Monday, August 8, 2016

Se-Sederhana Itu

Ini semua se-sederhana musibah 
Datangnya tak terduga
Sampai pelipis wajah dibuat basah
Oleh air mata, oleh penyesalan
Dalam ketidaksadaran
Apa hidup se-sederhana itu

Perlukah penghayatan didalamnya
Kalaupun bajingan belum tentu masuk neraka
Atau ulama yang tak mesti masuk surga
Apa benar pilihan kita pasti tepat
Apabila kita meragukan kepastian
Haruskah kita menghujatnya

Berdoa dan meminta
Menyesal dan Memaksa
Diantara sujud sambil menyepelekan
Jaminan hidup itu tak ada
Hak, ingin, rencana, cita-cita
Apa bisa diterka akan terus adanya

Bagi kita
Lebih penting mana
Kepastian atau ketetapan
Sedangkan kita berteriak tentang hak
Tapi apa pernah kita punyak hak
Atas diri kita sendiri

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 08 Agustus 2016.

Friday, August 5, 2016

Ambisi Pemuda Sadar Diri

Kami berkumpul untuk menerka kenyataan 
Kesadaran kami melebihi mata elang dan telinga kucing
Ambisi dan semangat kami seakan-akan besok-perang
Padahal kami masih tertidur dibalut selimut tebal
(karena tidur adalah jalan terbaik untuk mendapatkan mimpi)

Kegagalan atau keberhasilan bagi kami bukan masalah
Karena kami sadar, kami punya segala yang dibutuhkan
Mau apa-kami ada, Ingin seperti apa-kami bisa
Karena kami tak pernah ragu ataupun takut
Kami siap, kami sigap, kami bertekad,
Untuk terus berharap dan bermimpi

Setiap hari kami buat banyak mimpi
Setiap kami bertemu hal baru
Kami menghasilkan mimpi dan harapan baru
Karena kami sadar bahwa tak semua bisa bermimpi

Entah berapa rencana dan agenda yang kami buat
Entah berapa lama kami akan menyelsaikannya

Setiap hari, setiap waktu
Kami gunakan untuk menyusun rencana
Kami tak ingin menyia-nyiakan waktu
Apalagi melakukan hal tidak berguna

Tapi kenapa?

Selama ini kami begini-begini saja
Setiap hari bagi kami adalah awal
Kami asing dengan penyelsaian
Kami hanya bisa memulai
Tanpa pernah mengakhirnya

Kami bermimpi dalam lelap
Kami berharap sembari kalap
Kami memulai dan terus memulai
Kami berencana dan makin lelah tak bergairah

Semakin banyak rencana
Semakin lelah dililit masalah

Kami disesatkan mimpi kami sendiri
Kami dihajar oleh gairah masa muda
Kami diperkosa dan dipenjara keinginan kami
Hingga kami tak dipertemukan dengan penyelsaian

Ingin apa, kami bisa
Mau apa, kami turuti
Harus bagaimana, kami jalani
Masalahnya apa, kami beri solusi

Tapi sayangnya 
kami tak tau apa hasilnya
Karena kami sibuk bermimpi
Sampai lupa mewujudkanya

Nofianto Puji Imawan
Madura, 05 Agustus 2016.

Memulai & Menyelsaikannya

Memulainya dengan kejujuran, dan mengakhirinya tanpa dendam. Tinggal sebentar lagi, kuharap ia tak gentar. Mengupayakan semua waktu dilalui dengan maksimal untuk mengejar satu alasan, supaya tak menyesal.

Kini, semua manusia berani berharap apapun yang tak logis dan tak relevan. Mereka menamakannya ‘mimpi’ atau ‘harapan’. Malah ada yang menyebutnya sebagai ‘cita-cita’. Entah apa yang merasuki mereka, hingga berani menggarang ceritanya sendiri, menggambar perannya sendiri, bahkan menulis takdirnya tanpa peduli dan tak bijak dalam memilih ‘mimpi’ nya. Setiap ia bertemu manusia-manusia baru, seolah ia menemukan peran-peran baru untuk ia telisik. Walau adakalanya ia memilih menepi dan meninggalkan segala yang ia miliki untuk memahami kesejatian dan sejenak meninggalkan semua hal yang semu. Karena menurutnya, yang baik bisa saja buruk, dan yang buruk tak selamanya buruk.

Semakin lama, ia telah memupuk mimpinya setinggi bukit. Dikala, ia belum mampu mencapainya maka ia telah membuat bukit baru bernama ‘dendam’ dan diatas bukit itu ia tanami pohon yang disebut ‘ambisi’. Sedangkan setiap hari, ia memiliki mimpi baru yang ingin dicapai dan hal itu terus berlanjut hingga 20 tahun lebih.

Ia sekarang kalut, sebab tak satupun mimpinya terwujud. Dendamnya sudah membentuk pengunungan yang melingkar, dan ambisinya sudah menjadi rimba yang menutupi pengunungan. Ia semakin terjebak diantara pengunungannya dan rimbanya. Tiada jalan atau tanda didalamnya, ia lupa, bahwa selain semua itu yang terpenting ialah membuat jalan dan menentukan jalan. Fokusnya habis untuk memulai, dan bukan untuk menyelsaikan. Sekarang ia mati terjebak diantara pengunungan yang ia buat dan tetap tersesat oleh rimba yang ia tanam sendiri.

Berbakti Pada Orang Tua

Untuk sekolah aku tak segan membohongi diri. Hampir semua alasanku untuk melanjutkan sekolah ialah disuruh orang tua. Bagiku itu kewajiban seorang anak kepada orang tuanya. Apa pernah kita menemukan alasan yang kuat, kenapa kita harus tetap sekolah?, biar pintar, agar mendapat pekerjaan mapan di esok hari, agar bahagia, agar tercapai cita-citanya, atau agar masuk surga. Apa kita berani menjamin semua itu hanya dengan sekolah. Tapi takkan kubahas ini lebih jauh. Karena sekolah hanya salahsatu cara menimbah ilmu. Jadi, masih banyak cara untuk menambah atau menuntut ilmu, tak hanya sekolah. Karena ilmu itu banyak rupa dan bentuknya, tak hanya melalui buku atau bahan bacaan saja. Karena apapun yang tuhan ciptakan tak ada yang kebetulan, semua ada maksudnya. Jika alam semesta lebih tua daripada manusia dan buku (text atau tulisan) adalah perantara antara manusia lainnya agar bisa tetap berhubungan. Maka apasalahnya memulai belajar dari situ. Kadang kita menjadi ragu dengan ketetapan yang kita ciptakan sendiri. Semua serba rumit dengan ukuran lazim atau tidak. Prosedural hidup membuat kekerdilan dalam mencerna pesan-pesan tuhan.

Bisa jadi, aku dilahirkan untuk menguji kesabaran dan keimanan orangtuaku. Bisa juga, kelahiranku ialah sebagai pintu rejeki bagi orangtuaku, mungki juga tidak sama sekali. Karena yang tau hanya tuhan, kenapa aku dilahirkan? Banyak kemungkinan tentunya semua itu diluar perkiraan akal dan logika kita sebagai anak atau sebagai manusia. Untuk menjalani peran sebagai anak, setidaknya aku harus berbakti pada orangtua. Setahuku itulah peran pertamaku dalam hidup. Setelah lebih dewasa, aku semakin sadar ternyata peranku ialah sebagai manusia dan tanggung jawabnya ternyata begitu berat. Awalnya aku tak yakin mampu menjadi manusia yang benar-benar manusia. Bahkan aku pernah melakukan pelarian dalam hidup dengan memilih ingin menjadi dokter, pilot, insinyur, polisi, masinis, bahkan hingga kini aku terobsesi menjadi sarjana. Setelah sadar semua itu sudah melenceng dari takdir dan peranku sebagai manusia (seharusnya). Aku di hadapkan pada sebuah pilihan, setelah 20 tahun lebih memilih menjadi sesuatu yang menyalahi kodrat. Semua tittle, pencapaian, dan gelar hanyalah suplemen kimiawi yang hanya merusak kesejatian hidup. Ketakutanku ialah tak mampu berperan sebagai anak yang berbakti pada orangtuaku sendiri. Lebih menakutkan lagi, dikalah aku berani bermimpi untuk menjadi apapun selain manusia.

Selama ini, aku layaknya manusia lainnya. Menjalani hidup dengan normal dan seaman mungkin. Sekolah TK, lalu SD, Kemudian SMP, dilanjutkan SMK, hingga Pendidikan Tinggi. Semua kujalani dengan banyak pertanyaan dan pernyataan. Kemunafikan selalu hadir tanpa malu-malu. Apalagi aku ingat saat, kebinatanganku melebur dalam tubuhku. Aku seolah manusia tak tau diri. Selama 20 tahun lebih belajar menjadi anak yang baik tapi ternyata hingga kini aku belum mampu berperan sebagai anak yang berbakti pada orang tua. Semoga aku tetap tak menyerah untuk menjadi anak yang berbakti pada orang tua.
Ini doaku.

Diantara Alasan

Kompleksitas yang buas. Terjebak dalam kerumitan dan kesadaran tentang degradasi dalam segala hal telah memaksanya menjadi idealis yang pesimis. Ia sudah tak percaya lagi tentang perbaikan-perbaikan kecil adalah langkah konkret dalam menyembuhkan penyakit moral yang kompleks. Ia percaya bahwa semua langkah solutif akan selalu utopis. Sehingga wajahnya murung dan sulit tersenyum. Apa yang ia bicarakan selalu melebar seolah ia tau banyak tentang banyak hal. Kedangkalan yang tak ia sadari membuatnya menjadi kritikus kudus yang mampu membelah laut hanya dengan tongkat tanpa iman. Semoga ia akan berubah menjadi idealis berbakat yang mampu menciptakan sintesis diantara problematika dan cacatnya cita-cita, hingga ia bisa memahami realitas tanpa mengesampingkan idealismenya. Seorang pejalan kaki mulai tersesat ditengah gurun, dan ia akan terus diam karena tak banyak orang yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit dalam hidup.
 
Malam itu mataku lelah. Aku yang diam sambil menahan argumen kekesalan tak sabar ingin memulai perdiskusian kecil ini. Dimana lelaki akan jadi hakim dan perempuan rela menjilat ludahnya sendiri. Dominasi memang membosankan, kadang aku berfikir begitu. Tapi semua sungguh relatif, dimana dominasi itu akan kompromi jika kerumitan logika taksesegera mungkin dipahami sebagai tawaran bukan anjuran. Berbicara panjang lebar dan berharap akan didengarkan memang sesuatu yang indah malam itu, karena dianggap adalah kepuasan bagiku malam itu. Seandainya aku tak lelah dan tiada rencana esok harinya. Mungkin aku akan membiarkan keinginan ini mengontrolku hingga pagi menjelang. Tapi lagi-lagi realitas dan rutinitas sedikit menuntut dan mengarahan namun belum tentu aku tak mampu mengendalikan waktu. Maka kusebut hal itu adalah pangkal kompromi, dimana tawaran akan mengarahkan keinginan ditengah kepasrahan.

Tak sedikit dari kami yang resah oleh kemunafikan. Sama halnya disaat standar kami mulai naik, semua akan disepelekan bahkan diri kami sendiri. Bergulat dalam sekte orang-orang malam adalah bentuk puasa ditengah kebobrokan moral.

Mungkin benar ucapannya tentang bagaimana kita harusnya berfikir mengenai hal-hal fundamental dalam memperbaiki manajemen hidup. Apalagi disaat akal kami meninggi, kami tak segan untuk menghakimi banyak individu hanya dengan duduk dan menghisap sebatang lisong tanpa berhenti. Bagi kami dan baginya, semua ini adalah tentang efektifitas dan dampak yang luas. Karena mana mungkin pengorbanan ini dilakukan jika tak ada maksud dan motif yang melatarbelakanginya.

Tiga Lelaki Penerka Masa Depan

Tiga lekaki muda berbicara hingga larut malam dengan kamar terkunci dan lampu dipadamkan. Hawa dingin menelisik melalui cela-cela dinding, kipas angin pun dimatikan dan asap rokok memburamkan pandanganku. Semua tenggelam dalam nostalgia remaja-remaja desa yang berani menyembunyikan bahagia. Selusin cerita tentang kekonyolan dan perkelaminan menjadi tema utama. Sepertinya semua jadi tak penting bila dibandingkan dengan dugaan-dugaan kami tentang masa depan yang lebih menyakinkan diri sendiri. Tak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi, semua mengalir dan membuat kami tertawa hingga pukul dua dini hari. Namun hal itu membuatku bertanya, kenapa hal-hal seperti ini lebih membuatku tak menyadari bahwa waktu itu begitu cepat berlalu, dibandingkan melakukan usaha menepati kewajiban atau meninggalkan pantangan.

Hampir semua pemuda seperti kami lebih memilih berbincang berjam-jam di warung kopi plus wi-fi, dibanding membaca tahlil di rumahnya sendiri atau sholat berjamaah di masjid dekat rumah.

Itulah kenyataanya kini, dimana lebih ramai warung kopi dan rumah sakit dibandingkan masjid ataupun musholla. Bukan masalah degradasi moral atau rendahnya kesadaran pemuda-pemudi. Tapi ini persoalah kenapa skenario hidup di jaman ini seperti ini. Adakah tuhan menghendaki misteri dengan menunjukan anomali (keanehan) hidup yang syarat kemunafikan. Atau ini hanya pintu menuju kiamat yang telah digariskan.

Disetiap pembicaraan kami, selalu ada terkaan dan prasangka akan masa datang. Berbicara mengenai masa-masa dimana semua indah jika bersama, hingga masa-masa dimana semua yang awalnya bersama lebih baik berpisah dan menjalani semua tentang masa depannya sendiri-sendiri. Itulah kami, kami memilih nostalgia dibandingkan menyendiri dan resah memikirkan masa depan didalam kamar dengan jendela terkunci dan asap rokok yang menyesakkan. Kami memertanyakan kenapa dan kenapa? Tentang apapun yang pernah terjadi dalam hidup kami sendiri-sendiri. Waktu semua lelap dan gitar kami taruh disamping televisi yang menyala. kami telah menghabiskan banyak rokok berbagai merk hingga menjadi abu dan asap. Kami duduk melingkar sambil saling menatap mata-mata munafik yang menyembunyikan banyak keluh-kesah hidup.

Sampai kami merasa lelah untuk terus bicara mengenai masa depan. Untuk memilih menjalani semua yang sudah kami pilih sebagai jalan. Kamilah tiga pemuda yang berbicara tanpa mau bertindak mengenai apapun yang kami rasa itu salah. Kami munafik karena kami resah dan kecewa menghadapi hidup.

Tulisan ini diadaptasi dari perbincangan malam kamis tiga pemuda yang sedang menjalani masa akhir perkualiahan, yang mungkin kami sendiri sudah melupakannya, karena itu sekedar pelampiasan.

Wednesday, August 3, 2016

Teknik Menulis Esai Atau Kolom


Pekerjaan menulis sebenarnya bisa dikatakan mudah tapi kadang sulit. Hampir semua tips atau metode menulis yang ditawarkan di internet sebenarnya tidak benar-benar jitu dalam memberikan solusi terhadap penulis yang ingin menulis tapi mengalami kendala. Dalam dunia kepenulisan atau dunia sastra, esai masuk dalam kategori non-fiksi, atau ilmiah. Untuk membedakannya dengan puisi, cerpen, novel atau drama sebenarnya cukup sulit. Karena kini, banyak esai yang bermacam-macam karakteristiknya. Kecenderungan orang kekinian ialah tidak mau karyanya dikotak-kotakkan atau dikategorikan dalam suatu golongan tertentu.

Hal ini menimbulkan sebuah dikotomi pengkategorian, termasuk dalam karya tulis entah itu esai, opini, artikel, atau kolom. Mana yang esai dan mana yang bukan. Menurut hemat saya esai itu punya karakteristik sebagai berikut:

Esai itu mewakili opini penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa tertentu. Esai juga memiliki lebih banyak unsur subyektifitas, bahkan jika tulisan itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang “obyektif”. Esai juga memiliki unsur persuasif, esai memiliki lebih banyak unsur imbauan penulis ketimbang sekadar paparan “apa adanya”. Esai dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar mengadopsi sikap dan pemikiran penulis, atau bahkan bertindak sesuai yang diharapkan penulis.

Meskipun banyak, sayang sekali, tulisan-tulisan itu jarang dibaca. Dalam berbagai survei media, rubrik opini dan editorial (OP-ED) umumnya adalah rubrik yang paling sedikit pembacanya. Ada beberapa alasan kenapa rubric kolom, opini atau esai jarang diminati:

Terkadang esai itu terlampau serius dan panjang, orang mengganggap tulisan rubrik opini terlampau serius dan berat. Para penulis sendiri juga sering terjebak pada pandangan keliru bahwa makin sulit tulisan dibaca (makin teknis, makin panjang dan makin banyak jargon, khususnya jargon bahasa Inggris) makin tinggi nilainya, bahkan makin bergengsi. Padahal itu keliru! Tulisan seperti itu takkan dibaca orang banyak.

Kering, banyak tulisan dalam rubrik opini cenderung kering, tidak “berjiwa”, karena penulis lagi-lagi punya pandangan keliru bahwa tulisan analisis haruslah bersifat dingin: obyektif, berjarak, anti-humor dan tanpa bumbu.

Menggurui, banyak tulisan kolom dan esai bahkan opini terlalu menggurui (berpidato, berceramah, berkhotbah), sepertinya penulis adalah dewa yang paling tahu.

Sempit, tema spesifik umumnya ditulis oleh penulis yang ahli dalam bidangnya (mungkin seorang doktor dalam bidang yang bersangkutan). Tapi, seberapa pun pintarnya, seringkali para penulis ahli ini terlalu asik dengan bidangnya, terlalu banyak menggunakan istilah teknis, sehingga tidak mampu menarik pembaca lebih luas untuk menikmatinya.

Berbeda dengan menulis untuk jurnal ilmiah, menulis untuk koran atau majalah adalah menulis untuk hampir “semua orang”. Tulisan harus lebih renyah, mudah dikunyah, ringkas, dan menghibur (jika perlu), tanpa kehilangan kedalaman—tanpa terjatuh menjadi tulisan murahan.

Bagaimana itu bisa dilakukan? Kreatifitas. Dalam era kebebasan seperti sekarang, seorang penulis dituntut memiliki kreatifitas lebih tinggi untuk memikat pembaca. Pembaca memiliki demikian banyak pilihan bacaan. Lebih dari itu, sebuah tulisan di koran dan majalah tak hanya bersaing dengan tulisan lain di koran/majalah lain, tapi juga dengan berbagai kesibukan yang menyita waktu pembaca: pekerjaan di kantor, menonton televisi, mendengar musik di radio, mengasuh anak dan sebagainya.

Mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius, panjang dan melelahkan, tantangan para penulis esai lebih besar lagi. Dari situlah kenapa belakangan ini muncul “genre” baru dalam esai, yakni “creative non-fiction”, atau non-fiksi yang ditulis secara kreatif. Dalam “creative non-fiction”, penulis esai mengadopsi teknik penulisan fiksi (dialog, narasi, anekdot, klimaks dan anti klimaks, serta ironi) ke dalam non-fiksi. Berbeda dengan penulisan esai yang kering dan berlagak obyektif, “creative non-fiction” juga memungkinkan penulis lebih menonjolkan subyektifitas serta keterlibatan terhadap tema yang ditulisnya. Karena memberi kemungkinan subyektifitas lebih banyak, esai seperti itu juga umumnya menawarkan kekhasan gaya (style) serta personalitas si penulis.

Di samping kreatif, kekuatan tulisan esai di koran atau majalah adalah pada keringkasannya. Tulisan itu umumnya pendek (satu halaman majalah, atau dua kolom koran), sehingga bisa ditelan sekali lahap (sekali baca tanpa interupsi).

“Creative non-fiction” bukan “genre” yang sama sekali baru sebenarnya. Pada dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an kita memiliki banyak penulis esai/kolom yang handal, mereka yang sukses mengembangkan “style” dan personalitas dalam tulisannya. Tulisan mereka dikangeni karena memiliki sudut pandang orisinal dan ditulis secara kreatif, populer serta “stylist”.

Para penulis itu adalah: Mahbub Junaedi, Goenawan Mohamad, Umar Kayam, YB Mangunwijaya, MAW Brower, Syubah Asa, Dawam Rahardjo, Abdurrahman Wahid, Arief Budiman, Mochtar Pabottingi, Rosihan Anwar, dan Emha Ainun Nadjib. Untuk menunjukkan keluasan tema, perlu juga disebut beberapa penulis esai/kolom lain yang menonjol pada era itu: Faisal Baraas (kedokteran-psikologi), Bondan Winarno (manajemen-bisnis), Sanento Juliman (seni-budaya), Ahmad Tohari (agama), serta Jalaluddin Rakhmat (media dan agama).

Bukan kebetulan jika sebagian besar penulis esai-esai yang menarik itu adalah juga sastrawan—penyair dan cerpenis/novelis. Dalam “creative non-fiction” batas antara fiksi dan non-fiksi memang cenderung kabur. Bahkan Bondan (ahli manajemen) dan Baraas (seorang dokter) memiliki kumpulan cerpen sendiri. Dawam juga sesekali menulis cerpen di koran. Namun, pada dasawarsa 1990-an kita kian kehilangan penulis seperti itu. Kecuali Goenawan (“Catatan Pinggir”), Bondan (“Asal-Usul” di Kompas) dan Kayam (Sketsa di Harian “Kedaulatan Rakyat”), para penulis di era 1980-an sudah berhenti menulis (Mahbub, Romo Mangun, Sanento dan Brower sudah almarhum).

Pada era 1990-an ini, kita memang menemukan banyak penulis esai baru—namun inilah era yang didominasi oleh penulis pakar ketimbang sastrawan. Faisal dan Chatib Basri (ekonomi), Reza Sihbudi, Smith Alhadar (luar negeri, dunia Islam), Wimar Witoelar (bisnis-poilik), Imam Prasodjo, Rizal dan Andi Malarangeng, Denny JA, Eep Saefulloh Fatah (politik) untuk menyebut beberapa. Namun, tanpa mengecilkan substansi isinya, banyak tulisan mereka umumnya “terlalu serius” dan kering. Eep barangkali adalah salah satu pengecualian; tak lain karena dia juga sesekali menulis cerpen. Sementara itu, kita juga melihat kian jarang para sastrawan muda sekarang menulis esai, apalagi esai yang kreatif. Arswendo Atmowiloto, Ayu Utami dan Seno Gumiro Adjidarma adalah pengecualian. Padahal, sekali lagi, mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius (panjang dan melelahkan), tantangan kreatifitas para penulis esai lebih besar lagi. 

Kenapa esai astronomi Stephen Hawking (“A Brief History of Time”), observasi antropologis Oscar Lewis (“Children of Sanchez”) dan skripsi Soe Hok Gie tentang Pemberontakan Madiun (“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”) bisa kita nikmati seperti sebuah novel? Kenapa tulisan manajemen Bondan Winarno (“Kiat”) dan artikel kedokteran-psikologi Faisal Baraas (“Beranda Kita”) bisa dinikmati seperti cerpen?

Hawking, Lewis, Hok Gie, Bondan dan Baraas adalah beberapa penulis “pakar” yang mampu mentrandensikan tema-tema spesifik menjadi bahan bacaan bagi khalayak yang lebih luas. Tak hanya mengadopsi teknik penulisan populer, mereka juga menerapkan teknik penulisan fiksi secara kreatif dalam esai-esai mereka. Untuk mencapai ketrampilan penulis semacam itu diperlukan sejumlah prasyarat dan sikap mental tertentu:

Keingintahuan dan Ketekunan:
Sebelum memikat keingintahuan pembaca, mereka harus terlebih dulu “memelihara” keingintahuannya sendiri akan sesuatu masalah. Mereka melakukan riset, membaca referensidi perpustakaan, mengamati di lapangan bahkan jika perlu melakukan eksperimen di laboratorium untuk bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka tulis. Mereka tak puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali. Sebab, jika mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis, bagaimana mereka bisa membaginya kepada pembaca?

Kesediaan untuk berbagi:
Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas atau hanya untuk pembaca tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin memakai istilah teknis atau jargon yang khas pada bidangnya; mereka menggantikannnya dengan anekdot, narasi, metafora yang bersifat lebih universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas. Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang “rumit” dan sulit dibaca adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan struktur tulisan sederhana, seringkas mungkin, untuk memudahkan pembaca menelan tulisan.

Kepekaan dan Keterlibatan:
Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul lebih intens dengan kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan dan penjual sayur di pasar?
Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang “sastrawi” jika dia bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan alam dan suka merenungkan berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung Semeru).

Menulis catatan harian serta membuat sketsa dengan gambar tangan maupun tulisan seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial yang beragam mengasah kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap tragedi, humor dan berbagai aspek kemanusiaan pada umumnya.

Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang indah melainkan karena dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

Kekayaan Bahan (resourcefulness):
Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya bukan penulis yang “berkacamata kuda”. Dia membaca dan melihat apasaja. Hanya dengan itu dia bisa membawa tema tulisannya kepada pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa saja (dari komik sampai filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood), mendengar musik (dari dangdut sampai klasik). Dia bukan orang yang tahu semua hal, tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang diperlukannya: di perpustakaan mana, di buku apa, di situs internet mana.

Kemampuan Sang Pendongeng (storyteller):
Cara berkhotbah yang baik adalah tidak berkhotbah. Persuasi yang berhasil umumnya disampaikan tanpa pretensi menggurui. Pesan disampaikan melalui anekdot, alegori, metafora, narasi, dialog seperti layaknya dalam pertunjukan wayang kulit.

Yang Bisa Dijadikan Tema Esai:
Kebanyakan penulis pemula mengira hanya tema-tema sosial-politik yang bisa laku dijual di koran. Mereka juga keliru jika menganggap tema-tema seperti itu saja yang membuat penulis menjadi memiliki gengsi. Semua hal, semua aspek kehidupan, bisa ditulis dalam bentuk esai yang populer dan diminati pembaca. “Beranda Kita”-nya Faisal Baraas menunjukkan bahwa tema kedokteran dan psikologi bisa disajikan untuk khalayak pembaca awam sekalipun.

Ada banyak penulis yang cenderung bersifat generalis, mereka menulis apa saja. Namun, segmentasi dalam media dan kehidupan masyarakat sekarang ini menuntut penulis-penulis spesialis.
-Politik lokal (bersama maraknya otonomi daerah)
-Bisnis (industri, manajemen dan pemasaran)
-Keuangan (perbankan, asuransi, pajak, bursa saham, personal finance)
-Teknologi Informasi (internet, komputer, e-commerce)
-Media dan Telekomunikasi
-Seni-Budaya (film, TV, musik, VCD, pentas)
-Kimia dan Fisika Terapan
-Elektronika
-Otomotif
-Perilaku dan gaya hidup
-Keluarga dan parenting
-Psikologi dan kesehatan
-Arsitektur, interior, gardening
-Pertanian dan lingkungan
Pilihlah tema apa saja yang menjadi minta Anda dan kuasai serta ikuti perkembangannya dengan baik. Fokus, tapi jangan gunakan kacamata kuda.

Mencari ide tulisan:
Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya. Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).

Merumuskan masalah:
Esai yang baik umumnya ringkas (“Less is more” kata Ernest Hemingway) dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek. Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.

Mengumpulkan Bahan:
Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan dan sebagainya.

Menentukan bentuk penuturan:
Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog. Tapi, tema yang lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak narasi serta deskripsi yang diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis memilih bentuk penuturan yang ajeg untuk setiap tema yang ditulisnya:
-Dialog (Umar Kayam)
-Reflektif (Goenawan Mohamad)
-Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari)
-Humor/Satir (Mahbub Junaedi)
Tata Bahasa dan Ejaan:
Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan tanda hubung? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).

Akurasi Fakta:
Tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita tulisa secara benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?

Jargon dan Istilah Teknis:
Hindari sebisa mungkin jargon atau istilah teknis yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Kreatiflah menggunakan deskripsi atau anekdot atau metafora untuk menggantikannya. Hindari sebisa mungkin bahasa Inggris atau bahasa daerah.

Sunting dan Pendekkan:
Seraya menulis atau setelah tulisan selesai, baca kembali. Potong kalimat yang terlalu panjang; atau jadikan dua kalimat. Hilangkan repetisi. Pilih frase kata yang lebih pendek: melakukan pembunuhan bisa diringkas menjadi membunuh. “Tidak” sering bisa diringkas menjadi “tak”, “meskipun” menjadi “meski” dan sebagainya.

Pakai kata kerja aktif:
Kata kerja aktif adalah motor dalam kalimat, dia mendorong pembaca menuju akhir, mempercepat bacaan. Kata kerja pasif menghambat proses membaca. Pakai kalimat pasif hanya jika tak terhindarkan.

Tak menggurui:
Meski Anda perlu menunjukkan bahwa Anda menguasai persoalan (otoritatif dalam bidang yang ditulis) hindari bersikap menggurui. Jika mungkin hindari kata “seharusnya”, “semestinya” dan sejenisnya. Gunakan kreatifitas dan ketrampilan mendongeng seraya menyampaikan pesan. Don’t tell it, show it.

Tampilkan anekdot:
Jika mungkin perkaya tulisan Anda dengan anekdot, ironi dan tragedi yang membuat tulisan Anda lebih “basah” dan berjiwa.

Jangan arogan:
Orang yang tak setuju dengan Anda belum tentu bodoh. Hormati keragaman pendapat. Opini Anda, bahkan jika Anda meyakininya sepenuh hati, hanya satu saja kebenaran. Ada banyak kebenaran di “luar sana”.

Uji Tulisan Anda:
Minta teman dekat, saudara, istri, pacar untuk membaca tulisan yang sudah usai. Dengarkan komentar mereka atau kritik mereka yang paling tajam sekalipun. Mereka juga seringkali bisa membantu kita menemukan kalimat atau fakta bodoh yang perlu kita koreksi sebelum diluncurkan ke media.

Apa yang umumnya dipertimbangkan oleh redaktur esai/opini untuk memuat tulisan Anda?

Nama penulis:
Para redaktur tak mau ambil pusing, mereka umumnya akan cepat memilih penulis yang sudah punya namaketimbang penulis baru. Jika Anda penulis baru, ini merupakan tantangan terbesar. Tapi, bukankah tak pernah ada penulis yang “punya nama” tanpa pernah menjadi penulis pemula? Jangan segan mencoba dan mencoba jika tulisan ditolak. Tidak ada pula penulis yang langsung berada di puncak; mereka melewati tangga yang panjang dan terjal. Anda bisa melakukannya dengan menulis di media mahasiswa, lalu menguji keberanian di koran lokal sebelum menulis untuk koran seperti Kompas atau majalah Tempo.

Otoritas:
Redaktur umumnya juga lebih senang menerima tulisan dari penulis yang bisa menunjukkan bahwa dia menguasai masalah. Tidak selalu ini berarti sang penulis adalah master atau doktor dalam bidang tersebut.

Style dan Personalitas:
Tema tulisan barangkali biasa saja, tapi jika Anda menuliskannya dengan gaya “style” yang orisinal dan istimewa serta sudut pandang yang unik, kemungkinan besar sang redaktur akan memuatnya.

Populer:
Koran dan majalah dibaca oleh khalayak yang luas. Tema tulisan harus cukup populer bagi pembaca awam, tanpa kehilangan kedalaman. Bahkan seorang doktor dalam antropologi adalah pembaca awam dalam fisika. Kuncinya: tidak nampak bodoh dibaca oleh orang yang paham bidang itu, tapi tidak terlalu rumit bagi yang tidak banyak mendalaminya.
Inti atau point penting dalam menulis esai atau kolom ialah, pesan apa yang ingin anda sampaikan pada pembaca, dan cobalah awali menulisnya dengan jujur. Lalu tulislah, jangan terlalu banyak bicara.

Teknik Menulis Resensi Buku


Dalam media massa, entah itu surat kabar atau pun majalah, resensi sering diistilahkan bedah buku, timbangan buku, atau kajian buku. Resensi itu sendiri merupakan suatu tulisan yang bertujuan untuk memberikan pertimbangan atau penilaian tentang suatu buku yang baru diterbitkan kepada pembaca. Melalui resensi tersebut, para pembaca bisa mendapatkan suatu informasi, penting atau tidaknya suatu buku. Layak atau tidaknya dibaca untuk pembaca.

Seorang penulis resensi atau biasa disebut resentator akan memberi pertimbangan kepada pembaca secara seimbang, baik kelebihan maupun kekurangan suatu buku yang diresensinya. Saya mencoba membagikan informasi yang penting khusus bagi saya, umumnya bagi sahabat semua, bagaimana menulis resensi buku secara pemula. Referensi dari buku yang berjudul “Belajar Efektif Bahasa Indonesia” terbitan Intimedia.
Berikut Menulis Resensi Buku:

1. Cari dan tentukan buku baru nonfiksi yang akan kita resensi.

2. Catatlah identitas buku yang akan kita resensi, seperti jenis buku, judul buku, nama pengarang, nama penerbit, tahun terbit, tahun cetak, jumlah halaman, jenis kertas dan harga buku.

3. Catat dan pahami tujuan dan latar belakang penulisan buku, dengan cara membaca kata pengantar atau pendahuluan buku.

4. Apa tema atau inti isi buku?

5. Apa yang ingin disampaikan pengarang melalui bukunya? Pada bagian ini, kita dapat menyampaikannya menjadi ikhtisar buku.

4. Buatlah daftar pokok-pokok isi buku secara keseluruhan.

5. Tentukan kelebihan dan kekurangan isi buku, dengan memperhatikan hal-hal berikut:

a) Apakah ide-ide pokok yang diuraikan sesuai dengan tujuan penulisan buku?
b) Apakah pengungkapan ide-ide pokok dalam buku tersebut tersusun secara sistematik?
c) Apakah antara bagian satu dengan bagian lainnya tersusun secara harmonis?
d) Apakah bahasa yang digunakan penulis mudah dipahami? (pilihan kata, struktur kalimatnya, gaya bahasanya, dan lain-lain).

6. Reproduksi hasil catatan kita dalam bentuk tulisan resensi dengan menggunakan bahasa kita sendiri secara runtut dan jelas, dengan memperhatikan penulisan tanda baca yang benar.

7. Pada akhir resensi berilah saran dan kesimpulan, apakah buku yang kita resensi tersebut layak dibaca atau tidak.

Saran dan apa yang saya tulis mengenai artikel ini, semoga bisa menjadi berguna dan bermanfaat.

Monday, August 1, 2016

Sekali Bertemu Setelah Itu Haru




Lihat, ia begitu menawan dengan rambut barunya 
Duduk memangku laptop hanya untuk menunggu
Bayangannya tersamarkan oleh jendela, tapi
Itu cukup indah walau dipandang dari seberang jalan

Pertemuan itu seolah romansa terakhir bagiku
Walau tak ada pelukan atau ciuman
Setidaknya aku sudah menemukan gelora
Diantara gairah dan kerelatifan asmara

Ia menyapa dan aku tersipu entah berapa lama
Rupanya romansa-nyata lebih menantang
Daripada bercinta melalui telfon gengam
Maklum, sewaktu terpisah kami seolah semu

Kuharap ia tak murung tentang masa depannya
Bagaimanapun kau tetap puan pemegang bulan
Karena tak ada malam yang indah tanpa sinarnya
Maka, akupun berterimakasih atas romansa-mimpi ini

Lebih dari setahun saling menunggu
Tak lebih dari tiga pertemuan singkat dilewati
Saling mengenal dan memegang janji
Setelah itu kembali terbangun dan saling memahami

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 02 Agustus 2016.

Untuk Nurul Syafa'ati Irsyad