Tuesday, May 30, 2017

Mumpung


Uforia awal bulan ramadhan di dusunku memang tak semeriah malam tahun baru kemarin. Itulah dusunku, dimana kesederhanaan yang kadang terlupakan oleh segala aktivitasku di kota tetangga (Mojokerto). Ini bukan nostalgia tentang dusun dan segala dinamikannya. Ini cukup kusebut instropeksi, disaat banyak orang memilih saling menasehati orang lain hingga melupakan dirinya sendiri, ditengah dikotomi antara kelakuan yang ‘masih’ buruk dan ucapan yang ‘sungguh’ mulia serta bijaksana. Kadang aku menemukan jurang yang dijembatani pemakluman dan toleransi, bahwa tak semua manusia mampu menjalani apa yang mereka sendiri ucapkan, begitupula sebaliknya.

“saiki akeh uwong seng apik omonge tapi lakune elek, onok yoan seng lakune apik sampek gak onok omonge terus kurang toleran karo liyane.” Ujar Wak Breng, salah seorang ustad di dusunku yang juga bapak angkat serta guru ngajiku hingga kini.

“ojok ditiru kelakuane, di rungokno omongane ae” ujar seorang guru yang enggan disebut namanya.

“kabeh bakal mati, dilok’en saiki tonggomu dewe, jektas wisuda, terus saiki moro-moro wes mati gara-gara loro tipes. Padal winggi sore lak mbok ter’i berkat me’geng’an seh”, tegas ibu waktu pulang tarawih di hari ke’lima di bulan ramadhan tahun ini.

“imbang’ono antara ndunyo ambek sanggumu engko’ nang akherat, soale mene-mene seng nulung nang kono ora konco, dulur, wong tuomu, utowo pacarmu, tapi ibadahmu lan opo seng ko’ lakoni nang ndunyo saiki. Dadi lek ngejar nduyomu mok banterno, ibadahmu yo kudu mok kebut, lek ora mbok imbangi ngunu, iso-iso kowe nyesel dewe. Ben ora nyesel lek moro-moro di kode karo gusti pe’geran”, tambah Wak Breng.

Untungnya

Sekitar tahun 2012 aku menempuh perkuliahan di Madura dengan bekal barokah kedua orangtua. Aku tak pernah punya keinginan kuliah atau melanjutkan sekolah. Karena bagiku waktu lulus sekolah menegah kejuruan (SMK) di Mojokerto, bekerja lebih menjanjikan dan jelas dibanding kuliah. Mungkin waktu itu aku sedikit terdoktrin oleh dogma SMK, bahwa apa yang diajarkan di bangku perkuliahan tak jauh berbeda dengan sekolah, lawong sama-sama sekolahnya. Begitu juga jaminan kalau lulus kuliah lebih mudah mendapat kerja dibanding lulusan SMK, ternyata itu terbantahkan. Semua menjadi tak pasti, perkembangan jaman telah membuat segala kerelatifan makin relatif dan sulit diprediksi. Madura menjadi lingkunganku selama 4 tahun lebih menghabiskan studi S-1, banyak perubahan terjadi. Disaat aku masuk sebuah jurusan atau program studi serta kampus yang aku sendiri masih asing dan kurang kuminati, seolah jadi masalah klasik.

Syukurlah waktu jadi mahasiswa baru yang punya masalah dengan siklus adaptasi, aku bertemu dengan teman, saudara, dan kelompok yang tepat di kampus yang berada tak jauh dari pelabuhan Kamal Madura ini. Sebuah organisasi berkedok jurnalistik yang berisi lelaki-lelaki berambut gondrong, perokok berat, suka mabuk, pandai memikat perempuan, lihai ber-retorika, mudah bergaul, pintar berkelih, berwawasan luas, punya ide-ide kreatif, sangat rendah hati, suka berbicara kotor, punya banyak film porno, jago nulis, semangat melawan mayoritas, minoritas militan, sering mengingatkan untuk beribadah, tulus memberikan sesuatu, jujur dalam mendidik, berbakat bermain alat musik walaupun masih amatiran, lihai menggambar, tak suka melawan orang tua, gengsinya tinggi, sering melawan arus, anti-mainstream, suka yang orang lain tak suka, sering mengalah, selalu menyuruh untuk beli rokok dan kopi, matanya selalu betah untuk begadang, prestasinya segudang, punya kemampuan indra ke’enam, berprinsip, sering telat kuliah, mantan guru pencak silat, pernah keliling indonesia, pelupa yang ekstrim, pokoknya lebih jago daripada yang lainnya. (mohon maaf untuk keterangan lebih lanjutnya bisa langsung kotak saya saja).

Bertemunya saya dengan organisasi pers mahasiwa paling kece abizz di kampus Universitas Trunojoro Madura (UTM) ialah titik balik yang cukup besar dalam hidupku sejak tahun 2012 dan masuk disebuah Universitas pinggiran di Madura yang satu-satunya negeri ini. perubahan ini begitu kompleks, dimana semua yang kutahu, kumengerti, dan kupahami sama sekali terbantahkan dan terasa begitu sepele setelah memutuskan untuk bergabung dalam sebuah ikatan keluarga bernama Spirit Mahasiswa ini. (untuk detailnya dalam perubahan dan apa saja yang ku alami saat bergabung dengan Spirit Mahasiswa akan saya jelaskan dalam esai lain dan bakalku post di blog ini, tunggu ya...)

Setelah itu, kelulusanku yang cukup biasa saja menjadi sebuah catatan penting bahwa akhirnya aku bisa melaksanakan dan menyelsaikan salahsatu perintah orang tua sampai selesai. Tapi hal ini bukanlah sebuah kelulusan atas ujian hidup, malah kelulusan kuliah menjadi bentuk baru ujian dalam menjalani hidup yang sebenarnya (alay sekali paragraf ini). namun, syukurlah dalam kelulusan perkuliahan ini aku lebih paham akan melakukan apa dan melanjutkannya seperti apa. Banyak keinginan, harapan, cita-cita, ambisi, dan kemunafikan yang kubuang. Walau pada akhirnya aku memilih menjalankan amanah dari orang tua untuk mengabdi pada yayasan pendidikan yang berada di Kota Mojokerto sebagai guru seperti profesi kedua orang tuaku. “barokah orang tua bakalan muncul jika kamu mampu mengesampingkan keinginan dan ambisimu untuk lebih mendahulukan atau memilih apa yang dikehendaki orangtuamu sendiri”. Bukankah itu cukup menjadi tantangan sendiri dalam hidup, dimana puncaknya ialah menghilangkan ke’akuan untuk jadi yang bukan aku. Banyak tawaran kerja yang lebih menjanjikan dibanding profesiku sekarang. Namun apalagi yang lebih indah disaat kita diposisikan sebagai anak pertama, kalau bukan membahagiakan orang tua selagi masih ada. Cukup sederhana sekali, memang banyak sebenarnya hal yang ada dipikiranku saat ini, namun aku ingin menuliskan hal sederhana yang kadang kulupakan disaat menemukan banyak hal baru saat ini. kesederhanaan itu ialah keluarga, kebersamaan, ibadah, dan rasa syukur dalam hidup. sesederhana anak yang punya keinginan tulus untuk berperan sebagai anak yang sebenar-benarnya anak.

Bumbu-Bumbu

Selain menjalani profesi sebagai guru, aku masih melakukan banyak kegiatan-kegiatan penyalur hobby dan memuaskan keinginan. Seperti menulis, membaca, belajar gitar, membuat sebuah media musik, videografi, dan merealisasikan ide-ide kreatif yang masih amatiran. Sampai banyak mendapat berbagai kesempatan-kesempatan yang sama sekali tak kuperkirakan. Semua ini tak jauh dari Kota Mojokerto, kota ini menawarkan banyak sekali hal yang mudah membuat nyaman seseorang. “ati-ati nang mojokerto, mojokerto iku apik alam’e tapi wong-wong’e bosok kabeh”, ujar salah seorang saudara serta guruku dan blogger cabul yang tak mau disebutkan namanya. Sejak SMK aku sudah mengenal Mojokerto, bahkan sewaktu TK sampai SD aku sudah dibawa ke Mojokerto karena orang tua mencari nafkahnya di Mojokerto. Tepatnya di sebuah yayasan atau sekolahan yang awalnya sebagai tenaga pengajar jurusan teknik otomotif. Sedangkan rumahku sendiri berada di Jombang. Sewaktu SMK tepatnya tahun 2008 awal aku mulai masuk dan berkenalan dengan orang namun waktu itu aku masih sepolos-polosnya anak daerah yang masih suka main motor, jadi fans persebaya, fanatis sama slank dan jadi slanker tanpa KTA, dan masih malu kalau naik motor standart (motor kalau ada 2 spion itu aku masih malu pakainya, karena waktu itu kamu bakal keren kalau kamu pakai motor modif atau minimal spion harus satu).

Sedangkan waktu kuliah di tahun 2012 sampai 2017 awal, aku berkenalan dengan Mojokerto baik itu alamnya, lingkungannya, masyarakatnya, pemuda dan pemudinya dalam posisi berbeda. Anak kuliahan yang tertarik dalam banyak hal dan masih haus rasa ingin tau dan rasa penasaran bercampur pengetahuan yang masih kulit luar serta tertarik pada, persoalan budaya, sosial, politik, ekonomi, anomali, fenomena, gerakan yang berbau kiri, kesenjangan sosial, dunia fotografi, jurnalistik, vespa, dan kolektif movement. Diajaklah aku masuk dari sebuah kelompok pemuda-pemudi pencinta musik reggae dan lingkungan para aktivis kebudayaan waktu itu oleh kakak serta saudaraku di Spirit Mahasiswa bernama Abang-J’R. 

Berkedok ingin belajar fotografi, dipertemukan aku dengan Mas Pai, disebuah tempat bernama Saung Tanah Lumpur dan langsung menjabat Kang Pai dan berkata, “kang saya Nofi, saya ingin belajar fotografi dari njenengan”. Dari situlah aku dipertumukan dengan berbagai manusia dan fenomena yang cukup membuatku berkata kotor berkali-kali. Melihat kesenjangan sosial dari potret lensa kamera, mencoba menemukan berbagai hikmah realitas masyarakat Mojokerto dari sebuah pasar dan warung kopi, mencoba memahami jalan pikiran seseorang dari cara ia berbicara, mencoba masuk dalam sebuah kelompok yang sama sekali tak ada hubungannya denganku, belajar memahami kompleksitas hidup hanya dengan mendengarkan, dan mencoba memaklumi manusia lainnya serta banyak lagi.

Setelah itu, aku lebih sering dan intens berkumpul dengan pemuda-pemudi atau kelompok pemuda di Mojokerto dibanding di Jombang, hingga lebih memilih menghabiskan hari bersama teman-teman serta saudara-saudara baruku di Mojokerto dibanding di dusun atau di Jombang. Hal ini membuat makin kompleksnya aku masuk dalam berbagai lingkungan dan kelompok masyarakat. Mengetahui inilah, mengerti itulah, memahami inilah. Sampai aku dicap atau dilabeli sebagai imigran gelap dan pendatang yang sedang menjajah Mojokerto. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai menemukan banyak hal menarik yang didampingi oleh segala permasalahan yang cukup fundamental di Mojokerto, baik itu mengenai alamnya, kulturnya, budayanya, orang-orangnya atau permasalahannya. Mulai dari, Mas J’R, Mas Pai, Mesin Sampink, Warung Miki, Soekarno Straat, Ring 8, GSTL, Sepat Jamz, Jamaiska, Angkringan Gaes, Bapak/Ibu Saiku, Mas Nanang, Warung Rakyat, Orchid Management, Save Trowulan, Saung Tanah Lumpur, Kang Didik, Event Musik, Event Reggae, Komunitas Vespa, Wak Igan, Warung Punokawan, Warung Jadoel, Mbah Salim, Mbak Yudha, Tempat-tempat mistis, problematika hidup yang lucu, kesenjangan sosial, uforia karbitan, kepedulian palsu, saling tipu-menipu, kebersamaan, gotong-royong, grudak-gruduk ngak jelas, dan banyak sekali yang kalau disebutkan bakalan makin membuat tulisan ini tidak jelas dan di block oleh Google. 

Kini ditahun 2017 di bulan Mei, mojokerto punya dinamika yang membuatku memahami hidup dengan lebih sederhana. Bekerja di Mojokerto, bergaul dengan alam dan manusia-manusia di Mojokerto, dan lebih ingat siapa diriku yang sebenarnya. Menjadi catatan penting yang sebenarnya lebih dari apa yang aku tuliskan disini. Allah, Orangtua, Adik-Adikku, Keluarga, Dusun, Jombang, Madura, Spirit Mahasiswa, Mojokerto, dan segala hal yang membuatku menjadi seperti saat ini. Makin membuatku bersyukur dan perlu menyeimbangkan antara ibadah dan keduniawian. Menyederhanakan bukan berarti mengurangi esensi atau entitas tapi kembali mengingat siapa aku, tujuanku apa, dan kembali berserah diri pada sang pencipta (Istiqomah).
Semakin kesini arah tulisan ini semakin alay dan menyerupai artikel-artikel motivasi serta pengakuan dosa. Maklum, namanya juga amatiran. Lumayan, yang penting menulis dengan jujur dan tidak meng’ada-ada.

Tuesday, March 14, 2017

Rasa Syukur Sebelum Tidur


Bukankah menarik jika sejenak meluangkan waktu untuk melakukan apa yang kita sukai. Walaupun tak terlalu penting. Membicarakan impian hingga larut malam, berbincang dengan para ahli mimpi dikala senggang, menebak masa depan sampai lupa waktunya pulang, belajar sambil dihajar, membicarakan orang hingga tertawa terpingkal-pingkal, saling mengingatkan segala kekuranggan meski sedikit dangkal, menghubungkan segala hal yang takberhubungan, mempelajari filsafat ala berandalan, menjadi gelas kosong hingga ember bocor, memahami kerumitan cara pandang era global, memaklumi perbedaan dengan candaan khas jawatimuran, atau jalan-jalan tanpa menentukan tujuan.

Bukankah itu cukup mengasikkan, walau sedikit memalukan. Beginilah cara kami menghabiskan waktu akhir-akhir ini. Berkumpul dengan satu alasan, memimpikan hal yang sama, dan menikmati segala pertemuan hingga terluta-lunta oleh rasa nyaman. Meski hanya berbincang santai di warung kopi kecil disudut kota pinggiran dengan akses wifi gratisan, atau sekedar menikmati segala proses dalam mewujudkan mimpi kami masing-masing. Banyak hal yang tak kucatat sejak awal, entah karena aku benar-benar menikmati semua pertemuan ini atau terlampau malas karena terlalu kenyang. Hal penting memang sepantasnya dicatat, namun lebih banyak hal penting yang lebih baik dikenang.

Kini, semua seolah lebih baik. Bulan ketiga di tahun 2017, walau musim makin tak besahabat, tuntutan hidup makin memaksa kita menjadi munafik. Setidaknya masih ada ruang untuk jujur dan mengatakan bahwa apa yang kita lakukan kemarin dan hari ini sudah mampu membahagiakan segala hal selain diluar diri kita. Seperti kami, tiap malam bertemu di tempat sederhana dan berbincang mengenai mimpi, imajinasi, musik, pekerjaan, keingintahuan, dosa dan dusta atau sekedar berbincang hal-hal dangkal tentang hidup. Beginilah cara kami menikmati kesempatan yang diberikan tuhan. Sesederhana kenyataan yang selalu jujur berbicara bahwa belum tentu besok kita masih bisa melakukan segala hal yang sudah kita rencanakan kemarin atau hari ini.

Kita masih hidup dengan cara kita masing-masing. Ketentuan dan nasib semakin menjadi misteri saat kita berusaha keras untuk menebak dan memperkirannya. Ada hal sepele yang kita sering lupa. Kita berusaha keras untuk merencanakan segala hal tentang esok dan nanti. Apa yang kita harapkan dari esok, dan apa yang kita peroleh dari kemarin.

Wednesday, March 8, 2017

Silsilah Salah Arah


Sejak musim sulit ditebak
Dan mitos selalu diabaikan
Adakalanya kita kembali mengingat
Bagaimana kita dilahirkan
Dibesarkan dengan ketidaksiapan
Hingga dijauhkan dari kebenaran

Hampir saja kita dibiarkan meraba
Segala kebohongan yang diyakini
Dan kesepakatan tanpa dasar
Yang senantiasa dipegang teguh
Begitulah cara kita dikembangbiakan
Oleh orang tua dan segala sisa-sisa kemunafikan

Sejak kisah-kisah perjuangan dibukukan
Sejarah tutur dalam berbagai versi diceritakan
Dalam otak kita mengendap banyak timbal
Hingga ingatan kita sering tak lancar karena menyumpal
Banyak dogma-dogma tentang kebajikan
Dan imbuhan-imbuhan metafora tentang harapan

Sepantasnya kita mempertanyakan
Apa pantas kita melanjutkan peran
Jika sejak dilahirkan kita tak murni
Mengidap penyakit lupa diri
Kadang kalap tak mau berlari
Hanya menunggu dan sembunyi

Perlahan-lahan kita ditunjukan
Bagaimana cara kita dilahirkan
Kitapun memaklumi
Semuanya memang terlanjur begini
Bukankah kita sudah biasa dengan itu
Meskipun kadang waktu semakin rapuh

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 07/03/2017.

Saturday, March 4, 2017

Atas Nama Ambisi dan Obsesi Karbitan


Tiap pagi teriakannya begitu lantang
Pernah aku jengkel dan terharu olehnya
Rasa tanggung jawab berlapis kasih sayang
Membuat runtuh segala idealisme yang kupegang

Mengingatkanku tentang hal sederhana yang sering kita lupakan
Bukankah itu menjengkelkan
Disaat semua imaji serta impian
Lebih menggairahkan dibanding mensyukuri kenyataan

Entah apa aku punya kesempatan
Untuk mendahului takdir
Minimal mengetahuinya lebih dulu
Bedebah kurang ajar

Bukankah membangkang itu lebih mengasyikan
Dibanding taat dan menundukan kepala
Walau bakal sulit kaya dan kurus selamanya
Menolak realitas kadang terlalu melenakan

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 03/03/2017.

Tuesday, February 28, 2017

Keluarga dan Sederhananya Kita


Bau tanah ini begitu asing, seperti bau aspal basah. Hujan yang datang dua kali, membuat atap rumah kami kewalahan dan rusak. Air masuk dari berbagai sudut, tembok-tembok rumah yang lama-kelamaan merapuh dan ditumbuhi jamur hingga lumut. Selalu seperti itu, mungkinkah akan terus seperti itu. Dulu kami punya halaman rumah yang luas dan dua pohon kelapa yang tinggi melebihi tiang listrik di depan rumah. Kebun kami sungguh subur melebihi ladang padi milik tetanggaku. Kita tau, semua bakal berubah dan pasti lebih buruk. Tapi semua hanya soal waktu.

Kondisi mereka seperti biasa, mencoba tak mengatakan apapun tentang kesehatan dan isi pikiran mereka. Hanya sesekali kecolongan mengatakan yang sebenarnya. Sebagai anak, kami hanya menjalankan yang terbaik dan mencoba hidup dengan apa yang sudah diberikan. Kadang, kami (aku dan adik-adikku) bertingkah kurang ajar dan egois melebihi apapun. Tak jarang, kami bertengkar karena hal sepele. Tapi, bukankah itulah yang dinamakan keluarga. Semua terjadi sesederhana itu.

Kami hidup dengan pondasi yang biasa. Orang tua kami bukanlah keturunan orang hebat atau orang kaya, walau kamipun sebenarnya belum tau. Mereka berkerja sebagai guru, mengajar, menghabiskan waktu lebih banyak dengan mengajarkan apa yang mereka ketahui disebuah yayasan swasta dan pondok pesantren di pedalaman. Selalu menuntut kami sebagai anak, untuk beribadah dan jangan melupakan tiang agama. Bukankah itu cukup berkesan dijaman ini, dimana semua orang tua sedang kerja keras untuk mempersiapkan masa tua mereka dan menghidupi anak-anaknya dengan mengumpulkan materi sebanyak mungkin hingga melupakan keluarga mereka sendiri. Seolah-olah mereka akan tau sampai kapan terus hidup.

Kesederhanaan hidup, bukanlah penyepelaan tanggung jawab. Menjadi anak, bukanlah tugas yang mudah. Mempunyai saudara, adik atau kakak. Menjadikan kita makin belajar mengenai bagaimana kita dalam menjalankan peran yang sudah diberikan.

Aku masih beruntung mempunyai orang tua yang masih menemani hingga kini. Memang, lebih banyak kekecewaan daripada kebanggaan yang aku berikan. Semoga adik-adikku tidak sepertiku. Bukan hal mudah, tapi tak serumit apa yang kita pikirkan. Itupun jika kita masih mau berfikir. Menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik, itulah orang tua kami. Mengatakan yang perlu dikatakan dan menyimpan yang tak perlu dikatakan, karena jika banyak sesuatu yang seharusnya tidak perlu kita tau sebagai anak. Nanti kita akan merasakan sendiri jika berada diposisi seperti itu. Pilihan, konsistensi, dan melakukan yang paling tepat di waktu yang tepat. Bukanlah hal mudah, jadi maklum kalau setiap orang tua memilih menyimpan kenyatan yang tak perlu diceritakan.

Aku dan adik-adikku perlu menyadari bagaimana orangtua kami merawat keluarga ini. berangkat bekerja saat kami masih lelap tertidur dan pulang diwaktu ada kesempatan. Walaupun kembalinya mereka dirumah kami yang tak begitu megah ini hanya untuk istirahat dan kembali memimpikan semua cita dan cinta mereka. Setiap kami memandang mata mereka, nampak kelelahan dan harapan yang tinggi pada kami. Pengorbanan, serta tanggung jawab yang tak mungkin bisa dituliskan disini. Terkadang kata-kata terlalu membatasi maksud kita dalam menyampaikan pesan terhadap semua orang. Bukankah semua punya kelemahan.

Aku ingat beberapa hal indah, waktu ibuku mengantarkanku sekolah menggunakan sepeda onthel tua. Ia terlihat cantik dan membuatku tak mau jauh-jauh darinya. Aku ingat wajah bapakku waktu lulus kuliah. Mungkin banyak yang aku ingat, tapi sebaiknya tak kukatakan semuanya. Begitu menyenangkan melihat adik-adikku lahir dan menanggis dipangkuan mereka. Semuanya menjadi kenangan yang kuat menempel di kepalaku. Rasa bersalah, penyesalan, keinginan untuk melakukan yang terbaik untuk mereka mulai memantikku setiap waktu untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Bukankah menyenangkan jika kita kembali untuk mengingat hal yang paling sederhana dalam keseharian kita. Tanpa kebohongan dan melebih-lebihkan realitas yang pernah kita lalui dalam hidup. Akankah semua akan sesederhana keluarga.

Apa Yang Kita Lakukan Esok


Ada waktunya kita tak harus tidur
Menikmati nuansa malam dengan tenang
Menata semua hal yang berantakan
Kembali menjadi diri sendiri
Menemukan pilihan diatas tuntutan
Diantara rutinitas yang makin Buas

Sewaktu sisa air hujan menetes dari genting
Sesaat rimbun bambu tertiup angin
Sesekali aku teringat semua kenangan
Dan beberapa kesalahan yang terus berulang
Memang tak baik untuk kembali terlelap
Oleh rasa bersalah dan penyesalan

Aku tak bisa menebak nasib orang
Aku kira semuanya begitu
Tapi perkiraanku kadang salah
Perkiraan hanya perkiraan
Seperti harapan dan keinginan
Semua akan menuju satu pilihan

Kemanakah kita setelah ini
Lelap diatas tempat tidur
Berimajinasi diatas ketidakmampuan
Atau melanjutkan rutinitas yang tak tuntas
Menyalahkan kenyataan
Entah berapa kali kulakukan

Mengulang-ulang hal bodoh
Merencakan hal besar sampai gusar
Mempersiapkan sebuah pertunjukan
Menerka hari esok
Bukankah cukup menarik
Untuk seseorang yang bukan siapa-siapa

Apa yang kita pikirkan sebelum tidur
Apa hanya doa dan memupuk keinginan
Menambah harapan dan memperkirakan nasib
Atau menyesali yang telah lalu

Sebelum kita tertidur
Sebelum semua mulai kita sadari
Sebelum bangun dan mulai bernafas
Aku tidak berani menebak yang akan terjadi

Nofianto Puji imawan
Jombang, 28/02/2017.

Cita Tanpa Cinta


Hal terburuk apa yang pernah kita lupakan
Keindahan macam apa yang menjadi kenangan
Kasih sayang siapa yang meluluhkan kita
Atau kenyatan macam apa yang memaksa kita

Bertanya-tanya di tengah luapan amarah
Mengarungi samudra dunia hanya dengan pisau
Ia tak risau bahkan bergurau
Sedangkang tangannya gemetar
Dagunya terangkat keatas
Mengingat masalalu yang tak tuntas

Semua membekas dalam hati yang cadas
Tatapan itu sudah hilang ditelan gelombang
Apalagi yang tersisa dihati seorang manusia
Jika tinggal cita tanpa cinta

Ia menggamuk pada siapa
Teriakannya hilang perlahan
Purnama memanggil
Sayangnya ia berpaling

Sempat ia bercerita pada dirinya
Tentang kisah semesta dan romansa sementara
Ia bersama wanita bermata jingga
Yang sudah mengambil cinta dalam citanya

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 27/02/2017.

Sunday, February 12, 2017

Pertanyaan Atau Pernyataan


Romansa asmaraku tak begitu menarik untuk dibahas, pencapaian hidupku tak sejauh harapanku sendiri, keinginnanku berbanding terbalik dengan usahaku, dan sekarang aku tak lebih baik dari yang lainnya. Apa yang perlu dibanggakan, atau kubagikan pada kalian semua, baik di blog atau di media sosial tak lebih hanya pendapat yang tak musti benar namun setidaknya mampu memuaskanku.

Apakah kini semua orang, termasuk aku sendiri, selalu butuh sebuah peng-akuan dan ke-akuan. Membagikan yang ia ketahui, ia pahami, ia mengerti, ia alami, ia rasakan, ia adopsi, ia telaah, ia resahkan, ia lampiaskan, ia tunjukan, dan yang ia sembunyikan, lalu dishare di media sosial atau blog. Seberapa layak dan pantas aku membagikan apa yang ku ketahui pada kalian. Butuhkah kalian untuk mengetahui apa yang aku tau, atau perlukah kalian mengetahui apa yang orang lain ketahui. Apa kalian sudah tau apa yang sebenarnya kalian ketahui?

Saat apapun menjadi penting, dan sebaliknya. Apa yang akan kita lakukan? Benarkah semua butuh alasan untuk melakukan apapun, atau selama kita hidup, apa selalu butuh alasan untuk melanjutkannya. Seberapa banyak pertanyaan seperti itu kita sadari hingga menjadi keresahan yang harusnya kita simpan. Ada baiknya memang menyimpan banyak hal yang tak seharusnya diumbar. Sayangnya semua orang kini kesulitan membedakan mana yang harusnya disimpan dan disembunyikan dengan yang mustinya dikatakan. Berbohong dan jujur, mana yang sering kita lakukan. Untuk apa melakukan yang harusnya tidak dilakukan, apa karena alasan, untuk apa alasan tersebut melatarbelakangi sebuah tindakan. Apa memang semua kemunafikan selalu beralasan dan rata-rata alasannya hanyalah ketidakmampuan untuk melakukan yang harusnya dilakukan.

Ada apa dengan malam ini. Padahal hujan sudah reda, kopi pun mulai dingin, dan adzan mulai berkumandang. Apa tak sebaiknya aku bergegas meninggalkan tempat dudukku dan mulai sholat. Menjalankan kewajiban yang sering kutinggalkan dan kusepelekan. Tak baik memang, aku memang bukan orang baik. Setidaknya aku jujur atas itu, mengakui kekurangan sebenarnya bukan keahlianku.

Menyadari bagaimana semua hal berjalan, memang cukup menakutkan. Kejamnya cara bertahan hidup para manusia zaman ini membuatku ingin menghapus dan menghilangkan segala keinginan serta ambisi yang ada. Kegilaan hingga kemunafikan manusia zaman ini seolah-olah menyihirku untuk memilih tidak penting dapat apa-apa dari apapun. Melakukan yang terbaik dan jujur pada diri sendiri cukup kejejalkan dari pagi hingga pagi kembali.

Kini, apa yang kita inginkan makin lama makin bertambah. Tak pernah puas, dan makin serakah sudah menjadi kodrat. Semua berharap menjadi lebih baik, semua orang ingin lebih baik. Memang itu manusiawi, tapi kepastiannya ialah akan semakin hancur atau lebih sederhananya, semua hal akan semakin terdegradasi hingga menuju kehancuran. Peganglah rumus akhir zaman, atau ingat mati. Maaf kalau aku menyuruh dan menganjurkan sesuatu yang tidak kalian inginkan. Tapi dari semua tulisan ini tak lebih hanya sebuah simbol-simbol yang kita sepakati dan kurangkai untuk menyatakan apa yang kupikirkan saat ini dan akan selalu berubah tiap detiknya.

Tantangan Pendidik Jurusan Ilmu Komunikasi UTM


Menurut saya, sangat penting jika para dosen Ilmu Komunikasi berkualifikasi tinggi yang mengajar di S-1 memberi “dasar keilmuan yang kuat” pada para mahasiswanya. Tujuannya bukan untuk mengajarkan perkembangan teknologi media terbaru, karena dunia akademis pasti akan selalu kalah cepat dengan perkembangan teknologi informasi di industri media, yang terus berubah dan berkembang dari tahun ke tahun. (Satrio Arismunandar Jakarta, 26 Maret 2007)

Tulisan Ini diadaptasi dari Karya Satrio Arismunandar.

Kini, perkembangan dunia jurnalistik dan industri media memaksa adanya penyesuain dan aktualitas dalam penyusunan atau penerapan kurikulum hingga konsep pendidikan, khusunya di jurusan Ilmu Komunikasi di perguruan tinggi seperti UTM (Universitas Trunojoyo Madura). 

Apalagi bagi mahasiswa program Strata Satu yang memilih konsentrasi Jurnalistik atau media, kecuali Public Relations, Humas, dan Periklanan. Walau di Jurusan Ilmu Komunikasi UTM konsentrasinya sudah dihapus pada tahun 2013, dengan alasan output yang dihasilkan tidak sesuai (menurut yang saya dengar, jadi kalau salah ya mohon di maklumi, saya kan hanya orang polos yang tidak paham banyak hal). 

Penghapusan konsentrasi di jurusan Ilmu Komunikasi UTM waktu itu membuat banyak pertanyan yang timbul dibenakku, walaupun aku yakin bahwa pasti ada alasan yang kuat saat memutuskan penghapusan konsentrasi tersebut. Tapi, efeknya begitu meresahkan banyak mahasiswa angkatan sebelumnya. Ada yang harus mengulang kuliah, ada yang resah karena binggung melanjutkan semester dan memilih mata kuliah mana yang harus diambil, banyak konversi mata kuliah, hingga ada mahasiswa yang terhambat kelulusannya karena belum mengambil mata kuliah konversi. Mungkin itu hanya beberapa contoh persoalan, ada banyak persoalan lucu yang timbul akibat penghapusan konsentrasi di jurusan Ilmu Komunikasi UTM. 

Tapi sudahlah, sekarang jurusan Ilmu Komunikasi UTM mulai banyak kemajuan dan mulai banyak tenaga pengajar baru yang semoga saja bisa serius mendidik para mahasiswanya, yang notabene salah jurusan, buangan karena tidak diterima masuk di universitas yang diinginkan, bahkan ada yang mengatakan “saya kira UTM itu di Surabaya, taktaunya ternyata di Madura”, dan “Saya kira Jurusan Ilmu Komunikasi UTM itu sama seperti Jurusan Teknik Informatika atau berhubungan dengan komputer”. Begitu lucunya alasan mereka dulu saat ditanya kenapa masuk di Jurusan Ilmu Komunikasi UTM.

Mungkin ini sedikit lancang, tulisan ini mencoba memberi masukan kepada Jurusan Ilmu Komunikasi UTM dan tenaga pendidiknya, tentang perkembangan terkini di dunia jurnalistik dan industri media massa, dari sudut pandang seorang anak polos yang jarang keluar kos-kosan (bolehlah saya berpendapat, masak hanya praktisi saja yang boleh berpendapat dan mengutarakan kritik). 

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi UTM, saya ingin memberikan pendapat saya mengenai perkembangan jurnalistik dan wawasan mengenai media massa yang saya pahami dan mungkin bisa menjadi masukan untuk mengembangkan kurikulum yang ada di Jurusan Ilmu Komunikasi UTM.

Kita tau sendiri, kurikulum Ilmu Komunikasi di perguruan tinggi seperti UTM diharapkan agar bisa mengakomodasi kebutuhan di dunia industri seperti industri media, dan di saat yang sama kurikulum tersebut dirancang agar mendorong perkembangan Jurusan Ilmu Komunikasi itu sendiri. Untuk itu, ada beberapa gaya atau pola (trend) di industri media massa yang wajib diketahui dan perlu dicermati.

Dua aspek yang perlu kita perhatikan. Pertama, menyangkut hardware (perangkat keras) atau produk teknologi informasi dan komunikasi. Berbagai produk teknologi yang berkembang akhir-akhir ini praktis sudah menjelma menjadi medium-medium baru dalam penyampaian informasi. Atau lebih sederhana ialah fasilitas pendidikan yang disediakan untuk membantu proses belajar-mengajar antara tenaga pendidikan atau dosen dengan mahasiswa.

Kedua, ialah mengenai dinamika atau pergeseran struktur serta mekanisme dalam industri media itu sendiri, yang berakibat terjadinya perubahan pola kerja dan operasional industri media massa yang semakin dinamisnya industri media dan praktik proses permediaan hingga fenomena yang terjadi. Hal ini terjadi karena didorong oleh faktor-faktor lingkungan global, seperti proses globalisasi, yang imbasnya mempengaruhi industri media massa.

Perkembangan industri di lapangan memang begitu dinamis jadi proses pembuatan kurikulum serta konsep pendidikan yang dipakai di Jurusan Ilmu Komunikasi UTM wajib mengikuti perkembangan tersebut. Jangan sampai, diperkuliahan masih ribet mempelajari proses produksi televisi, sedangkan di industri media massa kontemporer sudah sampai tahap siaran live streaming. Diperkuliahan fokus membahas produksi media atau yang umumnya di Jurusan Ilmu Komunikasi UTM, produksi media ialah membuat film dan film, praktinya selama bertahun-tahun hanya membuat film saja sedangkan fasilitas yang disediakan hanya sepasang kamera kuno yang masih menggunakan minidivi serta sepasang tripod, dengan izin peminjaman dan administrasi yang cukup rumit.

Kita menyadari perkembangan media dam konteks, industri, pelaku, fenomena, anomali, persoalan, pengawasan, hukum, pemerintah, konten, efek, pengaruh, kontestasi, kepentingan, dan teknologi media massa begitu cepat berkembang. Ada yang ditinggalkan dan dirugikan, bahkan sebaliknya. Sedangkan dalam sebuah perkuliahan, seorang mahasiswa tak lebih hanya menerima pengulangan-pengulangan materi, ilmu, pengetahuan, praktik, dan wawasan berdasarkan literatur serta pengalaman tenaga pendidiknya atau dosen. Pengalamanku, banyak tenaga pendidikan di Ilmu Komunikasi UTM hanya seoalah-oleh membacakan dan menyampaikan ulang dari buku-buku yang mereka baca dan menceritakan pengalaman mereka dengan interpretasi yang dikombinasikan dengan realitas dilapangan. Jarang sekali aku menemukan ketulusan untuk mendidik dan menjadikan mahasiswa menjadi lebih cerdas atau baik dari mereka. Bukankah guru yang berhasil ialah membuat muridnya lebih cerdas dan baik darinya. Nyatanya proses tersebut jarangku temukan waktu merasakan proses perkuliahan di Jurusan Ilmu Komunikasi UTM. Yang ada hanya para dosen seolah hanya tertuntut untuk bekerja bukan mendidik. Alasan mereka tak lebih hanya bekerja sesuai porsi dan waktu, lalu dibayar. Bukan mendidik dan totalitas dalam mengajarkan sesuatu untuk mahasiwa mereka. Walaupun disisi lain mereka punya kehidupan sosial sendiri dan keluarga yang juga perlu diurus, setidaknya mereka memilih atau terpaksa menjadi pendidik dan dosen kan harusnya mengetahui konsekuensinya dan total didalamnya (mohon maaf kalau saya terlalu jujur, harap bisa dimaklumi, saya kan hanya anak polos).

Kembali ketopik, menurut Satrio Arismunandar globalisasi sebenarnya ingin menjadikan dunia sebagai satu pasar global. Ciri-ciri pokok globalisasi ialah: pergerakan bebas bagi gagasan, informasi, uang, tenaga kerja, produk dan jasa di tingkat global; makin tipisnya batas-batas teritorial antarnegara; serta terjadinya saling keterkaitan (interconnectedness) antara satu unsur dengan yang lain.

Globalisasi terlihat dari masuknya dengan mudah berbagai program televisi asing, untuk ditonton oleh publik Indonesia, baik melalui saluran televisi siaran yang biasa, maupun melalui TV kabel. Juga masuknya modal asing dalam industri media nasional, seperti pembelian sebagian saham ANTV oleh Star TV, yang merupakan bagian dari imperium media News Corp (Rupert Murdoch). Tekanan globalisasi makin meningkatkan iklim persaingan di dalam industri media.

Memaklumi Media Baru dan Kesadaran Memahami Kembali

Terjadinya konvergensi teknologi, menyebabkan lahirnya berbagai media baru, yang tidak secara sederhana dapat di pilah dengan kategori media konvensional atau elektronik. Sebagai contoh, telepon seluler atau HP (hand phone) yang sangat populer di Indonesia, pada awalnya hanyalah alat komunikasi pengganti telepon, yang memiliki keunggulan dari segi mobilitas (praktis dan mudah dibawa ke mana-mana). Namun, HP jenis terbaru kini tidak cuma sekadar alat buat mengobrol atau saling berkirim SMS (short message services). HP jenis terbaru memiliki fungsi yang beraneka ragam. Mulai dari kalkulator, notepad (untuk membuat tulisan), membuat presentasi, melakukan transaksi perbankan, menggantikan peran komputer biasa untuk menjelajah internet, mengirim dan menerima e-mail, menerima dan mengirim berita, bahkan menerima siaran televisi. Menurut Satrio Arismunandar, sampai kuartal ketiga tahun 2006, di seluruh dunia sudah terdapat 100 juta pengguna HP (3G), dan 264 juta sambungan saluran pita lebar (fixed broadband line). Diperkirakan, saluran tetap ini akan mencapai 500 juta dalam beberapa tahun.

Dalam terbitan Kompas, 15 Maret 2007, halaman 34 yang berjudul “TV Digital, TV Bergerak, dan IPTV.” Tercatat sudah lebih dari 120 operator ponsel seluruh dunia yang meluncurkan layanan TV bergerak, di mana lebih dari 90 persen mempergunakan jaringan seluler dua arah yang ada. Dari jaringan seluler ini ada lebih dari 2,5 miliar pengguna dengan teknologi unicast dan broadcast MBMS (multimedia broadcast multicast service). Artinya, dalam waktu yang tak lama lagi, ketika kita bicara soal audience media televisi, audience itu sebetulnya tidak lagi terbatas pada pemilik pesawat televisi konvensional (yang rating-nya secara rutin dicatat oleh lembaga AGB Nielsen Media Research). Tetapi juga mencakup pemilik HP (3G) dan pengguna komputer (yang juga bisa di-set untuk menerima siaran televisi).

Interaktifitas Media Kekinian

Berkat perkembangan teknologi Internet, media lama seperti televisi juga bisa berubah sifat atau karakternya. Jika sebelumnya penonton televisi hanya dapat bersikap pasif, dalam arti hanya bisa “pasrah” memilih dari sekian channel yang tersedia, kini mereka bisa bersikap jauh lebih aktif.

Secara teknologi kini sudah dimungkinkan munculnya IPTV (Internet protocol televisions) atau televisi Internet, yang teknologinya sudah dipamerkan di International Telecom Union World di Hong Kong, akhir tahun 2006. IPTV bisa berwujud siaran televisi biasa atau bank acara dan film yang dapat diakses penonton, mirip payTV di hotel-hotel berbintang.

IPTV memiliki banyak keunggulan ketimbang televisi siaran konvensional, karena si penonton bisa sesuka hati memutar ulang siaran yang terlewatkan. Selain itu, IPTV juga bisa membuat siaran menjadi interaktif. Sebagaimana teknologi lain yang berbasiskan Internet, kendali IPTV pun ada di tangan penonton.

Komentar terhadap sebuah siaran bisa langsung dikirim ke stasiun televisi bersangkutan. Bahkan si penonton bisa berbagi komentar dengan para penonton lain, karena setiap IPTV memiliki nama (account) tersendiri. Sambil menonton siaran, mereka bisa saling berkomentar melalui pesan pendek yang muncul di layar televisi.

IPTV bisa lebih personal, interaktif, HDTV (high definition television, atau memiliki ketajaman gambar yang sangat tinggi), dan mengintegrasikan layanan komunikasi dan video. Selain membuka peluang distribusi dua arah dan multiple-stream, IPTV menjadi awal layanan triple play, atau satu saluran untuk tiga macam layanan (telepon suara, hiburan/TV, dan internet).

Teknologi IPTV ini sudah berkembang di Eropa dan Amerika Utara, yang sudah memiliki infrastruktur komunikasi pita lebar. Di dua kawasan itu sudah empat juta rumah tangga tersambung dengan IPTV, dan diperkirakan pada tahun 2009, jumlah pelanggan akan meningkat cepat menjadi 36,8 juta. Di Indonesia sendiri, hambatan bagi penyelenggaraan IPTV adalah belum tersedianya saluran komunikasi pita lebar yang memadai. Perlu investasi yang sangat besar, karena harus mengganti perangkat dan jaringan yang lama.

Jurnalisme baru

Media internet sendiri, sebagai suatu media baru (new media), pada gilirannya juga telah menghadirkan sekian macam bentuk jurnalisme yang sebelumnya tidak kita kenal. Salah satunya adalah yang kita sebut sebagai “jurnalisme warga” (citizen journalism).

Dengan biaya relatif murah, kini setiap pengguna Internet pada dasarnya bisa menciptakan media tersendiri. Mereka dapat melakukan semua fungsi jurnalistik sendiri, mulai dari merencanakan liputan, meliput, menuliskan hasil liputan, mengedit tulisan, memuatnya dan menyebarkannya di berbagai situs Internet atau di weblog yang tersedia gratis.

Dengan demikian, praktis sebenarnya semua orang yang memiliki akses terhadap Internet sebenarnya bisa menjadi “jurnalis dadakan,” meski tentu saja kualitas jurnalistik mereka masih bisa kita perdebatkan. Yang jelas, orang tidak dituntut harus lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi atau sekolah jurnalistik, untuk menjadi “jurnalis dadakan” di dunia maya.

Suka atau tidak, tren munculnya “jurnalisme warga” dan “jurnalis dadakan” semacam ini tampaknya makin kuat. Sebagai catatan, seingat saya, berita pertama soal bencana Tsunami di Aceh, pada Desember 2005 lalu, justru muncul dan diketahui publik lewat blog pribadi di Internet. Jadi, tidak melalui saluran-saluran media yang konvensional.

Dengan demikian, kehadiran “jurnalisme warga” ini juga telah menjadi tantangan bagi jenis “jurnalisme mapan,” yang diterapkan di media-media konvensional, seperti: suratkabar, majalah, radio, dan televisi.

Membaurnya Newsroom dan Bagian Bisnis

Perkembangan kedua yang patut dicermati berkaitan dengan kondisi lingkungan tempat industri media tersebut hidup. Kondisi lingkungan memberi tekanan-tekanan pada institusi media bersangkutan. Globalisasi, yang ditandai dengan pergerakan bebas informasi, uang, tenaga kerja, produk dan jasa melintasi batas-batas tradisional negara, makin mendesak berbagai institusi media untuk betul-betul bersifat kompetitif, jika mau survive.

Tren terakhir menunjukkan semakin ketatnya iklim persaingan dan semakin menguatnya nilai-nilai kepentingan ekonomi (profit) atas nilai-nilai “jurnalisme murni”. Pemilihan topik atau isyu untuk diliput, misalnya, semakin mempertimbangkan faktor untung-rugi (cost-benefit) secara finansial. Jadi, tidak semata-mata hanya mempertimbangkan nilai “jurnalisme murni.”

Contohnya terlihat nyata di media cetak pada tahun-tahun terakhir ini, dengan makin tipisnya jarak antara newsroom atau bagian redaksi (editorial) dengan bagian bisnis atau usaha. “Pembauran” bagian redaksi dengan usaha ini dipraktikkan dalam operasional sehari-hari di sejumlah koran nasional.

Mereka sudah mematok tanggal atau hari tertentu untuk halaman khusus otomotif, teknologi informasi, pendidikan, dan sebagainya. Penentuan tanggal dan hari tersebut dikoordinasikan jauh-jauh hari, antara bagian redaksi dan bagian sales, marketing, dan periklanan.

Tujuannya, supaya di halaman koran termaksud terjadi kombinasi content yang pas, antara artikel/berita dengan iklan yang dipasang. Artikel-artikel yang bertopik otomotif, misalnya, akan didampingi oleh iklan-iklan dengan topik yang sejenis. Seperti, iklan mobil, asuransi mobil, perangkat audio mobil, sepeda motor, ban, minyak pelumas, akumulator, dan sebagainya.

Sudah barang tentu, dalam penentuan halaman mana untuk rubrik/topik apa, bagian usaha akan lebih cenderung memilih topik yang secara finansial akan mendatangkan keuntungan yang besar. Sebaliknya, topik-topik yang diduga tidak akan menarik minat pihak pengiklan, cenderung untuk tidak diliput sama sekali.

Artinya, pemilihan topik untuk diliput tidak ditentukan (semata-mata) oleh penting-tidaknya topik itu bagi khalayak pembaca, tetapi lebih oleh prospek keuntungan finansial (iklan) dari topik yang dipilih itu untuk perusahaan media. Dan hal ini dilakukan secara sadar bersama-sama antara bagian redaksi dan bagian usaha dari koran tersebut.

“Kesadaran akan aspek finansial” di kalangan jurnalis

Dalam bentuk yang lebih subtil, hal itu juga dilakukan di media televisi. Mengambil contoh yang berlangsung di Trans TV, walaupun hal semacam ini sedikit-banyak juga dipraktikkan di stasiun-stasiun televisi lain.

Misalnya: Seorang reporter program Sisi Lain akan membuat liputan tunggal tentang kehidupan malam di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Oleh si produser, si reporter akan ditanya: “Ada nggak topik-topik lain di Yogya –selain kehidupan malam di Malioboro- yang kira-kira menarik untuk diliput? Soalnya, biaya liputan ‘kan mahal. Sayang, kalau tim kita bolak-balik Jakarta-Yogya dan hanya mendapat satu liputan”.

Si reporter menjawab: “Ada, Mas. Yaitu, tradisi pembuatan keris yang makin langka. Juga kerajinan perak di Kotagede….”

“Nah, kalau begitu, sekalian saja diliput dua topik tambahan itu. Lumayan, kan. Jadi, sekali DLK (dinas luar kota), kita bisa dapat tiga episode sekaligus, cukup untuk tiga hari tayangan. Cuma tolong, risetnya diperkuat dulu sebelum berangkat, agar hasil liputannya lebih mendalam,” ujar si produser.

Dialog semacam ini adalah gambaran sehari-hari dalam kehidupan di Divisi News Trans TV. Kepada si produser, begitu juga reporter, camera person, dan unsur-unsur lain dalam proses liputan, sejak awal ditanamkan “kesadaran akan biaya.” Jadi, yang dipertimbangkan bukan cuma nilai jurnalistik semata.

Hal semacam ini tidak dirasakan pada awal tahun 1990-an, ketika kondisi ekonomi nasional masih baik dan krisis ekonomi belum melanda Indonesia. Di sejumlah media cetak nasional yang mapan semacam Kompas, misalnya, tidak ada aturan pembatasan finansial yang berlebihan dalam melakukan liputan. Sementara bagian redaksi seolah jalan sendiri, tak mau direcoki oleh bagian bisnis/iklan.

“Tugas bagian iklan adalah cari duit, sedangkan tugas bagian redaksi adalah bikin liputan yang bagus. Bagian iklan tak usah ikut campur dalam urusan redaksi.” Ini adalah sentimen umum di kalangan jurnalis pada waktu itu. Namun sekarang, dorongan yang dimajukan oleh pemilik media adalah “perlu kerjasama dan koordinasi yang baik” antara bagian redaksi dan bagian usaha/bisnis.

Tekanan kompetisi dan pengelompokan media

Terakhir, tekanan kompetisi lokal maupun global, serta dorongan untuk makin meningkatkan efisiensi, menurunkan cost, dan meningkatkan profit, memunculkan berbagai merger atau aliansi antara berbagai institusi media, khususnya di media televisi siaran di Indonesia.

Hal ini bisa dilihat dari mengelompoknya RCTI, TPI, dan Global TV di bawah payung MNC (PT. Media Nusantara Citra). Kelompok kedua, dengan payung PT. Bakrie Brothers (Grup Bakrie), membawahi: ANTV dan Lativi. Kelompok ketiga, dengan payung PT. Trans Corpora (Grup Para), membawahi: Trans TV dan Trans-7 (dulu TV7).

Konvergensi perusahaan media juga melahirkan grup media, yang dapat memanfaatkan materi berita yang sama untuk disebar ke berbagai jenis media yang berbeda di bawah naungannya. Bayangkanlah, sebuah grup perusahaan media yang membawahi produk media suratkabar, majalah, radio, televisi, dan situs Internet.

Karena pertimbangan efisiensi dan sinergi, tentu akan sangat mengurangi biaya operasi dan meningkatkan keuntungan, jika item berita karya seorang jurnalis di satu media bisa dimanfaatkan pula di media-media lain dalam satu grup media yang sama. Hal semacam ini sudah lama dilakukan di jaringan suratkabar di bawah Grup Jawa Pos.

Dengan demikian, seorang jurnalis mungkin akan dituntut untuk memiliki kemampuan menulis dengan format yang berbeda-beda, karena tulisannya bukan cuma akan dimuat di satu jenis media, tetapi juga di jenis-jenis media lainnya.

Selain itu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) menimbulkan peluang-peluang baru dalam berbisnis. Salah satunya adalah bisnis multimedia content provider. Konsep multimedia di era ICT tidak sekadar banyak media, seperti media cetak, media elektronik, atau media online. Namun, di era ICT, multimedia berbicara mengenai konvergensi, yaitu bagaimana sumber-sumber informasi yang tersaji dalam pelbagai media bermuara pada satu jendela.

Jurnalis dan praktisi media yang diharapkan oleh kalangan industri

Dari berbagai data dan literatur diatas, saya mencoba membuat rangkuman sederhana. Berdasarkan latar belakang perkembangan pesat teknologi media, pergeseran struktur dan pola operasional institusi media, serta tekanan kompetisi yang ketat dalam iklim globalisasi, jenis jurnalis dan praktisi media yang dibutuhkan industri media tampaknya juga telah berubah.

Pertama, berkembangnya jenis-jenis media baru menuntut penyesuaian keterampilan tertentu bagi para jurnalis, untuk memahami, menguasai dan berkiprah di jenis media baru tersebut. Jenis media baru ini, berkat konvergensi teknologi, tampaknya tidak lagi secara sederhana bisa dipilah dalam pembagian media cetak dan media elektronik.

Dengan demikian, muncul pertanyaan, apakah pembagian pengajaran jurnalisme untuk media cetak, media elektronik, dan media online –seperti yang kini berlaku dalam kurikulum program S-1 Ilmu Komunikasi di sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta khusunya UTM—masih dapat atau masih perlu dipertahankan?

Perkirakan, dalam satu-dua tahun ke depan, mungkin pembagian ini masih bisa dipertahankan. Namun, mulai saat ini, kepada para mahasiswa S-1 harus sudah mulai diperkenalkan tentang makin berkembangnya apa yang namanya sebut “jurnalis multimedia,” yakni tipe jurnalis yang tidak secara sederhana dibatasi dalam sekat media cetak, media elektronik, dan media online.

Kedua, berkembangnya jenis jurnalisme baru, yang praktis memungkinkan setiap orang yang punya akses Internet bisa menjadi “jurnalis dadakan” –bahkan “pemilik media dadakan”- memberi tantangan baru pada industri media konvensional dan profesi jurnalis yang sudah mapan. Hal ini pada gilirannya juga membangkitkan pertanyaan, seberapa jauh kurikulum pendidikan S-1 Ilmu Komunikasi di UTM telah membekali mahasiswa untuk menangani perkembangan ini.

Ketiga, iklim kompetisisi yang semakin ketat dan tantangan globalisasi membutuhkan jurnalis dan praktisi media, yang memiliki ketahanan mental, tanggap terhadap lingkungan, berwawasan luas, dan sekaligus kemampuan beradaptasi yang tinggi menghadapi berbagai perubahan cepat yang terjadi. Oleh karena itu, penyiapan dasar-dasar keilmuan bagi para mahasiswa Ilmu Komunikasi UTM hendaknya ditekankan pada dimilikinya “daya adaptasi” dan “daya kompetisi” yang tinggi.

Oleh karena itu, menurut saya, sangat penting jika para dosen Ilmu Komunikasi UTM berkualifikasi tinggi yang mengajar di S-1 memberi “dasar keilmuan yang kuat” pada para mahasiswanya. Tujuannya bukan untuk mengajarkan perkembangan teknologi media terbaru, karena dunia akademis pasti akan selalu kalah cepat dengan perkembangan teknologi informasi di industri media, yang terus berubah dan berkembang dari tahun ke tahun.

Gadget dan perangkat teknologi media boleh berubah cepat, tetapi dasar-dasar keilmuannya toh relatif mantap dan tak berubah drastis. Jika mahasiswa bisa mendapat landasan dan dasar keilmuan yang kuat, mereka diharapkan tidak akan terlalu sulit beradaptasi dengan perkembangan industri media dengan berbagai perangkat teknologi informasinya.

Berdasarkan pengalaman Satrio Arismunandar menangani sejumlah mahasiswa yang magang atau melakukan KKN di Divisi News Trans TV, mereka terlihat punya bekal ilmu atau teori yang lumayan. Tetapi, mereka tampak tidak memiliki kesiapan mental untuk benar-benar bekerja di industri media yang menuntut komitmen tinggi. Mereka terkaget-kaget ketika harus ikut syuting larut malam, misalnya. Atau, mereka mengira, bekerja di industri TV itu seperti orang yang kerja kantoran biasa, yang masuk kantor pukul 8.30 pagi dan sudah bisa pulang pukul 17.00 sore.

Semoga memberi manfaat, bagi pengembangan kurikulum Ilmu Komunikasi yang betul-betul tanggap dengan kebutuhan dunia industri media, dan pada saat yang sama juga terus mendorong pengembangan Ilmu Komunikasi itu sendiri.

Daftar Pustaka:

Arismunandar, Satrio. 2005. Bergerak! – Peran Pers Mahasiswa dalam Penumbangan Rezim Soeharto. Yogyakarta: Genta Press.

Charnley, Mitchell V. 1965. Reporting. New York: Holt, Rinehart, and Winston, Inc.

Gunaratne, Shelton A. (Ed.). 2000. Handbook of the Media in Asia. New Delhi: Sage Publications.

Kompas, 15 Maret 2007, hlm. 34. “TV Digital, TV Bergerak, dan IPTV.”

Kompas, 15 Maret 2007, hlm. 41. “Fitur Klasika.”

Mencher, Melvin. 1997. News Reporting and Writing. Seventh Edition. Madison: Times Mirror High Education Group, Inc.

Quaal, Ward L., & James A. Brown. 1976. Broadcast Management – Radio – Television. Second Edition. New York: Hastings House-Publishers.

Straubhaar, Joseph & Robert LaRose. 2002. Media Now – Communications Media in the Information Age. Third Edition. Belmont: Wadsworth.

Vivian, John. 1995. The Media of Mass Communication. Third Edition. Boston: Allyn and Bacon.

Willis, Jim., & Diane B. Willis. 1993. New Directions in Media Management. Boston: Allyn and Bacon.

Wimmer, Roger D., dan Joseph R. Dominick. 1987. Mass Media Research: An Introduction. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.

Monday, January 2, 2017

Menelaah Tahun Baru Dengan Jujur

Tak semua setuju merayakan tahun baru, tapi tak semua merasa perlu bahwa tahun baru itu harus dirayakan. Kalau versi anti-mainstream, tahun baru itu harus direnungkan. Sedangkan versi mainstreamnya, tahun baru itu wajib dirayakan. Lantas sintesis dari anti-mainstream dan mainstream merasa bahwa tahun baru itu perlu dirayakan dengan perenungan dan instropeksi serta resolusi perubahan diri untuk lebih baik dari sebelumnya. Pernyataan seperti itu terkadang sering kita dengarkan dari orang-orang sekitar kita, entah di rumah, warung kopi, cafe, kantor, sekolah, kampus, dan lain sebagainya. Bagaimana pendapatmu tentang perayaan malam pergantian tahun? atau yang biasa kita sebut sebagai tahun baru. Tapi kali ini saya tidak akan membahas mengenai perdebatan tentang apa perlunya merayakan tahun baru dan apa pentingnya harus dirayakan. Lantas, saya akan membahas mengenai bagaimana malam tahun baru yang pernah saya alami.

Saya pernah merayakan malam pergantian tahun sampai-sampai leher saya dipukul petugas kemanan bersenjata lengkap, saya pernah merayakan tahun baru dengan membuat rusuh satu pengajian di alun-alun Jombang sampai-sampai diamankan petugas DLAJJ, saya pernah merayakan tahun baru dengan memodifikasi motor kesayangan saya dengan memasang knalpot racing yang harganya 50 ribu sampai-sampai besoknya motor saya harus turun mesin, saya pernah merayakan tahun baru dengan mabuk-mabukan, saya pernah merayakan tahun baru dalam kamar sambil gelisah karena tidak boleh keluar sama orang tua, saya pernah merayakan malam tahun baru dengan nonton film dalam kamar sendirian, saya pernah merayakan malam tahun baru dengan numpang truk kemana-mana, pernah juga saya merayakan tahun baru dengan nonton konser dangdut sampai tawuran dan kecopetan hanphone, saya pernah merayakan tahun baru dengan teman-teman satu kampung di warung kopi pangku sampai subuh, saya pernah merayakan malam tahun baru dengan menangis di kamar, saya pernah merayakan tahun baru bersama gadis-gadis sewaan di lokalisasi (cuma menggoda saja), saya pernah merayakan malam tahun baru dengan aktivis-aktivis kampus yang idealisnya seolah-oleh berani mati, saya pernah merayakan malam tahun baru dengan tentara yang sedang berburu ditengah hutan, saya pernah merayakan malam tahun baru dengan kencan di kebun bersama anak satu desa, saya pernah merayakan tahun baru dengan balapan liar, hingga saya pernah merayakan malam tahun baru dengan tawuran, dan banyak hal aneh dan sangat bodoh yang pernah saya lakukan saat merayakan malam pergantian tahun atau yang biasa kita sebut sebagai malam tahun baru. Saya tidak menyesali hal itu, tapi saya juga tidak bangga. Realitasnya memang begitu. Mungkin tak hanya saya saja yang melakukan hal bodoh dalam merayakan malam pergantian tahun, ada puluhan mungkin juga ratusan orang yang melakukan hal aneh, lucu, bodoh, tidak berguna, bahkan tidak wajar. Tapi ada banyak orang yang memilih melakukan hal baik serta berguna sewaktu malam tahun baru. Seperti mengaji, tahlilan, pengajian, syukuran, puasa, dzikir, sholat, bertapa, berkunjung kekeluarganya menyambung silahturrahmi, membersihkan dan mendoakan keluarganya yang sudah meninggal di pemakaman, berkarya, dan lain sebagainya. Ini bukan soal bagaimana cara kita menyikapi malam pergantian tahun, tapi mencoba kembali mengingat bahwa pergantian tahun masehi ialah makin tuanya usia bumi, mahkluk, dan makin dekatnya pada kehancuran yang di namakan dengan kiamat.

Sewaktu malam pergantian tahun dari 2016 menuju 2017, saya banyak melakukan hal-hal tak berguna dan malam itu seoalah-olah saya mengingat semua kenangan saya dari mulai kecil hingga kini. Semua berjalan begitu cepat, perkembangan zaman, gegap-gempita euforia teknologi, besarnya arus informasi, bebalnya manusia, makin tak kenal siapa diri mereka, buruknya moral, kontelasi yang memilukan, konspirasi yang sungguh menjebak, makin pendeknya umur manusia, eksploitasi besar-besaran, keserakahan tak henti, dan krisis eksistensi yang kurang ajar.

Semua berjalan beriring-iringan dengan antonimnya masing-masing. Sedangkan saya duduk di depan rumah dengan memandang semua orang sedang menyalakan sound dan memutar musik dangdut dengan keras di hampir perempatan dusun saya. Ibu saya yang sibuk mengupas rempah-rempah, ayah saya selalu duduk diam sambil memandang lalu-lalang anak kecil yang bermain, adik-adik saya yang menghabiskan waktu di depan layar handphone dan playstation. Mereka selalu begitu setiap tahun, kecuali adik-adik saya. Bagi kedua orang tua saya, tak ada yang menarik kecuali melihat anak-anak mereka nurut kepada mereka dan taat ibadahnya. Kadang kalah kita terlalu gelisah dengan pencapaian dan selalu melupakan kesederhanaan hidup dan tujuan utama kita.

Berkumpul bersama, memasak dan memanggang sate, memutar musik sekeras-kerasnya, berkaraoke, berkeliling kampung dengan motor yang bunyi knalpotnya seperti senapan laras panjang otomatis berkaliber 45, menghias rumah dengan lampu-lampu warna-warni, mabuk-mabukan, makan bersama, berbagi cerita mengenai pekerjaan mereka di perantauan masing-masing, menceritakan hal-hal lucu dan seram, memborong petasan dan kembang api hingga menghabiskan berjuta-juta, dan itulah dusunku. Bisa dikatakan setiap tahun beberapa hal diatas selalu dilakukan untuk merayakan malam pergantian tahun. Terganggung atau tidak?, jelas tidak. Karena semua sudah diatur, kita tinggal ikuti arah dan menjalani peran masing-masing sesuai dengan kehendak, lalu mati dan tanggung jawab serta di adili.

Saya pernah berbicara setinggi langit dengan banyak orang, dan saya menyesal karena tak pernah menjadi pendengar yang baik. Mungkin adakalanya kita biarkan saja diri kita terhanyut dan tenggelam di masa-masa yang suram. Mugkin dengan cara seperti itu kita bakal lebih mengerti dan merasakan sebuah kesadaran. Buku-buku masih menumpuk dikamar, baunya busuk. Semua yang di butuhkan sudah lengkap, semua yang di inginkan makin menggunung. Menunggu apalagi, habis pertanyaan timbul pernyataan. Zona nyaman mulai mengancam, apalagi yang ditunggu, ingin melakukan apa, mau jadi apa, tujuanmu apa, dulu niatmu bagaimana, pernahkah sekali memikirkan hal itu. Setiap hari saya memikirkan hal itu. Sambil menjalani rutinitas yang harus diselsaikan.
Lantas

Aku sering membual dan aku menyesal
Aku sering berbohong dan masih ku ulangi
Aku sering sombong dan nyatanya masih kulakukan
Aku sering oportunis sampai-sampai aku begitu selektif
Aku sering menyadari semua itu dan aku belum sadar

Ini bukanlah keinginan tapi ini mungkin sebuah kelakuan
Sedangkan semua masih berjalan sebagaimana mestinya
Ada atau tidak adanya aku, semua bakal tetap berjalan
Apa sebenarnya yang harus kulakukan

Menjalani peran sebagai seoarang anak
Menjadi manusia yang benar-benar manusia
Komitmen dan lebih taat sebagai khalifah di bumi
Menjadi muslim yang bernar-benar muslim dan bukan muslim-musiman
Berandai-andai sampai tua
Bermimpi sampai takbangun lagi
Terlelap sampai kalap
Maukah seperti itu

Sadar sampai bosan
Menunggu hidayah sambil berzinah
Sungguh munafik
Dan bagaimana selanjutnya

Haruskah demikian
Bertanya lalu menjawabnya
Teriak dan makin tersiksa
Atau bunuh diri dan hidup kembali

Nofianto Puji Imawan

Jombang, 01 Januari 2017.

Awas Asumsi

Sewaktu memasuki tahun 2017, semua orang masih menjalani rutinitasnya seoalah esok akan mati. Kesadaran mengenai semakin terasa cepatnya waktu membuatku teringat pada dongeng ibuku, dimana saat menuju zaman akhir atau kiamat semuanya akan terasa begitu cepat dan seolah tak cukup (kurang).

Waktu, suatu hal misterius yang masih kita takuti sepanjang hidup. Penanda bahwa kita tak kekal dan penuh keterbatasan. Ini bukan ketakutan mengenai akhir zaman atau keraguan manusia mengenai pertanda-pertanda dalam kepercayaan tertentu. Inilah realitas yang dibiaskan atas dasar keterbatasan kita untuk mencerna dan memilah, mana yang logis dan tidak, yang asli dan tipuan, yang benar dan pembenaran, yang bohong dan kemunafikan, hingga yang nyata dan ilusi. Kesulitan atau ditipu habis-habisan, kita yang hidup dan merasakan peralihan serta perubahan kebiasan serta kebudayaan disaat banyak petuah dihiraukan, banyak iman di anak tirikan, banyak kepercayaan dibiaskan, banyak manusia ingin menjadi berbeda, baik ide, gagasan, pilihan, selera, dan penampilan. Perbedaan yang ingin dibuat atas dasar keseragaman jenis spesies (yaitu manusia).

Sederhananya, apa yang membuat banyak orang ingin menjadi berbeda atau anti-mainstream dari mayoritas lainnya. Pasti anda punya jawabannya masing-masing. Sedangkan anomali ini membuat banyak penelitian, survey, telaah ahli, komentar praktisi, pendapat media bahkan skripsi mahasiswa, menjabarkan hal itu dan bisa kita terima sebagai realitas yang kita amini sehingga bisa di katakan bahwa kenapa seperti itu dikarenakan seperti ini? Memang timbulnya sebab selalu berdasar penyebab (hukum sebab-akibat). Itu hanya contoh kecil yang menyimpulakan bahwa era kekinian selalu membutuhkan alasan yang kuat bahkan rumit untuk menjelaskan hal sepele guna mendapat kepercayaan satu sama lain. Karakter orang kekinian seolah ingin lebih efesien dan efektif, padahal mereka semakin memperunyam serta merumitkan hal-hal yang sederhana. Mungkin hal itu terbentuk dikarenakan padatnya arus informasi, sehingga membuat mudahnya orang untuk berbohong dan dibohongi. Jawabanya adalah, semakin banyak informasi yang mudah didapat, membuat satu orang harus melipat gandapan asupan informasi dari segala kanal serta panca indra mereka untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan atau dalam tanda kutip benar dan relevan (dibutuhkan). Menyaring informasi untuk menemukan benang merah diantara bias asumsi yang menyerupai informasi. Mungkin kita lebih familiar dengan istilah filterisasi informasi membedakan dan memilah mana informasi yang kita butuhkan dan tidak serta membedakan informasi mana yang benar dan hoax. Sebenarnya apa itu informasi, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) informasi ialah penerangan, pemberitahuan, kabar atau berita tentang sesuatu, keseluruhan makna yang menunjang amanat yang terlihat dalam bagian-bagian amanat itu. Sedangkan menurut Kamus Thesaurus, informasi ialah penerangan atau penjelasan, bahan berita, data, fakta embaran, kabar, keterangan, laporan, liputan, dan warta.

Questions For You, But Not Answers Just Learning ?

Anak-anak, pemuda-pemudi, dan orang tua idaman menurutmu yang seperti apa sih ? Lingkungan yang ideal buatmu itu kayak gimana sih ? Kreatif di jaman sekarang itu kayak apa sih ? Lebih memilih kata yang mana ‘ideal’ atau ‘idaman’ ? Apa yang pingin kamu lakuin waktu masih muda ? Berapa kali ganti cita-cita ? Pendapatmu tentang ilmu yang kamu dapat waktu disekolah ? Bagaimanapun dan siapapun kamu, masih pingin apalagi sih ? Pencapaian duniawi yang paling keren dalam hidupmu apasih ? Sejak kapan mulai merasa ada perubahan dalam dirimu ? Menurutmu siapa kamu ? Kalau tidak ada kamu di dunia ini, apa yang terjadi ? Kalau ada kamu didunia ini, akan seperti apa ? Gimana caramu menilai diri sendiri ? Hal terpenting dalam waktu dekat ini yang harus kamu lakukan ?

Pertanyaan diatas hanyalah pertanyaan. Untuk siapa atau untuk apa itu tidak penting. Semua kan kembali pada yang saya sebagai si pembuat pertanyaan. Pertanyaan ini ditujukan pada siapa, ya pada diri saya sendirilah !