Wednesday, November 30, 2016

Semusim Bersama Pemuda Pemudi Penyakitan


Kenyamanan bersanding dengan gegabahnya angin
Menepuk pundak dan mendobrak ingin
Kemana lagi malam akan berpaling
Hanya sekali aku tersadar

Beribu nasihat dari ia yang kesal
Tumpah-ruah hujatan kutelan habis
Aku masih nyaman dan takmau keluar
Sekumpulan srigala meninabobokan takdir
Memalingkan keseharusan untuk sejenak berkata

“ini kenyataan, bukan dunia utopis dambaan pemuda penyakitan”

24 jam terasa sebentar dan tak cukup mengantar
Semua keihklasan mempersiapkan masa depan
Hanya dengan duduk dan mengobrolkan kemunafikan
Menghakimi moral tak berakal
Mengidam-idamkan dunia impian
Dari akal-akal yang diupayakan masuk akal

Setiap detik mereka dikejar pencapaian
Godaan mereka ialah keinginan mereka yang terdalam
Mengupayakan nasib agar berpihak dan tak segan memberika kenyamanan
Tak sadarkah mereka kalau rasa nyaman sudah ditangan

Kemauan kelam dihapus dengan hitam yang tersamar
Ungkapan langit tiap detik terlontar dan dipegang

“hey, aku punya pedang dan kau hanya setebal leher ayam”

Padahal setiap pembicaraan mereka
Bakal berhenti pada tindakan karbitan
Yang sekali memuncak setelah hilang dihirau kepuasan

Antara kemunafikan atau ketuntasan berkehidupan
Disaat kesampatan tak diimbangi dengan kemampuan
Dimana kekuatan dimanfaatkan seolah kelemahan
Dikaruniai kesadaran tapi dengan efek samping kemunafikan

Sesungguhnya tiga tahun belakangan ini, untuk apa
Benarkah takdir membawaku kedalam sumur kering
Atau justru menenggelamkanku pada samudra lumpur

“aku tak menyesal dan aku sadar akan semua pesan-pesan tuhan”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desember 2016.

Adakalahnya Semua Harus dibiarkan Saja


Bayangkan senja datang dengan gegabah
Burung-burung walet terbang membentuk sumur
Mata-mata tetua desa mulai menerka
Akankah ada badai atau hujan murka

Bagai musim, semua ada maksud dan tanda
Ilmu-ilmu tak ilmiah diantah anta-berantah
Keraguan akan sebuah pembuktian memang sulit menyakinkan
Untuk menyakinkan saja, perlu depat tilap-telaah
Apalagi membiarkan semua tetap tak ilmiah

Membiarkan yang tak ilmiah
Menyakini atau menolaknya
Entah percaya atau membantah
Tapi ilmu ini lama diterima
Percaya atau tidak, tapi ini nyata
“padat wibawa, syarat umpamaPenuh metafora berbalut gairahMencoba mengolah hikmah dan hidayahMenjadi telaah, pasti ada maksud dan pesanKenapa kita memakai umpama atau ilmu-raya”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desember 2016.

Jangan Kaget Kalau Ditinggalkan


Apa yang kau banyangkan, jika terbagung ditengah petang
Dengan bekas jejak yang meninggalkanmu
Semua terasa kosong dan menyadarkan
Semua hal, tapi menyakinkan bahwa kita sendirian
Dan akan sendirian

Kabar malam mulai menagih pulang
Kesadaran mulai membutuhka perhatian lebih
Harapan kecil mulai dikesampingkan
Kewajiban seolah memukul untuk dikerjakan
Andai semua hal dapat di anak tirikan
Mungkin aku lebih sering mendua

Bagaimana mungkin bayangan lahir
Dan membunuh kenyataan dengan metafora
Membuat semua kabar burung
Menjadi berhala-berhala musiman

Aku tak ingin melukai takdir
Tapi aku jago mengakali diri-sendiri
Sungguh runyamnya akal sehatku
Bahkan sampai tertipu syahduh

Malam memang kelam
Saat aku mulai bersaing pembuktian
Manusia lebih sering menimang angan
Daripada menyadari peran masing-masing

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desemeber 2016.

Ingkarilah Kenyataan

Perahu mulai menepi
Badai sebentar lalu pergi
Sering sekali, dan aku tak memahami
Apa rumus waktu perlu dikelabuhi

Baru-baru ini ada rawa tak berpenghuni
Tak hijau namun penuh kabut putih
Tenang aku hanya mengarang
Jangan berang, kan ini hanya terkaan

Berbohong
Bukankah semua suka berbohong
Lihat, rasakan berapa kebohongan
Yang kita produksi dan kita konsumsi
Sampai bersama-sama kita amini

Kebohongan, berbohong, membohongi, dibohongi
Dan kita hidup damai dengan itu
Ingat ini

“Berbohong jika tak bohong”

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 01 Desember 2016.

Wednesday, November 16, 2016

Teruslah

Memandang jauh jalan
Seakan perlu bersabar
Tergesah namun pelan
Seperti menerima masa depan

Melupa serta menimang
Kunang-kunang diladang
Mulai menghilang
Begitu persis seperti kenangan

Terus menggerus
Ambisius hingga haus
Panas-panas sangat ganas
Perlulah kita bergegas

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.

Umpat


Menempa umpatan agar tak tersimpan
Membuatkan ruang terang dalam tidurnya
Hanya sebentar saja
Ia berujar tanpa mau di dengar
Melakukannya seperti lebih
Mengherankan dibanding diam

Namanya juga halusinasi
Pasti akam duduk dan takmau kemana-mana
Saatnya nanti

Nofianto Puji Imawan
Gunung Arjuno, 01/09/2016.

Penasehat Weton

Lihat apa yang ia lakukan
Terlahap penasaran hingga gelagapan
Apapun yang ia dulu katakan dan inginkan
Bakalan hilang dan dibayar oleh hasrat lima-menitan

Sungguh sayang-bukan!
Janji dan harapan tulus
Tiba-tiba dihantam bualan teman
Perempuan datang lalu mencengkram

Andai aku mampu mencegahmu
Nyatanya ucapakanku hanya bunga tidur
Dikala kau berburu petuah dan nasehat
Bukankah memang begitu nyatanya

Bukan tak memaklumi
Bodohnya aku kalau kompromi hal itu
Sekali melakukan, setelah itu habis dan hilang
Semua ambisi dan ketulusan perjuangan
Menuruti keinginan
Yang menjulang

Kau lelaki dengan wajah berang
Mengejar harapan sambil menggila
Tak pernah tenang apalagi bimbang
Malu-malu sedikit tapi menggigit
Memang bajingan
Tak kau dengarkan aku

Selama masih dan terus
Apa bernai kau berbijak hati
Dan membicarakan takdir serta weton
Dihadapanku

Menerka, menebak, mudah penasaran
Sehina malam tanpa hujan
Berbalut dosa yang sempurna
Aku tak menghakimi atau menyesal
Siapa aku
Siapa kau itu

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/11/2016.

Penenun Kisah Semu

“Sedang apa kau”

Apa indah mengingatmu
Apa perlu melihatmu
Aku malu mengenangmu

Untuk sehari yang ambigu
Aku datang dan kau terharu
Sampai kini ku mengaku
Bahwa hal itu membunuhku
Entah dalam waktu
Seolah romansa semu

Cukup sebentar
Kau datang
Dan dengan lantang
Kau meninggalkanku
Seolah ingin melupakan
Kisah penenun sapu tangan

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 05/10/16.

Untuk Nurul Syafaati Irsyad

Pertemuan Yang Ditemukan

Ini malam bukan anak haram
Yang dilahirkan untuk teguran
Seolah tiada masa depan
Dan langsung dibuang di jalan

Kumpulkan saja serpihan kelam
Walau kadang itu melelahkan
Perlu ruang untuk mengenang
Setiap perang sebelum tenang

Dipertemukan orang-orang pilihan
Walau kadang itu melelahkan
Semoga jalan masih lenggang
Dan aspal masih menghitam

Disekali malam
Kita dirajut dan ditimang
Untuk tenang
Selagi berang

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 04/10/2016.

Serah


Ia menduga kehendak
Kepastian mutlak yang telak
Bukan tak percaya atau apa
Tapi ini begitu tak terelak

Kapan diam, kapan dendam
Tau apa yang dilakukan
Gelisah, marah, lelah, dan resah
Membuntuti seperti pengembala

Mengutik tak tertawa
Hanya teriak sukar berdoa
Mempunyai tongkat penuh wibawa
Namun kesepian ditengah prahara

Di pojok bilik pondok berlapis seng
Suara nafas hingga dengkuran
Lebih keras dibanding jangkrik
Banyangan lilin seolah paling berharga

Dingin, lelah, malas, gegabah, serta gairah
Seolah melebur dengan tenang
Dan menghilang
Sesaat sebelum subuh datang

Nofianto Puji Imawan
Gunung Arjuno, 01/09/2016.

Kadang


Menempatkan kenyakinan dengan memaksa
Apa perlu membicarakannya sekarang
Kadang aku gelisah dengan itu
Terlalu banyak tau dan terlalu malu

Harusnya ia diam saja
Begitupun telingannya
Jangan liar mendengarkan
Mulut itu perlu kecewa

“Namannya terang”

Nofianto Puji Imawan
Gunung Arjuno, 01/09/2016.

Meninggalkan Ia Yang Tertidur


Mengenai rumus tak ada anak yang menurut orang tua
Memang terdengar sangat miris
Apa yang harusnya dipatuhi
Atas kemunafikan ini

Untuk tujuan yang sebentar
Seperti ingkar kuasa malam
Hanya memandang dan meninggalkan iba
Semua terasa semalam saja

Tak tau serta kecewa mendalam
Binggung ingin apa, sesederhana itu
Semuanyapun seperti sebentar
Kembalinya ingin bersama mimpi

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 10/09/2016.

Pejalan


Menyimpan umpatan
Agar tak menggangu
Memandang aspal
Sampai hafal
Bahwa angan-angan
Makin menyesatkan
Dan membungkam tindakan

Pejalan
Makin pelan
Terasa sangan nyaman
Memegang ucapan
Harusnya aman
Namun nyatanya jarang
Ada yang diam

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.

Memenuhi

Suara dendam memenuhi nurani
Banyangan angan seolah membebani
Kapan terakhir kalinya manusia merasa sepi
Sampai mati, kapan manusia akan menjauhi ilusi

Ilusi memupuk ambisi
Menutupi akal dan keberanian
Membutakan lawan-haluan
Serta membiarkan ambisi

Sekali menipu
Maka hati akan tercacati
Setelah itu mati rasa
Memenuhi semua pancaindra

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.

Hasileg


Aku tak hanya heran
Atas buih dan kesurupan jaman
Semua menikam dengan kejam
Padahal kita tak diciptakan
Hanya untuk saling merajam

Kisah kelam diumbar
Telinga-telinga lebar merekam
Lontaran kata-kata liar
Dimaklumi hanya untuk mengetahui
Apakah nasibmu akan berarti
Tanpa ingin hanyut dan menyesali

Indahnya hal ini
Saling jujur untuk mengisi
Kekosongan dan arti hari
Supaya tak sia-sia nanti

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 04/10/2016.

Jalani Saja


Sweater itu masih milikmu
Semenjak meninggalkan kotamu
Aku seolah rindu sampai terharu
Walau sebenarnya aku masih malu

Aku tau, aku memang gegabah
Kaupun bertanya ragu padaku
Romansa singkat yang memikat
Bukan maksudku menggerutu
Atau bermain rasa dengamu

Tajam mata itu
Seolah menyihirku sejenak
Irama ucapanmu begitu syahdu
Entah mulai darimana
Kau melakukan itu padaku

Sekali lagi kita jauh dan taktau
Keraguan masih mungkin menyelimutimu
Akupun begitu
Kuharap kau masih mau
Menunggu

Tenang saja
Sweatermu masih dikamarku
Tak sekalipun kusentuh
Hanya kupandang sesekali
Untuk membiasakan rindu
Padamu yang jauh

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 29/10/16.

Edan Tenan


Semua kutunda dengan gegabah
Seoalah yakin bahwa esok masih ada
Berani membayangkan dan merencanakan
Yang sebenarnya tak tau

Maklum saja
Manusia memang serakah
Berkehendak semaunya
Menundapun se’enaknya

Selalu berandai-andai
Bahwa esok akan seperti ini
Mencoba merencanakan masa datang
Seolah ia hidup sepanjang jembatan layang

Menyalahkan nenek moyang
Memperdebatkan kenyataan
Seolah-olah mengerti dan paham
Kalau semua mulai tak sejalan

Menyalahkan keadaan
Berfikir dengan dugaan
Logika atau perasaan
Seolah pasangan akhir jaman

Jika malam tenggelam
Bulanpun remang-remang
Saat mendung datang
Semua berfikir bahwa akan hujan

Siapa yang edan
Melogikakan takdir kehancuran perdaban
Kalau bukan manusia berjubah hitam
Dan membawa menyan

Daun jatuh bukan tanda kematian
Keindahan tak semata-mata senangnya tuhan
Bencana besar tak hanya peringatan belaka
Bukankah semua pancaindra mulai gelagapan

Melihat tanda-tanda akhir jaman
Yang mulai terang-terangan
Menebarkan ketakutan
Tapi tenang
Semua bakal dihiraukan
Oleh kita sendiri

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 08/11/2016.

Gemilang



Rimba bualan malam gemilang
Menyelimuti upaya ingin pulang
Disaat godaan sedang menimang
Angan-angan itu muncul menghilang

Sekali bosan
Dan dikagetkan
Rencana bualan
Ambisi remang-remang

Semua mulai gegabah
Bertahan dan tercecer
Tinggal waspada
Dan tunggu hasilnya

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.

Biar


Biar terang tak menyilaukan
Agar malam tak menegangkan
Untuk menemukan jalan
Di ujung gelisah yang mudah hilang

Akar akan tetap tumbuh
Hingga ranting mulai patah dan jatuh
Dedaunan bersemi
Buah, bunga menipu kenyataan

Untuk sebentar menyilaukan
Gerak, malu, dan penyakit
Akal manusia yang teracuni
Oleh penawarnya sendiri

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 09/09/2016.

Delusi Pemimpi

Diam-diam malam mulai kurang ajar
Satu-persatu kami mulai ditimang
Terlena memang menyenangkan
Terasa tenang seolah masalah lenyap
Harapan memang seolah pandai menipu akal
Menutupi kenyataan dengan bunga-bunga kertas
Penebar pesona

Akankah ini akan terus berulang
Siklus pelana pemuda jaman berang
Hanya sebentar namun mampu
Merambat hingga melarutkan nalar
Sekali itu saja, mampu membunuh semua

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 07/09/2016.

Durjana Penebar Tanya


Mendengarkan nada hingga berbusa
Memaksa panca indra hingga berdarah
Umpama ini ciptaan manusia
Mungkin sudah lebur dan musnah

Aku tak bisa menjawab
Pertanyaan paling mudah dalam diriku
Sebenar-benarnya waktu
Apa harus merelakan
Atau hanya membelenggu
Segala sesuatu yang perlu dan butuh

Selama mungkin
Sesaat yakin
Sampai ingin
Dan hilang dilebur angin

Mendengar kisah pemuda resah
Diambang percaya dan kecewa
Yakin dan ragu seolah menderu
Lebih baik tak tau
Atau mati menggerutu

Bisa apa atau apa bisa
Menimbang amanah
Dengan tubuh penuh darah
Semoga tak seperti itu

Tapi takdir selalu hadir
Tanpa perlu dipikir

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 04/10/16.