Saturday, May 23, 2020

Azzah Dian



Sempat ingat kapan terakhir kalinya daun berguguran di jalan raya
Separuh aspal berubah berwarna kuning dan mendung membuatku tergopoh-gopoh
Berangkat dengan akal sehat dan pulang dengan harapan
Alangkah kasihan anak-anak disuruh meminta-minta di perempatan jalan

Itu lain hal,
Sekali lagi kutegaskan bahwa hari ini tidak hujan
Panas sekali, sampai-sampai legam lengan ini
Waktu memang sebentar lagi sore

Aku tiba ditempat yang hanya orang-orang pengku berkumpul
Menuturkan banyak sekali kisah
Mendoakan bibit tanaman hidroponik
Membiasakan meminum kopi yang bercampur es batu

Diantara tiga pemuda
Dan beribu kejenuhan
Aku duduk dengan jarak yang cukup jauh
Kami saling kenal, hanya kenal kulit bawang

Satu hal yang membuatku heran, Azzah
Gadis dengan follower instagram 2 ribuan
Berbaju hitam dengan kulit langsat
Duduk tenang dan menceritakan harinya

Matanya bak delima
Jaket kuningnya cukup kontras
Naik matik dan memakai sendal jepit
Baru lulus dan sedang memupuk cita-cita

Aku tak kenal, ingin mengenal pun tidak
Sayangnya ada satu keganjilan diantara matanya
Ia menceritakan bahwa iya sempat bertamu kerumah seseorang
Saat itu, pemilik rumahnya nyeletuk Anak’e sopo iki kok ayu

Ia penuh pesona
Mungkin karena ibunya cantik dan itu nurunke anaknya
Walau ia tak suka menulis dan membaca
Itu wajar-wajar saja

Aku jadi membayangkan masa depannya
Memperkirakan jodohnya
Menerka-nerka kebiasaanya
Hingga mengikuti instagramnya

Rasa penasaranku tak begitu besar
Hanya sedikit menemukan keganjilan
Kadang tuhan maha adil
Sampai-sampai adilnya kelewatan

Azzah
Entah siapa nama panjangnya
Entah apa harapan orang tuanya
Entah bagaimana ia elok dan jelita
Entahlah

JBG, 23/MEI/2020

Semoga Saja


Berkumpulkah kita di belakang rumah
Bau usang bekas pakaian dan suara pompa air
Perlahan menuntunku dalam romantisme masalalu
Umpatan, pengakuan, dan harapan menyatu

Beberapa celetukan membuat kami tertawa
Bukan karena dalamnya pembicaraan
Mungkin karena terlalu jauhnya angan-angan
Hingga sedikit sekali rasa bersalah

Beberapa jam lagi takbir terdengar
Ini hari terakhir berpuasa
Banyak salah mungkin biasa
Kadang berpura jadi nikmat rasanya

Tumpul sudah mata tombak
Saat dilempar tak pernah kena sasaran
Banyak hal baik yang ku tolak
Bahkan seruan tuhan sering kulupakan

Alih-alih terlena dalam malam takbir
Semua malah terdiam dalam ketakutan
Wabah yang takkunjung hilang
Cukup membuat kejenuhan yang teramat dalam

Bukankah tuhan punya rencana
Bahkan penjual kopi dirumah ini
Lebih banyak senyum dikala pelanggan berkurang
Berapa lama semua akan berbohong

Gadis lugu dengan mata delima
Kembali menutup mulutnya
Sesaat lelaki disebelahnya menyulut api
Disitulah aku percaya bahwa apapun bisa terjadi

Sore itu
Dibelakang kontrakan kecil
Duduk sambil menikmati kopi
Diujung ramadhan

MJK, 23/MEI/2020

Yang Sama



Melakukan hal yang sama
Bertemu dengan orang yang sama

Memesan minuman yang sama
Duduk dikursi yang sama
Memandang ke arah yang sama

Berbicara tentang hal yang sama
Bertanya dengan pertanyaan yang sama
Ditanya oleh orang yang sama
Berkumpul dengan kelompok yang sama

Melewati jalanan yang sama
Merasakan momen yang sama
Bosan dengan alasan yang sama
Sama sama menantikan hal yang sama
berakhir di dunia yang sama

JBG, 19/MEI/2020


Syerahdeh


Kekesalan yang memuncak
Umpatan berputar-putar secara acak
Otak dipenuhi prasangka
Langkah demi langkah seakan sia-sia

Aku akan kembali mengembara
Bukan tuk memulai atau merubah segalanya
Hanya agar aku memahami
Semua yang terjadi sudah ditentukan
jauh sebelum aku mengetahui

Mudah sekali membenci
Terlalu cepat memaklumi
Semua hanya soal untung rugi
Mati bukan hal yang menakutkan lagi

JBG, 18/MEI/2020