Tuesday, March 14, 2017

Rasa Syukur Sebelum Tidur


Bukankah menarik jika sejenak meluangkan waktu untuk melakukan apa yang kita sukai. Walaupun tak terlalu penting. Membicarakan impian hingga larut malam, berbincang dengan para ahli mimpi dikala senggang, menebak masa depan sampai lupa waktunya pulang, belajar sambil dihajar, membicarakan orang hingga tertawa terpingkal-pingkal, saling mengingatkan segala kekuranggan meski sedikit dangkal, menghubungkan segala hal yang takberhubungan, mempelajari filsafat ala berandalan, menjadi gelas kosong hingga ember bocor, memahami kerumitan cara pandang era global, memaklumi perbedaan dengan candaan khas jawatimuran, atau jalan-jalan tanpa menentukan tujuan.

Bukankah itu cukup mengasikkan, walau sedikit memalukan. Beginilah cara kami menghabiskan waktu akhir-akhir ini. Berkumpul dengan satu alasan, memimpikan hal yang sama, dan menikmati segala pertemuan hingga terluta-lunta oleh rasa nyaman. Meski hanya berbincang santai di warung kopi kecil disudut kota pinggiran dengan akses wifi gratisan, atau sekedar menikmati segala proses dalam mewujudkan mimpi kami masing-masing. Banyak hal yang tak kucatat sejak awal, entah karena aku benar-benar menikmati semua pertemuan ini atau terlampau malas karena terlalu kenyang. Hal penting memang sepantasnya dicatat, namun lebih banyak hal penting yang lebih baik dikenang.

Kini, semua seolah lebih baik. Bulan ketiga di tahun 2017, walau musim makin tak besahabat, tuntutan hidup makin memaksa kita menjadi munafik. Setidaknya masih ada ruang untuk jujur dan mengatakan bahwa apa yang kita lakukan kemarin dan hari ini sudah mampu membahagiakan segala hal selain diluar diri kita. Seperti kami, tiap malam bertemu di tempat sederhana dan berbincang mengenai mimpi, imajinasi, musik, pekerjaan, keingintahuan, dosa dan dusta atau sekedar berbincang hal-hal dangkal tentang hidup. Beginilah cara kami menikmati kesempatan yang diberikan tuhan. Sesederhana kenyataan yang selalu jujur berbicara bahwa belum tentu besok kita masih bisa melakukan segala hal yang sudah kita rencanakan kemarin atau hari ini.

Kita masih hidup dengan cara kita masing-masing. Ketentuan dan nasib semakin menjadi misteri saat kita berusaha keras untuk menebak dan memperkirannya. Ada hal sepele yang kita sering lupa. Kita berusaha keras untuk merencanakan segala hal tentang esok dan nanti. Apa yang kita harapkan dari esok, dan apa yang kita peroleh dari kemarin.

Wednesday, March 8, 2017

Silsilah Salah Arah


Sejak musim sulit ditebak
Dan mitos selalu diabaikan
Adakalanya kita kembali mengingat
Bagaimana kita dilahirkan
Dibesarkan dengan ketidaksiapan
Hingga dijauhkan dari kebenaran

Hampir saja kita dibiarkan meraba
Segala kebohongan yang diyakini
Dan kesepakatan tanpa dasar
Yang senantiasa dipegang teguh
Begitulah cara kita dikembangbiakan
Oleh orang tua dan segala sisa-sisa kemunafikan

Sejak kisah-kisah perjuangan dibukukan
Sejarah tutur dalam berbagai versi diceritakan
Dalam otak kita mengendap banyak timbal
Hingga ingatan kita sering tak lancar karena menyumpal
Banyak dogma-dogma tentang kebajikan
Dan imbuhan-imbuhan metafora tentang harapan

Sepantasnya kita mempertanyakan
Apa pantas kita melanjutkan peran
Jika sejak dilahirkan kita tak murni
Mengidap penyakit lupa diri
Kadang kalap tak mau berlari
Hanya menunggu dan sembunyi

Perlahan-lahan kita ditunjukan
Bagaimana cara kita dilahirkan
Kitapun memaklumi
Semuanya memang terlanjur begini
Bukankah kita sudah biasa dengan itu
Meskipun kadang waktu semakin rapuh

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 07/03/2017.

Saturday, March 4, 2017

Atas Nama Ambisi dan Obsesi Karbitan


Tiap pagi teriakannya begitu lantang
Pernah aku jengkel dan terharu olehnya
Rasa tanggung jawab berlapis kasih sayang
Membuat runtuh segala idealisme yang kupegang

Mengingatkanku tentang hal sederhana yang sering kita lupakan
Bukankah itu menjengkelkan
Disaat semua imaji serta impian
Lebih menggairahkan dibanding mensyukuri kenyataan

Entah apa aku punya kesempatan
Untuk mendahului takdir
Minimal mengetahuinya lebih dulu
Bedebah kurang ajar

Bukankah membangkang itu lebih mengasyikan
Dibanding taat dan menundukan kepala
Walau bakal sulit kaya dan kurus selamanya
Menolak realitas kadang terlalu melenakan

Nofianto Puji Imawan
Jombang, 03/03/2017.