Thursday, December 29, 2016

Di Bawah Payung Hitam Ku Berlindung


(Terinspirasi dari lagu yang awalnya “yang hujan turun lagi, dibawah payung hitam ku berlindung....hehehehe)

Bocah-bocah mulai lumrah dengan rokok
Walaupun kini sudah banyak yang memakai vapor
Pemuda-pemudi begitu rindu akan sex bebas
Sampai-sampai minimarket sering kehabisan stok kondom

Kecewa serta pelarian dibuat alasan
Yang dilarang kenapa selalu menyenangkan
Peraturan dibuat untuk dilanggar
Kadang semua perlu penyeimbang

Ah

Ada yang baik sedikit, dan yang tidak makin membukit
Kejujuran setidaknya mulai tumbuh, kebohongan malah kabuh
Kesadaran kian bertambah, munafik tambah melejit
Budaya hemat sudah ditanamkan, tapi pemborosan lebih keliahatan

Kata kotor lumrah diucapkan, katanya cirikhas daerah lokal
Buang sampah sembarang sudah berkurang, malah sampahnya di sembunyikan
Katanya sadar dan tau peran, lihat itu sepertinya masih ingin dapat banyak uang
Korupsi sedikit demi sedikit di tuntaskan, nyatanya masih kecolongan

Kesetian diutamakan, ternyata banyak janda masuk koran
Sering kunjungan ke pengajian, tapi masih bohongi teman
Ingin berbeda dari yang lainnya, malah ikut-ikutan gayanya
Ingin kaya dan terkenal, sama diri sendiri saja tak kenal

Aduh

Kapan ada waktu kita ketemuan
Tiga kali lebaran tak kunjung kasih kabar
Nanti kubayar setelah gajian
Malah kabur bawa uang perusahaan

Dasar

Munafik ?, oh tidak
Hipokrit ?, jelas bukan
Realistis ?, tipis sih
Manusiawi ?, mendekati
Kompromis ?, boleh juga
Idealis ?, tidak sama sekali
Selektif ?, sangat
Perhitungan ?, wajib itu
Bajingan ?, tidak dong
Saudara ?, so pastilah

Ini pasti bener?

Pemuda-pemudi Indonesia. Benar sekali

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 29 Desember 2016.

Iman Tak Sekadar Percaya


Sudahkah aku mencaritau siapa diri kita
Sudakah kita tau apa tujuan kita
Sudahkah kita yakin dengan keyakinan kita
Benarkah kita punya pilihan dalam hidup
Berapa persen yang kita ketahui dan yang tidak
Lalu pantaskah kita menyombongkan diri

Diantara air yang menghantam dan perempuan yang dirindukan
Aku duduk untuk kembali menenangkan pikiran yang terlalu liar
Sengaja untuk diam dan membuang semua kekeliruan
Kembali meluruskan niat dan mencoba menyelsaikan ujian
Saat datang hujan, maka tak segan malam menelan
Menenangkan pria-pria ditengah buaian lirik lagu kasih sayang
Sembari menelan perempuan-perempuan yang lupa kodrat alam

Sayangnya semua akan kembali hilang
Keraguan, pilihan, keyakinan, cara pandang, nikmat tuhan
Segala sesuatu yang nyata bakal dikubur dan hancur
Seperti kisah akhir jaman yang penuh penghakiman
Dan seluruh kitab akan bersaksi
Ditengah puluhan matahari

Lagi-lagi aku membual
Pertanyaan berbalut keresahan
Kemarahan yang dipendam
Kasih sayang yang dipalsukan
Gumam dendam diantara iman
Keyakinan yang meragukan
Sampai tak ada pilihan
Selain kembali meluruskan iman

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 29 Desember 2016.

Wednesday, December 28, 2016

Bocah Wifi Id dan Nostalgia Keresahan

Kurang bajingan apa coba, disaat lagi asik-asiknya download tiba-tiba gerombolan bocah kecil berumur kurang lebih 12 sampai 14 tahun datang dan duduk di depanmu lalu dengan menghisap vapor, mengeluarkan rokok surya, mendengarkan musik EDM dan hiphop lalu teriak-teriak anjing, fuck, bangsat, tai, asu, kadal, babi, ayam, mujaer, cok, ngewe, tetek, dan sebagainya. Lalu sebagian joinan rokok surya, dan spontan ngomong putusin aja semua wifi disini. Kampret...(dan itu semua dilakuin didepanmu pas, banyang sekali saja, kira-kira apa yang bakal kamu lakuin?).

Sekadar intermezzo saja. Menurut hemat saya, kini banyak anomali kejadian aneh yang lucu namun miris dan sangat tragis terjadi. Kebanyakan dikarenakan perkembangan zaman, teknologi, informasi, dan menurunnya moralitas masyarakat atau bahasa akademiknya dekadensi moral. Mungkin dari kalian yang sempat membaca tulisan ini pernah mengalami keanehan lucu seperti ini. Sepertinya memang edanisme sudah terlalu mengakar hingga ke sel-sel tubuh. Dimana semua yang salah menjadi lumrah, yang seharusnya benar malah mengherankan, bahkan di Youtube, sudah berapa hal bodoh yang di videokan lalu diupload dan viewersnya sangat banyak. Banyangkan berapa banyak anak kecil yang sudah bercita-cita menjadi Youtubers, dan berapa banyak kejadian aneh yang gara-gara Facebook, bahkan berapa kali media massa membahas sebuah Twet di Twitter dan itu menjadi pembahasan publik. Apapun yang penting bagi publik dialihkan dan yang tidak penting bagi kita malah di bahas bahkan di permasalahkan. Tapi sudahlah, dijaman edan tak semua menjadi edan, tapi yang pasti di jaman edan ialah ketidak mungkinan untuk menjadi lebih baik (tentunya semua hal).

Tak mungkin semua lebih baik, karena rumusnya ialah semua akan hancur dan sebelum kehancuran pasti ada yang namanya proses menuju kehancuran ya...seperti makin banyak bencana alam, makin membinggungkannya konstalasi global, eksplorasi sumberdaya alam yang over, moral manusia yang tambah tai, yang kaya makin kaya, yang bodoh malah bertambah, munculnya hipokrit-hipokrit kecil, banyaknya kejahatan yang dibiarkan, banyak orang memilih bekerja keras demi dunia seolah-olah ia hidup selamanya, banyak negara memperkuat basis militer mereka, teknologi makin canggih dan membuat kita pragmatis, semua manusia diubah menjadi konsumtif, meluangkan banyak waktu untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting secara umum dan membenarkan diri sendiri, menjadi munafik seolah realistis, banyak homo dan lesbi bahkan ada yang bisex, transgender, insex, sampai-sampai di era emansipasi ini semua diterima walaupun menyimpang dari agama, salah kaprah dianggap lumrah, dan banyak keresahan lainnya bahkan mungkin kalian lebih banyak menyimpan keresahan tentang segala hal yang sudah tidak biasa ini.

Semua ini berawal dari kebiasaanku yang memilih wifi id dibanding internetan dirumah. Fasilitas wifi id sekarang lebih nyaman dibanding warnet, tau sendirilah bagaimana wifi id sekarang. Menjanjikan kecepatan internet yang sangat cepat walaupun tidak secepat iklannya. Ya minimal bisa lancar streaming Youtube dan Vimeo. Namun semua itu relatif, kecepatan internet, fasilitas, kenyamanan, dan keamanan kadang kembali kediri masing-masing, apa kalian nyaman dengan wifi.id atau lebih nyaman tetring internet melalui handphone, mungkin lebih enak internetan dirumah, tapi tidak mungkin kalau sekarang masih nyaman pakai warnet (mau buka bokep aja susah). Khusus buat daerah yang masih belum dapat akses internet pasti dimaklumi kalau masih pakai warnet. Tentunya bagiku wifi id sangatlah menyenangkan, bisa membuatku betah hingga berjam-jam sampai lupa harus menyelsaikan skripsi. Kenapa bisa lama di wifi id (tau sendirilah kalau cowo internetan itu ngapain).

Untuk sekadar mendownload file kita kadang-kadang dibikin terlena untuk membuka banyak hal, seperti video di Youtube dan mendownload file di Torrent terutama film terbaru. Banyangkan saja terlalu banyak akses informasi yang begitu mudah yang seharusnya bisa membuat ente makin efesien malah sebaliknya. Bagaimana mau efesien kalau mau download file dokumen sebesar 121 Kb malah kesasar mendownload film sebesar 2 Gb, ya nunggu lama dan sangat tidak efesien. Entah sistem apa yang dipakai wifi id untuk membuat kita rela berjam-jam duduk sambil menghadap laptop daripada tadarus di musolah.

Fenomena bocah sekarang juga menjadikan logika para orangtua pada angkat tangan. Bocah globalisasi kadang lebih mengerti bagaimana membuat program android serta coding dibanding memahami bagaimana taat kepada orang tua. Kurang ajarnya bocah selalu membuatku kembali nostalgia saat dulu, kompromiku selalu muncul disaat aku menyadari kalau aku dulu sangat kurang ajar sama orangtua.

Sepertinya alangkah baiknya jika kita lebih kompromi akan kurang ajarnya zaman, dengan selalu mendengarkan lagu-lagu metal atau musisi yang tak terkenal. Mereka selalu mengajarkan bahwa tak semua yang terlihat menjanjikan selalu menjanjikan dan melakukan apa yang kita suka terkadang tak baik untuk dilakukan. Jargon lakukan yang kamu suka alangkah baiknya jika direvisi dengan jargon “lakukan yang orang suka” supaya zaman ini tak makin edan gara-gara kalian ok, tapi manamungkinlah.

Tapi ya ndak semua yang terlihat benar memang benar, kadang yang baik belum tentu tepat, bahkan yang tepat belum tentu nikmat.

Monday, December 26, 2016

Semua Ingin Kreatif dan Produktif

“Obrolan Malam Bersama Kumat Productions di WAKO Mojokerto - Menyoalkan Konten Kreatif dan Produktifitas Dalam Berkarya”

Tak bermodal namun kreatif dan bermodal tapi kurang produktif, atau bermodal dan kreatif serta produktif menghasilkan karya. Obrolan berjam-jam yang kulakukan semalaman dengan pemuda-pemuda bernama Apenk, dan Tegar yang baru saja melanjutkan kuliahnya di bidang film & broadcast. Menghasilkan berbagai keresahan, antara menjadi yang berbeda atau memilih menjadi yang pertama. Karena kalau takbisa menjadi yang berbeda, cobalah menjadi yang pertama. Skenario terburuknya, kalau takbisa menjadi yang berbeda atau yang pertama cobalah mencari cela dimana kejenuhan akan maraknya konten kreatif di media sosial dan internet tentunya, karena sekarang semua ingin menjadi kreatif dan selalu mencoba memproduksi karya dengan alasan ingin mendapat keuntungan materi dan menambah eksistensi untuk sebuah alasan pribadi di era global, MEA, atau pasar bebas. Untuk menciptakan karya entah visual, audio, audio-visual, teks, atau kombinasi dari beberapa elemen tersebut. Dimana karya tersebut mampu diterima atau minimal dilirik sebagian viewers diruanglingkup terdekat, entah keluarga, teman, kelompok, komunitas, atau khalayak diregional tertentu. Walaupun melalui internet seluruh dunia mampu mengaksesnya, namun jangan sampai salah target audiens. Karena semua kembali ke tujuan dan niat awalnya.

Keinginan yang berdasarkan idealisme kadang kala menjadi pisau bermata dua. Obrolan ini berawal dari pertanyaan “sibuk apa sekarang?” dan pertanyaan itu pasti dijawab dengan deskripsi panjang tentang apa yang kita lakukan, punya rencana apa, apa yang sudah berjalan, bagaimana prosesnya, apa kendalanya, mengapa seperti itu, mulai kapan, sekarang bagaimana, rencananya seperti apa, apa yang sudah didapat, kerugiannya sebesar apa, dan itu sangatlah menyebalkan. Dimana kami harus menjawab bergantian dengan kondisi warung yang penuh nyamuk dan harga kopi yang sangat tidak manusiawi, anehnya obrolan ini dimulai dari pukul sembilan malam hingga jam 2 dini hari. Entah sihir apa yang membuat kami betah membicarakan hal gaib seperti itu dengan begitu lamanya.

Membahas konten video dan film hingga vlog. Mungkin karena lagi tren dan mulai memenuhi platform Youtube. Kebetulan kami punya inisiatif membuat sebuah media indie atau media kecil kecilan yang bergerak dibidang kreatif entertaiment. Membuat karya hingga mencoba mencari kesempatan untuk menghasilkan materi guna memenuhi kebutuhan pribadi, ya minimal bisa buat ngopi atau kuliah. Mungkin karena itulah kami membahas hal seperti ini. Mulai dari bagaimana sekarang, apa project dan kondisi masing-masing kesibukan kita, mulai dari Kumat Productions (Semacam Production House) dan Majazine (Media Indie). Awalnya obrolan ini selalu membahas kendala, kondisi yang buruk, minim dana, tidak adanya penghasilan dan masing-masing sibuk dengan kesibukan sendiri-sendiri seperti kerja sampingan, kuliah dan lain sebagainya. Kebetulan kita bergerak satu regional yang sama yaitu Mojokerto, kota kecil yang dengan dengan Surabaya. Aku yang mulai bertanya-tanya dengan bagaimana cara membuat konten video yang menarik hingga mencari orang yang idenya gila. Dan dilanjutkan dengan membahas peralatan sinematografi atau videografi yang super tai anjing itu. Membuat kami semakin membicarakan hal-hal yang tak nyata ini. Seoalah olah semua hanya sekadar bicara dan bermimpi (sekadar teman mimpi). Maklum dari kami tidak ada yang punya peralatan videografi atau kamera yang lengkap, kadang untuk sekadar liputan event saja kami pinjam kamera, itupun bukan kamera video, namun kadang kamera poket paling bagus yang DSLR yang standart ABG alay. Ini hanyalah sebuah catatan obrolan yang tak jelas, nanti pembahasannya bakal aku tulis di postingan selanjutnya. Jadi ini hanya intermezzo saja. Intinya sebenarnya terletak di paragraf awal. Sekarang pertanyaannya ialah, apa harus kreatif dulu atau modal dulu, atau apa harus kedua-duanya. Dan mengapa harus begitu?

Jawab di komentar kalau tau, kalau tidak ya tidak apa-apa. La wong ini juga tidak penting-penting amat, amat juga ya tidak penting. So just journal.

Friday, December 2, 2016

Hiprokrit Elektrik



Menenun kenangan diatas angan
Ia berkata kalau hujan datang tanpa lisan
Sebentar lagi kau akan merasakan
Setetes demi setetes air diatas pelipis

Terenyuh dan tiba-tiba tersadar
Matahari dan hingar-bingar hanyalah cadar
Menutupi semua keindahan
Layaknya angan-angan dikala malam

Aku membuta untuk mengerti
Hal terkecil yang sering dianggap kerikil
Kau seringkali bertanya
Seberapa kecil kita diantara semesta

Kuharap kau menerima
Runyamnya rasa
Gelisah, tak tau ingin apa
Selama belum sadar jua
Akan indahnya dunia

Selama resah
Kau seolah manusia
Pencerna realita
Mengulang kesalahan takberarti
Mengingkari suara hati
Setiap kali hingga mati

Nofianto Puji Imawan
Mojokerto, 01 Desember 2016.