahami keterkaitannya, berfikir sistematis dan mencoba menemukan hal-hal yang menarik dari semua persoalan, atau galihlah apapun yang masih dipenuhi pertanyaan.
Ke'empat, tuangkan atau catatlah apa yang paling berkesan dan berbeda dari hari itu. Apa yang sudah kamu lakukan, apa yang terjadi, hal penting apa yang kamu lakukan, bagaimana hal itu, mengapa bisa begitu dan apa yang kamu rubah dari hari kemarin hingga hari ini.
Kelima, pesan moral apa yang kamu dapat dari hari ini.
Ke'enam, bertemu dengan siapa saja hari ini. Mungkin ini bisa menjad literasi atau sumber referensi yang menarik dan tidak membosankan. Apakah kamu bertemu dengan orang baru atau apapun tentang siapa yang kamu hadapi hari ini.
Ketujuh, ini sangat mudah. Hal baru apa yang kamu dapat.
Kedelapan, bandingkan hari ini dengan hari sebelumnya. Apakah ada kemajuan.
Kesembilan, coba telaah dan lakukan analisis secara detail dan kritis apapun yang berhubungan denganmu dan lingkunganmu. Kaitkan hal itu hingga memunculkan sebuah sintesis yang bahkan tak kamu duga sebelumnya.
Kesepuluh, tulislah semua itu dengan jujur dan jelas.
Kesebelas, pakailah rumus dan konsep dramatisasi.
Keduabelas, berilah ruang dimana yang harus kamu tulis dan tidak. Jangan semuanya ditulis buatlah ukuran yang pas untuk lebih menarik dan fokus. Ini semua tentang porsi agar tidak menjemukan dan overstory.
Mencatat memang cukup menyita waktu namun dari mencatat setidaknya aku lebih tahu waktu. Mungkin pejelasan diatas cukup sulit dimengerti. Akupun memakluminya, karena tak semua mampu mencatat layaknya bercerita.Sampai disini cukup jelas, dan aku takkan memberikan tips jitu atau motivasi apapun, yang paling bijak ialah terserah pada anda. Mau mencatat atau tidak, dan anda punya alasan masing-masing. Hingga anda merasa bahwa apa yang anda lakukan itu tidak sia-sia bagi hidup anda.
Apakah mungkin kita tidak akan mati besok. Apakah kenyakinan itu bisa kita pegang dan pasti untuk diyakini. Pertanyaan seperti itu begitu membunuh banyak gairah hidupku, antara makin sadar atau malah modar. Entahlah, hal-hal retoris-realistis memang membuatku nyaman sendiri untuk saat ini. Mungkin karena itu aku jadi ingat banyak catatan-catatanku yang lama kusimpan dan kusembunyikan.Tapi tenang, kali ini aku tak akan membahas anatara mati dan nanti. Tapi kali ini aku akan membahas mengenai mencatat, bukan mencatat hutang atau rekapan dosa-dosa kalian, tapi mencatat sebuah catatan perjalan. Setuju atau tidak, jika tak semua orang berfikiran bahwa mencatat itu penting. Ada yang malah memilih mengingat daripada mencatat, tapi setidaknya bolehlah kita berpendapat bahwa mengingat tak selalu tepat, karena ingatan bukan dewa dan manusia pasti akan lupa, entah itu nanti atau esok bahkan bisa juga kemarin. Maka dalam tulisan ini, saya akan berbagi tentang bagaimana caranya menulis sebuah catatan perjalanan yang baik, untuk apa, ya tentu untuk apa saja.Mencatat sebuah catatan perjalanan tentu bisa dimulai dimana, kapan, bagaimana saja. Ingat, mencatat atau menulis bukanlah hal mudah, tapi juga bukan hal yang susah. Karena mencatat itu relatif tergantung individunya sendiri.Sebuah catatan setidaknya haruslah jelas. Jangan sampai kita sendiri yang mencatat lantas kita tak tau apa yang dicatat dan apa alasan kita mencatat. Entah itu karena tidak ada keterangan yang jelas, lupa menyimpan catatan, atau karena tulisamu jelek dan tidak bisa dibaca oleh mata orang awam (kalau kata guru SD, itu tulisanya dokter). Saat melakukan sebuah perjalanan apapun itu jenis dan kategorinya. Usahakan mencatatnya. Mulai dari kejadian penting dan keterangan waktunya. Tulisalah Peristiwa Fisik (Dikomentari) dan dibandingkan dengan diri sendiri. Lalu, yang terpenting ialah Peritiwa Batin (Dikomentari) dan dibandingkan dengan diri sendiri. Kenapa harus seperti itu, karena menurut hemat sebuah catatan yang baik. Wajib bagi kita menuliskan sebuah alasa atas moment-moment rohani dan jasmani serta sebutkan alasan mengapa begitu dan bagaimana bisa jadi seperti itu. Sebab hal itu lebih kompleks dan bisa membuat kita lebih mengingat secara detail apa yang terjadi dalam perjalananmu waktu itu.Selanjutnya, catatlah hal-hal yang berkesan secara keseluruhan mengenai perjalanan tersebut. Jangan lupa, dramatisasi (waktu, tempat, moment). Syukur-syukur mencatat percakapan-percakapan penting dalam perjalanan. Untuk membuat catatanmu benar-benar hidup.Jangan malas, tentu ada yang lebih penting dari sebuah catatan perjalanan yang baik yaitu, catatlah nilai-nilai moral yang didapat, entah itu sebelum, saat, dan sesudah melakukan perjalanan.Usahakan pembahasaan atau dramatisasi Penulisan benar-benar serius dperhatikan dalam menuliskan sebuah catatan perjalanan. Karena sebuah catatan akan terasa hidup dan detail jika kita mampu menyusunya dengan sebaik dan semenarik mungkin.Plot atau jalan cerita secara keseluruhan adalah wajib hukumnya. Sebab kerangka sebuah catatan akan semakin mendunkung keutuhan sebuah catatan yang kamu tulis, guna menyempurkan catatan perjalananmu. Dimana sebuah perjalanan dan keseluruhan yang terjadi didalamnya pastinya tidak dapat diulang.Yang harus diperhatikan ialah moment waktu dan apa yang kalian rasakan waktu melakukan perjalanan. Karena itu akan menjadi modal penting dalam menyusun catatan perjalanan yang menarik.Sebagai penghibur, ambilah sebuah foto sebagai pendukung catatanmu atau sebagai dokumentasi sebuah perjalanan. Karena dokumentasi ialah empat sehat lima sempurnanya sebuah catatan perjalanan.Catatan perjalanan bisa dimulai dengan kata yang tidak umum atau menggunakan strategi penulisan tiga kata. Hal ini sebenarnya hanya untuk memudahkan kalian kalau kesulitan memulai mencatat sebuah catatan perjalanan. Mungkin itu saja, untuk lebih lanjutnya silahkan berkomentar dibawah.
“Di Bumi ini, perbedaan telah menjadi bahasan dari beribu-ribu tahun yang lalu. Dalam perjalanan umat manusia hidup, tak akan lupa bagaimana konflik yang dilandasi perbedaan tentang hal apapun akan menjadi momok yang menakutkan bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Lihat saja peperangan yang terjadi pada masa kerajaan-kerajaan, saat Perang Dunia I dan II , konflik di Timur Tengah, sampai konflik antar suku dibelahan dunia manapun. Semuanya itu terjadi karena kesalah pahaman atas memaknai perbedaan juga bagaimana menghargai sesama manusia. Disitulah letak kepahaman akan multikultur dan pluralisme dibutuhkan untuk kedamaian hidup di Bumi ini”.
Negeri ini adalah negeri yang sangat kaya akan perbedaan yang indah. Jika kita melakukan perjalanan dari Sabang sampai Merauke, kita akan menjumpai ribuan realita yang menjelaskan alangkah menakjubkannya keanekaragaman Nusantara ini: budaya, suku, bahasa, keyakinan, hingga perilaku sosial yang berupa-rupa. Tak banyak warga negeri ini yang tahu, berapa persisnya jumlah suku bangsa di Indonesia. Akan tetapi, Badan Pusat Statistik (BPS) ternyata telah melakukan survei mengenai jumlah suku bangsa tersebut. Kepala BPS, Rusman Heriawan, menyampaikan bahwa dari hasil sensus penduduk terakhir pada tahun 2011, diketahui bahwa Indonesia terdiri dari 1.128 suku bangsa.(JP Rabu 3/2)
Kesanggupan negeri ini untuk hidup berdampingan di tengah kemajemukan sudah dicontohkan oleh para pendahulu kita. Lihatlah keguyuban para pemuda-pemudi Nusantara saat mengangkat sumpah pemuda. Bagaimana Jong-Jong dari seantero negeri berkumpul menjadi satu, mencari kebaikan bersama. Juga jika ditarik lebih kebelakang, pada saat makna carta Raja Airlangga tentang hak asasi manusianya, yang mengajak manusia-manusia negeri ini saling menghargai hak-hak dan nasib sesama manusia.
Multikultural berarti beraneka ragam kebudayaan. Akar kata dari multikulturalisme adalah kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Dalam konteks pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk suatu ideologi yang disebut multikulturalisme. Konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara suku bangsa atau kebudayaan suku bangsa yang menjadi ciri masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Ulasan mengenai multikulturalisme mau tidak mau akan mengulas berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komuniti dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu produktivitas.
Multikulturalisme mempunyai peran yang besar terhadap pembangunan bangsa karena Indonesia tentu saja memiliki berbagai macam kebudayaan dan keyakinan. Adanya prinsip bhineka tunggal ika yaitu berbeda-beda tapi satu jua, mencermikan kepribadian bangsa yang terdiri dari beragam budaya namun memiliki satu bangsa, satu Negara, satu tanah air, satu bahasa dan satu cita-cita. Cita-cita bangsa Indonesia seperti yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945 harus terlaksana melalui pembangunan nasional.
Pembangunan nasional tentu saja tidak dapat dilakukan oleh satu orang atau penguasa saja. Pembangunan nasional harus dilaksanakan oleh seluruh warga Negara Indonesia agar pembangunan tersebut menjadi tepat sasaran: yaitu mewujudkan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. Dalam hal ini diperlukan kerja sama antar warga, termasuk kita sebagai warga Negara.
Media massa mempengaruhi alam bawah sadar di negeri ini
Keberagaman selama ini memang menjadi bahasan yang selalu menarik untuk dibicarakan publik. Dengan data-data di atas, bukan berarti kesanggupan negeri ini untuk hidup bersama tidak memiliki kelemahan. Salah satu yang menjadi kelemahan mendasar dalam mempengaruhi keharmonisan kemajemukan ini adalah arus informasi. Dimana posisi informasi yang dipaparkan oleh media massa di era globalisasi saat ini menjadi segalanya. Media menjadi bagian yang amat penting dalam kehidupan manusia saat ini. Akselerasi hidup yang menuntut manusia untuk harus serba cepat, berakibat pada arus informasi yang disuguhkan pun semakin intensif dan kuat masuk ke alam bawah sadar publik.
Bagi insane pers mahasiswa akan familiar dengan beberapa teori dalam hukum media seperti teori jarum suntik, spiral of silence, dramaturgi dll. Dan semua hal tersebut adalah alat pengontrol syaraf publik melalui media massa. Contoh saja, dahulu, jika ada orang cerai, adalah suatu aib. Akan tetapi setelah media memaparkan berulangkali artis cerai dan gonta-ganti pasangan, akhirnya kita terdiam dan nilai malu karena cerai, berubah menjadi kebanggaan jika sering cerai.
Hal ini juga berlaku pada keanekaragaman ini, meskipun pendahulu kita mencontohkan sesuatu yang agung tentang multikulturalisme. Akan tetapi yang terjadi di hari ini, sebagian besar orang menganggap perbedaan ini sebagai bom waktu, mengingat dari keanekaragaman itu akan timbul bermacam-macam kepentingan dan kebutuhan di dalamnya. Ketakutan-ketakutan itu akan muncul bukannya tanpa alasan. Kesalah pemahaman lah yang terjadi dibenak publik oleh suatu isu atau kasus yang dilontarkan oleh media ke publik, Jika sudah salah paham, maka yang akan timbul adalah rasa iri, sakit hati atau dendam yang akan meletup menjadi tindakan yang merugikan.
Lihatlah beberapa kasus yang timbul dari perbedaan di akhir-akhir ini seperti: kasus Aceh, Ambon, Timor Leste, Bima, Sampit, atau yang kasus Sunni Syiah baru saja terjadi di Madura. Semua kasus tersebut muncul dikarenakan masih banyaknya informasi yang terputus. Kadang, kita cenderung menyingkirkan lebih dulu pandangan dari latar belakang yang mendalam, “mengapa hingga terjadi kasus tersebut?”, atau “bagaimana solusi damai dari permasalahan-permasalahan tersebut?”, sehingga yang terjadi, publik negeri ini bersama-sama menyaksikan bahwa negerinya adalah negeri yang penuh perseteruan. Negeri tempat peternakan dendam disana-sini. Inilah efek dari penyimpangan paham bad news is a good news. Padahal seharusnya, media sebagai penengah, pencerdas, dan pendamai publik di era informasi ini.
Pers Mahasiswa sebagai sarana belajar dan berjuang
Setelah kita tahu bagaimana semua konflik itu terjadi, lantas bagaimana peran pers mahasiswa sebagai sarana belajar dan media alternatif untuk kebaikan publik, terutama di kalangan mahasiswa, agar tidak memperkeruh masalah? Jawabannya hanya satu, Kebenaran yang bernurani harus ditegakkan melalui segenap proses belajarnya. Apalagi, kebebasan atas dunia jurnalistik ada untuk mencerdaskan peradaban bangsa, bukan memperkeruh kerunyaman.
Dalam hal ini, pers mahasiswa bisa dijadikan sebagai sarana belajar sekaligus berjuang. Belajar dalam artian, agar setiap insan pers mahasiswa dalam proses bermedianya tidak hanya belajar menulis berita atau me-layout saja. Tapi juga memikirkan efek laten dari apa yang dihasilkan dari proses ber pers mahasiswa, seperti: tingkat kedalaman berfikir para anggota terhadap menghadapi suatu masalah (lebih melek media) sosial dan bagaimana warna media-medianya. Karena proses ber pers mahasiswa merupakan kawah candra dhimuka bagi calon jurnalis handal yang mustinya membawa kebaikan bersama.
Apalagi keberadaan pers mahasiswa yang langsung berdekatan dengan kondisi nyata di daerahnya masing-masing, diharapkan lebih peka dan sadar akan kondisi sebenarnya. Sampaikan signifikansi “kejadian” apa adanya, bukan dengan menyajikan sensasionalitas drama atas kejadian tersebut –yang dalam hal ini lebih sering diutamakan oleh media umum .
Berkaitan dengan efek jangka panjang, sudah saatnya pers mahasiswa mengenal dan menanamkan pola toleransi dalam keberagaman, sebab awal mula dari sebuah kesalahpahaman adalah ketidaksabaran dalam menerima dan mencerna informasi. Hal tersebut lumrah, karena pada masa sebelum reformasi rakyat telah terbiasa dididik untuk mencurigai perbedaan pendapat. Inilah yang dimaksud dengan ‘berjuang’ dalam kamus pers mahasiswa, yakni untuk memberikan informasi-informasi pencerah bagi publik negeri ini. Tulisan-tulisan insan pers mahasiswa yang diterbitkan melalui buletin, majalah, maupun pada lahan virtual akan menjadi tulisan objektif yang membawa kebaikan bersama dan paling dinanti oleh masyarakat. Minimal masyarakat kampus. Bahwasanya sikap kritis pembangun dari mahasiswa melalui kegiatan ber-pers mahasiswa itu masih ada. Bahwasanya, jika tulisan-tulisan di setiap lembar karyanya, masih mampu membantu dalam membangun proses pengurai kerumitan yang ada.
Di dalam proses belajar dan berjuang inilah, insan pers mahasiswa diajak untuk lebih berpikir panjang dalam mem-blow up berbagai kasus yang terjadi di publik. Agar nantinya, apa yang disuguhkan oleh pers mahasiswa yang notabene sebagai media independen tidak ikut pada lingkaran kepentingan dari konflik-konflik tersebut.
Akhirnya, dalam berproses sebagai pers mahasiswa, seyogyanya kita memberikan tawaran dan pandangan yang baik kepada publik agar mampu memahami, bagaimana menjadi masyarakat multikultural yang baik.
Salam Pers Mahasiswa!!!* Penulis saat ini menjabat sebagaiMantan sekjend Nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa IndonesiaPeriode (PPMI) 2012-2014|

Dalam institusi pendidikan selalu di tekankan “moral,etika,dan ahklak” apalagi institusi perguruan tinggi, yang menjadi tempat belajar, calon-calon penerus bangsa. Perguruan tinggi adalah labuhan terahir bagi orang-orang yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan dari SMA,SMK dan sedrajat, demi mendapat pendalaman tentang ke ilmuan dan pengetahuan secara formal.
Dibalik itu semua ada masalah yang sudah lama merasahkan dunia pendidikan perguruan tinggi di Indonesia, yaitu ayam kampus atau mahasiswi yang mempunyai profesi ganda”ya mahasiswi ,ya PSK juga” hal itu biasanya di sebut pekerjaan sampingan dan sudah banyak sekali di universitas/institusi negeri dan swasta yang ada di Indonesia.
Ayam kampus berbeda dengan pekerja sex yang lainya,bedanya adalah mereka menjajakan diri mereka di daerah kampus, tapi bisa juga di luar kampus,disisi lain mereka adalah mahasiswi yang menuntut yang aktif menuntut ilmu.
Si ayam melakukan hal seperti itu biasanya karena banyak faktor yang membuat seperti itu, Tapi jangan spontan mengutuk atau mencibir, Rupanya sebagian besar mahasiswi yang memilih menjadi Ayam Kampus hanya terpaksa saja. Beberapa orang dari mereka terpaksa mencari uang tambahan untuk membayar uang kuliah sendiri karena orang tua tidak sanggup membiayai, selain itu ada yang menjadi Ayam Kampus karena merasa kecewa dengan pacar, dan bahkan ada yang akhirnya menjadi Ayam Kampus karena pernah menjadi korban pemerkosaan saat masih kecil atau saat duduk di bangku sekolah dan masih banyak alasan yang lainnya. Meskipun tak dapat dipungkiri ada juga yang memang memilih menjadi Ayam Kampus karena harus memenuhi gaya hidupnya yang mewah, beli ini, beli itu. Sehingga akhirnya keasyikan menjadi Ayam Kampus.
Harga Ayam Kampus juga bervariasi, ada yang puluhan ribu, ratusan ribu bahkan hingga jutaan rupiah pun juga ada. padahal service ayam kampus yang ditawarkan juga sama kan?
Si ayam sangat sulit untuk dilacak,karena penampilan mereka tidak lah sama dengan penampilan para penyedia jasa sex lainya yang terdapat di pronstitusi, malah mereka cenderung tidak berpenampilan mencolok atau bahkan menunjukan kalau dia ayam kampus, ada juga yang memakai kerudung layaknya mahasiswi yang muslimah nan beriman, tapi itu hanyalah kedok belaka yang membuat mereka lebih aman dan terlindungi.
Biasanya, mereka melakukan aksinya bukan hanya ingin mendapatkan uang tambahan atau pun biaya kuliah, tapi juga ingin mendapatkan nilai lebih dari dosenya, dalam melakukan aksinya para ayam ini lebih memilih mereka tidak sembarangan atau langsung mau dengan tawaran-tawaran yang ditawarkan oleh teman yang membantu aksinya dalam memasarkanya,ayam-ayam ini cenderung memilih, dengan kriteria,kengantengan,kekayaan,dan yang penting adalah si ayam ini tertarik bahkan senang dengan si pelanggan. Tapi untuk mendapat nilai semua itu tidaklah berfungsi, diamana mereka rela melayani si target yang notabenya bisa merubah,atau mengangkat nilainya menjadi lebih baik, seperti dosen para ayam ini biasanya merayu dosen dengan berbagai cara atau memancingnya sampai bisa berahir di ranjang. Dan tujuannya agar bisa mengangkat nilainya, tapi ada juga yang ketagihan, dengan si ayam, pintarnya si ayam, mereka memberi gratis lalu kalau minta lagi harus banyar dengan harga yang lebih mahal.
Ayam Kampus lebih sulit dideteksi dibandingkan wanita-wanita penjaja seks yang mangkal di pinggiran jalan. Biasanya untuk memesan Ayam Kampus tidak bisa sembarangan. Ada beberapa hal yang harus mereka pertimbangkan sebelum memutuskan mau memberikan "service". Ada yang maunya di hotel mewah, dijemput dengan mobil, ketemuan di restoran, di mall, dan lain sebagainya. Mau pesan Ayam Kampus pun agak sulit karena harus punya channel ke mereka. Selain itu tarifnya lebih mahal daripada "ayam biasa". Tarif akan ditentukan dengan melihat asal kampus dan pamor si Ayam Kampus dalam dunia per-ayaman-an. Semakin hebat ia memuaskan pelanggan semakin tinggi tarifnya.
Mereka sangat banyak bahkan di kampus-kampus daerah besar, maupun kecil, tak menutup kemungkinan bahwa ayam kampus ada di keliling anda,benar atau salah yang dilakukan mereka, tapi ini faktanya,dan bahkan sampai sekarang masih ada.